Kita Pernah Jatuh dalam Kesedihan yang Sama | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kita Pernah Jatuh dalam Kesedihan yang Sama Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:10 Rating: 4,5

Kita Pernah Jatuh dalam Kesedihan yang Sama

PEREMPUAN bertudung biru berdiri di pintu. Ia bertanya, apakah ada kiriman yang datang untuk seseorang bernama Mira dari seseorang bernama Santo.Budiman segera mengobrak-abrik daftar kiriman dan sebentar-sebentar memeriksa ke gudang, lalu muncul di hadapan perempuan itu dengan gelengan lemah tanpa rasa lelah. Budiman tahu, perempuan itu akan kecewa, dan itu membuat ia semakin sedih.

Kali ketiga kedatangannya membuat Budiman semakin akrab dengan kesedihan yang dibawa perempuan bertudung biru itu. Ia tidak tahu harus berkata apa selain memaksa bibirnya untuk terus tersenyum, sambil menyusuri bayangbayang rambut perempuan itu dari balik tudung birunya yang tipis. Tak ia hiraukan panggilan Emilia, rekan kerja yang duduk di sebelahnya, mengutuk-ngutuk orang-orang yang meminta layanan cepat di kantor pos bagian pengiriman barang. Budiman baru akan menoleh saat perempuan itu keluar ruangan, lalu duduk di sebuah bangku yang dapat dilihat Budiman dari balik kaca. Saat itu Budiman mencoba menenangkan hatinya ketimbang menjawab ocehan panjang Emilia. Begitu pekerjaan selesai dan saat bergegas pulang, Budiman tidak lagi melihat perempuan itu di luar. Ia makin sedih dan berniat hendak mengajak perempuan itu bicara jika ia datang kembali.

Seperti yang telah ia bayangkan, perempuan bertudung biru muncul setengah jam saat istirahat siang. Budiman sudah merencanakan akan mengajak perempuan itu mengobrol sambil makan siang. Ia abaikan tatapan sinis Emilia yang lebih mencuatkan kecemburuan ketimbang pertemanan. Budiman tak peduli. Ia benar-benar terpesona oleh perempuan bertudung biru.

“Aku tidak akan membohongimu. Sepanjang kemampuanku mengumpulkan data, aku tidak pernah seyakin itu memberitahukan kiriman yang tidak ada di kantor kami. Tak ada penerima bernama Mira, tak ada pengirim bernama Santo.Tentu saja tak ada alamat yang dituju dari barangbarang yang singgah di kantor kami untukmu.Apa kau tidak bertanya pada pengirimnya?
Apakah ia benar-benar mengirimkannya lewat kantor kami?“ “Ya. Barangkali,“ jawab perempuan itu. Ia masih berdiri dengan tatapan sendu. Budiman menelan ludah. Ketabahan perempuan itu untuk datang berkali-kali menambah kepeduliannya.Perempuan itu berdiri dekat sekali dengannya.Budiman mencium wangi parfum bunga dari tubuhnya.

“Apa kau ingin minum? Aku akan mentraktirmu,“ tawaran itu sering disampaikan Budiman pada perempuan-perempuan yang sempat ia temui, termasuk Emilia. Tapi pada perempuan bertudung biru, ia menawarkan ketulusan, meski ia seperti mendengar kekosongan yang dalam. Mereka seolah-olah pernah bertemu sebelumnya. Seolah-olah pernah hidup bersama juga.

Sejak hari pertama kedatangannya, Budiman memastikan wajah perempuan itu telah menyeretnya dan membuat ia ikut-ikutan memikirkan barang yang tak pernah ada di kantor. Perempuan itu menoleh dan mendapati Budiman melongo menatapnya. Ia mengomel manja sambil memperbaiki kerudung yang terbuka dan mengatakan bahwa Mira akan sedih jika kiriman itu tidak ada. Budiman heran. Ia tidak tahu kalau Mira ternyata bukanlah nama perempuan bertudung biru itu.

“Aku bukan Mira. Mira ada di rumah. Sepanjang hari ia berdiam di kamar. Mengusir lalat-lalat yang menghinggapi makanan.Ia akan senang dengan kiriman yang dijanjikan Santo; alat-alat terbaik untuk mengusir lalat.Santo bekerja sebagai penjual barang di kota lain. Soal air kotor dan kemalasan Mira untuk bersihbersih bukanlah alasan yang tepat bagi para tetangga untuk membencinya.“

“Oh,“ Budiman mencoba memahami situasi yang dikatakan perempuan itu.

“Lihat saja caranya bicara.Kau akan tahu kalau ia orang yang sangat menjengkelkan.Blusnya terus saja kekecilan dan kadang ia mengoyaknya dengan sekali sentakan. Aku harus kembali ke tukang jahit, atau memperbaikinya dengan tanganku, meski hasilnya tidak sebagus mesin. Akhirnya ia akan marah dan mengatakan aku bukan orang baik. Ia akan melempariku dengan apapun yang ada di dekatnya. Tapi aku sayang padanya. Sangat menyayanginya.“

Budiman mendesah. Ia ingin sekali menanyakan nama perempuan itu. Tapi ia urungkan niatnya, lalu membawa perempuan itu ke sebuah pusat perbelanjaan. Cinta tunggal perempuan itu kepada Mira mengingatkan Budiman kepada ibunya. Seseorang yang juga membuat ia sangat bersedih.

