Tajen Terakhir | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tajen Terakhir Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:00 Rating: 4,5

Tajen Terakhir

Lontar Pengayam Pegat cuma sembilan lembar, berbahasa campuran Jawa Kuno dan Bali Tengahan. Made Sambrag kebetulan mendapatkan lontar itu teronggok dalam almari lapuk milik kakeknya. Dibantu orang-orang desa yang senang membaca kakawin, mereka sadar itu lontar penting bagi siapa saja yang ingin berhenti judi menyabung ayam.

DULU Made Sambrag bebotoh kelas wahid. Tapi, ketika ia melaksanakan ajaran lontar Pengayam Pegat, ia ogah ke tajen . Ia seperti lahir kembali, jadi manusia arif penasihat bagi siapa saja yang berniat meninggalkan tajen, menjadikannya cuma sekerat masa lalu yang getir. Kepada mereka yang bersungguh-sungguh, Sambrag meminjamkan lontar Pengayam Pegat.

Nyoman Pongkod bertekad berhenti menyabung ayam. Lontar sudah dalam genggaman. Ia cakupkan tangan di dada, setengah membungkuk menyampaikan terima kasih kepada Made Sambrag, karib yang meminjamkan lontar itu.

"Suksma, Sam. Aku akan berjuang melakoni aturan dalam lontar."

"Syaratnya tidak berat, Pong," ujar Sambrag membesarkan hati. "Bacalah dengan saksama, dan patuhi semua syarat."

Lontar itu harus diletakkan di kamar tersendiri, di hulu tempat tidur, disajeni saban hari. Di kamar itu Pongkod mesti tidur sendiri, menunggu hari baik ke tajen. Ia meminta bantuan penekun sastra klasik untuk membaca aksara Bali di lontar itu, memahami dengan saksama maknanya. Lontar itu akan memberi dewasa ayu, disesuaikan perhitungan hari lahir. Berulang ia dapatkan hari baik kelahiran, tetapi tak ada tajen berlangsung. Atau ketika tajen digelar, itu bukan hari baik sesuai kelahirannya. Sebelum membaca dan menghayati isi lontar, ia tepekur seolah menjadi orang suci. Sejak belajar meresapi makna lontar ia pantang menggauli istri.

Pongkod nyaris putus asa, sudah lebih empat bulan ia menunggu.

"Bersabarlah, dewasa ayu kelak menjadi milikmu," bujuk Sambrag cuma berselang sepekan ketika Pongkod mendapat kabar ada tajen di Dusun Pengalun, setengah jam jalan kaki dari rumahnya. Ia berseri-seri ketika tajen itu berlangsung padu dengan hari baik kelahirannya.

"Akhirnya tiba juga hari milikku," kata Pongkod gembira menyambangi Sambrag.

"Puaskan dirimu menikmati tajen terakhir, Pong. Bertaruhlah sampai petang, hingga adu ayam penghabisan, sampai tajen selesai," saran Sambrag.

Lontar mensyaratkan Pongkod harus puasa bicara sepekan, sebelum datang ke tajen. Di depan lontar ia suntuk bersamadi. Terus-menerus memusatkan pikiran dan niat, memohon agar tajen yang akan ia datangi benar-benar yang terakhir. Ia bertekad, tak peduli kalah atau menang, akan menyudahi judi. Niat buka warung menjual jus buah bulat sudah karena di desanya mulai ramai para pendatang yang tinggal di permukiman baru. Mereka pekerja di restoran dan hotel di Nusa Dua, Jimbaran atau Kuta. Dari pada bayar sewa kos mahal, mereka memilih mencicil rumah, dan pulang-pergi ke tempat kerja naik motor sejam lebih. Merekalah sasaran penikmat jus yang akan dijual di warung Pongkod.

Di hari keberangkatan, Pongkod menghaturkan sesaji dengan anak ayam yang ia pelintir lehernya hingga tewas di depan gerbang rumah. Ia berangkat dini hari, masih gelap, agar tak bersua siapa pun di jalan. Tak boleh ada orang menyapanya, seperti disyaratkan lontar. Jika ada yang menegur sapa, perjalanan ke tajen terakhir dianggap gagal, niat menyabung ayam pun akan kambuh. Harus dicari hari baik yang baru. Ini sungguh-sungguh perjalanan sunyi sepi sendiri.

Pongkod memilih jalan sempit, mengendap-endap di pematang, menelusup ke tegalan, dan menelusuri tebing Tukad Petanu berair jernih, yang selepas pagi hingga sore riuh oleh perahu-perahu karet mengantar turis-turis rafting, meliuk-liuk di antara batu-batu sebesar gerobak.

Hari itu di tajen Dusun Pengalun, Pongkod bebotoh pertama tiba. Pedagang ayam betutu dan babi guling berdatangan silih berganti dengan penjual cangkul, caluk, sabit dan parang, yang menggelar dagangan di bawah pohon kemiri. Pongkod berkeliling, menoleh kiri-kanan, kemudian memergoki James Brolin berteduh di bawah rimbun rumpun bambu.

