Kota Kupu-Kupu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kota Kupu-Kupu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:42 Rating: 4,5

Kota Kupu-Kupu

SIAPA lagi yang bisa menikmati keindahan kupu-kupu selain manusia? Apakah kupu-kupu itu sendiri bisa menikmati keindahan dirinya, mengagumi satu sama lain di antara mereka? Bila manusia tiada akankah keindahan kupu-kupu ada nilainya?

Satu bulan sebelum kota ini dipenuhi miliaran kupu-kupu yang memenuhi udara, wabah ulat bulu mengganas. Kejadian wabah ulat bulu di kota ini bukan yang pertama kalinya, namun kali ini membuat siapa pun jadi miris, gemetar melihat begitu banyak dan tak masuk akal dari mana datangnya ulat-ulat itu.

Kejadiannya, di suatu pagi yang dingin tak seperti biasa, bersamaan dengan turunnya hujan, miliaran ulat bulu berjatuhan dari langit, menimbulkan suara berisik di payung-payung yang melindungi para pejalan, berkelotakan di atap-atap rumah dan mobil, dan menggelapar jatuh di tanah.

"Ya Tuhan. Tuhan...! pekik orang-orang dari segala arah.

Aku melongok langit sekejap, di sana mendung tebal bergulungan namun yang membuatku terkejut bukan kepalang, saat menatapnya lebih teliti mendung itu menggeliat-geliat. Aku tak percaya!

Ribuan burung pelatuk terbang menyambar-nyambar sesuatu yang menggeliat itu. Sesuatu yang bergerombol dna hidup. Sayap-sayap mereka engepak basah dengan paruh penuh mangsa. ganjilnya lagi, langit yang menghitam makin berongga membentuk lubang hitam seperti mulut sumur yang dalam

Begitu payungku sendiri berkelotakan, dan ulat-ulat bulu berjatuhan di sekitarku, aku menyadari bahwa mendung yang menggeliat itu adalah gerombolan ulat bulu. Ini kenyataan! Sangkalku sebelum percaya.

Rasa gatal dan jijik langsung menyerangku tanpa ampun. Tapi segera kuabaikan gatal dan jijik itu karena melihat orang-orang tak berpayung mulai berjatuhan, bergulingan di tanah. Tubuhku gemetar, jantungku seakan berhenti berdetak melihat ulat-ulat itu memasuki tubuh mereka melalui mulut, hidung, dan telinga. Sungguh tak masuk nalar.

"Tolong! Toloooooong!"

Terdengar jerit sakit menyentuh perasan; erangan-erangan hebat menahan rasa sakit yang tanpa ampun. Pekik burung gagak terdengar keras berkaok-kaok bersahutan seolah tengah menyambut pesta pora. Perasaan takut dan tercekam menyekap inderaku. Hanya sudut mataku melihat kawanan gagak meluncur hingga di tubuh-tubuh yang meregang nyawa di jalan. Sayap-sayap mereka menutup, dan paruh-paruh itu mematuk cepat, mengoyak daging, dan mematuk sepasang mata milik beberapa mayat. Bau anyir darah menguar menyengat hidung.

Menyaksikannya membuat tubuhku menggigil. Aku melangkah menjauh dengan muak sekaligus tak berdaya. kuinjak gerombolan ulat di depanku! Mereka menggeliat kesakitan. Aku bergegas emnuju tepi deretan rumah yang pintunya tertutup rapat. Ulat-ulat bulu mulai memenuhi seluruh dinding, merayap makin tinggi memasuki lipatan-lipatan genting.

Menemukan sebuah rumah yang pintunya belum dipenuhi ulat, aku terdorong keinginan untuk minta tolong!

"Berdoa! Ayo cepat berdoa!" Suara dari dalam rumah mencekal keinginanku, menghentikan kutukan tanganku. Ajakan berdoa biasanya dengan lemah lembut, kali ini terdengar begitu panik dan penuh ketakutan.

Dengan menahan bentol-bentol gatal di sekujur tubuh, aku nekat berjalan lagi, menyusuri trotoar depan perumahan. Doa-doa memantul dari dalam begitu lantang, barangkali hanya dengan doa yang dmeikian Tuhan mau mendengar.

