Kutukan Rahim (6) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kutukan Rahim (6) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:45 Rating: 4,5

Kutukan Rahim (6)

NAMA Zul kian bersinar sebagai primadona dangdut di sejumlah media massa. Banyak media menyebutnya sebagai salah seorang penyanyi yang cukup memberi pengaruh signifikan terhadap kandidat yang didukungnya. Sebuah media juga menyebut secara eksplisit, jika kampanye kandidat yang didukung Zul terjun ke suatu kecamatan tanpa diiringi Zul, maka banyak orang akan kecewa. Sejumlah media bahkan berani mengadakan poling khusus mengenai hal ini. Salah satu brand yang membuat Zul kondang adalah kemampuannya tampil dengan aksi erotis ala "mandi kucing." Jadi, ketika menyanyikan lagu dangdut, sebelumnya ia selalu minta ada jeda di tengah lagu. Agar ada permainan improvisasi instrumen tertentu sebagai selingan penyegar. Entah improvisasi kendang saja, seruling saja, kendnag dan seruling, atau 'oplosan' instrumen lainnya.

Yang pasti, ketika ada jeda improvisasi permainan instrumen tertentu ini, Zul akan beraksi dengan goyangan dan erangan, sesuai sebutannya, ala 'mandi kucing' itu. Bentuknya? Salah satu tangannya akan terjulur ke atas sehingga ketiaknya akan kelihatan dari samping. Lantas, ia akan bergoyang dan mengerang, menjulurkan lidahnya ke arah tangan dan bagian tubuh tertentu, seperti seekor kucing yang sedang membersihkan bulu badan. Hanya saja, jilatan lidah Zul tentu tidak benar-benar sampai kulit tubuhnya.

Imrovisasi instrumen yang memunculkan aura panas akan menyesuaikan dengan bentuk goyangan dan erangan serta aksi lidah menjulur dan menjilat-jilat ke arah bagian tubuh tertentu itu. Kalau sudah disuguhi aksi semacam itu, banyak penonton bakalan teriak histeris. Ada yang bahkan sampai melempar celana dalam saking histerisnya. Ada yang sibuk memotret dengan ponsel. Ada yang bahkan merekamnya dengan video ponsel. Banyak juga yang kemudian mengunggahnya ke You Tube, facebook, dan media sosial lain. Banyak orang pun kemudian berkomentar bahwa aksi seperti itu seperti aksi dangdut koployang menggemaskan...

Tentu saja Mos, dan kandidat yang membayar merasa ikut bahagia dengan keberhasilan Zul sehingga sampai terbentuk opini publik yang menyukai inovasi aksi "mandi kucing" itu. Zul yang dulu ketika awal-awal dibawa Mos bisa disebut sebagai orang ring kesekian di lingkaran sang kandidat, kini boleh dikata sudah emnjadi ring satu. Selevel dengan Mos. Apalagi, sang kandidat juga merasa Zul cukup membantu secara signifikan dalam urusan supranatural. Jadilah, Zul menempati posisi level ring satu secara cepat. Bagai berkendara buraq.

Biasanya banyak orang akan susah payah mencapai ring satu dalam sebuah persaingan atau lobi politik. Ada yang bahkan sudah habis modal materi banyak, tak berhasil. Banyak pula yang sampai mengorbankan tubuhnya sebagai modal karir dan lobi politik. Namun Zul? Tidak, bukan? Pastilah Mos juga tak perlu merasa tersaingi. Bahkan ia malah merasa kedudukannya sebagai 'tangan kanan' sang kandidat semakin tidak terancam. Sebab, Zul bukan tipe orang yang memang mengancam karir politiknya, bukan?

Namun, diam-diam, ada orang di sekitar kandidat yang justru merasa terancam posisinya. Yang dulunya mau jadi ring satu, ketika sudah keduluan Zul yang menjadi ring satu, menjadi tergusur secara alami. Pastilah, akibatnya, orang tersebut bisa lebih dari sekadar menggerutu.

"Naka bau kencur bisa cepat sekali masuk lingkaran ring satu. Emang sebenarnya sudah tidur berapa kali sama 'babe kandidat', ya?" Demikian salah satu isi gerutuan seseorang.

