Kutukan Rahim (2) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kutukan Rahim (2) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:50 Rating: 4,5

Kutukan Rahim (2)

PENTAS nyanyi Zul di hari Jumat Kliwon itu boleh dikata sukses. Tak ada aral yang berarti. Menepis pandangan negatif sejumlah orang perihal pantangan tertentu di malam dan hari yang terhitung Jumat Kliwon. Sebegitu puasnya menyewa jasa suara Zul, Mos buru-buru menyodorkan kartu nama pada Zul. Tentu, nilainya sudah lebih dari sekadar basa-basi keinginan bertandang. Mos sadar, sejauh ini ia belum memberikan kartu nama yang sebenarnya diam-diam diniatkan untuk mengabarkan nomor ponsel. Gayung pun bersambut. Zul me-missed call Mos. Rupanya Zul juga ingin Mos segera memunyai nomor ponselnya.

Benarlah, selang dua hariu setelah pertemuan itu. Mos segera meluncur mendatangi rumah Zul.

"Untunglah saya bukan penyanyi yang tergolong seleb. Jadi, masih lumayan punya waktu banyak buat santai. Jadwal tak terlalu ketat," ujar Zul di tengah kehadiran perdana Mos.

Sembari berbincang, memang cukup banyak kucing berseliweran di ruang tamu. Satu di antaranya adalah kucing kembang telon seperti yang pernah mereka obrolkan. Namun, tampaknya, mereka saat itu tidak sedang ngeh bicara tentang kucing. Mereka masih terus saling mencocokkan kesukaan masing-masing. Agar selalu nyambung jika bicara. Kalau obrolan tentang kucing pernah menjadi sesuatu yang bernilai nyambung, maka tentu saja dalam pertemuan kali ini mereka menjadi enggan mengulang.

Aura saling mencari kecocokan berbincang dalam kunjungan pertama itu begitu kuat. Mos jadi tahu, selain kucing, Zul lumayan suka diajak bicara film, tempat wisata, kuliner, gosip artis, dan tak ketinggalan klenik.

"Oh, ya. Kapan bersedia makan malam bersama, ya? Malam-malam makan mie goreng dan wedang uwuh di speutaran alun-alun sepertinya akan membuat kemepyar," rajuk Mos.

Zul diam. Ia tidak segera memberikan jawaban. Bukan soal tawaran menu makan malamnya yang kelas kelewat sederhana, bukan pizza atau McDonald, namun Zul cukup percaya, sebagaimana pengalamannya selama ini, jika menyanggupi ajakan makan malam berarti merupakan pertanda pertemanan yang menuju ke arah lebih inti. Cukup lama Zul tak merespons. Mos berdehem beberapa kali. 

"Nanti, deh, saya SMS jawabannya," respons Zul kemudian. Nadanya kenes, Mos pun melengos dan pamit.

Dari pertemuan di rumah Zul itu, Mos cukup bisa tahu, setidaknya dari foto-foto yang terpampang di ruang tamu, Zul memang belum punya anak.

***
TIBALAH saat Zul memutuskan ajakan makan malam. Benarkah Zul memang siap menerima pertemanan yang jauh lebih intim dengan Mos? Sebab, sebenarnyalah, meskipun sebagai penyanyi dangdut yang kerap tercitrakan negatif, tidak sembarangan Zul mau diajak makan malam dan juga menerima tamu di rumahnya. Sudah puluhan orang, kolega di jaringan perdangdutan, ia tolak ajakan makan malam maupun berkunjung ke rumah. Bagi yang ingin deal tertentu, ia lebih suka bertemu di suatu tempat. Waktunya belum tentu malam. Sebab, tentu saja, ketika suaminya dulu belum masuk penjara dan menjadi semacam manajer pribadi, seteguh mungkin ia harus menjaga kehormatan suaminya.

Apalagi berkali-kali suaminya juga selalu memberi semangat untuk maju di dunia dangdut dan diharapkan bisa membedakan antara profesi dan pertemanan. Antara profesionalisme dan juga guyonan atau iseng. Dan alin sebagainya. Hanya saja, untuk Mos , entah kenapa ia mau, meskipun tak ada rumusan pasti yang bisa dikatakan atas keputusannya. Apakah karena aji mumpung suaminya sudah tak mengetahui speak-terjangnya? Goyahkah pendirian Zul yang selama ini kukuh untuk selektif dalam menerima orang gara-gara suaminya meringkuk di penjara?

Zul etrombang-ambing. Meskipun hanya ajakan makan malam bermenu sederhana, namun Zul berdebar juga. Berkali-kali matanya beradu pandang dengan Mos dan ada desiran entah apa di dada Zul.

