Memo Bukit Bulan - Lentera Jarak - Telau Di Lembah Dalam - Variasi Ramadhan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Memo Bukit Bulan - Lentera Jarak - Telau Di Lembah Dalam - Variasi Ramadhan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:20 Rating: 4,5

Memo Bukit Bulan - Lentera Jarak - Telau Di Lembah Dalam - Variasi Ramadhan

Memo Bukit Bulan

hanya ilalang mau mengering, pucuk
jari-jari yang tak bisa mengepal--dari
tulang-tulang terserak--tak dikuburkan
(jarang teringat sebab tidak bernama)

diajak ingin-angin mencekik pemimpin
bang-pak, pengutil fee yang pura-pura
mendiskusikan hal belanja pembangunan
(setelah gaji naik & tunjangan ditambah)
tapi tidak bisa beranjak--terjangkar tak

bisa menjangkau. terbungkam--tak bisa
menyerukan perambahan gulma korupsi
(liar mengsiakar tanpa mengenal musim)

Lentera Jarak 

ingin membangun rinai jelang petang,
dengan pelangi pelan melengkungkan
tujuh warna perhiasan pertanian

tapi tidak cukup air dalam awan, tidak
cukup kapas buat ditenun jadi benang,
serta direntangkan sebagai gerimis

--membuncah pada telau dekat kiara--

cuma kabut yang menggumpal, menirai
gerumbul bambu, bubungan, serta pintu
yang berlentara sundukan jarak

mengerdip sampai pagi, sambil mendesis
bersama derak bambu di gerumbul ketika
angin lembah mengajaknya naik

tak cukup ada air, tak cukup ada awan di
langit kemilau. tak ada kiriman dari laut
di selatan--cuma suara yang bergemuruh

Telau Di Lembah Dalam 

setapak ke lembah berupa titian pada
tebing--licin ketika hujan. dua orang:
mati, terjatuh dalam tujuh puluh tahun

lima puluhan undakan setinggi kiara,
dengan temali rotan untuk merambat
turun serta menekah naik--mengais air

dua bumbung bambu tersanding di kiri
serta di kanan, setinggi 80 senti. untuk:
air! telau bawah kiara diapit jurang terjal

dan sebelum kabut turun kau harus gegas
turun + harus gegas ketika kabut menipis
--sebelum dahaga menjerang setiap siang

Variasi Ramadhan 

sambil menonton yang belanja
lebaran, sambil menanti daging
qurban dibagikan--bersabar ...

1

dekat stasiun ada warung soto kikil: kita
leluasa mengunyah, sambil bercermin di
pekat lemak kuah. si perangkap nikmat

hempang rel timur-barat, tapi kereta tak
mungkin ada lewat--sampai nanti, jam
sebelas, sampai tiba waktu terpilih. mati

”hari apa ini? tanggal berapa?” tidak ada
jawaban. pada sepuluh hari lagi ramadan
akan dimulai--maksudku: ramadhanís sale

di warung stroke di meja asam urat: aku
tercenung. di sebelas bulan ini kita sudah
biasa berpantang apa? dan akan apa lagi?

2

mesjid kami akan dilengkapi menara
tinggi--sarang bagi spiker. agar azan
dan lantun qurían terdengar di seantero

pun bacaan terawih, dan (nanti) tadarus.
sebentar lagi seruan buat sahur, isyarat
imsak, dan terutama: anjuran agar bertakjil

awal serta ujung hari yang bising, dengan
siang yang selalu lengang--tanpa kegiatan
: semua terlelap. sehingga butuh pengeras

agar umat gegas terjaga serta sigap makan

3

aku membuka catatan belanja bulanan
: menaksir cicilan rumah serta sepeda
motor--memanjang ke julang misteri usia

ditambah rutin uang kuliah serta bea kos
anak, hutang jangka pendek dari telepon,
koran, sembako, rokok, baju--dll dst dsbnya

berbulan dipaksa menahan diri, senantiasa
berpantang serta mengalah. lantas: dengan
apa memanjakan-Nya di jalan zakat + sedekah?

apakah harus merampok, melacur, atau korupsi

4

silaturahmi bisa dilakukan kapan saja, kataku
pada kawan yang ëngajak halalbihalal. reuni

sebab karcis kereta serta pesawat sudah habis
terjual, sedangkan bis habis di-booking acara
mudik bersama. bareng produsen sapi cingcang

sambil termangu menaksir tunjangan lebaran
anak, santunan zakat serta kewajiban fitrah--
sisanya buat pulsa: sms ucapan selamat lebaran

sayap + ceker buat opor hari raya. makan besar
2 bulan lagi--ketika tiba pembagian sapi qurban

5

aku sedang berlatih berbaring. tangan terlipat
di dada agar khidmat menatap ke kiblat

melengos pada apapun sebelum papan lahat
dirapatkan serta lubang kubur dipadatkan

taqarrub--mimpi bercengkerama dengan-Nya

2013-2015


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Beni Setia
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 30 Agustus 2015

0 Response to "Memo Bukit Bulan - Lentera Jarak - Telau Di Lembah Dalam - Variasi Ramadhan "