Kutukan Lembah Baliem | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kutukan Lembah Baliem Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:48 Rating: 4,5

Kutukan Lembah Baliem

DI Lembah Baliem, kesedihan adalah darah dan pengorbanan. Kenangan merupakan kepedihaan. Pagi itu, di dalam honai-honai yang lembab, para mama telah berkumpul dan menangis. Sebuah kepergian kembali terulang. Kepergian yang tak pernah menghadirkan kebahagian; selain kesediahan. Sepanjang hari yang muram itu, setiap pasang mata khusuk menekuri mayat seorang pria yang telah meregang tanpa nyawa. Mengenaskan. Tubuhnya koyak-moyak. Darahnya meleleh melumuri setiap lubang luka. Panah masih tertancap gagah di dadanya. 

Tidak ada kata. Hanya tangis dan usaha melupakan rasa sedih dengan doa-doa. Panjang. Tabah dipanjatkan. Begitu pun dengan mamamu. Ia terpekur dengan air mata berlinang. Kulit wajahnya yang kecoklatan memudar pucat, dan matanya leleh karena berkabung. Ia juga telah tiga kali jatuh pingsang; mendapati kenyataan kalau seorang pria yang ia cintai meninggal. Tetapi tangis tidak menyelamatkan apapun. Mayat papamu tetap saja tak kembali hidup. Bahkan doa-doa hanya seleberasi pemanis keadaan. 

Kau masih ingat, sebelum fajar benar-benar merekah, perang antar suku kembali pecah. Sekelompok anggota suku dari uma lain menyerbu uma-mu. Mereka menghancurkan apa saja: kebun, wamai, dan honai-honai. Mereka membakar semunya. Tidak tersisa. Papamu, sebagai seorang kain dengan tangan besi memimpin anggota lainya untuk membalas dendam; melunasi hati warga desa yang hancur. 

Rengek mamamu sebelum papamu pergi. “Jangan lakukan itu.”

“Tidak! Mereka harus merasakan pembalasan kita!”

“Akan bertambah banyak jatuhnya korban kalau kau menanggapi amarahmu.”

Papamu tidak menghiraukan. Isi kepalanya sudah menjadi batu. Hatinya mengeras karena amarah. Dendam.  Ia tetap pergi bersama sekolompok pasukan kecil menuju medan laga. Bengis mata papamu meninggalkan honai, dan tangannya erat menggenggam anak panah berpoles racun. Begitu juga dengan para laki-laki lain yang telah kalap untuk berperang. Mereka membawa senjata masing-masing di tangan: moliage, valuk, wim, dan koroko. Semua benda itu seakan telah dilumuri kebencian: siap mencari korban. 

Mereka pergi. Dan mamamu sepanjang hari dihantui rasa gelisah yang buta: terus menangis, tak makan, hingga melupakan kondisi tubuhnya yang lemah karena sakit.  Detik dan menit berlalu. Hingga akhirnya sebelum senja benar-benar tenggelam di antara bukit-bukit yang mengapit desamu, pasukan kecil itu kembali dengan memanggul wajah lusuh. Kutuk para dewa menimpa mereka. Papamu terkapar dengan anak panah yang menacap pongah di dadanya. Darah meleleh. Melumat seluruh tubuh. 

Begitulah, ketika melihat jazad papamu, mamamu langsung menangis. Sepasang sungai kesedihan mengalir deras di matanya. Akan tetapi, tangisan tidak merubah apapun. Papamu tetap pergi bersama dendam dan amarah yang tak pernah tuntas. Kau pun hanya terpekur; ikut menangisi kepergian papamu. Hatimu sedih mendapati semua kenyataan. Dan kau tak tahu, bagaimana cara terbaik untuk mengakhiri kesedihan itu?

***
Semua kesedihan dan malapetaka ini berawal dari cintamu yang terlarang. Cinta yang tak dapat dikekalkan oleh hukum dan tata-cara adat. Kau jatuh cinta pada seorang pemuda di kampung seberang. Seorang pemuda yang tampan. Baik. Namun papa dan mamamu melarang kau berhubungan dengan pria itu. Mereka menganggap: hubungan kalian adalah sebuah dosa. Kau pun berpikir: mengapa cintamu menjadi terlarang? Apakah karena hukum-hukum para dewa yang tidak memperbolehkanmu berhubungan dengan pemuda itu?

Sebenarnya kau tahu, kalau pemuda yang kau kasihi masih memiliki kekerabatan denganmu. Orang tua pemuda itu adalah adik kandung papamu. Yang lebih buruk lagi:  mereka merupakan seseorang yang pernah tersingkirkan dari desa, karena mencuri seekor babi Ap Waregma. Kesalahan itulah yang membuat keluargnya harus pergi dari uma. Dan tinggal di uma lain di seberang hutan. 

