Malang di Kalimalang - Tugu Tani - Selalu Ada yang Menyeretku untuk Sendiri | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Malang di Kalimalang - Tugu Tani - Selalu Ada yang Menyeretku untuk Sendiri Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:12 Rating: 4,5

Malang di Kalimalang - Tugu Tani - Selalu Ada yang Menyeretku untuk Sendiri

Malang di Kalimalang 

Tukang baja itu
menindih perempuan lagi
perempuan pirang mengirim cupang
dari daratan Cina ke lehernya
Menikmati benar si tukang baja
pada setiap kemolekan dunia
Oh, Jakarta membuatku semakin malang
gumamnya dalam kesadaran
ingin pulang ke kampung halaman
sekadar nyumbang recehan
buat bikin jembatan bambu
menengok istri denok dan ladang
Tapi sang majikan belum kelar urusan
dari Bali, membangun rumah mungil di sana
Si tukang baja jadi penjaga di rumah sang tuan
ia dipercaya megang segala kunci
ia bawa perempuan sebagai hiburan
ia nyanyikan lagu bujangan

Dalam vonis puisi ini
si tukang baja itu
kian malang di kalimalang
Tak ada liang belut di sini
ada juga liang kamu yang hangat
untuk si aku yang ingin ngedongkel
semalam suntuk, katanya
Lalu lelaki itu pun lemas
usai khusyuk meremas

Tugu Tani 

Antara kemacetan dan pencopetan
dikepung sepi
ingin pulang ke eloknya nagari
terjebak di lintasan mimpi

Kami berdiri di sini
kota memeluk
dan kami menerima bara pelukan
pada akhirnya
aku merasa tak terjebak lagi
oleh sebangsa sepi
aku tak bosan memandangi
yang lalu lalang
keluar masuk kantung gedung-gedung

Cuma aku sedikit ngeri
bila mengingat sawah kami
yang kini nyeri

Selalu Ada yang Menyeretku untuk Sendiri 

Dalam kesibukan angin, suara burung dalam
sangkar,
deru di jalan raya, dan hiruk-pikuk Pasar Kramat Jati
nyatanya aku merasa asing dan sepi
Aku terhuyung sendiri

Di luar, orang-orang siap rusuh dan rasuah
siap bakar ban atau jahit mulut lagi
Gelinding roda pemerintahan untuk siapa?
Gaji-gaji tinggi menjulangkan manusia buncit-besar
setiap anggaran bukan lamunan tapi lumbung masa
depan
yang siap direcah hari ini

Dalam semua ini dalam cemas dan ambigu
aku hanya sendiri menulis catatan
tentang keluh-kesah
tentang janji jumanji
tentang bulu kaki yang terhambat
pertumbuhannya

Aku hanya kalimat singkat tanpa keramaian
ungkapan, hidup biasa dan sendiri. Asing
hanya ujung jemari tangan tiktak tiktak
mengetik nyinyir diri
sedang badan kipas angin
melebihkan cintanya kepada si sakit

Jakarta, 2015


Lukman A Salendra, penyair, lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 1 November 1976. Kini mengelola kegiatan Sastra Masuk Desa di tanah kelahirannya.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Lukman A Salendra
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 16 Agustus 2015


0 Response to "Malang di Kalimalang - Tugu Tani - Selalu Ada yang Menyeretku untuk Sendiri "