Lelaki Batu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lelaki Batu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:14 Rating: 4,5

Lelaki Batu

BUKIT itu sebelumnya hanya seperti putri tidur, meringkuk di bagian selatan pulau ini, dan tidak banyak orang yang berani menyusuri. Maka hewan-hewan berkembangbiak dengan leluasa. Ular-ular panjang dan besar banyak ditemukan di sana. Berbagai macam tumbuhan tumbuh menjulan seperti tak dapat dihentikan. Bukit itu seperti rumah kosong yang sudah lama ditinggal penghuninya. Pada rumah yang lama tak dihuni, tumbuhan merambat, berbagai macam serangga, dan udara lembab, hadir seperti tak terkendali lagi. Jika sudah seperti itu, biasanya orang akan mengaitkan rumah itu dengan cerita-cerita mistis. Maka begitu pun juga dengan bukit itu. Banyak cerita-cerita mistis yang muncul mengenai bukit yang membisu di daerah terpencil itu. Mungkin itu juga yang menjadi salah satu alasan, tidak banyak orang berani ke sana.

Tapi saat ini semuanya telah berubah. Berawal dari seorang lelaki pengangguran, yang mencoba menyusuri bukit seorang diri. Lelaki yang tinggal di kaki bukit itu, mengatakan telah menemukan bongkahan batu berdaya jual tinggi. Batu yang sedang banyak diburu seluruh orang di negeri ini. Banyak orang dari penjuru desa, bahkan ada juga yang dari kota, berdatangan ke bukit itu. Semuanya sama, atas dasar satu tujuan, mendapatkan satu batu yang dikatakan mampu mewujudkan impian.

Sebelumnya, kegiatan sehari-hari lelaki pengangguran itu hanya ngopi di depan rumah waktu pagi, kemudian nongkrong-nongkrong di warung saat siang hari, dan kembali ke rumah saat sore hari, untuk keluar lagi ketika malam sudah mulai menua. Ia habiskan hari-harinya untuk menyusahkan orangtua.

Orangtua lelaki itu sebenarnya memiliki sawah yang meskipun memang tak seberapa. Namun, lelaki yang sekadar lulusan SMP itu, hanya sesekali saja mau pergi ke sawah untuk membantu orang tuanya. Ia juga enggan mengikuti nasihat orangtuanya untuk mencari kerja ke kota. Ia memiluh untuk membusuk di desa,  menghabiskan orangtua untuk membeli rokok, kopi, atau sesekali berjudi. Adalah hal yang pasti, bahwa di kemduain hari, lelaki itu akan menjadi bahan gunjingan seluruh warga desa.

Semakin lama, ia merasa gerah juga dengan gunjingan-gunjingan warga terhadap dirinya. Kemudian ia semakin sering memimpikan mendapatkan pekerjaan dengan hasil besar. Ia bertekad untuk menjadi orang sukses, dan membeli semua omongan-omongan warga. Sampai suatu ketika, akhirnya ia bertemu dengan salah satu temannya yang baru pulang dari kota. Temannya itu menunjukkan padanya sebuah cincin yang melingkar di jarinya. Mata cincin itu terbuat dari batu yang berbentuk oval. Batu itu disebut dengan batu akik. Sebenarnya ia juga pernah tahu mengenai batu akik itu. Lantas, mengapa temannya begitu bersemangat mencerotakan batu itu?

Ternyata batu yang disebut akik itu sedang begitu populer di negeri ini. Banyak orang encarinya. Bahkan beberapa jenis batu itu bisa terjual hingga puluhan juta. Kabar sedang maraknya batu itu memang belum sampai ke desa ini. Karena memang belum tersentuh aliran listrik, maka  segala informasi dari televisi belum bisa dinikmati.

"Batu ini pernah ditawar orang tiga juta rupiah," kata temannya itu. "Tetapi aku memutuskan untuk tidak melepasnya."