"Halo Bro, sudah punya lawan?" sapa Pongkod.

"Om swastiastu Pong, apa kabar?" seru James menjabat tangan Pongkod. "Belum, belum ada yang melawan saya. Kamu?"

Pongkod menggeleng. "Belum juga."

Beberapa bulan belakangan James Brolin, antropolog dari Universitas British Columbia, Kanada, hilir mudik ke berbagai sabungan ayam untuk melengkapi disertasinya tentang hiruk-pikuk psikologi tajen. Tentu disertasi itu akan diterbitkan menjadi buku dan para pakar sosial Tanah Air ramai-ramai merujuknya. Sudah lazim begitu, banyak orang bangga mengutip hasil penelitian bumi sendiri yang dikerjakan peneliti asing.

James Brolin dikenal akrab dan luas para penyabung ayam karena ikut langsung berjudi untuk mendalami apa yang ia teliti. Banyak yang menyukai James karena ia bertaruh dengan dollar, selain ia fasih berbahasa Indonesia, kadang menggunakan bahasa Bali, kendati sepotong-sepotong. Logatnya khas bule, percakapan jadi jenaka, membuat para bebotoh tergelak-gelak.

James dan Pongkod sepakat bertaruh, mencari celah ke bibir arena, di antara bebotoh yang berdatangan. Ada yang bergabung dengan santai, banyak pula yang tergopoh-gopoh.

"Aku pegang yang merah saja, Pong," tawar James Brolin.

"Oke, Bro. Aku yang brumbun kalau begitu. Seperti biasa, kamu pakai dollar, kan?"

James Brolin tersenyum, merogoh saku celana, mengeluarkan dollar, dan menggoyang-goyangkannya di depan wajah Pongkod dengan mata terbelalak. "Dollar lagi unggul, Pong. Kita hitung satu dollar tiga belas ribu, oke?"

Pongkod mengangguk-angguk, ditingkah lengkingan "Huuuuu...!" gemuruh bebotoh ketika dua ayam jago itu siap dilepas dengan taji berkilat di kaki. Teriakan-teriakan gaduh bebotoh mencari lawan sembari mengacung-acungkan tangan menggenggam uang, membuat sabung ayam itu hiruk-pikuk. Yang baru datang, tak ada lawan, tetap mendesak-desak maju ingin tahu si brumbun atau si merah yang akan terkapar.

Tiba-tiba sepi sejenak ketika si brumbun dan si merah dilepas. Dua jago itu berhadapan penuh amarah, buku-bulu leher berdiri, sayap direntangkan, mata membelalak tajam penuh awas. Si merah terbang sengit menyerang mengayunkan kaki, si brumbun merunduk gesit. Si merah berbalik, maju empat langkah mendekati si brumbun, mengulang sergapan. Si brumbun merebahkan diri tengadah dengan kaki terangkat. Para bebotoh berseru "Huuuuu...!" Mereka tahu, taji si brumbun menyabet dada si merah.

Si merah penasaran, menggebu-gebu mencoba berbalik untuk menggebuk dalam serangan ketiga. Tapi kali ini ia terhuyung, tak kuat melangkah, kemudian terjerembab. Taji si brumbun menembus temboloknya, darah mengucur membasahi bulu-bulu leher dan dada. Si merah terkulai disertai teriakan gaduh para bebotoh, berbaur antara desah sedih yang kalah dengan teriakan si pemenang. Si brumbun berkokok, mematuk-matuk pial si merah yang terkapar tidak berkutik. Pertarungan pertama hari itu berakhir singkat.

James Brolin menghampiri Pongkod, menggamitnya ke luar dari kerumunan. "Selamat, Pong," ujar James menyerahkan ratusan dollar sembari menjabat Pongkod. "Senang bertaruh dengan kamu, ha-ha-ha.."

Nyoman Pongkod berseri-seri menerima dollar itu. Tapi, bukan dollar itu benar yang membuatnya girang. Memang ia bersyukur ada tambahan modal untuk mendirikan warung jus buah, tapi yang terpenting ia harus menjadikan ini tajen terakhir. Butuh waktu setahun Pongkod tidak ke tajen, agar ia bebas selamanya dari godaan menyabung ayam. Memang ajaib pengaruh lontar Pengayam Pegat yang membuat Pongkod ingin cepat-cepat pulang. Tak ada niat lagi berada di wilayah dengan puluhan jago terbaik siap menyabung nyawa. Tak berhasrat sedikit pun ia meneruskan ke pertarungan berikut. Kedua petarung itu sesungguhnya tak benar-benar berniat bertaruh. Bagi James Brolin pertaruhan itu untuk melengkapi penelitiannya. Bagi Pongkod itu pertaruhan untuk mewujudkan tajen terakhir.

"Mau cari lawan lagi, Pong?" tanya James.

"Tak usah, Bro. Aku mau pulang. Suksma untuk dollar-dollar ini."

