Bertanam Luka di Ladang Duka - Rindu Toba - September Kita September - Menatapmu dari Keterasingan - Kampret dan Bunga Itu! - Kau dan Aku | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bertanam Luka di Ladang Duka - Rindu Toba - September Kita September - Menatapmu dari Keterasingan - Kampret dan Bunga Itu! - Kau dan Aku Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 19:46 Rating: 4,5

Bertanam Luka di Ladang Duka - Rindu Toba - September Kita September - Menatapmu dari Keterasingan - Kampret dan Bunga Itu! - Kau dan Aku

Bertanam Luka di Ladang Duka 

kita pernah berdua di sini,
 dahulu menatap biru langit dan bening danau Toba 
lewat bola mata kita yang kecil berbaring 
di antara belukar dan pepohon pinus yang mengurat 
dan mengakari bukit ini 

kita pernah bercanda di sini, 
dahulu melantun sesayup 
kidung Senandung Rindu 
dari tuter motor bus 
Sanggul Mas 
melintas jauh di bawah sana 
di jalan aspal berkelok-kelok 

kelingking kita mengait di sini, 
dahulu di antara bunga semak dan derai tawa 
menenun mimpi pada desau angin danau 
tak hirau helai langsing kering dedaun pinus 

menggelayut manja di gerai rambut kekasih, 
pulanglah sekali meski mungkin kita tak bersama lagi 
lihat dengan bola mata yang lebih besar 
kini apa yang mereka lakukan sesuka-suka hati pada kita, 
pada kenangan kita mereka bertanam di atas luka 
menyiraminya dengan air mata kami 
menyubur jadi borok bernanah 
lalu mereka mengolahnya di pabrik 
menjadi bubur kertas peradaban baru 
mereka berladang di atas duka kami 
bertanam perih di mata berbunga amarah dan 
kertap gigi lalu mereka mengolahnya di pabrik 
menjadi bubur kertas peradaban baru katanya, 
aku harus diam karena mereka sedang membangun dunia 
karena mereka sedang sibuk mencukur hutan dan gunung kita 
2015 

Rindu Toba 

Untuk: Erland Sibuea 

sejenak di persimpangan itu kita berhenti, 
berdiam menangguk hangat pagi 
angin danau masih tawarkan semilir 
gigil embun semalam pun masih berpeluk putri malu
enggan pergi meski mentari kian meninggi mari, 

kataku, 
berdirilah di sini dengarkan lenguh panjang 
kerbau bunting derai air sungai bening pecah di batu gelinding 
roda pedati di atas pematang berlomba 
sarat beban ke hari pekan anak-anak pamuro 
bernyanyi mengusir pipit bersama cericau burung sitapi-tapi 
denting hasapi dan seruling puput padi 
di antara gegas langkah ceria para petani 
:musim harus segera dipetik ladang dituai 
di perhentian itu kita bersimpang waktu 
sumurut melambat lalu diam seperti jam mati milik ompungku 
mendiang dedaun gugur melayang enggan menari beronggok saja 
kering semata kaki sebab semua itu hanya mimpi rindu-rindu 
kau tebar kering dan mati terbakar di hutan gundul 
tenggelam di danau cemar mereka yang digadang-gadang 
mereka yang diusung tinggi-tinggi ternyata lanteung belaka 
2015 

September Kita September 

ke-tigapuluh enam bersamamu, perempuanku 
bicara kita makin keras 
sebab pendengaran kita mulai berkurang 

September 
ke-tigapuluh enam cucu kita dua 
aku tetap glagah sedang kau bening kian telaga 
tigapuluh enam tahun pertama kita serasa baru kemarin 
kau bersandar di bahuku lalu bilang
: Kau buat aku saja! 
2015 

Menatapmu dari Keterasingan 

dari sudut keterasinganku di kaki gunung Soputan Minahasa 
aku tegak menatap Indonesia 
dan aku melihat mulut-mulut besar menganga 
berbau busuk dan terus saja menebar petaka 
angka-angka menjijikkan di kepala setiap mereka 
tambah kurang bagi-bagi dan perkalian ganda 
menggeliat bergerumpal bagai ulat bangkai 
dari kaki gunung Soputan menatap Indonesia 
ular besar yang sibuk menggigiti tubuh sendiri 
derai atap seng di deras hujan aku terjaga 
2014 

Kampret dan Bunga Itu! 

