Orang-Orang dari Beijing | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Orang-Orang dari Beijing Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:35 Rating: 4,5

Orang-Orang dari Beijing

MESKI keberangkatan ke Beijing masih seminggu lagi, Syamsul Bahari sudah tak sabar. Bayangan tentang pengalaman menakjubkan di negeri orang, berbelanja suka-suka dengan uang negara, dan tak lupa mengunjungi tempat-tempat wisata, selama ini hanya muncul dalam mimpinya.

Sesaat lagi mimpi itu akan nyata. Syamsul makin penasaran. Kadang-kadang ia mengigau, terutama di malam-malam yang tinggal hitungan hari menuju keberangkatan. Sementara itu, para kenalan sudah mulai memesan oleh-oleh. Ada yang sekadar basa-basi. Ada pula yang penuh harap.

“Wah, tetangga kita sebentar lagi mendarat di `Negeri Tirai Bambu'. Jangan lupa oleh-olehnya, Pak Syam, he he he,“ ujar Edi, tetangga di depan rumah Syamsul.

“Insya Allah, Pak Edi. Apa yang tak pernah saya kabulkan kalau Pak Edi yang minta? Bisa-bisa saya tidak diajak lagi main domino di rumah Pak Edi kalau saya tidak bawa apa-apa,“ balas Syamsul dengan senyum lepas, seusai salat magrib di masjid kompleks.

“Oleh-oleh untuk saya tak usah yang mahal, Pak. Cukup boneka panda yang kecil saja, tapi banyak. Selusin, ya, buat anak-anak dan keponakan saya,“ tambah Anwar, pegawai kantor Satpol PP yang rumahnya setiap hari ramai oleh anak-anak. Maklum Anwar membawa tiga keponakannya dari kampung untuk tinggal di sana.

“Saya usahakan, ya. Jadwal saya padat. Pak Wali harus terus didampingi. Tapi jangan khawatir, acara shopping pasti ada.“

“Betul. Jangan dibebani ini-itu dululah.Kunjungan Pak Syamsul dalam rangka studi banding. Ingat, stu-di ban-ding! Akan lebih banyak waktu untuk mempelajari keadaan di sana. Pak Syamsul pulang selamat saja kita sudah bersyukur,“ komentar Haji Muslim, yang rumahnya paling jauh dari kediaman Syamsul.Warga kompleks yang lain lumayan tersurut karena omongan Pak Muslim, apalagi Pak Anwar.

***
Syamsul Bahari diangkat sebagai pegawai dinas kebakaran 25 tahun lalu. Pekerjaan itu ditekuninya sungguh-sungguh. Kota tepi pantai dan berhawa panas memang sering dilanda kebakaran, terutama di pertengahan tahun.Sebaliknya di akhir tahun, langganan banjir.Berkat kinerja yang terpuji dan sikap yang supel, Syamsul berhasil menarik perhatian atasan.

Selang tiga tahun Syamsul dipromosikan menjadi komandan regu. Ia tak lama memegang jabatan itu dan segera ditunjuk sebagai kepala bagian personalia. Setelah menikah dengan seorang guru SD, Syamsul melanjutkan studi.Meski di perguruan tinggi swasta, demi ijazah dan gelar sarjana di bidang ekonomi, akhirnya ia sempat juga kuliah.

Perjalanan karier Syamsul di pemerintah kota melesat setelah ia bertitel sarjana. Ia diserahi tugas sebagai wakil kepala korps pemadam kebakaran. Setengah tahun menyandang tugas itu ia kemudian dilantik menjadi kepala korps pemadam kebakaran. Menjabat komandan pasukan damkar ialah pengalaman baru sekaligus berpengaruh dalam hidup Syamsul. Di masa itulah ia mengenali praktik korupsi. Mulai dari pemalsuan kuitansi uang lembur, dibantu oleh permainan cerdik dari para anggotanya, Syamsul makin lihai memanipulasi seluruh kuitansi tanpa sepengetahuan anak buah dan atasannya. Saat lelang pengadaan mobil pemadam kebakaran dibuka, Syamsul pun secara licik memenangkan sahabat masa kecilnya dalam tender. Sebagian uang hasil kongkalikong itu tak lupa ia titipkan pada orang-orang yang mungkin melindungi kejahatannya. Itu sebabnya sampai kini Syamsul selalu lolos dari intaian aparat hukum.

Kini, sebagai kepala dinas kominfo, alias komunikasi dan informasi, nama Syamsul semakin berkibar di jajaran pejabat teras kota.Hampir tiap hari wajah semringahnya tertangkap kamera media massa. Mirip-mirip Harmoko di zaman Orde Baru. Kedekatannya dengan wali kota tak ada yang melampaui, selain karena IP (ilmu penjilat) Syamsul selalu tinggi, semua orang tahu bahwa wali kota masih terhitung kerabatnya.Satu kampung. Satu suku.

Wali kota pernah berutang budi kepada istri Syamsul, manakala anak sulung pak wali diselamatkan. Seharusnya ia tidak naik kelas gara-gara 90% nilai rapornya tidak tuntas, namun berkat manipulasi data nilai oleh Emidar (istri Syamsul), anak pak wali kota tetap bisa naik kelas.Nilai yang tidak tuntas menjadi tuntas karena Emidar adalah kepala sekolah. Alhasil, sejak wali kota menjabat hingga masuk tahun ketiga dari periode kedua pemerintahannya, karier Syamsul selalu di atas angin, jabatan kepala dinas sudah hampir seluruhnya ia duduki. Syamsul satusatunya pejabat yang gonta-ganti menjadi kepala dinas di lima dinas yang berbeda.

