Kiai Wafir dan Si Peci Hijau | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kiai Wafir dan Si Peci Hijau Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:36 Rating: 4,5

Kiai Wafir dan Si Peci Hijau

Tahun 1939

Dua tahun silam, ingatannya masih merekam jelas kala ratusan warga Desa Tosolong berbondong mendatangi rumahnya. Mereka mendesak Kiai Wafir menjadi kalebun. Yang paling ia ingat adalah seorang lelaki gempal berpeci hijau yang mendekat ke hadapannya, duduk membungkuk dan bertutur takzim padanya: ”Kiai Wafir tak perlu resah.  Jika suatu saat nanti terjadi masalah berat, tulislah sebuah surat pada selembar daun talas di sepanjang Pantai Tosolong ini.”

Logat Si Peci Hijau itu tak seperti logat orang pesisir biasanya yang kasar. Air mukanya meneduhkan. Andap asor, tak umumnya perangai masyarakat Desa Tosolong. Kiai Wafir terkesan pada lelaki tak dikenal itu.

Tak hanya sekali saja warga Tosolong berbondongan datang ke rumahnya, sejak kalebun sebelumnya
wafat. Kiai Wafir sebenarnya jemu. ”Memimpin pondok pesantren bagiku saja sudah beban, tegakah kalian menambahkan bebanku?” ujarnya. 

Tetapi seketika mulutnya kelu manakala ia jumpa Si Peci Hijau yang juga hadir di tengah kerumunan warga. Auranya tegas tersirat pancaran nur membuat Kiai Wafir tak dapat menolak. Walau hanya sekali bertemu orang asing itu tapi Kiai Tua itu merasa tenang dan akhirnya menerima permintaan warga. Ia jalani tanggung jawab sebagai kalebun sekaligus pimpinan pesantren.

Kini dua tahun berlalu, justru Kiai Wafir tak lagi berjumpa Si Peci Hijau itu. Menyesal ia tak bertanya nama dan di dusun mana Si Peci Hijau tinggal. Kiai Wafir sering bertanya pada penduduk kiranya ada yang tahu, tapi semua geleng kepala, bahkan mengaku tak pernah melihat kehadiran Si Peci Hijau kala ia didesak menjadi kalebun.

***
TOSOLONG sedang bencana. Musibah menimpa, serban putih Kiai Wafir dibiarkan pudar digerus waktu. Nelayan sukar menangkap ikan, bila mereka berlayar ombak membanting hajat. Sampan-perahu terbengkalai nganggur di sepanjang bibir pantai bagai tanpa tuan. Ladang-ladang kering tandus. Bumi mengeras bak batu cadas. Sumber air mampat karena kemarau panjang menguji ketabahan warga pesisir Tosolong, menguji keteguhan Kiai Wafir yang menggenggam tonggak kalebun.

Hampir saban waktu kabar warga sakit, lalu mati. Alasannya satu, kelaparan. Kini di desa pelosok yang kering tiada makanan teratur, terlebih bila bagian rodi, berita mati lapar seolah kabar sehari-hari. Warga banyak bertahan pada sayur seadanya atau kerang yang dimasak air laut dan apa pun demi pertahankan hidup. Paceklik. Nestapa mengepung nasib.

Sebagai kiai sekaligus kalebun, Kiai Wafir tak habis menahan napas, saban waktu mulutnya berucap ”Innalillahi.” dengan luka menikam dada. Air mata tak tertahan. Telah buntu segenap upaya, keluhnya.

Usaha-usaha digalakkan sampai semua menepi pada ”titik”, harta bendanya sendiri habis, penggalian sumur baru nihil, dan sebagainya. Tak dipikirkan kesehatan dirinya. Orang lain, warga dan santrinya lebih dipentingkan ketimbang dirinya sendiri. Dilakukannya dalail, tak putus puasa sudah tiga bulan dilakukannya.

Berkali-kali Kiai Wafir menghadap Camat Kumpeni namun bantuan tak jua mengentaskan keadaan. Matanya berhari-hari merah, tidur merupakan pantangan, rebah doa memenjuru malam demi malam. Tirakat tiada khatam. Bacaan-bacaan seperti Manaqiban, Burdah, Barzanji, Yasinan, dan istigasah bersama warga tak lekang tiap hari.

Sampai ia terkenang lelaki berpeci hijau.