Akan tetapi, cinta memang tidak berumah. Cinta selalu mengetuk setiap pintu yang mau menerimanya. Cinta telah membutakan pikiranmu. Kau langar semua hukum-hukum adat; petuah-petuah nenek moyangmu yang melarang untuk menikahi seseorang yang masih memiliki kekerabatan. Kau tetap berhubungan denganya, hingga papamu mengetahui semua larangan kau langgar. Bahkan, darah ayahmu semakin memanas; saat memergokimu dan kekasihmu sedang bergumul di dalam wamai. Babi-babi itu seakan berkhianat kepadamu. Mereka berseloroh, mengolok-olokmu, ketika melihat papamu menghajar pemuda itu hingga hampir mampus. 

Karena kejadian itulah perang antar suku terajadi. Orang tua pemuda tersebut tak terima anaknya mendapatkan perlakuan tak beradab. Mereka merencanakan sebuah serengan balasan ke umamu. Hingga akhirnya, mereka menghancurkan apapun di sana. Tak terkecuali cinta kalian. 

***
Siang itu dalam upacara perkabungan, kau tampak begitu pilu. Kau termenung tanpa kata; dan di dadamu menumpuk dosa dan rasa bersalah yang kau anggap tak dapat dimaafkan. Kau berpikir: kalau kau adalah sumber semua malapetakan ini. Akan tetapi, kau tidak mengerti: mengapa air matamu tak dapat mengalir? Apakah kau sudah terjerumus dalam laknat para dewa yang kalis dan tak berbantah? 
Para mama terus menangisi kepergian papamu. Seorang Ap Kain, tetua suku, datang. Ia termenung ketika melihat jazad papamu yang telah biru dan kaku. 

“Semua perselisihan harus segera diselesaikan!” Katanya lantang. “Jangan sampai mayat ini ketika dikebumikan masih menyimpan dendam dan amarah. Itu hanya akan mengundang mala petaka untuk kita semua.”

Maka, sebuah upacara Kaneka Hagasir pun diadakan. Sebuah upacara keagamaan yang diselenggarakan oleh dua orang kepala suku untuk mendamaikan keadaan. Upacara yang dipersembahkan untuk papamu dan seorang yang berselisih dengannya. Upacara itu dipimpin oleh Ap Kain. Dua orang kepala suku itu pun dipertemukan disebuh tanah lapang. Julur-julur rumput kecoklatan tampak lebat menangkupi sekeliling tempat, dan tebing-tebing curam menganga di sisi kanannya. 

Sebuah perundingan yang cukup sulit terjadi. Dua belah pihak tampak bersikukuh kalau semua kejadian berawal dari masing-masing kelompok. Perang hampir kembali terjadi. Setiap orang yang telah berjaga-jaga membawa: moliage, maluk, dan sege; sudah saling menodong. Namun, Otiz, seorang Ap Kain yang menengahi perundingan kedua suku berselisih dapat melerai peperangan. Mereka akhirnya mau membayar denda berupa delapan ekor babi dan hasil kebun untuk kematian ayahmu. Upacara pemakaman pun diadakan. 

***
Setelah tubuh papamu dilumuri darah babi (lambang penyucian dari segala dosa), dan dikermasi hingga tak menyisakan bentuk selain abu yang akan diambil setelah tiga hari pembakaran; kau semakin tenggelam di dalam kemurungan. Rasa sedih yang bersemayam di dalam hatimu tidak juga hilang. Darah babi sebagai simbul pensucian itu tidak dapat mengobati luka. Para mama terus menangisi kepergian ayahmu. Bahkan, seluruh warga di kampungmu sepakat akan mandi lumpur selama rentang waktu tertentu untuk memperingati kesedihan; setelah meninggalnya papamu.

Kau semakin merasa bersalah. Kau tidak dapat menanggung semua dosa itu.  Malam harinya, di dalam ebei, kau dan mamamu masih meratapi kepergian papamu. Para mama pun berkumpul di tempat itu—dengan tubuh beraroma lumpur—memanjatkan doa-doa. Mereka menghiburmu agar tidak larut dalam kesedihaan yang mendalam.

Seorang mama mencoba menentaramkan hatimu. “Semua ini telah ditentukan oleh para dewa.” 
Kau hanya mengangguk; mencoba menenangkan diri. Tetapi, kau tidak juga dapat membuang rasa sedih itu. Kau terpekur dalam ruangan sembari mengenang berbagai hal: tentang ayahmu dan dosa-dosa yang kau lakukan. 

