Racun - Jam-Jam Guang-hsu - Api | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Racun - Jam-Jam Guang-hsu - Api Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:47 Rating: 4,5

Racun - Jam-Jam Guang-hsu - Api

Racun

Tentu tidak pernah kunikmati jamuan makan mayat
di mana pun. Tetapi malam ini smeua mulut mayat
yang kepalanya telah kupenggal terasa melahapku

Aku hanya sedikit menyeruput sop
kalajengking. Tetapi kaki-kaki kalajengking
terasa bergantian merayap
di kerongkongan. Racun tak mati
oleh racun. Aku rasakan pinggangku
kian pegal. Mataku kian rabun.

Karena udara dingin, aku mencoba menikmati
bubur panas, tahu, ganggang laut
panggang, sayur-mayur, dan kacang-kacangan.
Tetapi aku seperti berendam
Dalam panci panas raksasa
penuh tinja. Sulur-sulur duan hijau
membelit. Aku sulit
bernapas. Tubuhku demam.

Sesekali -- sekalipun telah menjadi maharani -- aku
menghisap cerutu saat malam mulai menyuruk-nyuruk. Pada
saat-saat seperti itu, kasimku akan berkata lembut
kepadaku, "Tak seharusnya Ibu Naga bermain-main dengan
kematian."

"Sesungguhnya api telah menyusup ke tubuh Yang Mulia,"
kata Tabib Sun Pao-tien ketika kurasakan aku mulai
terserang aneka penyakit.
"Aku tak pernah memelihara api di mulutku," kataku.
"Tetapi bagian dlaam tubuh Yang Mulia telah terbakar.
Minumlah sop biji teratai. Yang terbakar akan diteduhkan.
Yang beracun akan ditawarkan."

Tetapi - selalu aku lebih tahu dari siapa pun - tak ada
yang bisa menawarkan racun di dalam tubuhku. Mataku
beracun. telingaku beracun. Pikiran-pikiranku beracun.
Aku takut pada pikiran-pikiran sesatku.

Lalu pada saat kami mengungsi dan peluru-peluru musuh
berdesing dari berbagai penjuru -- kasimku menemukan
telur di rumah kosong. "Pada saat perang tak kunjung henti
dan kita snagat kelaparan, apa pun bisa jadi berkah indah
dari Langit Yang Mulia."

Tentu ingin sekali kulapah telur hingga ke cangkang.
Tetapi kurasakan lambat laun telur retak itu emmbesar.
Retak kecil membesar jadi semacam lorong ke gua
gelap. Membesar hingga menelan rumah. Menelan beranda
tanpa bulan. Menelan aku dan Kaisar Guang-hsu.

"Kau telah kehilangan
kekuasaan, Anggrek," kata telur itu, "Jangan
kaulahap apa-apa lagi. Apa pun
yang kaulahap akan ganti melahapmu."

Kuabaikan suara bohong telur busuk. Kulahap semangkuk
bubur gandum terakhirku.

2015

Jam-Jam Guang-hsu

Guang-hsu, kaisar kecil pengganti Tung Chih, tak suka
pada suara gergaji, tak suka paku beradu dengan palu.

Ia hanya ingin mendengar suara gerimis. Ia hanya ingin
mendengar pena penyair beradu dengan kertas putih
di ujung perih malam.

Guang-hsu tak suka pada suara guruh musim panas. Tak
suka pada derit jendela beradu dengan angin dari sunyi
pepohonan.

Ia hanya ingin mendengar kuas pelukis beradu
dengan kanvas kuning
keemasan.

Guang-hsu tak suka pada suara pisau beradu
dengan tatakan. Tak suka cericit burung pelatuk. Tak suka
pada hampa yang melengkingkan penderitaan.

Ia hanya ingin mendnegar detik-detik jam-jam
dari negeri-negeri di balik awan berdetak pelan-pelan.
Ia hanya ingin mendengar danau hijau membisikkan
dongeng kelinci berkejaran di bulan.

Tetapi pada saat bongkahan-bongkahan es membeku
di sungai, Guang-hsu menghancurkan
seluruh jam dinding, menghancurkan
jam gantung, menghancurkan
seluruh arloji.

Jarum-jarum patah berserakan. Waktu
seperti digerogoti.

Tak ada lagi bunyi.

Guang-hsu hanya ingin mendengar
yang tidak ingin
kita dengar. Kefanaan itu...
serbuk-serbuk sunyi itu...

2015

Api

Tubuh berapi itu berkelebat dari tumpukan kayu yang
menyala ke seluruh pekarangan istana.
Berkelebat sebagai bunga-bunga api yang menusuk mata.
Tiang-tiang, rambut, lengan, kaki, kepala, dan wajah marah
Ratu Min terbakar sia-sia.

"Mula-mula pengawal dan dayang-dayang dibunuh,"
kubaca laporan tentang pembakaran ratu dari Korea
yang menyedihkan itu, "Mungkin serdadu Jepang
juga memperkosa... lalu menusuk lambung
Ratu Min berkali-kali,"

Setelah itu tak ada yang berani menceritakan kisah
tentang naga api yang terbang
dari Korea ke Cina. Dari ratu
yang teraniaya ke ratu
yang lebih teraniaya.

Dan kini tubuh berapi itu
tak pernah berhenti berkelebat
di cermin. Itu tubuhku. ubuh
yang terbakar amarah. Tubuh yang tak berdaya melawan
apa pun yang hendak menghanguskan jiwa rusuhku.

"Siapa pun bisa mati seperti Ratu Min," kutulis catatan
busuk di buku harianku, "Tak terkecuali aku. Terbakar.
Sia-sia jadi abu."

2015


Triyanto Triwikromo tinggal di Semarang, Jawa Tengah. Ia menulis antologi puisi Kematian Kecil Kartosoewirjo (2015). Puisi-puisi yang dimuat kali ini berasal dari kumpulan Selir Musim Panas (akan terbit). 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Triyanto Triwikromo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Minggu 23 Agustus 2015


0 Response to "Racun - Jam-Jam Guang-hsu - Api"