Hari-hari selanjutnya, ternyata ia terus memikirkan batu akik itu. Ia begitu tertarik dengan batu yang dapat terjual bahkan hingga puluhan juta. Setiap hari, kepalanya terus berpikir keras tentang bagaimana caranya untuk mendapatkan batu seperti itu. Kemudian suatu hari, tiba-tiba ia teringat lagi perkataan temannya. "Bahan mentah untuk batu ini biasanya ditemukan di aliran sungai atau dinding bukit. Bahkan ada juga yang harus menggali beberapa meter ke dalam bukit."

Ia sadar, di dekat desanya ini memang ada bukit yang masih begitu asri. Para warga tidak berani, bahkan sekadar mengambil kayu bakar saja dari bukit itu, karena cerita-cerita mistis yang berkembang di desanya. BUkit itu begitu disakralkan. "Tapi bagaimana jika memang benar di bukit tersebut ada batu yang sedang banyak dicari itu?" pikirnya.

Ternyata benar, keeseokan harinya ia berangkat seorang diri ke bukit itu. Ia membawa alat-alat untuk menggali; tas, palu, dan juga tali-temali. Ia berangkat pagi-pagi sekali agar tidak ada warga mengetahui. Sesampainya di bukit itu, ia bingung harus mulai mencari di mana, dan seperti apa bentuk bahan mentah batu akik tersebut. Akhirnya ia memutuskan  untuk menggali di sebuah tebing bukit.

Mulailah ia menggali tanah dengan peralatan yang dibawanya. Ia memukul, mengeduk, dan mengamati. Terus seperti itu, hingga beberapa meter ke dalam. Sesekali juga ia beristirahat, meminum air dan memakan bekal yang dibawa. Kemudian ia mulai lagi untuk memukul, mengeduk, dan mengamati. Jika merasa sudah dalam, dan belum menemukan apa pun, ia pindah ke sisi lain, dan menggali lagi. Sampai hari sudah siang, ia belum menemukan batu yang dicari. Pada tebing bukit itu sudah terlihat beberapa lubang, seperti lubang tikus, yang telah dibuatnya hingga siang itu. Ia tidak menyangka dirinya sanggup menggali beberapa lubang itu. Mungkin bayangan tentang hasil yang besar, mampu menjadi penambah tenaga baginya.

Langit mulai terlihat mendung siang itu. Ia memutuskan untuk segera menggali lagi di sisi yang lain, sebelum hujan turun. Ia takut hujan akan menghambat penggaliannya. Setelah beberapa meter ke dalam, dan pukulan yang entah ke berapa, ia merasa pukulannya menghantam sesuatu yang keras. Mulailah ia mengaduk dan menyingkirkan tanah di sekitar benda itu. Setelah terlihat, ternyata itu adalah batu. Ia masih belum tahu apakah benar batu itu yang dicari. Ia memutuskan untuk membuat tempat berteduh, dan mengurungkan dulu niatnya untuk pulang dan membawa batu itu pada temannya. Ia membiarkan batu itu terguyur hujan.

Setelah hujan reda, ia memutuskan pulang. Ia mengambil batu itu, dan alangkah terkejutnya lelaki itu ketika melihat bahwa batu yang dipegangnya sedikit berwarna dan terdapat seperti lapisan kaca di dalamnya. Batu itu terlihat tembus cahaya. Ternyata air hujan telah membersihkan tanah yang menutupinya.

Di perjalanan pulang, ia merasa yakin benar ini adalah batu yang dicari. Batu ini memiliki ciri sama seperti yang dikatakan temannya tempo hari. Ia menunjukkan batu yang ditemukannya itu kepada temannya. temannya itu terkejut setelah melihat batu yang dibawanya. Ia langsung mengajaknya ke kota untuk  mengecek apakah benar batu ini adalah batu yang dicari. Sesampainya di kota, ternyata benar batu ini adalah batu yang bernilai jual tinggi. Bahkan beberapa orang kemudian sudah menawar padanya jutaan rupiah. Tapi ia menolak dan membawanya kembali pulang. Ia ingat temannya itu pernah mengatakan bahwa jika batu itu diolah dan sudah dibentuk, akan memiliki nilai jual lebih tinggi.

