Abah Kembali Mengembara | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Abah Kembali Mengembara Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:30 Rating: 4,5

Abah Kembali Mengembara

SESAAT setelah deretan gerbong kereta api melindas bentangan rel, Abah muncul di ambang pintu ruang tamu. Umi memekik.  Mengguncang tubuh Abah. Lima belas tahun Abah menghilang. Abah tak pernah berkirim kabar. Umi senantiasa bercerita pada Salma, putri sulungnya, Abah pasti kembali. Kini Abah memasuki rumah dengan tenang, seperti tak terjadi apa pun selama lima belas tahun. Bertemu Salma yang kini tumbuh matang, Abah segera membentangkan tangan, memeluknya.   ’’Ini pasti putri kesayanganku. Aku sudah menduga, kau bakal tumbuh sebagai gadis cantik.’’

Belum lama memasuki rumah, mendengar suara azan magrib, Abah bergegas ke masjid. Abah bersila
paling awal sebelum orang-orang berdatangan. Ia pulang lepas isya, ketika tak seorang pun berdoa. Masjid temaram. Abah beranjak ketika seluruh lampu sudah dipadamkan. Tinggal lampu redup di mihrab yang masih menyala. Penjaga masjid mengantar Abah hingga depan pintu pagar.

Sebelum berpisah, penjaga masjid mencium tangan Abah. ’’Anak lelakimu akan segera kerja di perusahaan yang baik. Mudah-mudahan ia menolong kehidupan keluargamu,’’ pesan Abah.

Lelaki penjaga masjid itu mengunci pintu pagar. Ia tak mau memikirkan anak lelakinya yang sudah lama menganggur. Nongkrong bersama rekan-rekannya di mulut gang, bermain gitar, hingga pagi.

’’Kopi Abah hampir dingin,’’ kata Salma saat menyambut Abah pulang dari masjid, sudah jauh meninggalkan waktu isya. Abah mengangguk. Tersenyum. Duduk di teras. Meneguk kopi. Merokok. Salma masih menghadapi ayahnya, menahan diri untuk mengatakan sesuatu. Abah terus meneguk kopinya, pelan, seperti tak terpengaruh oleh kegelisahan Salma.

’’Kau kelihatan gelisah, Salma,’’ kata Abah. Dulu ia meninggalkan anak gadisnya itu ketika berumur tujuh tahun. Kini gadis itu dua puluh dua tahun.

’’Kau sudah sangat dewasa, sudah bekerja sebagai dokter. Apa yang akan kaukatakan? Kamu mau
dilamar?’’

Salma terperanjat. Bagaimana mungkin Abah mengetahui seorang pemuda bakal melamarnya? Gadis itu tersipu-sipu. Abah mencecap kopi pelan-pelan. Merokok. Tanpa mau memandangi anak gadisnya yang sudah tumbuh sempurna sebagai wanita yang matang untuk dipinang.


***
SEBELUM magrib, penjaga masjid telah menanti Abah. Ia berharap Abah segera datang, melewati pintu masjid dengan langkah pasti. Menuju mihrab, dan berdiri di sana memimpin shalat. Jenggotnya
yang memutih bergerak-gerak, suaranya lembut, bening, dan teduh.

Lelaki setengah baya penjaga masjid itu sudah sangat lama menunggu. Memang belum waktu azan. Tapi ia menanti, Abah akan memasuki masjid paling awal, sebelum kereta api senja melintasi rel, menggemuruh. Penjaga masjid tertawa lebar melihat kedatangan Abah. Dari jauh tampak hidungnya
mencuat mancung, berkacamata, berewoknya mulai memutih, dan peci haji melekat di kepala. Penjaga masjid menyambut Abah. Menyalaminya. Mencium tangan
Abah.

’’Anak lelaki saya sudah bekerja, persis seperti kata Abah,’’ kata lelaki penjaga masjid, tak berani menatap wajah Abah. Tak sepatah kata pun diucapkan Abah. Seperti tak terjadi apa pun, dengan tenang Abah melangkah memasuki masjid, berdiri di mihrab.

Lelaki penjaga masjid itu kini lebih santun, lebih hormat pada Abah. Caranya menyalami Abah, mencium tangannya, seperti berkelimpahan rasa syukur. Abah mengernyitkan dahi. Ia membiarkan penjaga masjid mencium punggung tangannya. Saat berdoa pun, penjaga masjid itu setia duduk di belakang Abah. Lama Abah berzikir. Menjelang larut malam Abah meninggalkan pelataran masjid.
Bergegas penjaga masjid mengiringi langkah Abah. Abah terhenti. Memandangi penjaga masjid dengan teduh. Tersenyum. Sepasang matanya memancarkan pertanyaan.

’’Benar kata Abah,’’ kata penjaga masjid, masih dengan menunduk, ’’anak lelaki saya, yang selama ini nganggur, sudah kerja di perusahaan yang ia sukai.’’

’’Bersyukurlah,’’ suara Abah rendah. Ia meninggalkan masjid dengan langkah pelan. Tapi dalam pandangan penjaga masjid, Abah seperti menghilang dari hadapannya. Penjaga masjid itu terheran-heran, memandang betapa wajah Abah setenang air telaga, teduh, menyejukkan.


***
DI lorong gang, sepulang dari masjid, Abah berpapasan dengan lelaki bertato bermata garang, yang menjinjing botol minuman keras. Lelaki bertato dengan mata garang, telanjang dada itu biasa mengamuk dan memaksa meninta uang pada orang-orang yang lewat. Lelaki bertato itu berpapasan dengan Abah.

’’Abah! Beri aku uang!’’ bentak lelaki bertato.