***
Tiga hari sebelum keberangkatan wali kota beserta rombongan, kota itu dilanda banjir besar. Curah hujan yang tinggi, permukiman di bantaran sungai yang tak tertata, drainase yang centang-perenang dan tidak pernah menjadi prioritas pembenahan, memorak-porandakan lebih dari separuh kota. Tak sedikit warga yang tewas. Banyak yang kehilangan tempat tinggal, lalu mengungsi. Saat itu Syamsul sedang rapat di hotel mewah, di sebuah pulau sekitar 95 km dari sisi barat pantai. Ia selamat. Beruntung pula anak-istrinya terhindar dari musibah karena pada hari kejadian mereka menginap di rumah mertua Syamsul, sekitar 100 km dari utara kota itu. Ada beberapa tetangga Syamsul yang terseret arus pada malam nahas itu.

Syamsul disibukkan oleh tugas mendampingi wali kota untuk turun ke daerahdaerah yang terkena bencana paling parah.Tentu saja ia bangga menjadi orang kepercayaan pak wali, di antara para kepala dinas. Namun, diam-diam Syamsul cemas.Keberangkatan ke Beijing bisa saja batal. Ini tentu malapetaka.Padahal, ia sudah berencana membuka rekening di Beijing dan mencuci seluruh uang panas hasil korupsi dan kolusinya.Uang-uang itu adalah gabungan suap dari anak buahnya, persenan dari proyek-proyek semasa menjadi kepala dinas di empat dinas sebelumnya, suap dari orang-orang yang memilih jalan pintas dalam penerimaan calon pegawai negeri sipil, dan uang hasil kolusi dengan pimpinan proyek pengadaan barang. Ia sendiri kaget, kenapa bisa mengumpulkan kekayaan yang sudah jauh meninggalkan hitungan satu-dua miliar rupiah itu.

Di saat termenung memikirkan kecemasannya, siang itu telepon di meja kerjanya berdering.

“Halo?“ “Pak Syamsul, ini saya.“ Ternyata suara wali kota.

“Ya, Pak. Ada apa, Pak?“ “Tiket sudah oke, dua hari ke depan kita pasti berangkat. Tolong Pak Syamsul siapkan seluruh agenda pertemuan dan jumpa pers kita selama di Beijing. Saya tunggu dalam waktu paling lama satu jam. Setelah itu, kita rapat internal dengan seluruh anggota rombongan.“

“Siap, Pak!“ 

*** 
Setelah sepuluh hari di Beijing, Syamsul dan seluruh anggota rombongan pulang dengan wajah kusam dan hati tak tenang. Koran-koran, media online, televisi lokal dan nasional memberitakan kontroversi kunjungan wali kota ke Beijing.Televisi nasional bahkan menggelar dialog khusus di jam tayang utama.

Di bandara, sekelompok mahasiswa berdemonstrasi dan melempari rombongan wali kota dengan telur busuk dan air cabai meski tidak tepat sasaran karena rombongan sudah siap dengan petugas keamanan, berikut tameng antihuru-hara. Dari spanduk dan pamflet yang dikibar-kibarkan tampak nyata kepergian itu disikapi para mahasiswa dengan satu kesimpulan: tidak manusiawi. Di saat ratusan orang terbang nyawanya dan banyak yang kehilangan tempat tinggal, pemimpin kota dan para pejabatnya melenggang ke Beijing dengan alasan klise: studi banding.

Salah satu tulisan di spanduk terbaca: `Turunkan Wali Kota Bustami Nurdin serta antek-anteknya!' Tulisan lain bahkan tak segan menyinggung dugaan kasus-kasus korupsinya: `Bongkar kasus proyek pembangunan kembali Pasar Raya oleh wali kota dan kroni-kroninya!' Yang lain berbunyi: `Usut tuntas pengadaan fasilitas pemadam kebakaran periode Syamsul Bahari!' Di rumah, Syamsul disambut dingin oleh istri dan anaknya.

“Robi sudah tiga hari tidak masuk sekolah,“ kata istrinya melapor.

“Kenapa? Sakit?“ “Tidak. Dia malu. Teman-temannya menjauh.Ia ditertawakan. Mereka bilang, ayahmu pejabat yang tidak peduli nasib rakyat. Sejak kemarin dia tidak mau keluar kamar,“ ujar istrinya dengan mata berkaca-kaca.

Syamsul jengah, merasa tersudut, lalu beranjak keluar menuju rumah Pak Edi.

“Wah, Pak Syam sudah pulang, ya? Pasti enak, ya. Di sana tidak ada banjir, ya? Pasti Pak Syamsul sudah tak sabar bercerita tentang Beijing, ya?“ kata Edi, saat Syamsul mendatangi rumahnya yang masih berantakan karena banjir.Barang-barang dan perabotan rusak parah, bergelimang lumpur, sebagian masih terendam.Begitu Syamsul ingin merespons, Edi langsung menyambar.

“Maaf, kami harus membersihkan rumah yang berlumpur karena banjir. Tak ada waktu untuk mendengar cerita pelesiran Pak Syam. Lain kali saja, Pak.“

Edi langsung masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Syamsul yang sudah bersiap hendak menyerahkan oleh-oleh dari Beijing. Mulut Syamsul ternganga...

Untuk Nicke, Kimmy, dan Axelle .

2015 

Mohammad Isa Gautama, lahir 21 November 1976. 
Menulis cerpen sejak 1998, dan karya-karyanya tersebar di sejumlah media. Sehari-hari ia berkhidmat sebagai pengajar di sebuah PTN.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mohammad Isa Gautama
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 6 September 2015

0 Response to "Orang-Orang dari Beijing"