Kutukan Rahim (3) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kutukan Rahim (3) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:24 Rating: 4,5

Kutukan Rahim (3)

NAMUN kini, kenapa denyar  cuaca hati Zul kini menyatakan Mos berbeda? Apakah hanya karena ia telah mengangkat derajad Zul menjadi lebih mulia dalam kasta order dangdut dan Mos tidak pernah memaparkan pamrih? Ada apakah? Skenario apakah yang sedang dimainkan Mos? Benarkah ia tulus? Pikiran dan perasaan Zul malah kelimpungan sendiri. Apalagi ketika dalam suatu pertemuan tim sukses pemenangan Pilkada, Mos malah pernah bilang, "Ayo, kapan menjenguk suamimu? Aku antar." Kenapa Mos juga bisa menjadi begitu kebapakan?

"Sebulan dua kali saya memang membiasakan menjenguk suami di rutan. Waktu menjenguk beberapa hari lalu, saya sudah ceritakan mengenai Pak Mos. Dia kebetulan juga ingin bertemu Bapak."

"Kapan saja bisa. Kamu atur, ya."

Selang sekian hari, Zul mengajak Mos ke rutan suaminya. Zul benar-benar ingin mendudukkan Mos sebagai semacam orang tua alternatif dalam rumah tangganya. Kebetulan, ayah Zul yang dulunya bekas dukun barang hilang dan ibu Zul yang dulu dukun bayi, sama-sama sudah tiada. Begitu pula dengan  ayah dan ibu suaminya yang juga sudah tiada. Jadilah pertemuan singkat dalam ajang menjenguk di rutan itu sebagai semacam penegasan bahwa Mos sungguh didudukkan oleh Zul dan suaminya sebagai pengganti orang tua mereka masing-masing.

"Saya percaya, Pak Mos sangat bisa menjaga Zul."

"Terima kasih kepercayaannya. Seperti yang sudah saya utarakan, kualitas suara dan penampilan panggung Zul cukup bagus. Itulah yang membuat saya berani merekomendasi dia masuk sebagai bagian tim sukses salah satu kandidat Pilkada melalui  panggung hiburan. Lagipula, penampilan dia memang terbukti bagus di awal-awal kampanye sekarang ini. Kandidat yang kami dukung senang dengan penampilannya. Doakan beberapa bulan ke depan semuanya lancar."

"Terima kasih sekali, Pak. Terus terang, saya sangat malu dengan kondisi saya sekarang ini."

"Sudahlah, saya sudah mendnegar semuanya dari Zul. Kamu sebenarnya dikorbankan oleh teman-temanmu. Kamu memang pemakai narkoba, tapi tidak seberapa dibandingkan dengan teman-temanmu, kan?"

Suami Zul menunduk.

"Memang hidup penuh liku-liku, penuh rupa-rupa, ada duka dan kecewa, seperti syair lagu dangdut. Tapi benar, semua itu ada hikmahnya. Saya tahu, situasi seperti yang kamu jalani saat ini sangat berat menempuhnya," tutur Mos mengakhiri pertemuan singkat di rutan. Sesuai aturan, jadwal peretmuan mereka terbatas.

Suami Zul melepas kepergian Mos dan istrinya sembari sembab matanya. Rupanya, ada air mata yang tertahan. Antara mau menetes dan juga tidak. Apakah Mos juga harus mengkhianati arti tatapan sembab suami Zul dengan tidak secara baik-baik menjaga Zul selama terikat kontrak yang berkaitan dengan Pilkada?


***
SITUASI Pilkada sedang berada dalam temperatur panas. Teror SMS gelap dan sejumlah teror jenis lainnya diterima para pendukung kubu kandidat yang dibela Mos dan Zul. Termasuk Mos dan Zul, keduanya menerima teror SMS gelap, macam-macam kalimatnya. Misalnya saja, Mos mendapatkan teror SMS yang berbunyi: "Hati-hati dengan keselamatan anak-istrimu selama beberapa hari ini." Atau Zul yang mendapatkan SMS gelap: "Hati-hati di saat kamu pulang dengan selingkuhanmu nanti sore."

Mos memang selalu menguatkan hati Zul bahwa semua itu hanyalah teror yang bisa ditebak dari mana datangnya. Tentu dari kubu para pendukung kandidat lainnya. Meski begitu, teror tersebut juga tidak bisa disepelekan begitu saja. Mesti tetap waspada. Apalagi ini perkara pekerjaan yang bermuatan politik. Semuanya bisa dipolitisir sedemikian rupa.

"Untungnya, anak tunggalku dan juga istriku bisa menerima konsekuensi bekerja dalam kubangan politik. Semoga kamu tidak kaget. Aku membawa kamu ke dunia ini bukan untuk bertujuan menjerumuskan kamu."

