Purnama yang Belum Terbaca - Alamat Tu(h)an - Tirai Puasa | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Purnama yang Belum Terbaca - Alamat Tu(h)an - Tirai Puasa Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:28 Rating: 4,5

Purnama yang Belum Terbaca - Alamat Tu(h)an - Tirai Puasa

Purnama yang Belum Terbaca

Sabit telah berganti purnama
Sebelum kurampungkan kisah dahaga
Atas tiap malam yang terhabiskan dengan sia-sia

Laju-laju bus kota, kata-kata pada layar kaca
Dug der bunyi petasan, kembang api penuh kila-
tan
Menghias pelupuk mata dan gendang telinga
Menabur jalanan dengan kertas isi jajanan

Purnama telah melingkar dalam cahaya
Pada separuh perjalanan yang belum kuhafalkan
rute-rute menuju dermaga kebaikan
pada tiap ayat-ayat indah-Nya belum jua
terkhatamkan

Sebab tiada hari jiwa mencari
Pada tiap bulir yang menggenapi
Cawan rindu untuk sang pemiliki hati
Rindu rasa rindu rupa,
Mencari kesungguhan pada kisah seribu bulan

Alamat Tu(h)an

Di mana akan mencari alamat Tu(h)an?
Di gedung bertingkat, dalam laju Alphard atau di
tapak kaki mengkilat?
Di mana akan mencari alamat Tu(h)an?
Di panti asuhan, di pondok pesantren, atau di
masjid yang semakin maju barisan shof-nya, keti-
ka mendekati hari Raya?

Tu(h)an tentu punya alamat
Yang tak pernah berpindah bukan?
Bukan alamat palsu, ataupun alamat tanpa hak
milik: yang sewaktu-waktu alamat itu menjadi milik
KPK.
Tu(h)an tentu punya alamat
Pada jalan, pada gang, pada nomor
pada setiap kartu nama yang tersebar di tiap-tiap
saku pengembara

alamat Tu(h)an tentulah benar
Jalan Shirath, Gang Surga, dan nomor 42443
Nomor alamat yang lebih tepat daripada pesan
antar

Siapa mari yang ingin menuju ke alamat Tu(h)an?
Siapkan upeti namun tak tampak grativikasi
Siapkan parcel sebagai pengganti sajak orasi

Siapa mari yang ingin menuju ke alamat Tu(h)an?
Amalkan tembang Hablumminalloh wa
Hablumminannas

Tirai Puasa

Ada anak melenggang di pinggir jalan
Sambil menenteng plastik berisi es teh dan goren-
gan
Sesekali menyeruput nikmat
sambil menggigit pelan satu mendoan
Di tengah terik menyengat
mata pening terkadang kumat

Warung-warung makan tiada berjualan di depan,
Namun tirai-tirai penutup menu
menghias sepeda motor berjajar; para pengisi
perut yang tak tahan dengan panas hawa;
sesekali mampir, dua kali mampir, atau berkali-kali
mampir

Penjaja makan dan para pengisi perut saling men-
gobrol,
membicarakan panasnya hawa yang tak men-
guatkan dahaga mereka
sebagian berseloroh karena bocornya neraka
Sayup lirih terdengar lagu Bimbo
”Ada anak bertanya pada Bapaknya, buat apa
berlapar-lapar puasa¡
Nasi yang akan tertelan, tersangkut di tenggorokan
Penjaja makan dan para pengisi perut saling
berpandangan.


Wati Istanti lahir di Solo 30 tahun lalu dan Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Unnes. Karya sastranya dimuat di beberapa media massa

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wati Istanti 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 2 Agustus 2015

0 Response to "Purnama yang Belum Terbaca - Alamat Tu(h)an - Tirai Puasa"