Kalut Api - Kota Seribu Kata - Tuarang Jenggala - Entomophagy - Selaksa Kelam - Thor - Xipolitaxis | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kalut Api - Kota Seribu Kata - Tuarang Jenggala - Entomophagy - Selaksa Kelam - Thor - Xipolitaxis Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:16 Rating: 4,5

Kalut Api - Kota Seribu Kata - Tuarang Jenggala - Entomophagy - Selaksa Kelam - Thor - Xipolitaxis

Kalut Api

kau telah memadamkan 
kobaran merah dalam kalut ini
meletakkan ombak ganas
dalam gemuruh ini
tenangkanlah mereka
langit tampaknya akan menurunkan
air mata berbau busuk
tapi pegunungan laut itu,
menyatu dengan tepi laut
di situlah aku melihat penderitaan
Dumai, 2015

Kota Seribu Kata

Rasakan hangatnya mentari di pagi hari
memberikan secercah harapan pada bahari
kicauan burung terdengar merdu
memecah kesunyian
hingga bunga-bunga bergoyang
seirama ketukan
anak-anak berlarian menuju rusuk kota
dengan muka ceria tanpa kata-kata
polos dan tak tahu apa-apa

jika malam tiba,
tampak kemilau cahaya di setiap sudut kota
kelap-kelip penuh makna
berjejer membentuk sebuah kata
bukan slogan, bukan semboyan
tiada yang tahu arti sebenarnya
Dumai, 2015

Tuarang Jenggala

tuarang mulai memangsa hijau hutan
gersang dalam penantian musim hujan
sebaris bendungan menyengat kalut
memisahkan pepohonan dari maut
kering kerontang tak jera merta
berkesudahan
membuat dedaunan mati ketulungan
angin tak sudi bersiul lagi seumpama
kicauan burung yang hilang
dalam sekat pagi
langit tampak sungkan
menumpahkan air birahi
seperti enggan membasahi
Dumai, 2015

Entomophagy 

luka masih mencekam lidah sugi
memakan bangkai-bangkai kehidupan
mengeluarkan bau busuk belatung
Pekanbaru, 2015

Selaksa Kelam 

masih kuingat selaksamu yang kelam
menutupi lapak kerinduan karam
mencari-cari bualan biduan di rusuk tabu
kau rangkai masa lalu
dengan bumbu-bumbu kelabu
seakan menyekat tembok yang berlumut biru
Pekanbaru, 2015

Xipolitaxis

Laksana jelaga hitam
yang menyeruak ke sukma pitam
Dumai, 2015

Thor

thor, suaramu semerdu
serenade membangunkanku
menguras cerdas peluhku
engkau tutupi siluet-siluet
dengan terangmu 
agar semua takluk padamu

belum ada yang bisa menandingi tangkasmu
berdiri tegak dengan angkuh
dengan palu yang terikat sepadan di badan
melawan arah takdir dunia
Pekanbaru, 2015

Mulya Jamil; lahir di Dumai, 21 Juli 1995, mahasiswa Universitas Islam Riau, bergiat di Community Pena Terbang (Competer), Media Mahasiswa Aklamasi UIR, dan Gerakan Komunitas Sastra Riau.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mulya Jamil
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 30 Agustus 2015



0 Response to "Kalut Api - Kota Seribu Kata - Tuarang Jenggala - Entomophagy - Selaksa Kelam - Thor - Xipolitaxis"