Ya. Si Peci Hijau gempal yang pernah membungkuk di hadapannya merayap ingatannya. Sikap dan pesan orang asing itu, betapa membuatnya ingin berjumpa wajah memancar nur itu.

Tengah malam, Kiai Wafir memasang tungkainya yang kurus melangkah ke tepi Pantai Tosolong. Dia pandang purnama paruh bulan kamariah yang tak secerah muka warganya. Ia telisik pepohonan sepanjang pantai hingga terhenti saat ditemui sebatang pohon berayun dan kemilau ditimpa cahaya purnama: pohon talas.

Lembar daunnya yang mulus, licin, dan tangan Kiai Wafir gemetar sembari menggenggam sebatang pena, teriringi semat hatinya yang berdesah menguatkan ainul yaqin dan haqqul yaqin. Ia menulis pada lembar itu, cahaya purnama sebagai penerangnya....

Kepada Peci Hijau,

Siapapun kau, aku selalu berdoa semoga Allah menyertaimu. Tahukah kau kini sedang kupikul beban berat? Warga kelaparan. Banyak sakit, wafat. Semoga iman kami tak lenyap hanya karena persoalan ini. Sebagaimana kau pernah berpesan padaku dulu sebelum tanggung jawab kalebun ini kuemban. Ketahuilah, kini kami resah. Habis daya upaya. Kehendak Allah kali ini tetap kami terima walau mata berlinang tiada usainya. Aduhai, resah. Dan akan lebih resah bila surat ini tak lebih dari perilaku gila yang tak masuk akal. 

Salam. Wafir.


***
BAKDA Magrib. Kiai Wafir harus mengantar sepasang suami-istri yang tewas kelaparan. Usai talqin, Kiai Wafir bertausiah: ”Tiada yang menahu apakah ini musibah atau ujian iman. Kita tiada menahu. Tabahlah dan mintalah ampun padaNya.”

Suaranya bergetar, pelupuk matanya basah, para penyimak merunduk, meringkuk laksana bangunan ambruk, bagai pohon rubuh dijerang tengkujuh, nasib puruk. Tiada suara tiada sorot mata. Semua diam. Hening cipta.

Tiba-tiba dari arah pantai seorang bocah terhuyung. ”Kiai, Kiai Wafir!”

”Ada apa?” sahut Kiai Wafir seketika bocah itu menghampiri.

”Di pantai, di pantai ada kapal besar terdampar.”

”Kapal besar? Apa ada awaknya?” tanya Kiai Wafir.

”Saya tak menjumpa seorang pun. Kapal itu memuat banyak karung, tong dan peti. Tidak tahu isinya apa. Oborku mati tertiup angin....”

Kiai Wafir hendak bangkit untuk pergi ke pantai namun seketika encoknya menyerang. Tak dapat bangkit. 

”Tolong kalian jangan apa-apakan kapal itu. Itu bukan hak kita. Mungkin sehari-dua hari pemiliknya akan mencari ke mari!” kata Kiai Wafir yang berbaring sakit.

”Apa harus melapor ke Camat?” Carik Desa, mengusulkan.

”Aku lelah berhubungan dengan Kumpeni! Khawatir mereka akan mengembat kapal itu tanpa hak!” engah Kiai Wafir.

Tapi si Carik kemudian berangkat menuju Kantor Camat, yakni Kumpeni Belanda.


***
MATAHARI baru naik setombak, Carik datang menghadap.

”Kiai, Kumpeni telah menguasai kapal itu,” lapornya.

”Kau melaporkan ke Camat?” tanya Kiai Wafir.

”Maaf, Kiai....” Carik merunduk.

”Kau itu! Kejahiliahan apa lagi yang bakal mereka perbuat?”

”Tapi, Kiai. Ternyata di Kapal itu....”

”Kapal itu bagaimana?”

”Kapal itu ternyata berhubungan dengan Kiai Wafir,”jawabnya sesal.

”Hubungan bagaimana?”

”Saya mohon Kiai ke pantai sekarang juga.”

Kiai Wafir menarik badannya tak kuasa. Demam menyerang tubuh tuanya. Batuk-batuk berdahak. Tapi sebagai kepala desa dan pemuka agama, banyak tanggung jawab di tangannya. Dengan menyanggah sebilah tongkat, ia melangkahkan tungkainya ke pantai bersama Carik itu. Terlihat kapal kayu besar, kokoh terdampar perkasa di bibir Pantai Tosolong.