’’Kebetulan saya tak bawa uang! Datanglah ke rumah!’’

Lelaki bertato melangkah tertatih-tatih, mengikuti Abah, sempoyongan. Kadang ia terjatuh. Bangkit lagi. Melangkah mengikuti bayangan tubuh Abah.

’’Ini uang yang kauperlukan!’’ Lelaki bertato itu menerima uang Abah dengan pandangan bergoyang,
tubuh sempoyongan. Diciumnya tangan Abah. Tertawa. Tertawa dari hati yang pedih. Lelaki bertato itu, yang menggelandang malam-malam dengan cara mabuk, telah ditinggalkan istrinya, pergi dengan lelaki lain, semenjak pabrik tempatnya bekerja bangkrut. Lelaki bertato itu tinggal sendirian di rumah. Satu-satunya anak mereka, laki-laki, dibawa serta istrinya.

’’Apa kamu tak ingin menjadi tukang parkir?’’ tanya Abah pada lelaki bertato itu. Lelaki bertato hanya mengangguk-angguk, meninggalkan Abah. Tertatih-tatih. Sesekali bersendawa. Abah masih tetap berdiri. Menatap lelaki bertato itu terhuyung-huyunng. Menjauh. Salma yang muncul di sisi Abah, turut memandangi lelaki bertato yang melangkah terhuyung-huyung, lenyap di tikungan.

’’Abah tidak takut dia akan berfoya-foya dengan uang itu?’’ 

’’Mudah-mudahan dia menjadi baik, rajin ke masjid,’’ kata Abah, tenang, lembut.

***
USAI pernikahan Salma, pada hari ketujuh, orang-orang di perkampungan pinggir kota, dekat rel kereta api yang selalu menggemuruh, merasakan kesunyian: Abah kembali menghilang. Tengah malam Abah berpamitan pada Umi, dengan bekal pakaian dan uang seadanya. ’’Aku akan kembali mengembara.’’

’’Kita baru menikahkan Salma yang lima belas tahun kautinggal. Kini kau akan kembali mengembara.’’

’’Jangan menangis serupa itu. Salma dan suaminya akan menjagamu. Aku tak ingin orang-orang berdatangan ke rumah ini untuk memujaku. Biarkan aku merantau. Aku tak ingin orang-orang datang ke masjid untuk urusan duniawi: pekerjaan, jodoh, pangkat, dan kekayaan! Aku sudah tak memerlukan itu semua.’’

Ketika kereta bergemuruh melintasi perkampungan pinggir kota itu, Abah meninggalkan rumah, melangkah mengikuti arah laju kereta api malam. Umi merasakan kekosongan dalam dada. Ketika suara gemuruh kereta api lenyap, perempuan setengah baya itu merasakan detak nadinya sendiri, masa tua yang sunyi. Memandang dari jendela yang terbuka, ke arah rel kereta berembun yang membentang dingin ke wilayah-wilayah yang tak dia mengerti, yang telah melenyapkan suaminya.

Menjelang pagi, usai Shalat Subuh, kembali Umi memandang jendela yang menghubungkannya dengan dunia luar, rel yang terbentang, yang terus-menerus dilindas roda-roda kereta. Orang-orang berdatangan. Mereka bersarung dan berpeci. Datang dari masjid. Umi mengenal beberapa orang di antara mereka. Di antaranya dilihatnya penjaga masjid dan lelaki bertato. Umi takjub menerima kehadiran mereka.

Lelaki bertato, yang kini bersarung dan berpeci, berhadap-hadapan dengan Umi, yang pucat wajahnya memandangi jendela kosong hingga dini hari.

’’Kalian mencari Abah?’’ tanya Umi.

’’Abah sakit?’’ 

’’Dia mengembara. Aku tak bisa menghentikan kehendaknya.’’

Orang-orang itu menanti dan berharap akan bersua Abah. Wajah mereka tampak masygul. Tatapan mereka penuh kerinduan. Mata mereka keropos, kehilangan. Mereka tak lagi merasakan pagi senyap yang indah di masjid: suara bening Abah. Tatapan yang hangat, penuh pengharapan. Kata-kata yang menenteramkan. Orang-orang yang berjamaah di masjid, menyangka Abah sakit. Tapi kini mereka menemukan keadaan yang lebih getir: Abah kembali mengembara. 

Orang-orang itu belum beranjak dari pelataran rumah Abah. Berdiri dalam penantian. Umi meminta mereka masuk ruang tamu, minum kopi. Tapi penjaga masjid menolak. Ia tetap berdiri di pelataran. Lelaki bertato, yang kini sudah bekerja sebagai tukang parkir, persis seperti yang dikatakan Abah, menahan kegelisahan. Lelaki itu seperti ingin menyusul kepergian Abah. Ini hari pertama ia memasuki masjid, berharap bersua Abah. Tapi ia tak menemukan Abah.

Salma, si pengantin baru, yang menemui orang-orang itu, lebih tenang wajah dan pandangan matanya. 

’’Semalam Abah berpamitan padaku. Ia berpesan, jangan bersedih sepeninggalnya. Abah sesekali akan kembali menengok kita.’’

Lelaki bertato itu mengangguk-angguk. Dialah yang pertama meyakini Salma. Wajahnya tenang. Kembali pulang. Ia mesti pergi bekerja. Penjaga masjid meninggalkan pelataran rumah Abah yang paling akhir. (62)

Pandana Merdeka, Agustus 2015

S Prasetyo Utomo, cerpenis, dosen Universitas PGRI Semarang, kandidat doktor Ilmu Pendidikan 
Bahasa Unnes 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya S Prasetyo Utomo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 9 Agustus 2015



0 Response to "Abah Kembali Mengembara"