Tali Masa Silam | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tali Masa Silam Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:52 Rating: 4,5

Tali Masa Silam

ΩΩ (Orchard Road, sebuah Februari)

MATA Alycia Nio mengerjap-ngerjap seperti ikan matador. Ia tatap ombak yang bergulung-gulung, seolah mengusir pasir di tepi pantai. Ombak itu seperti hendak menggulung tubuh kami yang berebahan.

‘’Alycia tidak ingin berpisah darimu,’’ sekali lagi ia menegaskan hal itu.

Suatu kebiasaan yang tidak pernah absen sejak kami sama-sama menjadi mahasiswa di James Cook University, Singapura. Sebuah universitas yang menyenangkan karena menjadi tempat berkumpulnya anak-anak muda pintar dari berbagai negara di Asia.

‘’Kamu harus paham kenapa orang tua menjodohkanmu dengan Fredolin Tan. Ia lulusan kedokteran di Manchester. Bersamanya akan kamu dapatkan sesuatu yang lebih dari sekarang.’’

‘’Pemahaman yang aneh.’’

‘’Mula-mula terkesan aneh. Lama-lama akan terpahami.’’

‘’Kok seperti orang yang sudah pasrah saja?’’

‘’Pasrah bagaimana?’’

‘’Potong ambisi orang tuaku, kamu harus menyelamatkanku.’’

‘’Waktunya tidak tepat. Aku cukup paham perangai ayahmu. Dia bukan orang tua sembarangan, Ayahmu selalu tepat sasaran. Setiap langkahnya penuh perhitungan.’’

Kata-kata itu kuucap penuh keberanian. Meski aku katakan dengan tercekat di kerongkongan. Biar saja Alycia tahu seperti apa perasaanku. Kata-kataku seperti terbenam ombak yang sedang menampar tebing.

‘’Tapi.’’

‘’Sudahlah.’’

‘’Kita ini sedang menemukan titik yang sama. Bermalam-malam aku berdoa. Semoga Tuhan menguak gorden kamarku dan memberi kekuatan. Tapi kamu seperti malas berjuang. Kamu sengaja ingin melepasku.’’

Napasku terlonjak. Wajahku membayang di matanya yang basah. ‘’Tuberkulosis sialan!’’ rutukku setengah kasar. 

‘’Dolf.’’ Alycia langsung memeluk.  

Kutarik syal leher yang dikenakannya. Kucium sepenuh hati pipinya.

‘’Harus dengan cara apa aku meyakinkanmu? Tuhan telah memberi jalan terbaik. Masa kecilmu bersama Fredolin Tan akan kembali tersambung. Dia akan merawatmu, menyembuhkanmu. Sedangkan kalau kita bersama-sama, kita ini penderita penyakit yang sama.’’

Aku cukup mengerti, Alycia tidak akan puas dengan jawaban itu. Siapa pun akan mendukung dan membenarkan, memang lebih baik kami berpisah. Salah satu dari kami harus tetap hidup. Bukan harus mati bersama-sama.

***
(Jurong Street, sebuah apartemen)

SEJAK saat itu beberapa tahun kemudian aku tak pernah lagi bertemu. Hanya beberapa kabar yang sesekali muncul di kotak masuk jejaring sosialku.

‘’Adolf Hua, apa kabar?. Ingin sekali bertemu kamu. Kalau saja Manchester-Singapore bisa ditempuh dengan berjalan kaki, pasti aku akan ke tempatmu sambil berlari.’’

Begitu tulis pertamanya. Ketika itu. Itu terjadi beberapa bulan setelah ia pindah kuliah ke Manchester, menemani studi tambahan Fredolin Tan di Fakultas Kedokteran. Dalam tulisannya, masih sempat kubaca beberapa ungkapan yang memancing tawa. Kata-kata Alycia masih ditulis selincah dulu. Kuyakini kondisi paru-parunya pasti semakin memburuk. Seperti juga aku di sini, di sebuah apartemen kecil di kawasan Jalan Jurong ini. Tulisan pertamanya seperti meyakinkan aku bahwa dirinya sangat berbahagia bersama Fredolin Tan. Alycia berterus terang padaku, ia sedang belajar mencintai. 

