Kutukan Rahim (4) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kutukan Rahim (4) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:34 Rating: 4,5

Kutukan Rahim (4)

DI kamar hotel, Zul emnatap dingin mata Mos. Ini kali pertama Zul mengalami  teror yang sungguh menakutkan. Kalau jenis teror yang levelnya di bawah itu, misalnya rumahnya dilepari batu, baginya belum keterlaluan. Meskipun sesungguhnya nilainya menyebalkan juga. Soal teror rumahnya yang dilempari batu, pernah dialami waktu ia menyanyi dangdut dengan syair seronok pentas di acara anak-anak. Tentu saja ada sekelompok massa yang bereaksi. Merasa tersinggung, karena penampilan Zul dinilai tidak mendidik. Lalu pecahlah kerusuhan: pelemparan batu atas rumahnya. Dan memang waktu itu urusan cepat usai karena pihak Zul segera meminta maaf kepada yang merasa terlecehkan atas penampilannya.

Namun, teror dua orang yang datang ke rumahnya dengan membawa pedang kali ini sungguh teror nggegirisi. Sampai ia tak dapat berkata-kata lagi di depan Mos. Mos paham atas situasi yang menimpa Zul.

"Minum kopi, sama sarapan kopi dulu, ya? Aku pesankan." ujar Mos.

"Tidak usah kopi," serga Zul. "Teh saja. Kalau kopi nanti kepalaku tambah pening."

Jadilah pertemuan di kamar pertama kalinya itu pertemuan yang terasa menyisakan ketercengangan, atas ketegangan yang dialami Zul Subuh tadi. Pertemuan yang mati-matian dicairkan Mos dengan perhatian besar kepada Zul. Pertemuan yang penuh kata-kata, agar Zul tetap tabah dan terbesar semangat terus tampil di jadwal pentas berikutnya.

"Tapi, solusi konkretnya gimana? Bagaimana kalau lapor polisi? Bagaimana kalau teror itu akan terjadi lagi?" tanya Zul.

"Lapor polisi itu pasti. Nanti aku antar. Setidaknya sebagai masukan buat polisi, ada gerakan teror di tengah Pilkada ini.  Jelas, itu ada sangkut pautnya. Tapi, yang lebih penting semangatmu, jangan sampai kendor, kendor, dan kendor...." Mos terus membobardir penuh asa.

Pesanan  teh hangat tiba. Mereka habiskan obrolan di kamar itu bersamaan dengan habisnya tegukan terakhir teh hangat yang terhidang.

"Ayo, jadi lapor polisi, kan?" Zul mengingatkan.

"Jadi, dong."

"Habis itu, aku tetap diantar pulang, ya. Aku merasa kurang nyaman jika tidak di rumah sendiri. Lagi pula kasihan dengan kucing-kucingku. Mereka bisa merepotkan tetangga."

"Sebaiknya menurutku jangan pulang dulu."

"Nantilah kuputuskan."

Meskipun sudah mendingan tenang, pikiran Zul masih ngalor-ngidul. Loncat-loncat tak karuan. Zul lantas refleksmeraih baju di cantolan di lemari yang tadi pagi dikenakannya rangkap kaos. Sambil jalan dan lari penuh kepanikan. Ia buru-buru ganti baju seadanya. Secepat petir menyambar tubuhnya yang tadi dibungkus kaosberubah menjadi dibungkus baju. Menjadi pantas jika dipakai menghadap polisi. PIkiran Zul masih terisi sisa kekalutan. Jadi, ia sungguh bertindak refleks ketika berganti baju itu! Mos tentu sempat melihat punggung Zul yang dibalut bra dan tato bagus bergambar ular yang melingkar, meski hanya secepat kilatan petir, satu kedipan mata saja. Mos sama sekali tak merasakan desiran apa-apa ketika melihat pemandangan itu karena pikirannya juga masih terlingkari kecemasan. Rupanya, sebesar dan sebiasa apapun keberanian orang menghadapi teror, entah sekian persen, tetap saja memunculkan kecemasan, kekhawatiran, dan juga kekalutan yang begitu campur aduk.

Mereka kemudian meluncur ke kantor polisi. Memang Zul tak wajib mandi terlebih dahulu ketika mau mendatangi kantor polisi,bukan?

