Tidur - Ombak - Mata - Bunga - Pergola | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tidur - Ombak - Mata - Bunga - Pergola Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:26 Rating: 4,5

Tidur - Ombak - Mata - Bunga - Pergola

Tidur

Aku mesti tidur - seperti pelangi
menyelimuti ingatannya sendiri

Di buku langit : aku kini diksi yang terkatup tanpa bibir, tanpa
gigi, meranumkan doa sebelum pembaringan mengayun
tubuhku sebagai jalan yang terbujur sepi dan ufuk kelelahan
yang membayangi

Aku pintu kecil di hadapan Pemegang Kunci -
menutup atau membuka, tak jarang digerayang mimpi

Esok, selalu saja tercuri. Tetapi kembali kumiliki
bersama dentum embun pagi, kelenjar keringat siang
dan tangan malam yang menjaring batas-batas
ketegaran dan kelemahan yang tersembunyi

Apa yang terjunjung tinggi? Apa yang harus tersuruk
sebagai pakaian-pakaian kotor, mimosa-mimosa diri
tersebab tebing angka-angka tanggalan
senantiasa menurun atau mendaki?

Aku mesti tidur - seperti jadwal
pasti tersingkap dan terhampar lagi

di atas bumi. Melengkapi fondasi
monumen-monumen hari, dan cinta yang jadi berasap
lantaran persimpangan-persimpangan di kota hati
2015

Ombak

Ombak selalu pulang ke pantai
menulis pasir-pasir basah sebagai gerai
rambutku, sehabis persetubuhan antara mata
dan batas keluasan itu

Tak kujumpa patahan-patahan kekal
pada keterikatan. Kebebasan
masih selalu dinyanyikan camar, sekawanan
bintang malam, dan laju kapal di kejauhan
Lalu partitur nasib kembali dimainkan
begitu setia dan sabar, tetapi
karenanya begitu menghunjam duri-duri
sangat lembut ke ceruk perasaan

Apakah mimpi, bagimu?
selain kepulangan para nelayan membawa
ikan-ikan. Kecuali bibir nelayan
sesekali membentangkan berhektar-hektar
pengalaman bergaram?

Pantai itu pun tak pernah kehilangan
belencong penantian, meski ketam-ketam
berkubur dalam liang, tangkai-tangkai pandan
rebah dihantam angin jalang. Hari yang lain
akan menuliskan lagi ombak pagi
sedangkan hatimu kembali merasai
segala yang digoreng matahari
telah abadi sebagai nyanyi
2014

Mata

Mata mestinya terjaga ketika hati tercinta
menegakkan tiang diri dua tiga kali
dan di kejauhan sana terbiarkan kelepak
sayap-sayap burung hantu meninggi

Mata mestinya terjaga ketika hati tercinta
mengajak bukit-bukit daging dan sungai-sungai darah
berbisik dalam sunyi : ìLihat, jarum jam senantiasa
berjingkat-jingkat. Menusuk waktu hingga berkarat
meninggalkan yang terlambat.

Mata mestinya terjaga ketika hati tercinta
mengantarkan mawar ke puncak wangi
dan tiba-tiba belukar malam itu pun terpana
mendengar tulang belulang melapuk dalam sepi
Mata mestinya terjaga ketika hati tercinta
melayani waktu tak tersisa
2014

Bunga

Lidah angin yang lelah masih lebah,
masih kupu-kupu. Masih membenci keangkuhan segala ranting
dan kepura-puraan benalu, membacamu di sudut taman itu

Sunyi itulah yang menemani episode sendu
manakala kepengkuhan jalan raya membanting debu, membintang
alamat-alamat, merayakan waktu, terus bertalu dan asing
dari sekedar mengenang tampuk kemekaranmu

Lalu puisi seperti inilah yang menyayapi
diri yang tak mudah melangitkan lagi
keinginan-keinginan menggugat yang menggubat, tetapi kemungkinan
hanya berbalas jawab yang lebih nyeri
2014

Pergola

Kau membuka diri tanpa derit
engsel pintu. Aku datang tak terburu-buru
menuang anggur terbaik untuk waktu

Sepanjang detik kita jadi gigir pedang
menyabet dingin dan kesunyian. Membayangkan
matahari terbit di langit kelam

Tetapi itu tak pernah terjadi, bukan?

Izinkan saja kepalaku masih dihuni
puisi, atau kehijauan, atau determinasi
Dialiri gemericik sungai cahaya
menenggelamkan bayangan kekejian, kekejaman,
ke dasar laut tak bernama

Menghempas debu-debu tanah tropika
yang konon bisa mengubah dan menerjemahkan
diri, sebagai kuku dan taring alpa
2014

Arwinto Syamsunu Ajie, lahir 3 Maret. Pernah kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta dan wirausaha. Puisi-puisinya dipublikasikan di media massa, sejumlah antologi bersama, dan 2 kumpulan puisi tunggal, yakni : Tubuh Penuh Catatan (2009) dan Langit Bersorban Awan (2015).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arwinto Syamsunu Ajie
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 2 Agustus 2015

0 Response to "Tidur - Ombak - Mata - Bunga - Pergola"