"Semua rumah tertutup rapat. Tak ada yang peduli pada ketukan pintu. Tak ada tempat berlincung buatku," batinnku sedih.


***
SEHARI setelah peristiwa itu, aku kelaparan. Sejak kemarin belum sedikit pun makanan yang tertelan.

Biasanya ulat bulu hanya doyan pada daun-daun tertentu terutama tanaman bakung dan sayuran tapi kali ini sungguh lain. Sungguh aneh. Begitu sangat rakusnya mereka, semua daun bahkan daun pohon keras seperti mahoni dan akasia pun ludes!

Jahe dalam tanah yang kemarin bisa kuperoleh dan kulahap untuk menghangatkan tubuh dan menahan kekurangan pangan kini khasiatnya mulai menghilang ditandai tubuhku yang gemetar dan lemas! Tadi pagi aku coba mencarinya di ladang, namun ulat-ulat itu juga menggerogotinya. Sial! batinku.

Kaleng minum pun hanya berkelontangan di ikat pinggang kananku menandai airnya yang sudah habis. Kueratkan ikatannya dan memerkuat cantolan pada kaleng itu agar tak jatuh. Selain lapar aku juga kehausan, nyaris tak bisa dipercaya, sumur-sumur pun telah asat dihisap mereka! Tak ada mata air yang tak dirambah wabah itu. Rasa haus dan lapar memerihkan lambungku.

Awalnya, apa yang terjadi sungguh tak masuk akal, dari tempat meringkukku di emperan toko biasanya aku dibangunkan oleh sengatan matahari yang cerah, namun tidka untuk kemarin itu. Aku melihat cahaya matahari mulai lenyap dengan cara yang aneh. Pertama-tama sinarnya yang cerah berubah menjadi kelabu. Awan-awan hitam bergerak-gerak tak seperti biasa. Mataku melihat --rasanya mustahil-- dari dalam awan yang rendah itu ada sesuatu yang bergerombol dan menggeliat-geliat. Aku merasa ada yang salah dengan mataku. Kukucek mataku namun nyatanya mendung itu benar-benar tampak hidup!

Keanehan tak segitu saja, mendung itu dengan cepat membesar dan meluas seakan mereka tengah beranakpinak. Makin lama menutupi bentangan langit, dan membuat sinar matahari bersinar lemah karena tak mampu menembusnya! Saat itu aku agak mengacuhkan keanehan itu sampai hujan disertai ulat bulu tercurah dari langit begitu deras, meluncur tanpa hambatan. Orang-orang dilanda kepanikan!

"Apa-apaan ini!" Seru seorang lelaki.

"Lihat! Ya Tuhan! Tuhanku!" pekik seorang perempuan.

"Awas ulat!"

"Ini kiamat! Tobat!!!"

Mereka dengan cara apa saja, menginjak-injak mematikan ulat-ulat itu namun hujan tetap tak berhenti. Gerombolan ulat berjatuhan di kepala orang-orang tak berpayung, membuat yang sudah kehabisan tenaga, jadi tak kuasa melawan. Sebagian orang mulai jatuh bergulingan, dan naasnya secara cepat ulat-ulat itumemasuki mereka!

Tubuh-tubuh itu mengerang kesakitan, sebagian berkelojotan meregang nyawa. Perasaanku menggigil melihat sekaratul maut terjadi di depan mata! Kematian telah memantulkan wajahnya dengan sempurna ke seluruh hatiku.

***
KAWANAN gagak berkaok-kaok, memekik-mekik keras di udara, meneriakkan nyanyian suka cita.

"Aku tak mau mati! Tak mau!!" seru batinku.

Kini dengan tubuh gemetar kupaksa terus melangkah. Payungku mulai robek di sana-sini. Sepanjang yang kulihat: jalan yang membentang lurus, tembok-tembok toko, pagar stasiun, kereta api yang sejak kemarin tak berangkat, sebuah bus, dinding-dinding hotel danapartemen, semua telah penuh oleh ulat bulu yang menggeliat merayap.

"Ya Tuhan...." Suara lirihku parau. Pemandangan ganjil ini sangat menohok kesadaranku, membuatku terhisap ketidakberdayaan. Tubuhku menggigil, lidahku kelu, kepalaku pusing, dunia tampak bergoyang-goyang menggeliat oleh miliaran ulat bulu yang memenuhinya!

