Ting | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ting Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:14 Rating: 4,5

Ting

IA berdiri di dalam lift. Diketukkannya kunci berbentuk kartu ke kotak hitam di kanan pintu. Ia menunggu. Pintu tidak tertutup. Ia mengetukkan lagi kunci. Pintu tidak juga tertutup. Perempuan itu melongok. Tidak terlihat orang sepanjang koridor yang mungin bisa dimintai tolong. Hari memang sudah larut. Resepsionis bermata buram itu menahan kantuk, dan ia hanya sendirian. Diketukkannya lagi kunci. Kali ini dengan hentakan.

Pintu lift tertutup.

You don’t know how hearts yarn. For love that cannot live yet never dies. Until you’ve faced eac down with sleepless eyes. How could you know what love is….

Ketika lift meluncur naik, perempuan itu mundur. Bersandar ke dinding lift. Ransel ia turunkan. Kedua kakinya yang berbalut cerlana jeans hitam mengapit ransel itu. Sambil menarik lengan kaos sebatas siku, matanya mencari sumber suara. Ia melihat lubang-lubang kecil di atas kepalanya. Ia keliahtan yakin dari lubang-lubang itulah suara piano, terompet, dan suara Chet Barker berasal.

Mata perempuan itu tidak berhenti bekerja. Ia menemukan kilap lensa kamera di sudut langit-langit. Iseng ia menjulurkan lidah, mengembang-kempiskan pipi, mengedipkan mata. Ia melambaikan tangan ke arah mata kamera. Tiba-tiba pipinya bersemu merah. Mungkin ia membayangkan seseorang sedang memperhatikan. Dan mungkin saja begitu. Ia membayangkan seseorang di ujung lain kamera, yang mungkin petugas keamanan, sedang menertawainya. Kepalanya tertunduk. Ia berharap rekaman dirinya akan ditimpa rekaman lain esok harinya.

Lift berhenti.

Pintunya terbuka. Ada lukisan langit berwarna kuning menyala di dinding seberang pintu. Angka 801-820 pada kotak putih, dengan ujung panah mengarah ke kiri. Tidak ada seseorang di depan pintu. 

Perempuan itu mengernyit. Pintu tertutup. Menyatukan pantulan bayang-bayangnya di pintu. Ia melihat dirinya menegakkan punggung. Jemainya yang merapikan keriap anak rambu. Tampak pula matanya tertuju ke angka yang menyala di pintu. Nyala angka berganti-ganti. Sebelas. Dua belas. Tiga belas. Empat belas. Lima belas.

Ting.

Pintu lift terbuka. 

Mata perempuan itu langsung menabrak sebuah lukisan yang tergantung tepat di dinding seberang pintu lift. Tiruan The Persistence of Memory. Sebuah lukisan yang janggal. Ia berdiri di depan lukisan itu. seingatnya, lukisan di hotel itu mestinya sesuatu yang indah dilihat mata kebanyakan orang. Yang sering ialihat adalah reproduksi bunga matahari atau bunga lili Van Gogh, sejenis kaligrafi, pemandangan, atau setidaknya lukisan abstrak dengan goresan rapi dan warna-warna lembut.

Dengung pintu yang membuka-menutup beberapa kali, yang nyaris tidak terdengar, membuatnya menoleh. Ia sekarang yakin lift itu bermasalah.

Ting.

Akhirnya pintu tertutup dan tidak terbuka lagi. Koridor yang semula diguyur cahaya lampu dari dalam lift seketika meremang. Yang tersisa adalah sorotan warna kuning dari lampu kecil melengkung sejarak satu jengkal di depan lukisan dan lampu-lampu redup di langit-langit.
Pengeras suara masih terus mengulang lagu yang sama.

Perempuan itu melangkah pelan. Tungkainya bergerak seirama ketukan lamat-lamat piano. Seolah melayang. Seolah berjalan dalam perut makhluk raksasa. 

Karpet merah hati menyulur sepanjang koridor. Motif lingkaran hitam saling timpa dengan garis yang memotong. Karpet itu meredam langkah-langkah kaki bersepatu boot setinggi mata kaki. Kunci dalam genggaman lembap oleh keringat.

Tempias kuning gading menyebar setengah lingkaran dari kap lampu dinding yang menempel tak jauh di tiap pintu kamar. Lima pintu di kanan dan lima pintu di kiri. 1510. 1512. Kertas bertulis Don’t Disturb tergantung di pintu 1513.1515. Ada dua gelas tinggi berdinding buram sisa alpukat dekat pintu 1516. Sedotan putih tergeletak. Dari ujungnya meleler sisa coklat yang membuat noktah samar di karpet. 1518.1519.