"Kalau soal itu saya paham, Pak."
 
Mobil Mos sampai di pelataran rumah Zul. Berdua mereka berjalan ke arah teras rumah dan melihat ada bungkusan kardus nan cantik. Mirip kardus sebagai kado pernikahan atau ulang tahun. Bungkusan kardus itu ada di depan pintu, di bagian bawah, dekat keset. Ditujukan dengan jelas: Untuk Zul yang terhormat. Merunduk Zul meraih bungkusan itu. Ketika di buka.... astaga.... kepala kucing yang sudah termutilasi! Di dalam bungkusan kardus itu pula ada tulisan memakai spidol hitam. Bunyinya: "Mungkin kamu atau selingkuhanmu yang akan seperti ini."

"Kalau kamu sepenuhnya termakan gaya teror semacam ini. Saya dan kamu akan bubar. Mengundurkan diri sebagai bagian pendukung kandidat kita. Ini strategi gerakan teror menggembosi pendukung," tukas Mos.

Rupanya teror semacam itu dialami juga di rumah Mos. Anak dan istrinya terpekik menjerit begitu mendapati di rumah mereka ada bungkusan kardus cantik berisi kepala kucing yang sudah termutilasi. Sama dengan teror di rumah Zul, di dalam bungkusan itu ada tulisan menggunakan spidol hitam. Bunyinya: " Mungkin kamu atau selingkuhanmu yang akan seperti ini." Mos tahu, karena ketika ia di rumah Zul, istrinya juga menelepon bahwa di rumah ada teror semacam itu. Berarti dalam waktu yang bersamaan si peneror memanfaatkan momentum.

"Istri saya barusan teelpon, di rumahku juga ada teror seperti itu. Tapi, istriku cukup bisa memahami gaya teror semacam itu. Sebagai istri orang yang bekerja di kubangan politik, ia sudah cukup makan asam garam merasakan adanya ragam teror. Ini belum seberapa. Rumahku pernah dilempari bom molotov. Bayangkan jika anak dan istriku tidak kuat menerima konsekuensi sebagai pekerja politik. Sudah bubar dulu-dulu keluarga kami. Apalagipernah nilai terornya sangat keterlaluan. Dikirimlah perempuan hamil di rumahku. Mengaku sebagai orang yang kuhamili! Datang nangis-nangis! Waktu itu, pas aku di luar kota. Tapi, istriku cengar-cengir saja," papar Mos.

Meskipun sekuat tenaga Mos membesarkan hati Zul agar tak mudah termakan teror, namun sepeninggal Mos mengantar Zul, Zul gerah juga. Di dalam rumah ia tak nyaman. Mau tidur tidak bisa. Apalagi, seusai subuh, rumah Zul benar-benar didatangi dua orang naik motor. Keduanya membawa pedang. Seperti siap memenggal kepalanya. Tentu, Zul kocar-kacir. Jelas, ini bukan mimpi! Bukan seperti ketakutan anak-anak di pesta hallowen seperti di film-film Barat karena dikejar pembunuh berdarah dingin. Ini nyata, di depan mata!

Setelah Zul mengetahui dua orang itu datang dari balik gorden jendela kamarnya, ia pun segera menyelamatkan diri melalui pintu belakang. Lari tunggang-langgang menuju hotel terdekat. Yang ia bawa selama pelarian itu tentu saja hanyalah ponsel. Baru ketika jam enam hingga delapan pagi, Zul merasa cukup tenang berada di dalam hotel. Tapi sampai kapan? Tentu saja, ia juga harus menyiapkan sejumlah uang buat membayar sewa kamar. Dan orang paling dekat yang paling mungkin ia hubungi, berkaitan dengan teror sebagai imbas kontrak pekerjaan, adalah Mos.

Mos pun segera meluncur ke hotel di mana Zul tinggal. ❑ (bersambung) -c 


Satmoko Budi Santoso. Sastrawan kelahiran Yogya, 7 Januari 1976. Menulis cerpen, novel, puisi, juga esai. Kumpulan cerpennya: Jangan Membunuh di hari Sabtu (2003), Perempuan Bersampan Cadik (2004), Bersampan ke Seberang (2006), , dan Sasi, Anjing-anjing di Kampung Saya (2011). Novelnya: Liem Hwa (2005), Ciuman Terpanjang yang Ditunggu (2005), Jilbab Funky (2011), dan Kasongan (2012). Puisinya termuat di Antologi Puisi Indonesia (1997), Malioboro (2009), Danau Angsa (2011), Akulah Musi (2011, dan Equator (2011). Tinggal di Tirtonirmolo, Kasihan - Bantul. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 16 Agustus 2015

0 Response to "Kutukan Rahim (3)"