***
Perjalanan Budiman dari pusat kota menuju rumah ibu cukup melelahkan. Menguras pikiran dan uang yang ia kumpulkan selama bertahuntahun. Tapi ibu meminta Budiman pulang. Ibu sekarat dalam utang yang menumpuk akibat ulah almarhum ayahnya.

Perasaan sedih menjejali langkahnya. Seorang perempuan tua akan mengomel di hadapannya, melemparinya dengan apa saja, begitu ia muncul di pintu. Uang yang dikirimkannya saban minggu tak bisa membuat ibunya waras.Budiman mendengarkan saja setiap permintaan ibunya, dan ia akan mengabulkannya bila mampu. Budiman mulai memperbaiki atap dan membersihkan sudut-sudut rumah yang tampak mulai rapuh. Rayap sudah menggerogoti seluruh perabotan dan Budiman mengganti benda-benda itu dengan barang yang lebih pantas agar ibunya senang. Ia memperbaiki saluran air agar ibunya tak perlu bersusah-payah saat mandi.

Dua minggu kemudian pekerjaannya rampung.Budiman merasa sangat bangga pada dirinya. Ia berpikir telah menjadi anak paling berbakti pada ibunya. Tapi hal yang tak Budiman sangka adalah, ibunya meminta ia pergi dari rumah itu. Budiman terhenyak. Dengan berat hati ia mengabulkan permintaan itu.

*** 
Perempuan bertudung biru tersenyum. Budiman ternyata memiliki kesedihan yang sama dalam mengurusi seseorang. Budiman menyeka ujung matanya yang basah. Setidaknya kesedihan yang pernah ia rasakan bisa ia bagi dengan perempuan itu.

“Jadi apa yang akan kau lakukan setelah kita kembali ke rumah masing-masing?“ perempuan itu membuyarkan lamunan Budiman.

“Aku akan mandi dan menyeduh kopi panas, menyetel siaran komedi dan membaca beberapa hal penting dalam surat elektronikku. Aku juga akan melihat apa kucing kesayanganku baik-baik saja. Lalu aku akan tidur cepat. Sebab, besok aku akan membantumu mencari tahu tentang Santo.“

“Oh. Kenapa? Kenapa kau ingin menghubungi Santo?“ tanya perempuan itu dengan tangan yang bersedekap.

“Dengan begitu, aku bisa menghilangkan kesedihanmu. Kau tidak tahu kalau hatiku semakin kacau jika kedatanganmu selalu membawa kesedihan.“

“Kau sudah gila, ya?“ perempuan itu terkejut.

“Bukan Santo yang membuat aku sedih.“

Akhirnya perempuan itu berkata dengan tenang. Ia pergi dan membiarkan Budiman melongo dalam kebingungan.

Maka dengan perasaan kacau, Budiman tetap bekerja keesokan harinya. Ia mengabaikan pertanyaan Emilia mengenai perempuan bertudung biru itu. Budiman semakin sedih dan memutuskan untuk menulis kesedihannya.Ia juga berencana pulang untuk menziarahi makam ibunya. Lalu, sepucuk surat datang ke mejanya. Diantarkan oleh seorang satpam yang mengatakan bahwa seseorang telah menitipkan surat itu pagipagi sekali.

Budiman membukanya perlahan. Seperti ada firasat yang akan membuat ia semakin terhenyak.

“Terima kasih. Kamu mendengarkanku dan berniat membantuku. Tapi sungguh, kesedihan ini bukan tentang Santo dan kiriman yang terus kutanyakan padamu. Ini hanya tentang perasaanku yang tak terbalas padamu. Saban hari kulihat kau pulang dan melewati gang rumah kami.Aku menyukaimu dan tidak tahu cara untuk berbicara tanpa mengurangi rasa hormatku.Betapa bodohnya aku. Betapa kesedihan itu membuat aku tidak bisa berpikir lebih jernih. Satusatunya jalan adalah berbicara denganmu. Tapi aku tahu, kau juga pasti dilanda kesedihan yang sama saat membayangkan ibumu. Maka ketika aku tahu Mira tak lagi mampu bertahan, aku menyiapkan tujuan. Mira telah pergi dengan tenang.Dia ibuku, Budiman. Dia yang membuatku bertahan selama ini untuk tidak mengatakan apapun kepadamu. Dia sudah meninggal berhari-hari sebelum aku menyapamu. Mungkin kita akan bertemu lain kali dengan segala keberanianku yang utuh. Terima kasih sudah meluangkan waktu.“ Budiman melipat surat itu. Ia mendekap tangannya ke atas meja dengan kepala menunduk. Sungguh ia ingin sekali membiarkan air matanya jatuh kalau saja tak ada teriakan Emilia agar ia segera melayani orang-orang yang datang. Budiman menggeser surat itu dan melihat ke pintu luar, kalau-kalau perempuan itu datang kembali dengan keceriaan. Budiman ingin menanyakan, kenapa perempuan itu mengarang kebohongan tentang kesedihan yang sama-sama mereka rasakan?

2015 

Cikie Wahab, bergiat di Komunitas Paragraf, Pekanbaru, Riau. Karya-karyanya tersiar di sejumlah media.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Cikie Wahab
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 30 Agustus 2015

0 Response to "Kita Pernah Jatuh dalam Kesedihan yang Sama"