Taubat - Haus Laparku - Lailatul Al Qodar - Kaligrafi Mushola | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Taubat - Haus Laparku - Lailatul Al Qodar - Kaligrafi Mushola Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:00 Rating: 4,5

Taubat - Haus Laparku - Lailatul Al Qodar - Kaligrafi Mushola

Taubat

Setiap bersujud di sajadah masjidmu, seperti kukenang kesiasiaan
Tentang sejumlah tempat singgah yang menyimpan silsilah hitam

Dalam kesendirian, terbayang perjalanan kelam, suram, dan seram.
Tentang hari hari melayang

Jiwa seperti diringkus bayang bayang mengerikan.
Bersujud di sajadah masjidmu
semua keraguan terkubur dan membeku
Malam begitu anggun, suara tilawah dzikir jadikan hati ngungun.
Terdengar sayup doa anak anak yatim menempelengku, menampar jidatku.
Memberi pelajaran baru.

Sang Kyai...! Sang Kyai...!
Sajadahmu menjelma laut
Para jemaah bersuka cita mencebur di kedalamannya
Bertaubat kau bersihkan kanal jiwanya

Ayat ayat doamu pun menjelma cahaya menghalau para setan.
Lalu kau bawa mimpiku ke langit luas, diketinggian bertabur bintang
tak terbatas
Pituruh, Purworejo 12 Juni

Haus Laparku

Dalam haus laparku kulesatkan dzikir doa doaku,
menempuh lintasan bintang.
Tentang hari hari akan datang. Tentang esok,
lusa yang bakal kujelang

Dalam haus laparku ,kuendapkan segala yang hati.
Segala yang hakiki.
Sendiri dalam khusuk sepi. Aku bukan sedang mimpi.

Kususuri jejak cahaya nurmu, kutemukan jalan abadi
dalam gigil imajis tinggi.
Dalam haus laparku, aku semakin mengerti
segala ikhwal berserah diri.
Pituruh, 14 Juni 2015

Lailatul Al Qodar 

Dengan perahu imanku
Bersama malaikat malaikat
Kuarungi samudra ramadhanmu

Aku berdzikir dan bertakbir
Tak henti henti
Siang malam hingga pagi

Dengan fardhu siang malammu
Aku jemput lailat al qodar
Dari siang, malam, hingga fajar

Kukhatamkan sudah Quran alif laammu
Sukmaku menagih janji
Dimana aku harus menunggu
Pituruh Purworejo, Juni 2015

Kaligrafi Mushola

Anak kecil itu menangis dalam kesedihan yang dalam
Setelah melihat gambar huruf huruf beraturan,
justru ia seperti melihat bapaknya
yang tak pernah jelas keberadaannya.

Menurut cerita ibunya, dalam hujan gerimis subuh pagi,
suaminya dijemput tuan tiran
Ia tak boleh berkata apalagi bertanya.
Hingga kini tak jelas kabarnya.

Kata orang orang, gambar tinggalan mendiang bapaknya.
Di gambar telunjuk , anak kecil itu mengaku
pernah bermimpi terbang ke langit tinggi.
Menemukan jagad putih suci, keindahan surgawi.
Pituruh , Purworejo 30 juni 2015.

Sumanang Tirtasujana, salah seorang pendiri Kelompok Sastra Pendapa ( KSP) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta. Puisinya dimuat sejumlah buku antologi nasional. 
Antologi Equator edisi 3 bahasa Inggris, Jerman dan Indonesia. Pernah menjabat Ketua Dewan Kesenian Purworejo. Jadi peggerak dinamika dunia Teater. Kini tinggal di kampung kelahirannya Desa Pituruh. Selatan Pasar Pituruh 6 Pituruh. Kabupaten Purworejo 54263.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sumanang Tirtasujana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 16 Agustus 2015

0 Response to "Taubat - Haus Laparku - Lailatul Al Qodar - Kaligrafi Mushola"