Langkah kaki perempuan itu berhenti di depan kamar 1520. 

SETELAH membuat kopi, saya malah membaringkan tubuh dengan kaki tertumpu pada lipatan selimut. Mata lurus ke langit-langit kamar bercorak gumpalan awan putih kotor. Sepuhan tipis. Nyaris seperti bayangan.

Hampir sembilan bulan dalam tahun saya tidu di kama hotel. Dua ratus tujuh puluh malam. Kalau saya terbang ke 50 kota, berarti saya tidur di 50 kamar. Dan saya tidak pernah memperhatikan kamar-kamar itu. Rasanya semua kamar hotel sama. Ada kamar mandi, lemari penyimpanan, meja rias, sepasang kursi, meja kecil, kulkas, ya hanya sedikit variasi cat kamar atau bentuk mebel.
Tapi tidak saat ini.

Sejak membuka pintu, detil-detil kamar ini mengerubuti. Warna di corak seprei, cahaya matahari yang jatuh di jok kursi, aroma sampo bercampur pewangi pakaian, buih di pinggiran wastafel. Semuanya menempeli kepala saya. Dan ini sangat menganggu.

“Tatakan gelasnya bagus ya. Ada gambar teratai pas di tengahnya. Apa di hotel lain ada juga yang kayak begini?”

“Hmm, mungkin.”

“Kok mungkin? Ah, kamu mana memperhatikan….”

“Tak sempat. Kalau mendarat pagi dan baru terbang besok malamnya ya masih mungkin ada waktu. Lebih sering sampai kamar di waktu yang abnormal, mungkin jam 11 malam atau jam 4 subuh. Sering hanya punya waktu 6 jam sebelum ke bandara. Sampai di kamar paling-paling aku juga kasih baju ke laundry, lalu mandi, minum kopi, merokok sebatang atau dua batang, dan tidur.”

Saya coba memejamkan mata. Ah, kelopak mata seperti ditarik kail….

Di depan saya ada sebuah meja rias bercermin lebar. Di bagian kananna, menyerong televisi layar datar yang sejak kemarin tidak menyala. Nampan berisi poci bening, cangkir telungkup, tatakan kosong, tempat gula dan kopi, serta sebuah jambangan putih dengan beberapa tangkai sedap malam yang mulai layu di bagian kiri meja rias.

Samar-samar terdengar musik mengalun.

Saya memiringkan badan. Tanpa tubuh bergeser, jari-jari saya meraba lemari kecil di samping tempat tidur. Salah satu tombol saya putar. Lampu di kanan-kiri tempat tidur menyala. Jari-jari saya memutar tombol di sebelahnya. Suara musik mengeras. Setelah musik terasa pas dengan suhu ruangan dan daya tangkap telinga, saya memejamkan mata.

You don’t know what love is.

Musk ini terlalu lembut untuk saya. Tapi ia masuk juga gendang telinga sampai….

Entah sampai bagian mana. Entah berapa lama saya tertidur sebelum dibangunkan matahari sore yang masuk lewat jendela besar menyiram muka saya. Kepala terasa berat. Bola mata kering dan perih.
Saya membawa cangkir kopi yang sudah dingin ke balkon. 

Udara pendingin keluar lewat pintu dorong yang saya biarkan terbuka ternyata tidak bisa mengusir angin panas kemarau. Saya menyesap kopi. Rokok saya nyalakan. Jauh di depan saya, entah berapa jauh, kilau sinar matahari di permukaan laut serupa pantulan cermin.

Kenapa ia suka sekali bersitatap dengan pantulan dirinya di benda-benda?

Bukan. Bukan bercermin. Perempuan itu malah jarang saya lihat bercermin. Ia hanya memandang permukaan meja marmer, tubuh gelas, genangan air, layar laptop, ya…benda-benda apa saja yang memantulkan bayangan.

Pantulan bayangan itu seperti mata orang lain yang memperhatikan, katanya berbisik. “Saya sebagai mata lain yang memandang saya sendiri.”

“Terlalu filosofis….”

“Oh ya? Saya merasa seperti itu.”

“Seperti apa?”

“Waktu saya melihat bayangan samar-samar tubuh saya, raut muka saya, bila mata saya, saya seperti jadi mata orang lain. Saya membayangkan apa yang mau dilihat oang dari saya.”

“Apa yang mau dilihat orang darimu?”

“Apanya yang filosofis?”

