Suara 14 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Suara 14 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 19:34 Rating: 4,5

Suara 14

SAYA kira, Anda pun menerima pesan pendek pada telepon genggam itu, yang mengatakan bagaimana warga di sebuah negara merasa diserang oleh suara. Ya, tak sekedar diganggu suara, tapi diserang suara. Dengan demikian, ada upaya besar-besaran yang dilakukan pihak-pihak tertentu untuk mencapai tujuan khusus tanpa memedulikan dampak buruknya yang melibatkan semua warga; tak sipil, tak militer, tak besar, tak kecil, semua terlibat.

Kalau memanglah betul perkiraan saya, baiklah kita baca sekali lagi pesan itu, kemudian kita diskusikan bersama-sama. Mana tahu, kita dapat membantu warga di negara tersebut dalam menghadapi persoalan ini. Terlebih lagi, bukankah kita dapat mempelajari kejadian itu, sehingga dapat berjaga-jaga agar peristiwa serupa tidak menimpa warga negara kita pula. Terus terang, saya khawatir serangan suara itu bisa saja menjalar ke tempat kita, bagaikan perang dunia. Mana tahu....

Ya, sudahlah, usah kita berandai-andai terlalu jauh. Mari kita baca pesan itu sekali lagi. Pelan-pelan, usah buru-buru. Saya usulkan agar kita membacanya dari awal, dari siapa asal pesan itu. Pengirim pertamanya mungkin menggunakan nama samaran, hanya menyebutkan dirinya dengan satu suku kata saja, Au. Alamatnya jelas terbaca, kota dan negara asal pesan tersebut terpampang serta-merta. Waktu yang meliputi pukul alias jam, tanggal, bulan, dan tahun, juga serupa. Jelas dan terlacak, tiada sedikit pun mengelak.

Au. ya, kita sebut saja Au. Ia mengawali pesan itu dengan menulis. "Tuan-tuan dan Puan-puan. Tabik hamba kepada pemilik alam, menulis pesan dalam diam. Bukan khayalan, bukan pula igauan. Bukan pula hendak mengada-ada, menebar berita dengan berdusta. Yang pendek tidak secekak, yang panjang tidak diperpanjang. Sudah menjadi suratan, demikian akhir dari ingatan, kerajaan kami sedang rawan. Suara menyerang seluruh warga, azabnya, aduh mak, tiada terkira." Begitulah, bukan?

Barangkali, untuk tidak membingungkan penerima pesan, Au menjelaskan suara yang dimaksudkannya. Ya, suara. Kalau ditulis, demikian kata Au, suara itu berbunyi "siung...." Simbol bunyi dengan titik-titik di belakangnya tersebut jelas menyarankan bahwa bunyi "ng" terdengar sangat panjang. Bunyi dengung, begitulah kira-kira. Seberapa panjang bunyi dengung itu, tidak pula disebutkan, tetapi jelas dapat dirasakan bahwa itu akan lebih panjang daripada jika bunyi "siung" ditulis tanpa titik di belakangnya.

Tidak disebutkan berapa kali suara tersebut menyember telinga warga negara tersebut dalam suatu momen. Tetapi keberadaannya berkali-kali dalam sehari, waktunya di antara hari yang satu dengan hari lainnya berbeda-beda. Seorang warga misalnya, pada hari Selasa, disembar suara tersebut pada pukul-pukul 07.00, 10.30, 14.00, 17.00. 21.00, 00.02, dan seterusnya. tetapi tidak demikian pula hari Rabu, Kamis, dan berikutnya. Senantiasa berbeda-beda jam, itulah kesimpulan yang tepat untuk menggambarkan waktu terjadinya serangan suara tersebut.


AGAKNYA, serangan suara ini lebih gawat dari serangan senjata api dalam semua bentuk, dalam suatu perang yang berkobar. Pasalnya, tidak ada tanda-tanda akan adanya perang suara. Betapa pun cepatnya, serangan bom akan ditandai oleh suara bergemuruh atau sejenis dengannya, sebelum benda tersebut meledak. Tidak sama halnya dengan serangan suara ini, yang datang tiba-tiba saja tanpa dapat diduga sama sekali meskipun  kejadian sudah berlangsung berhari-hari. 

Au menulis, sebagaimana lazimnya sesuatu yang baru, suara 'siung....' itu semula dirasakan sebagai peristiwa pribadi. Dia sendiri saja, misalnya, semula menganggap biasa-biasa saja. Apalagi suaranya tidak begitu kuat memang. Tetapi setelah berkali-kali mendengar suara itu, Au mulai berpikir, ada apa dengan telinganya. Dikorek-koreknya si telinga dengan jari, bahkan dilihat oleh isteri maupun anaknya, tak ada yang salah dengan alat pendengaran itu.

Pun pada awalnya tidaklah begitu mengganggu. Tetapi bayangkan saja kalau makin lama makin sering suara tersebut menyembar telinga. Kadang-kadang serangan suara itu datang ketika ia sedang makan, misalnya; bagaimanapun acara santap tersebut pasti terhenti sejenak. Ketika ia tidur, menyetir, bekerja, atau apa saja, suara tersebut menyembar begitu saja tanpa aba-aba dan tanpa memedulikan apa kesibukannya.

Atas saran keluarga Au memeriksakan diri ke seorang dokter spesialis telinga. Tanpa ia duga, antrean orang dengan keluhan serupa memang tak tanggung-tanggung. Mereka juga mengalami apa yang dialami Au. hasil pemeriksaan itu mulai mengecutkan hati, yakni bahwa tidak ada masalah dengan telinga Au dan warga lainnya itu. Dokter spesialis telinga itu sendiri pun terheran-heran dan mengatakan bahwa  ia sendiri belum pernah menjumpai kasus semacam ini. Dengan amat sungguh-sunguh, ia berjanji akan mempelajari kasus yang mereka hadapi.

