Meja Makan - Trotoar Depan Gereja - Pelipis Matamu - Orang-orang Desa | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Meja Makan - Trotoar Depan Gereja - Pelipis Matamu - Orang-orang Desa Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:58 Rating: 4,5

Meja Makan - Trotoar Depan Gereja - Pelipis Matamu - Orang-orang Desa

Meja Makan

semalaman kita membicarakan masa depan
kau menungguku
duduk di meja makan, di tengahnya
kau gelar taplak yang memanjang
di sana kau sandingkan semangkuk
sup dan daging bakar, karena

kau memang begitu tahu
sebelum kita memulai duduk
kita musti terampil
mainkan sendok dan garpu
kau memang begitu pandai mengasuh
kasih, hingga dihidangkan pula
olehmu secangkir teko besar
biar aku tak haus di tengah jalan
yang kau tuju padaku

dan kau memang pandai menjaga
kasih, tersebab kau telah nyalakan cahaya
dari lilin-lilin
sebagai penerang di tengah jalan
menuju hatimu, biar aku
betul-betul tahu mana yang musti kumakan
biar aku tak akan lapar
akan cintamu
Pasir Luhur, 07 Juni 2015

Trotoar Depan Gereja

                  - untuk kupukupu yang patah sayapnya -

hari itu, aku menjumpaimu keluar dari
toko bunga dekat setasiun kereta
di tangan kananmu menggenggam dendelion
berwarna putih bibirmu yang layu
diletakkannya di depan dadamu

langkahmu tergopoh-gopoh
tangan kirimu bergerak cepat
secepat waktu yang terus mengikutimu

dilewatinya pengamen yang memainkan musik
dari botol wine dan sepotong pipa besi:
sisa pertunjukan sepuluh tahun silam
sampai-sampai toko wewangian, kafe-kafe
juga terlintas begitu saja, tersebab
ingatan lama telah hadirkan kembali
lewat kabel listrik yang terus menguntitinya
mencari bunyi lonceng gereja
yang menggemakan masa lalu
hingga kau berhenti mengakhiri kerinduan
dadamu lewat dendelion
pada nyala lilin dan ratusan foto
dalam toplestoples kaca
Pasir Luhur, 01 Juni 2015

Pelipis Matamu

                - Ipit Juarsih -

Biarlah pelipis matamu dijaga oleh
doa-doa yang selalu tabah
pada segenap cemas di ujung pembaringan.
Setelah tiga benang dijahitkan pada pelipis
matamu yang sayu, aku bernaung pada ujung
benang, agar aku tahu betapa merasa terluka
hati dipintal kesedihan.

Biarlah pelipis matamu menyimpan
kenangan yang selalu keluar
rangkaian luka-luka dan tiba-tiba
menjerat mata untuk bicara
”Aku memiliki harapan untuk mampu seberangi waktu,
tersebab dalam luka itu sendiri menggenang
cinta dan kerinduan”

Biarlah pelipis matamu menjadi cinta
yang tak lekas hilang
seperti malam-malam yang silam.
Dan biarlah pula
pelipis matamu menjadi kerinduan
yang menemukan luka telah mati
saat dini hari.
Pasir Luhur, 13 Juni 2015

Orang-orang Desa

memang kami tak suka kebisingan kota
terlebih kebisingan pabrik-pabrik
yang kerap kali jadi penghidup orang-orang desa

memang kami orang-orang desa
namun, kami sendiri bukan bagian
orang-orang desa yang menggantungkan diri pada industri
tersebab, desa itu sendiri mampu
tumbuhkan berpuluh-puluh rumah kehidupan
rumah-rumah tanpa kebisingan
rumah-rumah beratap
rumah-rumah dengan kebun singkong di halaman belakang
rumah-rumah berpagar bambu
rumah dengan burung perkutut di beranda depan

tak sama seperti rumah-rumah orang-orang kota
rumah yang terlampau tumbuh tinggi
tak punya atap
tak punya kebun
tak punya pagar apa lagi burung perkutut di beranda depan

memang kami orang-orang desa
yang begitu hidup sederhana
tersebab itu, kami hanya bangun
rumah-rumah tanpa habis banyak biaya

Pasir Luhur, Agustus 2015

Faiz Adittian Ahyar, lahir di Banyumas, 21 Oktober 1994. Tempat tinggal di Pasir Kidul RT 02 RW 05 Purwokerto Barat 53135. Saat ini sedang menempuh Pendidikan S1 Fakultas Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam di IAIN Purwokerto. Pegiat komunitas sastra Gubug Kecil. Puisinya terantologikan dalam buku Cahaya Tarbiyah (Forum Mahasiswa Tarbiyah, 2013), Kampus Hijau (Stain Press), lima puisinya termuat di Zine Indonesian Literary Collective (ILIC) Festival Berlin Book Fair tahun 2014 di Jerman, dua puisinya terantologikan dalam buku Potret Langit (Oase  Pustaka, 2015) sekaligus menjadi juara dua dalam lomba cipta puisi remaja Oase Pustaka 2015. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Faiz Adittian Ahyar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 23 Agustus 2015

0 Response to "Meja Makan - Trotoar Depan Gereja - Pelipis Matamu - Orang-orang Desa"