Sirit Uncuing | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sirit Uncuing Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:50 Rating: 4,5

Sirit Uncuing

DESA Sei Langgam eksis dengan cerita-cerita klenik yang membuat bulu kuduk pendengar bergidik. Desa itu teduh karena dipayungi pohon-pohon besar. Dilalui sebuah sungai induk bernama Langgam yang konon didiami seribu hantu. Rumah-rumah warga sebagian besar berbentuk panggung. Menyebar berjauhan antara satu rumah dan rumah lain. Badan dan kaki rumah terbuat dari susunan tonggak-tonggak kayu, dililit akar sebagai pengikat. Atapnya berasal dari kebaikan daun ulin yang melindungi si empunya dari terpaan panas dan hujan. 

Beberapa bulan terakhir, warga Desa Sei Langgam kedatangan tamu. Bukan manusia, melainkan bangsa sirit uncuing yang jumlahnya beratus-ratus. Mereka membuat rumah di dahan-dahan pohon, lalu tidur sepanjang siang dan bangun saat malam mulai merapat.

Sirit uncuing memiliki ciri-ciri bertubuh sedang, berbulu cokelat kusam dengan lurik-lurik hitam di bagian punggung. Mata mereka seperti rubi. Satu lagi, jika diperhatikan secara saksama, mereka mempunyai dada berwarna kuning menjurus jingga.

Tiap malam sirit uncuing meninggalkan rumah. Mereka pergi ke mana suka dan mulai mencari makanan. Terkadang saat purnama merupa, sirit uncuing bercakap-cakap dengansesamanya. Atau, sekadar bernyanyi dengan suara mereka yang mengingatkan warga pada gesekan biola tua. Namun, bila gerimis datang menggantikan bulan, mereka merintih pilu bersaman. Seperti merasakan suatu kesedihan yang tidak terperi. Kalau sudah begitu, cemaslah warga. Sebab, dalam hitungan beberapa hari ke depan, pasti ada warga yang meninggal dunia.

Ini bukan omong kosong! Bukan keyakinan sesat warga Sei Langgam. Atuk Kuder membilangkan kematiannya sudah dekat setelah melihat paras sirit uncuing datang menyerupai wajahnya. Semula lelaki 69 tahun itu menyangka punya masalah di mata. Tapi, bukan sekali-dua dia bertemu sirit uncuing yang berwajah sama dengan dirinya.

Tiga hari sebelum ajal menjemput, Atuk Kuder bermimpi bahwa sirit uncuing membawa pesan kematian dari langit. Atuk Kuder terbangun dengan rasa cemas yang cukup parah. Terus terang, jika mimpi itu benar, dia sama sekali belum siap untuk mati. Namun istri dan anak-anaknya berkata mimpi hanya kembang tidur semata. Pada hari yang sama, berpuluh sirit uncuing datang ke rumah Atuk Kuder. Keresahan Atuk Kuder jelas bertambah.

’’Mengapa sirit uncuing itu pada kemari? Usirlah mereka. Kurasa tak baik mereka singgah lama di rumah kita,’’ ujar Atuk Kuder pada istrinya yang berambut abu-abu dan mengunyah sirih.

’’Tidak masalah, Tuk. Mereka tidak mengganggu,’’ jawab istrinya, berusaha menenangkan perasaan Atuk Kuder.

’’Tidak mengganggu bagaimana? Mereka memenuhi pekarangan dan bertengger di atap rumah,’’ sanggah Atuk Kuder, keringat dingin.

’’Barangkali mereka nyaman dengan rumah kita yang bersih.’’

’’Ah tak mungkin. Firasatku tidak enak. Apa kau tak melihat wajah mereka serupa wajahku? Kurasa
mereka tukang sihir yang termakan mantra menjadi sirit uncuing. Mereka bisa meramal kematian seseorang. Kematianku.’’

’’Mana pula?’’ Istri Atuk menolak setuju. ’’Barangkali kau terlalu lelah berladang. Pikiranmu kacau.
Istirahatlah sejenak biar kau merasa tenang,’’ saran istri Atuk Kuder. Sepertinya, sang istri tidak mau
meladeni perkataan Atuk yang terkesan mengada-ada.

Atuk Kuder kesal tapi tidak mau membantah. Kendati dia menuruti saran istri, pikirannya tetap tertuju pada para sirit uncuing itu. Hingga pada suatu sore, karena banyak melamun, Atuk Kuder lengah dalam perjalanan pulang. Kakinya menyandung batang pohon tumbang hingga terjatuh. Saat Atuk akan berdiri, tanah tempat dia berpijak longsor. Tubuh Atuk terguling-guling, terperosok ke dalam jurang sedalam lima ratus meter lalu terempas ke sebuah batu besar yang menjadikan rohnya lesap dari badan. Setelah peristiwa kematian Atuk Kuder, keluarga baru percaya bahwa yang dikatakan Atuk Kuder soal sirit uncuing adalah benar. Semua warga yang mendekati kematian, mengalami pertanda serupa. Para sirit uncuing datang dengan rupa persis si calon mayat.

***
’’AH! Aku tidak percaya yang begituan.’’

Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Kanja saat bercengkerama sebuah kedai kopi. Dia pria urban
yang tinggal di belantara beton, menghirup udara megapolitan, dan hidup dalam dunia serbalogika. Hanya saja, tugas penelitian dari universitas mengharuskan dia tinggal sementara waktu di desa dengan baratus sirit uncuing yang hangat diperbincangkan itu. 