***
PIHAK kepolisian memberikan saran, kalau Zul tetap memutuskan pulang agar ekstra hati-hati. PIhak kepolisian juga memberikan nomor ponsel yang bisa terhubung langsung dengan bagian piket kantor polisi jam berapa pun. Sehingga kalau ada apa-apa yang membahayakan bisa segera teratasi.

Zul memutuskan sendiri satu malam lagi ia menginap di hotel untuk menenangkan diri. Baru kemudian pulang keesokan hari. Soal biaya penginapan tentu Mos yang menanggung. Zul pun lantas diantar lagi oleh  Mos ke hotel. Cuma sampai di lobi saja.

***
SYUKURLAH tidak ada lagi teror di hari-hari selanjutnya sepulang Zul dari hotel. Dua peneror yang datang dengan pedang beberapa hari lalu ternyata sama sekali tidak masuk rumah. Mungkin saja mereka sudah mengetuk pintu, tak ada yang membukakan, dan tak tahubahwa Zul sudah kabur duluan. Zul kini kembali meneruskan rutinitas menyanyi dalam kaitannya dengan kontrak Pilkada. Namun, tugas Zul rupanya kian bertambah saja. Sebab, kandidat yang didukungnya mulai pasang kuda-kuda dengan menaruh keyakinan akan kemenangannya melalui jalan klenik. Dan, Mos, tampaknya sudah 'bisik-bisik' pada sang kandidatbahwa Zul diam-diam juga tahu peta klenik. Tentu hal itu didasarkan pada garis keturunan orangtua Zul yang ebrada dalam darah kubangan klenik.

"Tolonglah aku diantar ke orang yang kamu yakini bisa membantu usahaku ini," tutur sang kandidat ketika Zul dipanggil diajak bicara bersama Mos.

"Baiklah. Sebisa mungkin saya bantu," respons Zul segera.

"Terus terang aku butuh kepercayaan diri yang berlebih di ajang pertarungan ini. Kiranya, tidak cukup jika hanya mengandalkan usaha yang 'biasa-biasa' saja. Kandidan lain juga memakai usaha yang "tidak biasa," tegas sang kandidat yang didukung Zul.

Jleb. Sontak perasaan Zul seperti dibawa ke dunia yang kembali mistis. Dunia yang sudah puluhan tahun ia tinggalkan namun kini dibangkitkan kembali. Betapa ia ingat di masa kecil dulu, rumahnya biasa dijadikan ajang kumpul beragam jenis dukun. Teman-teman orangtuanya dan juga teman-teman mbah-mbah-nya. Di masa kecil itu ia mendengarkan setiap obrolan yang keluar dari mulut para dukun. Bau bakaran kemenyan pun sudah karib tersebar ke seluruh ruang dan sudut-sudut rumah setiap harinya. Obrolan yang baginya kerap mengundang decak kagum. Bayangkan, dengan ilmu tertentu, maka keinginan yang sebenarnya tidak terjangkau, musykil teraih. Justru bisa terwujud. Betapa para makhluk penghuni alam gaib seperti jin memang bisa diajak bekerjasama. Untuk menyukseskan obsesi manusia. Lantas, langkah seperti apa yang akan direkomendasi Zul kepada sang kandidat yang didukungnya? Dukun seperti apa yang akan dipertemukan Zul kepada sang kandidat? ❑ (bersambung) -c 


Satmoko Budi Santoso. Sastrawan kelahiran Yogya, 7 Januari 1976. Menulis cerpen, novel, puisi, juga esai. Kumpulan cerpennya: Jangan Membunuh di hari Sabtu (2003), Perempuan Bersampan Cadik (2004), Bersampan ke Seberang (2006), , dan Sasi, Anjing-anjing di Kampung Saya (2011). Novelnya: Liem Hwa (2005), Ciuman Terpanjang yang Ditunggu (2005), Jilbab Funky (2011), dan Kasongan (2012). Puisinya termuat di Antologi Puisi Indonesia (1997), Malioboro (2009), Danau Angsa (2011), Akulah Musi (2011, dan Equator (2011). Tinggal di Tirtonirmolo, Kasihan - Bantul. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 23 Agustus 2015

0 Response to "Kutukan Rahim (4)"