Empat Sajak nasehat - Iklan baris Sajak Duka - Sajak Penyair Hilang - Gelanggang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Empat Sajak nasehat - Iklan baris Sajak Duka - Sajak Penyair Hilang - Gelanggang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:24 Rating: 4,5

Empat Sajak nasehat - Iklan baris Sajak Duka - Sajak Penyair Hilang - Gelanggang

Empat Sajak nasehat

1.

kotek-kotek induk ayam
bertelur lima menetes tiga
jangan begitu, katamu
sedikit berbuat ribut sekampung
o, induk katung
bertelur banyak di pasir-pasir hening
belum tentu satu menetas
karena jejak, karena jejak
dapat berkhianat

2.

walau hidup dalam tempurung
jangan ajari katak melompat
tahu apa kau tentang jagad
(yang murung)

jagad alangkah luas
kemurungan tanpa batas

3.

carilah ilmu ke negeri cina
kalau bodoh tak 'kan ke mana

akan lari gunung tak dikejar
dibawa sebukit-sebukit (berpasang-pasang
bukit)
pergi malam

4. 

segala bangsa akan tiada
suka tidak suka
setiap nama akan binasa
punya tidak punya

karena itu, cari oleh dikau akan ilmu
karena ilmu, tak cina hilang di kitab

/rumahlebah, 2015

Iklan baris Sajak Duka

dukaku berlari seligat kuda berlari
meniti sebilah papan
redup negeri matahari

dukaku bukan kuda tunggang
lari ke depan bayang-bayang

dukaku kuda semberani
berani pulang
ke balik malam

/rumahlebah, 2015

Sajak Penyair Hilang

ini zaman kali tohor
sampah-sampah terapung
batu-batu melayang
gadis-gadis telanjang
puisi tenggelam
hening
di kedalaman
kening penyair
hilang malam 

/rumahlebah, 2015

Gelanggang (1) 

Dari tanah kelahiranku
kudengar para penyair ramai-ramai
mengambil alih lagu dan dendang
Lalu seperti sepatu baru dengan lampu berkilauan
dan nyaring bunyinya
mereka pasangkan ke kaki anak-anak
yang sedang belajar berkata-kata
tapi tidak emmbuatnya pandai berjalan
di luar rumah

Mereka tulis jembatan berbuai
balam tiga gaya, belalai gajah
dan kuda bendi berlari kencang
Tapi lupa jembatan lama sudah putus
memaksa anak-anak sekolah terjun ke sungai
balam dan gajah ditembak pemburu
dengan meriam dan balanza
kuda-kuda hilang gelanggang
tersingkir dari jalanan dan pasar raya

Aku ingin mereka menulis jembatan yang runtuh
aku ingin mereka menyeberangkan
anak-anak sekolah dari tepian lama
ke papan tulis yang tak hampa
aku ingin mereka melepaskan burung balam
punai dan barabah ke luas langit cakrawala
aku ingin gajah dan kuda-kuda digiring ke hutan larangan
dan padang-padang tak kepalang datar

sebab aku bukan kanak lagi
Tahu, sepatu lama atu baru
akan menempuh debu dan batu-batu
jalanna, jauh dari halaman
teduh nyaman.

Gelanggang (2)

usah terlalu ramah pada irama
yang akan membawamu berputar-putar
di bawah duri rumpun mawar
berkawanlah yang wajar
sebab jika tidak
semua duri semua kelopak
akan diamsalnya kekasih bulan!

Gelanggang (3)

Lagu dangdut itu, batu-batu akik itu
dan perempuan-perempuan cantik merindu itu
memanglah puisi jika dipuisikan
dengan mesra; kata demi kata
Tapi tak akan sanggup membahasakan
tentang seorang penyanyi habis bergoyang
bergegas ke belakang panggung menyusui bayinya
yang haus dan membelai kepang rambut
anak perempuannya yang terkantuk-kantuk
menunggu pentas usai. Di mata anak itu terbayang
batu-batu akik sialan di jari seorang lelaki
bermata kelam dan perempuan-perempuan cantik
seperti ibunya sering ia temukan
menitikkan air mata di depna cermin:
titik yang serupa batu akik juga
kadang embun buat bercermin

Gelanggang (4)

seperti politikus cendawan di musim hujan
aku ikut-ikutan mengirim sinyal sindiran
padahal lantai ditembak hidupng yang kena
bau busuk ke mana-mana. hidungku,
beri ia sebau-baunya kata
biar tahu busuknya dunia!

/rumahlebah Yogyakarta, April 2014-Agustus 2015


Raudal Tanjung Banua mengeola Komunitas Rumahlebah dan Akar Indonesia di Yogyakarta. Buku-buku puisinya Gugusan Mata Ibu (2005) dan Api Bawah Tanah (2013).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Raudal Tanjung Banua 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" Minggu 23 Agustus 2015





0 Response to "Empat Sajak nasehat - Iklan baris Sajak Duka - Sajak Penyair Hilang - Gelanggang"