Sajak Petani Garam - Jiwa Daging Sate - Kepada Istriku - Sepasang Sapi Merah dari Taman Sare | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sajak Petani Garam - Jiwa Daging Sate - Kepada Istriku - Sepasang Sapi Merah dari Taman Sare Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:17 Rating: 4,5

Sajak Petani Garam - Jiwa Daging Sate - Kepada Istriku - Sepasang Sapi Merah dari Taman Sare

Sajak Petani Garam 

Kincir berputar di jantung, 
dadaku menjadi tanah lapang 
yang dialiri air asin.
Sedang di sini, dalam jiwaku 
garam sudah tak terasa sebagai garam lagi 
hanya diri 
dalam kembara 
yang terus teruji.
Sareman, 2015 

Sepasang Sapi Merah dari Taman Sare 

1/ 
Sepasang sapi merah berlari bagai peluru api. Debu
debu berhamburan bagai asap yang menjalar dalam 
jiwa. Hilanglah jejak, teranglah sajak. Tali kendali tak 
henti ditarik. Sapi-sapi terus melesat sepanjang larik 
sajak.

Kau dan aku adalah sapi merah dari Taman Sare.
Karapan bukan ingin menang, bukan pula takut 
kalah. Tapi kau dan aku ingin meresapi kesakitan 
dan menghapus jarak sajak.

2/ 
Demi tanah kelahiran yang ditinggikan. Demi 
matahari kampung halaman. Demi bulan tanggal 
enam. Jika kami menang, hanya karena selangkah 
lebih cepat dari lawan. Jika kami kalah, hanya karena 
kurang kompak dengan kawan.

O, sapi-sapi merah yang ditabuhi gendang. O, sapi-
sapi yang berlari. Matahari kita satu. Langkah kita 
beribu ibu. Semakin dikejar, bayang-bayang semakin 
jauh.

3/ 
Dari dalam diriku dan dirimu akan lahir kata-kata, 
bagai sapi-sapi perkasa. Sapi-sapi dengan mata 
hitam dan putih menyala. Dari dalam diriku dan 
dirimu, kata-kata melompat dari masa ke masa. Ia 
melampaui makna dan segala rahasianya.

Dan kelak kita akan melenguh dan bertakhta para 
juara. Matahari dan bulan akan menunduk di tanduk 
kanan-kiri kita. Lalu kita bahagia selamanya.
Sumenep-Yogyakarta, 2015 

Jiwa Daging Sate 

Aku adalah jiwa bagi daging yang diiris.
Gelap mata pisau seperti malam tanpa bulan 
lalu bintang-bintang berkedip dan roh-roh menjerit 
di setiap potongan.

Dalam jiwaku, ada gumpalan, muasal segala dendam; 
kau tusuk aku dengan bambu, kau panggang aku di 
atas tungku, 
kau taburi aku bumbu: bawang, cabe, dan kacang.
Kau kunyah dan kau telan aku, kau habiskan aku 
dengan pamer.

Aku adalah jiwa daging yang meringis dan geram 
di bawah kegembiraanmu. Ingatlah, aku akan 
mengintaimu 
dengan sebilah tanda tanya dan tanda seru.
Biarlah urat-uratku tegang ke langit, menarik 
nyawamu dengan kejam.
Singosaren, 2015 

Kepada Istriku 

Jiwamu, kata orang bagai hutan 
belantara, setelah kumasuki tak terasa 
sebagai hutan lagi.
O, hancurkan semua jalan. Biarlah aku 
membuat jalan baru yang tembus 
ke hatimu.

Telah kutemukan matahari terbit 
dan beredar di aliran darahmu.
Sinarnya terang bagai rinduku.
Bila malam bertandang, bulan 
menyerupai rasa kangen.
Cahayanya bertabur ke hutan-hutanku.

Kepadamu istriku, 
kepadamu yang ingin menjadi burung 
matahari. Sudah bertahun-tahun aku 
bertekukur lewat puisi.
Yogyakarta, 2015


Ahmad Muchlish Amrin, lahir di Sumenep, 24 Agustus 1984. Pada 2009, diundang ke Ubud Writers and Readers Festival. Kini sedang menyelesaikan studi pascasarjana di Jurusan Sosiologi Fisipol UGM Yogyakarta. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ahmad Muchlish Amrin
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 16 Agustus 2015


0 Response to "Sajak Petani Garam - Jiwa Daging Sate - Kepada Istriku - Sepasang Sapi Merah dari Taman Sare"