Wawancara Kerja | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Wawancara Kerja Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:12 Rating: 4,5

Wawancara Kerja

IA tidak pernah menoleh padaku. Buat apa juga ia harus mengotori matanya yang sebening permukaan es. Rambutnya ikal menyentuh setengah punggung dengan bandana merah jambu di keningnya. Wajahnya setenang gerimis subuh dan hidungnya tidak mancung tapi tak mengurangi kecantikannya. Matanya--hanya yang kanan yang terlihat dari posisiku--kecil menyala seperti lampu jalan yang jauh dan wajahnya cokelat susu. Aku terus-terusan meliriknya Ia tetap tenang bagai putri yang angkuh dalam parade. di alun-alun yang berangin sejuk.

Setengah sembilan pagi di awal Januari yang cerah. Hujan turun sesekali pada malam sebelumnya untuk menguras sisa warna perayaan tahun baru. Anak manis itu sudah ada di sana saat aku datang mungkin dari pukul delapan atau setengah delapan. Kubayangkan ia bangun pagi dengan piyama yang menggoda dan butuh waktu melamun setengah jam duduk di kasurnya yang lembut sebelum keluar kamar. Lalu ia sarapan sedikit dan minum teh yang tidak terlalu manis secangkir setelah mandi. Juga ia menghabiskan waktu satu jam untuk memilih baju dan rias untuk melengkapi bakat pesonanya dan menyemprotkan parfum. Kemudian ia mengendarai mobilnya, terlindung dari siksaan terik di tengah macet Jakarta senin pagi. Demikianlah kubayangkan.

Udara pagi itu benar-benar tidak menyisakan hawa hujan semalam. Matahari penuh nafsu dan kendaraan mengular tak ada ujungnya. Aku berdiri di dalam metrimini yang berangkat dari terminal Blok M pukul enam lebih lima belas menit. Artinya, bis yang membawaku dari Tangerang menempuh tujuh puluh lima menit perjalanan. Itu yang terbaik, walaupun aku harus rela bangun pukul empat pagi. Jika aku berangkat setengah jam lebih lama, aku baru akan tiba di terminal pukul delapan. Satu jam lebih di metromini yang pengap, kemejaku sudah basah di punggungnya. Dan aku tiba di Belezza pukul setengah delapan.

Satu hari sebelumnya, mereke meneleponku dan memanggil wawancara untuk lamaran yang kukirim dua minggu sebelumnya.

"Jam sembilan bisa?"

"Bisa," jawabku.

Aku masih punya wkatu senggang selama satu setengah jam. Aku membeli kopi di Seven ELeven dan duduk di lantai dua sambil merokok. Jika aku tahu sebentar lagi akan bertemu anak manis itu, aku akan membeli parfum dan permen penyegar bau mumut. Tapi yang kulakukan hanya mengotori gigiku dengan nikotin dan kafein dan mencampur bua keringat dengan bau rokok.

Satu jam aku di sana, memandnagi lalu lintas yang menyedihkan. Gerombolan tukang ojek menggerumuti setiap orang yang turun dari jembatan Transjakarta seperti piranha dilempari daging. Aneka mobil dan motor memamerkan klakson siapa yang paling nyaring. Aku mencoba bertahan meyakinkan diri bahwa itulah tontonan terbaik di Jakarta untuk mengawali tahun 2015. Tentu aku salah. Semua itu hanya pengantar. Keburukanlah yang dikeluarkan lebih dulu daripada kebaikan yang terang. Kapahitanlah yang disajikan sebelum manis yang tak putus-putus.

Bagi orang yang tidak mengerti arti keindahan, ia hanya terlihat speerti perempuan pelamar kerja yang menunggu giliran wawancara sambil mendengarkan lagu dari telepon genggamnya. Aku beruntung duduk di sebelahnya. Tapi beberapa menit kemudian, aku merasa bodoh. Dari samping, aku hanya bisa melirik, atau pura-pura menengok. Jika beruntung, aku akan mendapati ia melihat ke arah pintu masuk yang terbuat dari pintu kaca yang terletak di sebelah kananku. Mungkin memastikan apakah kota ini masih cukup layak mengiringinya saat pulang nanti. DI saat yang jarang itu, aku merekam wajahnya. Dan begitu ia berpaling lagi, tangan-tangan di kepalaku membungkus rapi pemandangan itu.

Bangku di depanku kosong. Tapi, apa tidak kelihatan terlalu sengaja jika aku pindah? Aku tidak mau anak manis itu merasa terganggu. Berarti, aku yang harus bisa membuatnya menengok ke arahku. Dan, tentu tidak dengan cara yang akan dilakukan orang kampung jika ada di posisiku, misalnya bertanya, "Wawancara juga?"

Hal terbaik yang kulakukan adalah mengeluarkan novel tua yang sudah lusuh, berharap bahwa membaca buku teerlihat menarik di matanya. Tapi setelah beberapa halaman, ia bahkan tidak juga melirik. Kumasukkan lagi novel ke tas. Dan begitu kupikirkan kembali untuk pindah ke bangku di depan, seorang laki-laki masuk. Ia menyebutkan nama di resepsionis lalu duduk di bangku tepat di hadapan si manis. Brengsek! Kenapa dia yang beruntung!

