Menyimpan Rindu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Menyimpan Rindu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:07 Rating: 4,5

Menyimpan Rindu

"JOGJA... Jogja..." teriakan cempreng seorang kondektur bus malam jurusan Jakarta-Yogya di Terminal Pulo Gadung.

Aku bergegas menuju ke bus malam jurusan Jakarta-Yogya yang sudah menunggu di pelataran terminal. Lalu, masuk ke dalam bus setelah menyerahkan tiket yang kubeli dari agen dua hari sebelumnya, kepada kondektur bus untuk disobek.

"Lumayan ramai," batinku melihat penumpang di dalam bus cukup banyak.

Aku lalu menaruh pantatku di kursi belakang sopir. Kursi ini memang favoritku ketika mudik Lebaran ke kampung halamanku.

"Kita berangkat sekarang!!" teriak si sopir kepada kondektur sambil masuk ke dalam bus. Aku kaget melihatnya. Ternyata sopir busnya perempuan.

Ia juga mengingatkan kepada Ayu, adik perempuanku satu-satunya yang tinggal di Yogya bersama ayah. Ia pastilah sudah tumbuh menjadi gadis cantik di usianya yang menginjak tujuh belas tahun.

Tampak si sopir melirik lewat kaca spion bus bagian dlaam. Rupanya, ia tahu aku memerhatikannya. Kualihkan pandanganku keluar jendela.

Tertegun aku melihat orangtua dan anaknya bercanda di dalam mobil yang sedang melaju pelan. Tepat di samping kanan bus yang aku naiki. Mmebuatku teringat dulu aku juga mempunyai kebersamaan seperti itu. Kami berempat sering bercanda di ruang keluarga.

Tapi seiring waktu yang berjalan, ayah menjadi stres setelah di-PHK sepihak oleh  perusahaan tempatnya bekerja. Membuat ayah gampang emosi. Pertengkaran kecil dengan ibu pun mulai terjadi. Lama-lama bertambah besar.

Ibu lalu memutuskan meninggalkan rumah, mengajakku ikut serta ke rumah ennek di Jakarta. Sejak saat itu, kebersamaanku dengan ayah dan Ayu, adikku, hanya tinggal kenangan.

Tak terasa sudah lima tahun berlalu. Selama itu, aku benar-benar menyimpan rindu pada ayah dan Ayu, adikku. Kesibukan perkuliahan yang menumpuk membuatku sulit meluangkan waktu menengok keberadaan keduanya di Yogya.

Saat yang aku tunggu tiba. Sekitar smeinggu ini, kuliahku sedang libur semesteran. Tapi aku baru bisa pulang ke Yogya, kota tempat kedua orang yang kurindukan itu tinggal, pada hari ketiga liburan.


***
"Mas," tegur kondektur bus membuyarkan lamunanku.

"Makan dulu." ajaknya.

Aku mengangguk. Kebetulan perutku juga sudah lapar. Rupanya bus berhenti sebentar di sebuah rumah makan. Aku segera melahap semua menu yang disajikan di atas meja.

Selesai makan, aku segera kembali ke dalam bus. Duduk di kusrsi yang sama. Bersiap melanjutkan perjalanan.

Bus kembali menyusuri ramainya jalan raya. Di dalam bus, kulihat Putri tampak berkonsentrasi mengemudikan busnya.

Sementara aku terus bergulat dengan dinginnya udara malam. jaket kulit yang tersimpan di tas segera aku ambil. Lalu aku kenakan. Tak lama kemudian, aku pun tertidur lelap.


***
"Mas, sudah sampai Terminal Giwangan.," kata kondektur bus membangunkan tidurku. Lalu setelah mengucap terimakasih, aku turun dari bus. Tak terasa lelahnya, tahu-tahu tiba di Yogya sudah pagi. Aku lantas berjalan keluar Terminal Giwangan.

Langkahku terhenti sebentar di atas trotoar. hati ini sudah tak kuat lagi menyimpan rindu pada ayah dan Ayu, adikku. Lalu ponsel kukeluarkan dari balik jaket kulitku. Memencet nomor ponsel Ayu, adikku.

"Halo, ini siapa ya?" tanya seseorang perempuan di ujung telepon dengan nada bingung. Aku pun heran dibuatnya.

"Ini Ardi, kakaknya Ayu."

"Ayunya ada?" Aku langsung ke pokok pertanyaanku. Tapi hanya diam dan keheningan yang kudengarkan dari ujung telepon.

"Halo... Ayunya ada?" Aku kembali mengulangi pertanyaanku/

"Maaf, Mas Ardi. Ada musibah di rumahnya Ayah mas Ardi." jawab seseorang pria di ujung telepon, menggantikan suara seorang perempuan yang tadi mengangkat teleponku.

"Musibah apa, Pak?" tanyaku.

"Semalam kerampokan, Mas." jawabnya.

Aku tercekat mendengar jawabannya.

"Terus bagaimana keadaannya sekarang?" tanyaku mulai panik.

"Maaf, MAs. Keduanya ditemukan sudah meninggal pagi ini," jawabnya.

Ponsel langusng aku matikan. Lalu bergegas mencari ojek, taksi atau semacamnya yang bisa cepat mengantarkanku ke rumah ayah.

Aku tahu ini memang sudah takdir keduanya. Tapi tetap saja ada sesikit penyesalan di hati. Kenapa aku terlalu mementingkan pekerjaan? Kalau saja, aku ambil liburan lebih cepat untuk pulang ke Yogya, barangkali aku masih sempat menumpahkan kerinduan pada ayah dan Ayu, adikku.

Tapi semua sudah terjadi. Kini, aku hanya bisa menyimpan rindu pada ayah dan Ayu, adikku. Entah sampai kapan aku kuat menyimpannya. 

Yogya, 15 Agustus 2015

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Herumawan PA
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 28 Agustus 2015



0 Response to "Menyimpan Rindu"