Terlontar sangat eksplisit di dalam rapat rutin mingguan koordinasi tim pemenangan yang juga selalu dihadiri Mos. Sayang, ketika terlontar adanya gerutuan itu, Zul tidak sempat hadir. Waktu itu ia baru kena diare. Mos yang mendengar adanya gerutuan itu juga tak menggubris. Begitulah, bekerja dalam lingkaran politik, salah satu sisi enaknya bisa tidak memedulikan gerutuan, yang terpenting target pekerjaan tercapai, bukan?

***
POSE mesra Zul dengan sang kandidat pun beredar di media sosial. Entah siapa yang mengunggah. Bisa tim sukses sang kandidat sendiri, bisa saja orang luar sang kandidat. Lawan politiknya.

Terjadi kegaduhan di dunia maya dan lapangan persilatan Pilkada. Sebetulnya, siapa pun orang bisa paham bahwa hal itu bagian dari pembunuhan karakter. Karena, jika ditelusuri, pose mesra itu bisa saja dalam suasana santai. Belum tentu murni mesra karena merupakan bagian dari bercumbu atau pacaran, misalnya.

Tapi, persoalan menjadi runyam di lingkaran  dalam tim sukses sang kandidat. Sebab, Zul tidak muncul-muncul selama beberapa hari. DI-SMS, di-Whats App, di-inbox facebook atau Twitter, bahkan ditelepon juga tak ada jawaban. Tulalit responsnya. Hingga hari ketiga. Maka, Mos dan tim sukses lainnya pun berani menyatakan hilang. Sang kandidat tentu ikut kelimpungan. Ada dua hal yang menjadi analisa sementara.

Pertama, Zul menghilang karena kemauan sendiri. Tekanan bully di mesia sosial yang cukup kuat. Mmebuatnya terpukul hingga ingin menyendiri. Kemungkinan kedua, Zul memang diculik pihak tertentu untuk merunyamkan situasi. Apalagi semenjak Zul menghilang itu, sejumlah media amssa juga sudah terlanjur memberitakan. Media massa merasa idolanya tidak bisa dikonfirmasi lagi secara langsung. Apa daya, tim sukses sang kandidat juga sudah tak dapat menutup-nutupi lagi. Selama ini, media massa memang bisa dan bebas melakukan akses langsung kepada Zul.

Tentu saja, guncangan politik semacam ini sangatlah menguntungkan pesaing sang kandidat. Tapi, Mos dan teman-temannya di lingkaran tim sukses yang peduli kepada Zul tak mau gegabah. Tak mau melakukan serangan balik kepada lawan politik sang kandidat. Betapa pun lawan politik tersebut sudah menggempur dengan berbagai cara. Khususnya Mos, ia terus saja prihatin mencari Zul. Bahkan melalui jalan supranatural. Petunjuk supranatural sementara menyatakan bahwa Zul akan kembali tetapi dalam wkatu yang tidak singkat.

Mendengar analisa tersebut, Mos, sang kandidat, maupun teman-teman lainnya yang peduli pada nasib Zul cuma bisa pasrah. Sebab, sudah dicari ke sana - ke mari, diupayakan secara rasional dan irasional, tetap nihil. Sampai hitungan seminggu setelah dinyatakan hilang. Feeling Mos pun bekerja, sepertinya suami Zul dipenjara mendengar situasi ini. Sebab, di penjara juga ada televisi. Ada koran. Yang sesekali bisa diakses narapidana. Mereka pun bisa ngobrol dengan sipir, saling tukar informasi. Intinya, Mos merasakan suami Zul sudah tahu perihal kabar buruk ini.

Maka, bersegeralah Mos menuju rutan. ❑ (bersambung)-o

Satmoko Budi Santoso. Sastrawan kelahiran Yogya, 7 Januari 1976. Menulis cerpen, novel, puisi, juga esai. Kumpulan cerpennya: Jangan Membunuh di hari Sabtu (2003), Perempuan Bersampan Cadik (2004), Bersampan ke Seberang (2006), , dan Sasi, Anjing-anjing di Kampung Saya (2011). Novelnya: Liem Hwa (2005), Ciuman Terpanjang yang Ditunggu (2005), Jilbab Funky (2011), dan Kasongan (2012). Puisinya termuat di Antologi Puisi Indonesia (1997), Malioboro (2009), Danau Angsa (2011), Akulah Musi (2011, dan Equator (2011). Tinggal di Tirtonirmolo, Kasihan - Bantul. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 6 September 2015

0 Response to "Kutukan Rahim (6)"