Laki-laki botak itu mengeluarkan telepon genggam dan memainkannya. Dari langkah pertamanya masuk ke ruangan, bau bensin menguap. Aku tidak tega jika anak manis mual mencium aroma yang tak pantas bagi hidungnya.

Laki-laki itu memakai kemeja putih kaku, celana bahan hitam, dan sepatu pantofel mengkilap. Aku ingin tertawa. Nekat betul ia dengan gaya pegawai negeri melamar di perusahaan fashion. Tapi aku tidak ketawa. Bagaimanapun, si botak bensin ini menyeleamatkanku. Dengan adanya ia, aku naik ke peringkat dua kostum, kurang-lebih layak diterima kerja, berada satu tingkat di bawah si manis. Kulirik si manis; baju lengan panjang bergaris merah jambu hitam, celana jeans biru tua, dan sepatu cokelat tua. Benar-benar pilihan yang lahir dari insting seni memukau!

Tepat pukul smebilan, ersepsionis berdiri. "Maaf, Mr Mike terlambat," ia melihat si manis mengangguk melepas headset-nya, "tahu sendiri, kan, macetnya kayak apa."

"Iya, malah kupikir presiden kita mati dan semua orang antre melayat," ujarku

Dan si manis tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan!

Aku berharap ada lanjutan dari tawa mengegmaskan itu. Namun, seperti keajaiban pada umumnya, itu hanya berlalu sesaat. Ia kembali asyik dengan telepon genggamnya.

Aku minta izin pergi ke toilet pada si resepsionis. Di cermin, kulihat wajahku seperti singan tua yang kurus. Aku baru tidur tiga jam semalam dan bagian bawah mataku berkantung hitam. Parasku mirip novel yang kukeluarkan tadi. Kucuci muka dan kembali duduk di sebelah perempatan itu. Sesekali ia mengangkat kakinya dengan posisi lurus dan menggoyangkannya ke atas ke bawah. Aku dan jantungku sepakat mengikutinya. Lalu seorang laki-laki bule berambut tipis masuk seraya tersenyum ke arah kami. Resepsionis mengikutinya ke dalam, dan begitu kembali, ia memanggil, "Nindya."

Si manis yang sudah tidak memegang telepon genggam dan memakai headset berdiri dan masuk mengikuti resepsionis itu.

Kuucapkan dlaam hati, "Sukses ya, Nindya."

Aku teringat adegan 500 Days of SUmmer. Si pria bertemu seorang perempuan ketika sama-sama menunggu giliran wawancara. Si pria berkata pada si perempuan, "Kuharap kau tidak dapat pekerjaan itu." Dan si perempuan membalas dengan perkataan yang sama sambil tertawa. Itu trik yang snagat jenius. Buktinya, ketika si pria masuk untuk wawancara lebih dulu, mereka berkenalan. Autumn, nama perempuan itu. Dan kurasa Nindya adalah pengganti yang tak kalah indah untuk diucapkan. Maka, ketika resepsionis memanggilku dan anak manis itu baru keluar ruangan, secara spontan otakku mencari ucapan yang tidak kalah keren agar ia mau berkenalan. Namun, yang terlontar justru hanya basa-basi sialan. "Bagaimana?"

"Masuk saja," ia tersenyum dan melenggang dengan langkah tercantik yang pernah kulihat seumur hidupku. 

Di dalam, bule itu menanyakanku soal fashion. Aku tidak mengerti sama sekali.

"Jadi mengapa kamu melamar ke sini?" ujar si bule dengan bahasa Inggris.

"Tidak ada yang tahu di mana takdir kita menunggu," jawabku.

Sisasnya hanya habis untuk mendengar penjelasannya. Perusahaan itu adalah perusahaan Australia yang baru membuka cabang di Jakarta. Ia juga menerangkan hal-hal lain yang tidak kupedulikan. Aku lebih senang membayangkan Nindya yang manis, entah karena apa, masih duduk di ruangan ketika aku keluar. Kaki akan berkenalan. Aku mendapat kehormatan untuk menggenggam tangannya yang halus, lalu emmbicarakan apa saja yang layak didengar oleh telinganya sambil sesekali tertawa.

Ketika keluar si botak masuk.

"Bagaimana? ia bertanya.

"Masuk saja."

Kudapati anak manis itu sudah tak ada di sana. Ruang tunggu itu terlihat mirip rumah duka. Hanya ingatan bahwa pernah ada seorang perempuan manis duduk di sana beberapa menit lalu yang agak menyelamatkannya.

Seminggu kemudian, mereka meneleponku dan mengatakan tidak menerimaku. "Tidak masalah. Terima kasih atas kesempatan wawancara," ujarku.

Lalu aku melewati hari-hari menganggur berikutnya dengan keyakinan bahwa tak akan bertemu lagi dengan keyakinan bahwa tak akan bertemu lagi dengan anak manis itu jauh lebih menyakitkan daripada ditolak perusahaan manapun.

Rizaldy Yusuf lahir di Tangerang, 21 Oktober 1991. Bekerja di Jakarta 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rizaldy Yusuf 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" Minggu 9 Agustus 2015





0 Response to "Wawancara Kerja"