"Kaok-kaok. Kaoook!" Suara kawanan gagak memekik keras. Suara-suara itu mendekat serasa menyambar ubun-ubunku. Langkahku limbung! Aku tersungkur tak berdaya. Apakah tiada lagi jasad yang segar untuk mereka. Apakah mereka menungguku untuk menyerahkan diri pada kematian.

***
AYO bangun! Aku tak mau mati! Sentak batinku. Aku berdiri walau dengan susah payah. Kubuang payungku yang percuma tiada guna karena telah robek di sana-sini. Aku enyahkan perasaan putus asa yang mulai menjangkitiku. Tak lagi peduli pada kejamnya kematian, aku etrus bergerak, terus berjalan. Ulat-ulat yang berjatuhan di kepala dan bahuku, kuenyahkan dengan cepat. Tak ada gatal, tak ada lapar, aku harus kuat, harus terus berjalan menjauhi tempat terkutuk ini!

Dan saat dmeikian anehnya, kaok-kaok itu mulai tak terdengar. AKu melangkah tegap-tegap menjadi tonggak lurus bagi bumi. Tegak lurus bagi jalan horizontal ini. Otot-ototku mengeras, menguat, kulitku menebal liat menahan gatal, darah dalam pembuluh mengalir deras, jantungku berdenyut kuat. Aku berjalan dengan langkah panjang-panjang, setegap-tegapnya!

Entah telah berapa lama aku berjalan hingga semua benar-benar gelap! Semua tak terindera penglihatanku hingga, entah ini nyata atau tidak, dalam kegelapan aku seperti mendengar gema lonceng, diiringi nyanyian tembang yang mengalun tenang, dalam suwung yang menyayat, tak ada lagi kegaduhan yang ditimbulan oleh kematian-kematian yang sebelumnya memenuhi semua suara dunia.

Suara liyan itu terdengar makin lantang, membuncahkan hatiku. "Hidup!" Aku berteriak spontan, tercekat tak percaya, suaraku tak lagi parau. "Hidup!!!" Pekikku sekali lagi. Suara kepak sayap ribuan burung pelatuk dan desing hujan miliaran ulat bulu mulai mereda!

Hadir tanpa bisa kupercaya, dalam penglihatanku: Seorang anak kecil, oh bukan, serupa manusia cebol turun perlahan dari cahaya yang keluar dari kolong langit yang bagai mulut sumur yang dalam itu. Cahaya itu dinaikinya atau cahaya itu mengantarkannya turun ke bumi.

Ia mendekat. Bentuk mulutnya yang vertikal menyanyikan senandung tembang. Tangan kanannya yang kecil bagai sayap karena jari-jarinya menyatu menggoyang lonceng mencipta gema memenuhi semua rongga udara. Ulat-ulat bulu sirep seperti tertidur. Kawanan gagak dan burung pelatuk menyeberangi angkasa menjauhi gema itu menuju langit yang paling jauh dan tersembunyi. Lenyapnya mereka yang secara tiba-tiba membuat kesunyian emmenuhi jiwaku. AKu terpeluk hening merinding.

Setelah gema itu mereda, kekelaman menyirna, matahari bersinar lagi, cebol itu lenyap secara misterius. Kehadiran dunia kini dipenuhi oleh kepompong-kepompong di segala tempat. Mereka bergelantungan dalam diam. Alam nyaris hening sempurna, kecuali dengung lalat-lalat hijau yang menggerogoti sisa-sisa daging yang busuk. Selebihnya, kota ini seperti tengah bertapa.

Satu bulan setelahnya, semua udara jadi bersih dan dipenuhi miliaran kupu-kupu yang terbang begitu indah. Segala pemandnagan dihiasi oleh sayap-sayap mereka yang penuh warna. Sayangnya, tak ada lagi manusia di kota itu yang bisa menikmati keindahannya! (k) 

Han Gagas: Sarjana Geodesi UGM Yogyakarta, penerima penghargaan Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) 2011 karena memenangi sayembara menulis novel.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Han Gagas
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 3 Agustus 2015

0 Response to "Kota Kupu-Kupu"