Sebentang kenang tentang kita telah kupendam pada ziarah silam. 
Itu kau tahu. 
Jika di berulangulang malam masih saja kuhirup wajahmu 
hingga kandas di ampas kopi dasar cangkirku, 
itu mungkin memalukan. 

Tapi itu urusanku.
Biarkan saja.
Aku memang merinduimu di sebarang sunyi. 
Aku mungkin menghasut bibirku untuk selalu gigil bergetar bisikkan namamu. 
Tapi kampret yang titipkan seputik bunga di depan jendela kamarmu, 
mawar putih itu, 
bukan milikku. 
Berani sumpah.
Sungguh bukan urusanku.Buang saja.
2013/2015 

Kau dan Aku 

di dinding papan lapuk belakang dapur 
pernah kutuliskan nama kita dengan kapur 
di papan paling bawah 

sebab aku tak mampu naik lebih tinggi 
untuk menuliskannya di atas namamu, 
namaku 

lalu huruf-huruf itu berlompatan menari-nari 

menjelma larik-larik angan yang kita tenun 
menjadi ingin berubah jadi mimpi dan doa-doa 
yang kita tangkup dalam genggam kecil kita 
yang mendesah dari bibir kita 
yang lugu suatu hari kau ingin menjadi gajah 
dan aku beruang lalu kita bertengkar siapa yang lebih kuat 
lain hari kau ingin singa dan aku harimau 
dan kita bertengkar siapa lebih berani 

tetapi ketika kau ingin jadi bakmi dan aku soto 
kita tak sempat bertengkar 
malah ingin bertukar 
tak berani bersikukuh mana lebih nikmat 
sebab dua-duanya terlalu ajaib untuk kita 
dua kemewahan yang boleh kita cicipi 
hanya ketika `beruntung' mendadak sakit 

berbagai peristiwa menghadang langkah 
membuat kita tumbuh berbeda 
tak lagi kita soalkan siapa bertubuh lebih tinggi 
siapa lebih gemuk dibesarkan dari dapur ibu 
yang sama dari periuk belanga dan lelah ibu 
yang sama dengan doa yang dilangitkan ibu 
yang sama dari garis yang sama lalu kita berangkat 
menyongsong angin ke negeri jauh 
tetapi arus ombak badai dan halang rintang 
membuat kita tiba di akhir yang berbeda.

salamku, 
saudaraku jika nanti aku ziarah lagi 
di tiap helai bunga yang kutabur 
akan kutuliskan lagi namamu dan namaku.
2015 

Saut Poltak Tambunan, pengarang. Lahir di Balige, Sumatra Utara, 28 Agustus 1952. Menulis sastra modern (novel, cerpen, dan puisi) sejak 70-an.Menjadi kurator pada Ubud Writers and Readers Festival 2012. Ia merupakan pengarang Batak pertama yang menerima Hadiah Sastra Rancage 2015.

Catatan:
Mohon maaf karena satu dan lain hal, pemenggalan pada puisi ini banyak terjadi ketidak-samaan dengan asli --dari penulisnya. Oleh karenanya, sekiranya pembaca mengetahui penggalan tepatnya, kami akan berterimakasih apabila mau memberikan refisinya. Terima kasih...

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Saut Poltak Tambunan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 6 September 2015


0 Response to "Bertanam Luka di Ladang Duka - Rindu Toba - September Kita September - Menatapmu dari Keterasingan - Kampret dan Bunga Itu! - Kau dan Aku "