‘’Nite, Dolf. Badai kecil mulai datang sesekali. Fredolin sering mengeluh, karena penyakit tuberkulosisku tidak kunjung membaik. Kamu sendiri bagaimana? Semalam aku batuk darah hebat sekali. Fredolin langsung melarikanku ke rumah sakit.’’

‘’Sekarang aku sedang menjalani perawatan. Tulisan ini Fred yang menulis berdasarkan omonganku. Maaf, Dolf, tanganku hampir tidak bisa bergerak. Mulai kuyakini, Fredolin memang laki-laki terbaik i dunia. Ia berharap kamu bisa menjengukku di Manchester. Secepatnya, hehe.’’

‘’Dolf di Jurong, Singapura. Tolong sampaikan ke ibu kamu, aku kangen sekali padanya.’’

Tulisan Alycia datang susul-menyusul. Tentu dengan berbagai keluhan panjang dan erangan batin yang tidak mampu ditahan. 

Hampir setahun tulisan-tulisan itu kusimpan tersendiri dalam satu folder berkode - my rose. Isinya, justru semakin menambah beban pikiran. Tapi, mana bisa aku melepaskan diri dari derita hidupnya?

Harapan-harapan Alycia Nio untuk bertemu hanyalah mimpi panjang. Seperti yang dialaminya sekarang, aku sendiri sedang melawan penyakit yang sama. Di sini, sedang kulawan luka paru-paruku yang kian menganga. Aku terpaksa berbaring di rumah sakit, bergantung sepenuhnya pada teman dan keluarga. Benar-benar aku ini manusia tidak berdaya.

Kamar inapku mulai penuh aroma obat. Sebuah tempat tidur dengan kaleng pembuang ludah berada tidak jauh dari sana. Aku biasa meludahkan lendir bercampur darah di kaleng itu. Ibu dan adikku selalu menyembunyikan tangis setiap mendapatiku terbatuk parah.

Menurutku, kematian belum waktunya datang. Kuminta ibu membawa berpuluh bekas bungkus rokok yang kukoleksi di kamar pribadi. Aku memerintahkannya untuk dipasang berjajar di kamar inap rumah sakit ini. Itulah masa kejayaanku yang tinggal kenangan. Ingin rasannya menyulut sebatang saja dan mengisapnya. Tapi, bagaimana mungkin?

Yang kupikirkan sekarang ini adalah bertahan, tapi sampai kapan? Aku tidak berani berandai. Seperti juga Alycia yang masih mempertahankan tali cinta kami antara ada dan tiada. Masing-masing kami kini berjarak beribu-ribu mil jauhnya.

Menyadari akan penderitaan tuberkulosis yang luar biasa, justru kami tetap bersemangat untuk terus bertahan.

Tidak semua laki-laki akan sekuat diriku atau Fredolin Tan. Keduanya sama-sama menyayangi perempuan yang hidupnya tinggal  beberapa saat saja.

Sadar akan penyakit yang diidapnya, pernah suatu kali Alycia bercerita, ia ingin hidup dengan sesama pengidap tuberkulosis. ‘’Agar rasa sedih dan bahagia bisa dirasakan bersama,’’ katanya.

Itulah sebabnya, kenapa Alycia menyayangiku. Meski kenyataan menjadi lain, cinta Fredolin Tan padanya tidak bisa ditukar dengan apa pun. Ketulusan Fred menyayangi Alycia, melebihi rasa cinta ayahnya.

‘’Yakin saja, Tuhan tidak semakin menambah siksa. Berdoalah, Dolf. Berdoa untuk kesembuhanmu, agar sepeninggalanku hidupmu kembali penuh gairah. Aku berharap akan menemukan sosok dirimu pada Fredolin. Ia orang baik. Senyumlah, Dolf. Naah, begitu.’’

Ah, kata-kata di tulisan itu, kembali terbayang di ingatanku. Sesudah itu Alycia tak pernah berkirim tulisan lagi.

***
(Jurong Street, Maret dua tahun berikutnya)

AYAH Alycia di Singapura justru semakin mendekatiku. Hampir setiap minggu ia menjenguk dan memberi semangat ke padaku. 

