Keledai yang Mulia - Kematian Seniman Tanah Liat - Kedatangan Dewa Kematian - Memo | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Keledai yang Mulia - Kematian Seniman Tanah Liat - Kedatangan Dewa Kematian - Memo Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:07 Rating: 4,5

Keledai yang Mulia - Kematian Seniman Tanah Liat - Kedatangan Dewa Kematian - Memo

Keledai yang Mulia

Setelah menempuh perjalanan panjang, ia merasa
Telah menjadi Kristus. Dunia tampak
Begitu kecil di bawah kakinya.

Begitu tampan bayangnya
Terpantul air danau tempat seluruh
Dahaganya dibayar. Kepada para nelayan
Yang menambatkan perahu di pinggir danau,
Ia merasa begitu berjasa.

Ia melapik segulung syair
Dipercayanya kelak mengubah dunia
Sebelum bertanya kepada Si Pandai Besi,
“Di manakah rumah Si Pemain Lira?”

Ia percaya: Anak-anak kecil tak pantas
Menatap wajah sucinya, atau bahkan
Menyentuh ujung ekornya;
Seluruh penghuni surga mendoakan
Keselamatannya, semua makhluk bumi
Memuji kekudusannya.

Penjelasan Si Pandai Besi menuntunnya
Melalui sebuah perjalanan panjang lainnya.

“Di sinikah rumah Si Pemain Lira?”
Tanyanya di depan sebuah rumah
Di Bethania, tempat Si Kusta sedang
Duduk makan bersama para Galilea.

Terkenang ia pada wajah
Seorang di antara kelompok itu
Pernah ditemuinya di dusun Kana;
Orang yang melepaskan amfora
Berisi air dari sisi-sisi lapiknya
Setelah sendiri ia
Menuju danau dan kembali
Menyusuri lorong-lorong Galilea.

Keluarlah Si Kusta, meninggalkan
Sahabat-sahabatnya dari Utara,
Menjura di hadapannya
Sambil berkata, “Kabar apa gerangan
Membawamu ke rumah Si Hina ini?”

“Kaukah Simon Si Pemain Lira?
Telah kubawa segulung syair,
Maukah kau mengikutiku menyelamatkan
Dunia? Musik terbaikmu mainkanlah
Untuk mengiringi pewartaan-pewartaanku.”

“Siapakah aku selain orang berdosa, Tuan
Keledai, selain manusia yang paling
Dijauhi di seluruh Bethania?
Seorang tukang kayu,
Sahabatku, mungkin dapat
Menolongmu. Dalam ceritanya tadi,

Pernah ia perbaiki lira seorang artis yang berkarib
Para Yunani. Tentu dapat ia tunjukkan
Padamu jalan ke rumah Simon Si Pemain Lira
Untuk menemukan maksud dan tujuanmu.”

Memandang sekeliling dengan penuh
Wibawa, ia berkata meninggikan suara
Untuk memastikan surga
Dan kelompok di hadapannya mendengar,
“Usah kau menjura padaku, Simon,
Menyerbak aroma narwastu dari tubuhmu.
Telah tahirkah engkau? Adakah kuasa
Surga bekerja atas dirimu?”

“Aku hanya memberi mereka makan, Tuan,
Para pengembara dari Galilea, sahabat-sahabatku
Yang memohon tempat untuk meletakkan letih.
Tak lama lagi akan datang revolusi,
Atau sukacita, atau kerajaan surga,
Sebagaimana sering mereka
Persoalkan dengan berbagai perumpamaan.
Tubuh yang menyembuhkan diri ini, Tuan,
Hanya tepercik narwastu yang jatuh
Dari kepala Si Tukang Kayu,
Ketika ia mengelilingi kami
Mengisahkan berbagai perumpamaan.”

Berpaling ia dengan anggun kepada
Si Tukang Kayu. Merendahkan suaranya,
Ia kibaskan surainya sambil berkata,
“Rupanya telah kukenali wajahmu
Sejak sebuah pesta di Galilea.
Biarlah aku tanggung seluruh
Beban tubuhmu. Tempatkan lapikmu
Di punggungku dan bawalah aku
Ke tempat yang aku tuju.”

“Tak lagi kubutuhkan tunggangan, Tuan.
Keledai belia tak berlapik yang kemarin
Dibawa seorang sahabatku telah kukembalikan
Kepada Si Penambat. Telah tiba
Saat aku berdiri di atas kaki-kakiku.
Akan kuminta Iskariot sahabatku untuk
Menggantikanku menuntunmu sampai tujuan.”

Si Keledai yang Mulia pun kian yakin,
Setelah menyampaikan rasa terima kasihnya
Kepada pemilik rumah

Dan semua yang ada di tempat itu,
Setelah semua yang berjalan tanpa hambatan,
Setelah perjalanan baru yang akan ditempuhnya,
Dunia memang akan benar-benar diselamatkan.

(Naimata, 2015)

ematian Seniman Tanah Liat

Ledakan terakhir terdengar.

Suara udara begitu benderang.
Angin meluruskan jari-jarinya,
Menjaga jalan seekor burung yang diciptakan
Dari segumpal tanah.

Sehelai katsu pembungkus
Menjadikannya fana.

Ia kelak gagal menyerap sakit:
Koyak yang menjadikannya
Kembali, meski telah terlempar
Segala terima kasih bagi
Beban yang menyulut imajinasinya.

“Seni adalah ledakan,” katanya,
“Di dalam tubuh yang masih mampu
Merasakan sakit. Di dalam mulut yang bergetar
Hebat menyesap kematian ini.”

Ia memang hanya ingin hidup kembali
Dalam tubuh yang dapat binasa.

(Naimata, 2015)

Kedatangan Dewa Kematian

Tertawakanlah bahasa, nama dan tanda.
Kematian dapat ditulis di luar ruang dan waktu,
tapi engkau memilih sebuah buku.

Dan detak jantung yang selaras dengan irama jam
Bergulir seperti lesatan apel paling menggoda dalam tenggorokanmu.

Ia hanya satu dari miliaran kemungkinan.
Jauh lebih banyak dari enam lemparan dadu.

Jika tak lagi dapat kautulis, biarkan kematian yang lain
Jatuh seperti buku yang raib dari genggamanmu.

(Naimata, 2015)

Memo

Ini adegan yang tak ingin kau ingat:
Ia ditimbun dengan humus
Setelah suara tawanya dibawa pergi.

Tak ada Bapa di dalam sana

Ketika di sini berlaku lakon lain:
Seseorang menamainya lupa
Dan meniupnya di dalam
Doa yang semenjana.

Ketika seorang gadis kecil
Menyentuh tumit kayumu
Dan telapaknya yang lain
Menampilkan darah ibunya
Yang mengering di hadapanmu.

Ia baru saja keluar dari sana.

Kau memang tak mengingat:
Setelah sebuah pagi yang mekar
Di luar dirimu meninggi,
Suara di luar pagi mengingatkanmu
Menyelesaikan babak terakhirmu.

(Naimata, 2015)


Mario F Lawi bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Kumpulan puisi terbarunya Lelaki Bukan Malaikat (2015).



Rujukan:
[1] Disalin drai karya Mario F Lawi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Minggu 6 September 2015


0 Response to "Keledai yang Mulia - Kematian Seniman Tanah Liat - Kedatangan Dewa Kematian - Memo"