Bahkan, selintas terpikir di dalam benakmu: bila dapat kau ingin mengulang segalanya. Kau ingin peristiwa ini tak terjadi, dan, rasa sedih yang mengutukimu tidak datang megusik. Akan tetapi, waktu tidak dapat melompat mundur. Semuanya telah tejadi dan, kau terjebak di dalam arus kepedihan itu. 

Malam masih terjaga ketika setiap orang terlelap dalam buai kesedihan dan kantuk. Kau meninggalkan mereka. Kau melangkah keluar ebe’i dan termenung sebentar menatap langit malam yang cerah. Rembulan yang tampak separuh seperti mata sabit yang tajam; mengoyak perut langit dan memuntahkan biji-biji cahaya kecil tak beraturan. Kau pandang bintang yang tidak lagi berkerdip ke arahmu. Kau berdesis: ‘semuanya telah menjahuimu.’ Kau terkena kutuk para dewa.

Kau tinggalkan uma yang lenggang dengan melompati sebuah pagar. Angin malam berdesir. Dingin 15  menyergap kulit. Dan kegelapan seakan tak memiliki ujung. Malam itu kau berharap: agar kau ditubruk hewan buas. Karena setelah itu semua kesalahanmu akan lunas—bila kau mati. Namun, hal itu tidak juga terjadi. Para dewa tetap membencimu.

Kau melangkah hingga ke sebuah tebing. Kau termangu di sana; kembali meratap sedih.

Desismu pelan. “Terbuat dari apa rasa sedih ini?” 

Malam semakin tua dan lolong anjing menggema dari kejahuan. Permandani langit yang indah tidak mampu mengobati hatimu. Kau terus diuntit: rasa sedih, kehilangan, dan dosa yang menususk-nusuk. Pedih. Kau harus melunasi semua kutuk itu kepada para dewa. 

“Apakah aku bisa menebus rasa sedih ini?”

Kau pun mengambil sebuah batu runcing; kemudian mentap gemetar jemarimu yang lentik; yang pernah menimbulkan gejolak peperangan. Kau ingin melunasi segalanya. Membuang seluruh dosa; melunasi kutuk para Dewa. Namun, perasaan getir masih sesekali menghantuimu. Kau tak sampai hati bila memotong jarimu sendiri. 

Ahh, apalah arti sebuah jari-jari ini daripada rasa sedih yang bergelantungan di dalam hati, gumammu menekuri. Kau kembali memandang jemarimu yang indah itu, hingga... hmm... darah mengalir lembut dan perih mulai menjalar di lengan tangan kananmu. Suara anjing kembali mengonggong tujuh kali di antara bayang bukit-bukit yang menjulang. 

***
Di Lembah Baliem, kesedihan adalah darah dan pengorbanan. Kenangan merupakan kepedihaan. Pagi itu, kau terbangun dengan sebuah jari kelingking yang putus. Begitu pun dengan mamamu. Pada malam yang sama tanpa sepengetahuanmu, ia diam-diam juga memotong jari manis di tangan kirinya. Semua itu ia lakukan untuk menebus rasa sedih yang membebani hati; menebus kutuk para dewa. Kau memandang mamamu yang tinggal memiliki masing-masing dua jari di kedua tanganya. Semua jarinya memang telah terpotong untuk sebuah: kesedihan. (*)

Catatan:
[1] Lembah Baliem merupakan lembah di pegunungan Jayawijaya. Lembah Baliem berada di ketinggian 1600 meter dari permukaan laut yang dikelilingi pegunungan
[2] Rumah Honai terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang
[3] Uma adalah kampung/desa
[4] Wamai adalah kandang babi
[5] Moliage, valuk, wim, dan koroko adalah Perkakas berkebunan
[6] Ap Waregma: Kepala suku kecil/wakil
[7] Ap Kain: Kepala suku besar/ketua
[8] Kaneka Hagasir, upacara keagamaan untuk menyejahterakan kelurga dan untuk mengawali serta mengakhiri perang
[9] Sege: panah
[10] Ebei: rumah untuk wanita

Risda Nur Widia. Belajar di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Pernah juara dua syambera menulis sastra mahasiswa se-Indoensia UGM (2013), Nomintaro Sastra Profetik Kuntowijoyo UHAMKA (2013). Buku Kumpulan Cerpen nya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015). Cerpenya telah tersiar di berbagai media.   

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Risda Nur Widia
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 23 Agustus 2015

0 Response to "Kutukan Lembah Baliem"