‘’Dolf , kamu tidak akan pernah kehilangan Alycia,’’ katanya seperti menyesali. Aku hanya mengangguk.

‘’Kuharap kamu paham bagaimana perasaan orang tua sepertiku,’’ katanya dengan terbata. Aku hanya mengangguk. 

‘’Bukan aku bermaksud ingin memisahkan kalian. Aku hanya tidak ingin melihat kalian sama-sama hancur dan kehilangan. Sulit kubayangkan, bagaimana menyaksikan sebuah jalinan kasih-sayang cuma berlandaskan rasa senasib-sepenanggungan. Dan Fredolin Tan mencintai Alycia sejak kecil, aku ingin memberinya sedikit hak untuk memiliki Alycia.’’

‘’Boleh kutanya satu hal?’’ sergahku tiba-tiba. Laki-laki itu pun balik menatapku.

‘’Apakah Fredolin Tan akan mencintai Alycia berikut penderitaannya?’’

‘’Sejak kecil aku tahu sifatnya, Dolf.’’ Kuseka peluh di leherku. Lamunan-lamunan itu seperti terkuak kembali. Semuanya seperti sudah tergariskan. Aku harus menerimanya secara lapang, sekalipun ada isak tangis yang tertahan. Kedatangan laki-laki tua itu, siang ini justru ingin mengabarkan, bahwa ia sedang merasa gagal. 

Cita-citanya untuk menyalamatkan Alycia tidak kesampaian. Apa lagi aku dan Fred, tentu saja sangat kehilangan. Jiwa Alycia tidak tertolong, sekalipun sudah hidup di samping Fredolin. Ayah Alycia seperti sedang mengalami pertaruhan yang luar biasa besar.

Berita itu datangnya terlalu mendadak, bahkan tak memberiku kesempatan untuk ikut mengantar ke pemakaman. Karena Alycia menghembuskan napas terakhirnya di Manchester, di samping Fredolin yang sabar menungguinya di rumah sakit. Ah, benar-benar aku merasa ditinggalkan. 

***
(Pemakaman Bukit Brown, menjelang siang)

‘’IA kekasih terbaik yang dikirimkan Tuhan,’’ kata Fredolin Tan dengan nada tertekan.

‘’Ia kekasih terbaikku juga sebelum menjadi kekasihmu,’’sambungku cepat.

Kujumput serakan kembang, kutabur di atas makam. Itu terjadi beberapa hari setelah upacara pemakaman Alycia di Singapura. 

‘’Suatu saat nanti, akan kualami kejadian yang sama seperti yang kini dialami Alycia.’’

‘’Jangan mendahului kehendak, Dolf. Tuhan lebih tahu saat kapan Ia memanggil kita,’’ tiba-tiba Fredolin memegang bahuku kuat. Benar-benar ia lelaki s a. 

‘’Jika hidup telah jauh dari harapan, bukankah lebih baik segera kita selesaikan?’’ sambungku.

‘’Tabah. Masih banyak harapan.’’ Aku tergagu. Dadaku semakin terasa nyeri.

Batukku kian menjadi-jadi. Antara sadar dan tidak sadar, aku merasa Fredolin dan beberapa orang membopongku. Sungguh, aku sudah tidak mampu bergerak lagi. Ingin rasanya bernyanyi lagu-lagu kesukaan Alycia: ‘’Torn Between to Lovers.’’ Ingin kuteriakkan puisi-puisi yang kutulis untuknya. Tapi mobil telah menderu, melintasi jalanan Orchard yang ramai. Menuju Mount Elizabeth tidak jauh dari sana. Dan. Ah, sudah tak paham lagi akan dibawa ke mana.

‘’Cepat larikan, jasadnya sudah membeku!!!’’ teriak orang-orang di sekitarku, tanpa menggubris perasaanku ketika itu.

‘’Tuhaaaaaaannnnn .... !!!! Aku hendak dibawa ke manaaaa????!!!’’ teriakku.

Kurasa, tak seorang pun mendengarnya. Apakah benar-benar aku sudah tiada di antara mereka? (62)


Handry TM, sastrawan dan sineas, tinggal di Semarang

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Handry TM,
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 30 Agustus 2015

0 Response to "Tali Masa Silam"