Nyoman Pongkod melewati pematang kering, panen belum sepekan usai. Ia berniat mampir ke pondok Made Sambrag, menyampaikan terima kasih. Sebelum tengah hari Sambrag biasanya ada di gubuk tempat ia memelihara sapi-sapi kereman. Sebulan sekali Sambrag menjual sapi itu ke pasar hewan Beringkit. Tak lama lagi ia akan menjadi saudagar sapi, karena ia mulai sibuk membeli dan menjual sapi-sapi petani. Semua itu berkat jasa lontar Pengayam Pegat, yang membuat Sambrag berhenti menyabung ayam.

Tiba dekat kandang dada Pongkod berdegup melihat sepasang sandal perempuan tergeletak di atas serakan potongan rumput. Kepalanya berdenyut mendengar suara seperti lenguhan sapi berulang dari ruang bersekat daun kelapa kering, dengan tiang-tiang kayu santan. Ia ragu meneruskan langkah. Tak pantas mengganggu orang dalam kobaran asmara. Tapi, hasrat segera menyampaikan syukur dan terima kasih membuat ia melanjutkan ayunan kaki, perlahan-lahan.

"Sam.. Sammmm..!" panggil Pongkod memberi isyarat kalau ia bertamu.

Melangkahi karung berisi konsentrat makanan sapi, Pongkod terperanjat menyaksikan pergumulan sepasang manusia hanya enam langkah dari tempat dia kini berdiri ternganga. Laki dan perempuan itu terperangah, tiba-tiba Pongkod berdiri di hadapan mereka dengan mata terbelalak, geraham bergerak-gerak, gigi gemeletuk, menahan bara amarah.

Sambrag melepas pelukan, mendorong perempuan itu, berdiri sigap, mendobrak dinding dari daun kelapa kering, berlari kencang sekuat ia sanggup. Semak-semak pohon kem dan ketket berduri ia labrak. Petani yang sedang menyabit rumput kaget menyaksikan Sambrag berlari kencang telanjang. Ujung kemaluannya masih menyisakan sperma, berdarah-darah diiris-iris onak yang tajam. Dada dan lengannya tergores luka. Tak peduli perih di sekujur tubuh, berulang ia menoleh ke belakang, seakan Pongkod mengejarnya mengacung-acungkan sabit.

Dalam ketakutan amat sangat, ia memerosotkan tubuh berguling-guling di tebing Tukad Petanu. Kepalanya berkali-kali membentur karang, berulang-ulang ia gagal menggapai akar belukar. Tubuhnya terus meluncur, terjun ke sungai. Tiga turis berbikini yang sedang rafting bersorak girang ketika Sambrag terjungkal membentur batu. Mereka menduga itu atraksi dari water sport yang asyik mereka nikmati. Tadi di hulu seorang pendeta memercikkan air suci buat mereka, memberi kembang sandat dan mantra, demi keselamatan dan kesenangan. "Nikmatilah perjalanan indah kalian yang penuh atraksi di Tukad Petanu," ujar pendeta. Turis itu bertepuk tangan, mengira Sambrag penyelam hebat, karena ia tak kunjung muncul ke permukaan.

Di gubuk, Pongkod termangu seperti orang dungu menatap istrinya duduk merunduk telanjang, dengan rambut tergerai mengusap payudaranya yang subur.

"Bunuh saya, Bli! Bunuh.!" isak perempuan itu. "Bunuh, Bli.. sekarang, Bli!"

Pongkod menatap istrinya terguncang-guncang oleh rasa bersalah dan pengkhianatan. Kini ia sadar, perempuan yang berbulan-bulan tidak ia jamah demi melaksanakan perintah lontar Pengayam Pegat agar sampai ke tajen terakhir, adalah wanita sintal dengan pinggul padat dalam remasan serakan potongan rumput. Sejak kapan Sambrag membidik sebelum menggumulinya?

Aroma gairah percintaan berkobar-kobar masih terendus kuat di pondok itu. Pongkod terengah-engah dalam bekapan amarah, menatap sabit terselip di dinding. Seekor sapi di kandang memamah rumput menatapnya tajam mengedip-edipkan mata, seakan mengejek dan mendorong-dorong agar ia menyelesaikan perselingkuhan itu dengan tebasan sabit.

Nyoman Pongkod menatap tengkuk istrinya yang mulus, jelas berkilat karena rambut tergerai tersibak. Sekujur tubuh Pongkod gemetar hebat, dadanya sesak. Perempuan yang ia cintai menunduk beku menunggu keputusan, siap menerima segala tiba.

Gde Aryantha Soethama Lahir dan Bermukim di Bali; Menerima Penghargaan Khatulistiwa Literary Award (2006) untuk Kumpulan Cerpennya Mandi Api. Cerpennya hampir selalu termuat dalam antologi Cerpen Pilihan Kompas setiap tahun.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Gde Aryantha Soethama
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Minggu 16 Agustus 2015

0 Response to "Tajen Terakhir"