"Tibalah inti dari pertemuan malam ini," ujar Mos pelan. "Semoga kamu tidak terkejut."

"Soal apa, ya?" jawab Zul secepat kelebat kilat. Penuh salah tingkah. Ia gede rasa. Dada Zul makin berdesir kencang. Ia khawatir Mos akan menyatakan sesuatu sesuai yang ditebaknya. Perasaan Zul emnjadi begitu sensitif.

"Sebentar lagi musim Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Kamu saya ajukan untuk mendukung salah satu calon, ya? Sebagai bagian tim pemenangan melalui panggung hiburan. Aku percaya dengan adanya kamu akan mendongkrak suara pemilih."

Jlep. Perasaan Zul terasa lapang. Apa yang ditebaknya, sebuah pernyataan yang tidak jauh dari persoalan asmara, tidak benar. Namun justru itulah yang membuatnya senang. Selintas ingatan atas bayangan suaminya mendadak muncul. Tiba-tiba saja ia merasa tidak sedang mengkhianati suaminya. Ah, alunan ombak perasaan dan cuaca hati yang bisa berubah setiap saat, tak mengenal ruang dan waktu...

"Oh kejutan buat saya. Selama ini orderan menyanyi saya belum seterhormat itu. Belum pernah event seperti itu saya alami, Pak."

"Baiklah. Saya senang kamu menerima."

Di perjalanan ketika diantar pulang naik mobil Freed putih, boleh jadi perasan Zul sudah seperti artis kondang Vitalia Sesha yang pernah diberi mobil Freed putih oleh Ahmad Fathanah, namun kemudian disita Komisi Pemberantasan Korupsi dengan sangkaan imbas pencucian uang. Hanya saja, kali ini, mobil Freed putih itu masih sepenuhnya milik Mos.

***
KIAN melambung harapan perbaikan ekonomi hidup Zul. Kepalanya dipenuhi perkiraan isi kontrak menyanyi dengan salah satu kandidat kepala daerah. Ia pun bersyukur pada Tuhan, pertemuannya dengan Mos Jumat Kliwon justru membuka keberuntungan melimpah.

Hari-hari selanjutnya Zul kian runtang-runtung dengan Mos. Selain urusan kontrak yang sudah kelar dan isinya menggembirakan Zul, ia juga jadi lebih luas pergaulannya. Ini jelas berkah tak terhitung sebab selama ini jika pun ia bisa pentas biasanya melalui jasa makelar. Bahasa modernnya semacam agensi. Tentu konsekuensinya, ada jumlah rupiah yang dipoting . Dan dengan Mos, Mos tidak minta serupiah pun sebagai imbalan jasa.

Lama-lama Zul malah berpikir ada yang aneh dengan sikap Mos. Di mata Zul, ia tidak punya pamrih. Padahal sejak awal Zul bertemu, ia sudah mencium adanya gelagat pamrih sebagaimana banyak lelaki lain yang pernah menggunakan  jasa suaranya. Ya, pamrih yang tak jauh dari urusan asmara itu! Bah! Pamrih yang membuat Zul kerap  muak: betapa banyak lelaki yang pernah dekat dengannya, para makelar suara, penggemar, dan sebagainya itu, lebih senang menginginkan tubuhnya daripada menikmati alunan suaranya. Pamrih yang kerap terang-terangan, ajakan berselingkuh yang tentu ditolaknya. Padahal suaminya dulu selalu mengawal! Memang, laki-laki bisa seperti tupai yang amat gesit dan lincah, loncat sana dan loncat sini dengan begitu nyaman! Mereka bisa seolah berbeda paras antara di depan Zul dan suaminya. ❑ (bersambung) - c 



Satmoko Budi Santoso. Sastrawan kelahiran Yogya, 7 Januari 1976. Menulis cerpen, novel, puisi, juga esai. Kumpulan cerpennya: Jangan Membunuh di hari Sabtu (2003), Perempuan Bersampan Cadik (2004), Bersampan ke Seberang (2006), , dan Sasi, Anjing-anjing di Kampung Saya (2011). Novelnya: Liem Hwa (2005), Ciuman Terpanjang yang Ditunggu (2005), Jilbab Funky (2011), dan Kasongan (2012). Puisinya termuat di Antologi Puisi Indonesia (1997), Malioboro (2009), Danau Angsa (2011), Akulah Musi (2011, dan Equator (2011). Tinggal di Tirtonirmolo, Kasihan - Bantul. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 9 Agustus 2015

0 Response to "Kutukan Rahim (2)"