Tambah megherankan karena dua hari setelah itu, isteri Au juga mengalami serangan suara. Perempuan itu terpelanting dari tempat tidur ketika pertama kali diserang suara itu, padahal ia sedang berlayar dalam mimpi yang indah. Waktu itu pukul 03:13 dini hari, isteri Au mulai mendengar suara "siung....." tersebut. Ia berharap hanya terjadi sekali atau mungkin dua-tiga kali, ternyata semakin hari semakin banyak suara itu menyerang telinganya.

Begitulah, boleh dikatakan setiap jam, ada saja warga yang mulai diserang suara. Menjadi puncaknya karena dokter-dokter spesialis telinga di negara ini juga mengalami hal serupa. Kejadian tersebut disebut sebagai tragedi nasional, setelah presiden, menteri-menteri, pokoknya semua pejabat sampai ke rakyat biasa, diserang suara itu. Diserang oleh sesuatu yang serupa dengan tempo dan volume yang sama pula.

"Masih untung aduhai untung, anak-anak tak dihitung. Suara tak menyerang pada mereka yang belum berusia 17, entah karena ditimang dengan rasa memelas. Jadilah mereka sebagai batas, kepada mereka dapatlah kami beralas. Menumpang senang pada yang disayang, berharap bakti pada yang berhati. Umpama malam dengan siang, silih berganti datang berdatang. Begitulah kami wahai makhluk insani," tulis Au.


MUNGKIN seperti Anda, berbagai pertanyaan begitu banyak menggumpal di benak saya. Paling besar di antaranya adalah, mengapa peristiwa tersebut terjadi. Tidak mungkin ini semua turun begitu saja dari langit, sebab senantiasa ada sebab-akibat dari suatu peristiwa. Banyak terjadi sebab-akibat tersebut malahan kait-berkait, jalin-menjalin; kadang-kadang, karena begitu rapatnya jalinan tersebut, sampai kita tidak bisa lagi membedakan mana ujung dan mana pangkal dari sebuah peristiwa. Setiap yang bernama jalinan menjadi sebab sekaligus akibat, begitu pula sebaliknya.

Lalu mengapa pula, orang-orang berusia di bawah 17 tahun tidak atau belum terserang suara? Berarti ada batas antara manusia yang tergolong anak-anak dan remaja dengan manusia yang berangkat dewasa dan seterusnya. Tentu muncul lagi pertanyaan sehubungan dengan hal ini, yaitu mengapa batasan tersebut tercipta? Pertanyaan ini makin melebar, manakala kita sadari bahwa suara yang menyerang itu tahu benar sasarannya dan bagaimana pula mereka mengetahuinya?

Amati pula gaya bahasa yang digunakan Au dalam menulis pesan-pesanm pendeknya. Saya rasakan, kalimat-kalimat yang digunakannya tidak biasa dalam jejaring sosial melalui dunia maya yang begitu marak saat ini. Au seperti beriya-iya benar mengungkapkan sesuatu dengan pilihan bunyi yang tampak tertata dengan sengaja. Bukan suatu kebetulan. Ya, untuk apa Au melakukan hal ini? Apakah ia hanya ingin orang senang membacanya, padahal yang dikabarkannya adalah suatu kenestapaan? Apalagi gaya bahasa yang digunakannya tidak lazim, yang tentu saja menjadi hambatan komunikasi tersendiri pula.

Cuma, hal terpenting dari semua pertanyaan di atas adalah sebagaimana yang ditulis Au, "Tolonglah kami Tuan-tuan dan Puan-puan, sebelum semuanya menjadi tak karuan, membujur berlawanan, melintang bertantangan, segala yang tertampak serba ancaman, semua yang terdengar menjadi makian. Berat diringankan, runsing diasingkan; umpama kusut hendaklah dilurutkan, laksana bengkok jangan dibelokkan. Jasa Tuan-tuan dan Puan-puan, pasti tak akan kami lupakan, tak akan tergeser dari ingatan."

Meskipun demikian, mencari penyebab terjadinya peristiwa ini tentulah bukan sesuatu yang kecil. Bagaimana pula sebarang tindakan dapat diambil kalau penyebabnya tidak diketahui. Bisa saja serangan tersebut terjadi setelah suara diperlakukan semena-mena, misalnya setelah dinista atau diperjualkan, seperti yang selalu kita dengar. Jangan katakan tidak mungkin, sebab sekurang-kurangnya begitu banyak hal yang tak dapat dicerna oleh akal pikiran.

Terlepas dari hal itu, sungguh tak alang kepalang bergetarnya hati saya ketika membaca kalimat Au berikutnya, "Mengapa Tuan-tuan dan Puan-puan masih diam tiada berpaham, membiarkan kami dalam kesengsaraan. Adakah perangai kami yang senantiasa hitam, sehingga semua penjuru menaruh dendam. Seumpama kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau. Umpama layang-layang putus benang, terombang-ambing tinggi mengawang. Laksana air di padang pasir, sekejap hilang tiada mengalir. Mengapa diam, aduhai diam?"

"Ya, Mengapa," tanya saya pada diri sendiri. Anda juga, bukan? Buktinya, mendiskusikan hal ini saja Anda seperti tak berkenan. Pesan pendek yang saya tebarkan untuk hal ini, sampai sekarang belum dihiraukan. Wahai....*


Taufik Ikram Jamil menetap di Pekan Baru, Riau. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Taufik Ikram Jamil
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" Minggu 23 Agustus 2015







0 Response to "Suara 14"