Pasar Soreang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pasar Soreang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:41 Rating: 4,5

Pasar Soreang

Pasar Soreang, 1

Mereka turun dari perbukitan di sekitar
Ketika embun sedang dibentuk

Sambil membawa obor setengah lengan,
Sambil memikul bonteng atau singkong

Terkadang Lombok sebakul, atau leunca
Sekeranjang –dibebat kain panjang

Mungkin juga nangka, pepaya, melinjo,
Daun singkong muda, pete, dan jengkol

Sebelum pasar dibuka bergegas dengan
Garam, peda, oncom, dan minyak tanah

:untuk isi cempor, untuk obor hari esok
--gegas menggarap ladang sebelum terik

Berkeringat sehingga raga terpiut, serta
Waktu sangat cepat menggali kuburan
   --- mendahului matahari setengah hari

2015

Pasar Soreang, 2

Apa mau memilih soto bandung epon?
Bening dengan irisan lobak pleus lauk
Gepuk, kenyal tanpa lemak

Atau soto kuning euis? Dengan kerupuk
Kulit, dorokdok yang khidmat dimakan
Di kios suram di tengah pasar

Ada juga yang membawa nasi sendiri 
Berpesta dengan lauk telor asin – yang 
Dibelah empat untuk berempat

Mungkin juga kupat omo? Kuahnya
Berminyak bihunnya melunak, atau 
Kupat intja atau o’ed?

Atau bubur ayam dengan kurupuk remas?

Bersantai sambil banyak omong, dengan
Cengek garing giling serta kecap ekstra—
Berkeringat dan bergembira selepas panen

Atau cendol dengan aroma duren, es sirop
Dengan alpukat dan cangkaleng, goyobod
Yang ditimbun kristal es serut?

2015

Pasar Soreang, 3

Odading serta kueh tambang yang selalu
Dipluntir,ali agrem & jalabriah tersedia 
Untuk teman menghabiskan siang

Surandil merah berpupur parutan kelapa, 
Awug yang bagai tumpeng dipotong agar
Lapisan gula merahnya bisa ditambang

Katimus, nagasari, uras isi oncom, bacang,
Dan robur nan pepal melulu karbohidrat—
Tersedia dalam kenangan, sia-sia ditelusuri

Jalan tanah berlubang, debu atau kubangan
Lumpur menghilang dibalik lapisan beton –
Masa kanak perlahan menyusut kian surut

Aku mirip pengungsi pencari tanah kelahiran
--yang diusir dan tak diperkenankan kembali
Mungkin hantu bernyawa tanpa ingata

2015

Pasar Soreang, 4

Halaman parkir bau tai serta kencing kuda
& uar ransum ampas tahu – ongok. Delman
Serta gerobak berseling sepi pasang ladam

Dan sekarang hari pasar, hari di mana hasil
Bumi diunggah ke atas truk, sedang barang
Klontong diturunkan untuk didistribusikan

Hingar-binga toa menawarkan obat untuk
Segala penyakit, menata lingkar penonton:
Untuk sulap, acrobat sepeda beroda satu,

Serta atraksi piul si adang buta, yang kuasa
Meniru ringkik kuda. Kegembiraan sampai
Jam 09:00 –sebelum kota kembali lengang

Kegersangan padi siap bunting, tenang tanpa 
Parpol yang menyiapkan rintisan jadi bupati,
Dan bahkan presidean—dengan obral janji

Dangdut, bujur ngageol, serta placebo resesi

2015

Pasar Soreang, 5

Omo kuik tidak leluasa kalau melangkah,
Kakinya seret diseret-seret, seperti gerak
Roda lokomotif kehilangan daya

Dari sana mendapat nama: kuik. Membawa
Tongkat agar panceg ketika jalan—merayap 
Separuh tertatih sering termangu

Rasanya tidak gila – cuma depresi tidak bisa
Berjalan, seperti bibi rumsi yang senantiasa 
diejak kanak sebagai si banyak tumila

atau ehoy yang selalu ‘ngiler itu. berprofil
imbecil dengan: si tangan serta kaki kanan
cacatt dan sukar digerakkan

real monster masa kanak – sering dicemooh!
: di mana mereka kini? Apa mereka memang 
Sufi suci seperti angatn isac bashevis singer?

2015

Beni Setia, pengarang, tinggal di Caruban, Madiun (benisetia54@yahoo.com)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Beni Setia
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 30 Agustus 2015


0 Response to "Pasar Soreang"