’’Jadi, kau pikir kami berbohong?’’ seorang pemuda yang terlibat dalam obrolan merasa tidak senang. 

’’Bukan begitu. Mana mungkin sirit uncuing bisa menyerupai wajah orang yang akan meninggal dunia? Semisal benar, tentu kematian bukan sesuatu hal yang misteri lagi. Bisa-bisa, yang mati akan menggali kuburannya sendiri,’’ tandas Kanja.

Semakin banyak kemustahilan yang terdengar di sini, semakin tak sabar Kanja kembali ke kota. 

’’Mana kami tahu? Yang jelas, kedatangan sirit uncuing membawa ketakutan tersendiri bagi warga desa. Setiap rumah yang paling ramai disinggahi sirit uncuing, dapat dipastikan tak lama lagi akan ada penghuninya yang mati,’’ balas pemuda tadi, diikuti anggukan kepala dua pemuda lain.

’’Baru-baru ini, Kak Sani, istri Bang Murad yang sedang bunting delapan bulan itu mengaku melihat sirit uncuing menyerupai wajahnya. Lepas itu, dia tak tidur berhari-hari. Bang Murad heboh. Mati ketakutan istrinya akan meninggal dunia,’’ sambung pemuda yang satunya lagi.

Kanja sekadar senyum. Senyum sinis yang kerap dia tunjukkan saat kehilangan gairah berkomentar. Sesaat sebelum Kanja beranjak pergi, dari utara tempat dia berpijak tampak warga berlarian. Sebuah kabar telah merebak. Angin membawanya sampai ke telinga-telinga warga lebih cepat. Semua yang ada di kedai berdiri. Tak terkecuali Kanja.

’’Hei, ada apa?’’ tanya salah seorang pemuda di kedai pada mereka yang berlari.

’’Kak Sani meninggal dunia,’’ jawab seseorang dengan napas Senin-Kamis.

’’Ha? Apa sebab? Tadi pagi aku baru melihatnya membawa cucian ke sungai.’’ 

’’Tergelincir dan pendarahan.’’

’’Pantaslah yang Bang Murad bilang tempo hari, Kak Sani telah melihat kematiannya melalui sirit uncuing.’’

’’Ayo kita melayat ke rumah duka.’’

’’Baiklah.’’

Kecuali Kanja, semua orang yang berada di kedai mengangguk setuju. Bersama mereka bertolak ke rumah Bang Murad, sedangkan Kanja memilih pulang ke rumah tumpangannya. Kalau dia ikut, berarti dia membenarkan perkara sirit uncuing. Lantas, apa beda dia dengan warga desa? Seorang calon magister dengan mudah tunduk terhadap ’’kredo’’ orang-orang buta huruf .

Sepanjang perjalanan pulang melewati hutan akasia, Kanja terus menertawakan ketololan mereka dalam hati. Merasa menang. Merasa tak patut ditentang. Dari zaman jerapah belum berevolusi sampai
sekarang, sirit uncuing yang dia tahu hanyalah seekor burung biasa. Di kota, orang menamakannya kedasih. Burung yang kicaunya kencang, tapi tak terlalu banyak penggemar. Dibandingkan parkit, kedasih kalah mutlak. Saat langkah ke seratus satu, sekonyong-konyong seekor sirit uncuing terbang rendah melintasi Kanja. Sayapnya menampar muka Kanja. Kanja mencarut. Sirit uncuing mendarat di tanah, menatap Kanja dengan muka serupa orang yang sedang ditatap. Tak pelak, Kanja kaget sekaget-kagetnya. Dia mengucek-ngucek mata, nyaris tak percaya ada sirit uncuing berwajah sama dengan dirinya.

’’Hush! Pergi sana,’’ Kanja mengusir sirit uncuing sialan itu.

Bukannya pergi, teman-teman sirit uncuing berdatangan sekitar lima puluh ekor. Semuanya tampil dengan wajah serupa Kanja. Pikiran Kanja mendadak kacau. Jantungnya berdegup kencang saat gerombolan sirit uncuing berkicau sedih. Kontan keringat dingin Kanja merembes sebesar bulir jagung. Warga desa benar. Ada sirit uncuing yang pandai merupa. Dengan berat hati, terpaksa Kanja menjilat ludahnya sendiri.

Kanja berlari meninggalkan para sirit uncuing itu. Namun belum seberapa jauh, nasib sial menimpa. Takdir mempertemukan Kanja pada si belang penguasa hutan. Si Belang jantan berusia dewasa yang sedang aktif-aktifnya memburu mangsa. Kanja terdesak, tanpa perisai. Dalam keadaan takut, kakinya tidak bisa digerakkan untuk melangkah.

Dia menggeletar, terkencing di tempat. Bagi si belang, ini adalah rezeki nomplok. Makan siangnya kali ini sangat istimewa: seorang pemuda berdaging tebal, berkulit bersih, dan wangi. Cukup sekali terjang, Kanja lumpuh di bawah tindihan si belang. Kanja meronta, namun tenaganya tak memadai. Cakar dan taring si belang menjadikan Kanja pulang tinggal nama. (62)

Ullan Pralihanta, penulis berdomisili di Pekanbaru, Riau

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ullan Pralihanta
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 16 Agustus 2015

0 Response to "Sirit Uncuing"