Kabar mengenai penemuan batu di bukit itu tersebar luas dengan cepat, seperti jamur di musim hujan, merembet cepat ke seluruh penjuru kota. Beberapa hari setelahnya, banyak pemburu batu dari seluruh penjuru kota mendatangi bukit itu. AKhirnya seluruh warga desa juga tahu perihal lelaki pengangguran yang telah menemukan batu bernilai jual tinggi di bukit sakral itu. Seluruh warga desa merasa keberatan dengan kedatangan begitu banyak warga kota ke bukit yang disakralkan mereka. Mereka takut orang-orang itu merusak lingkungan bukit. Mereka takut dengan bencana yang mungkin menimpa.

Warga akhirnya berbondong-bondong mencari lelaki pengangguran itu dan menuntut untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Mereka berteriak-teriak sepanjang jalan menuju rumah lelaki tersebut. Sesampai di rumah lelaki itu, warga semakin terlihat beringas. Jika tidak ada Pak Lurah yang menenangkan warga mungkin rumah itu sudah hancur dilempari batu.

Pak Lurah ekmudian menemui kedua orangtua lelaki itu. Beberapa warga tidak bisa diam, dan mencoba ingin lari masuk rumah dan mencari lelaki itu.

"Cepat! Suruh keluar anak Bapak itu!" kata salah seorang warga.

"Benar, biar dia tahu akibat perbuatannya," kata yang lainnya.

"Tenang dulu. Biar saya berbicara dengan kedua orangtuanya," kata Pak Lurah mencoba menenangkan.

Setelah kedua orangtuanya keluar, mereka menjelaskan bahwa anaknya itu beberapa hari tidak pulang ke rumah. Mungkin ia kembali ke bukit itu, tinggal di sana, dan menambang batu itu lagi. Sebenarnya mereka sudah berkali-kali menasihati untuk berhenti menambang. Selain ia juga sudah mendapatkan batu yang cukup mahal jika dijual, juga sudah banyak warga yang memprotes perbuatannya itu. Tapi anaknya tidak menggubris nasihat mereka.

Mendengar penjelasan kedua orangtua lelaki itu, para warga justru semakin tersulut emosinya. Mereka kemudian sepakat untuk mencari lelaki pengangguran itu ke bukit. Mereka memutuskan untuk membawa kayu atau benda-benda tajam untuk senjata, karena di bukit itu mereka juga akan menghadapi puluhan orang dari kota. Setelah itu mereka berkumpul di lapangan desa. Tentunya dengan balok-balok kayu, golok, celurit, atau benda-benda lainnya.

Mereka berbondong-bondong menuju bukit. Hujan turun deras di tengah perjalanan. Namun ia tidak menghentikan laju warga yang telah dikuasai amarah. Sesampainya di bukit, terlihat puluhan orang sedang berteduh di gubuk-gubuk yang dibuat mereka. Beberapa orang yang mengerti kedatangan warga dengan berbagai senjata, lari tunggang-langgang entah ke mana. Dari puluhan orang yang lari itu, belum terlihat lelaki pengangguran yang mereka cari. Mungkin ia masih di dalam lubang yang memang terlihat begitu banyak telah melubangi tebing bukit. Warga memutuskan untuk menantinya di luar.

Hujan turun semakin deras. Tidak berapa lama, tiba-tiba terdengar gemuruh dari atas bukit. Kemudian tanah terlihat bergerak. Jatuh. Tanah itu berdebam jatuh ke bawah,  beberapa batu besar menggelinding. Warga berlarian menyelamatkan diri.

Bukit itu sebelumnya hanya seperti putri tidur, meringkuk di bagian selatan pulau ini, dan tidak banyak orang yang berani menyusuri. (k)

Surakarta, 2015

Aqib Wisnu Priatmojo, lahir di Bekasi 23 April 1993, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta, aktif di Komunitas Sastra Senjanara dan Forum MSP.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Aqib Wisnu Priatmojo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" Minggu V Juli 2015

0 Response to "Lelaki Batu"