Banyak orang menyaksikan kapal itu. Muka-muka pucat Kumpeni berjaga mengelimpungi kapal itu. Beberapa warga beradu mulut dengan Kumpeni. Kiai Wafir terkejut manakala disaksikan kapal itu lebih dekat. Aneh. Pada sehelai bendera hijau yang berkibar-kibar di ujung kapal itu tertulis: ‘KEPADA KIAI WAFIR’.

”Kapal ini milik Belanda. Jangan sampai ada yang berani menyentuh kapal ini!” ujar seorang Kumpeni.

”Lihatlah baik-baik bendera kapal itu. Di sana tertulis jelas!” seorang warga menyela.

Setelah mendekati kapal itu, Kiai Wafir berkata, ”Saya kalebun Desa ini. Nama saya Wafir. Nama orang pada kapal ini insya Allah saya.” Tangannya menunjuk bendera kapal.

Kalebun, kapal ini bukan milik warga sini. Kapal ini hanya kebetulan terdampar di sini. Dan nama ‘Kiai Wafir’ tentu tak hanya nama je saja,” sanggah si Kumpeni dengan logat Belanda.

Kiai Wafir menarik napas. ”Kalau begitu izinkan saya shalat sunah sejenak dan setelah itu kita bicarakan lagi,” lanjutnya.

Kiai Wafir kemudian mencari tempat sepi, ia berdiri tegak ke arah kiblat di atas pasir pantai. Matahari setinggi tombak, ia salat khusyuk. Bakda shalat, ia berdoa panjang bercurah tentang kejadian kapal ganjil itu. Lantas ia hampiri sebatang pohon talas yang pada selembar daunnya pernah dia tulis sepucuk surat. Ia pandang lekat selembar daun hijau itu masih utuh, masih berayun dimainkan udara, tapi tulisannya kini berbeda tak seperti tulisannya dulu. Jika dulu ia menulis berbaris-baris. Kini tulisannya hanya empat baris. Ia baca sepintas lantas memejam mata.

Kemudian kembali ke kapal itu. Warga dan Kumpeni menunggunya. ”Sekarang saya paham. Saya yang berhak menyentuh kapal ini!” tegas Kiai Wafir.

Tapi Kumpeni masih mendebat. ”Ah! Je jangan main-main dengan Kumpeni!” hardiknya sambil menyorongkan pistol.

”Kapal itu berisi karung, tong dan peti! Kapal ini untuk menolong kelaparan yang menimpa.” Kumpeni kecamatan itu masih melawan.

Kiai tua itu menarik napas. ”Mari saling menguji isi kapal ini! Ambillah karung di kapal, jika kalian membuka karung itu lalu isinya beras, maka kalian boleh mengambil kapal ini. Tapi jika tidak, maka ini adalah hak warga Tosolong!”

Kiai Wafir malah menantang, entah dari mana ia mendapat ilham untuk menantang Belanda itu. Kumpeni meladeninya, dua karung diambil dari kapal lalu dan tercengang manakala menyaksikan isi karung itu, berisi pasir hitam. Lalu dua karung lagi diambil dan diserahkan kepada Kiai Wafir, ia merobek karung itu dan semua mata tercengang manakala isi karung yang dirobek kalebun itu berupa beras.

”Je hanya kebetulan,” teriak Kumpeni. 

Masih tak percaya. Lantas diambil beberapa karung lagi, tapi lagi-lagi karung Kumpeni berisi pasir sedangkan karung Kiai Wafir berisi beras.

Takbir menggema panjang seantero Pantai Tosolong. Semua terpana. Baru saja peristiwa ajaib terjadi. Serempak, seluruh warga sujud syukur. Kumpeni menyerah dan bubar barisan. 

Ratusan karung berisi beras itu lantas dibagikan. Begitu pun tong-tong berisi minyak, ratusan peti yang berisi daging, dan rempah. Langit bersinar, Kiai Wafir kembali menghampiri daun talas itu. Hanya empat baris!

Kepada Kiai Wafir,
Semoga Allah meridai perjuanganmu, menguatkan iman wargamu. 
Terimalah hadiah kapal ini! 
Salam. Si Peci Hijau. Khidir. (62) 

Raedu Basha lahir 3 Juni 1988 dengan nama Badrus Shaleh, sedang menempuh studi pascasarjana ilmu antropologi, Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Raedu Basha
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 23 Agustus 2015

0 Response to "Kiai Wafir dan Si Peci Hijau"