“Okelah. Tak filosofis. Oke juga pertanyaan saya malah dijawab dengan pertanyaan. Tapi untuk apa?”

Perempuan itu tidak menjawab. Juga tidak mengganti pertanyaan saya dengan pertanyaan lagi. Ia hanya menggerakkan bahunya. Membalikkan badan menghadap jendela. Ia memandang bayangan yang dipantulkan jendela tidak jauh dari samping tempat tidur. Ada bayang-bayang saling timpa antara sinar lampu merkuri pinggiran jalan, bulan separuh, dan mukanya yang tirus menempel di bantal putih. Ada juga bahunya yang telanjang dan tangan saya yang mendekapnya dari belakang.

Saya mengembuskan napas. Memutar kursi. Kaki besi berdecit. Angin berputar-putar; membuat tirai tipis pintu geser melayang-layang. Jendela besar yang mengapit pintu itu memantulkan daun-daun bambu pembatas hotel. Memantulkan abu rokok di tangan saya.

Pantulan abu rokok memanjang, patah, dan jatuh ke lantai granit.

Apa yang dilihat orang dari pantulan itu? Seorang laki-laki tanpa nyali?

Matahari belum susut. Panasnya merembes di dinding pembatas balkon. Saya membalik kursi lagi. Meluruskan kaki ke pagar balkon. Menunggu matahari jatuh ke laut. 


SAYA mengintip lewat lubang kecil di pintu.

Perempuan itu keluar. Sudah saya duga. Ia pasti akan melihat lukisan itu. Saya juga yakin ia akan bilang lukisan itu janggal. Perempuan itu berdiri lama di situ. Ransel dipindahkannya dari bahu kanan ke bahu kiri. Suara pintu lift yang membuka-menutup beberapa kali sempat membuatnya berpaling.

“Kamu tahu kenapa jam ini meleleh?”

“Apa?” Saya menyeret kursi mendekat tempat tidur. Kaki saya berselonjor.

“Ini. Apa judul lukisan ini?” Tangannya yang ringkih menunjuk desktop layar laptop saya yang menyala dan dari pengras suaranya masih terus mengulang suara Chet Barker yang tidak terlalu saya sukai.

“Salvador Dali. The Persistence of Memory.

“Ya. Saya tahu. Dali. Saya tak tahu judul lukisannya. Kalau tak salah, jam meleleh ada di beberapa lukisan dia ya? Kamu tahu kenapa jamnya meleleh?”

“Tidak.”

“Bohong. Kalau orang pasang gambar di desktop, biasanya dia alasan tertentu.”

“Tak boleh iseng?”

“Iseng? Boleh. Tapi kok sampai hafal judul lukisannya?”

“Kalau iseng menghafal judul?”

“Iseng menghafal judul? Hmm, boleh juga. Tapi kalau iseng menghafal judul artinya sempat cari-cari tahu ya? Nah, kenapa jamnya meleleh?”

“Bawel. Sini….”

Dijinjingnya laptop yang berdengung halus itu dan ia duduk di pangkuan saya. Rambut lurus itu menyebarkan wangi jeruk. Hidung saya mengendus cuping telinganya.

“Geli…. Kenapa jamnya meleleh? Serius, ah.”

“Kan tadi sudah. Mau yang lebih serius?”

Ia tidak mengindahkan godaan saya. Matanya tertuju ke lelehan ham yang dibayangkan Dali sebagai lelehan keju.

Ting.

Akhirnya pintu lift tertutup dan tidak terbuka lagi. koridor yang semula diguyur cahaya lampu dari lift seketika meremang. Yang bersisa adalah sorotan warna kuning lampu kecil melengkung di depan lukisan, lampu-lampu redup di langit-langit, dan cahaya setengah lingkaran yang disebar lampu dinding. Pengeras suara masih terus mengulang lagu yang sama.

For love that cannot live yet never dies. Until you’ve faced each dawn with sleepless eyes. How could you know what love is….

Perempuan itu tampak berhati-hati menginjak karpet sepanjang koridor. Langkah kaki berbalut jeans hitam itu seirama ketukan piano. Melayang… ah, mungkin lebih tepat, gamang. Perempuan itu berhenti di depan kamar 1520.

Saya menahan napas.


PEREMPUAN itu menahan napas. 

Ia mengangkat tangan yang tengah memegang kunci. Kotak hijau di pintu kamar kini berwarna merah. Matanya tampak terpejam.

“Saya ada di sini. Kamar 1520 ya. Kunci di resepsionis.”

Ketika mengirim pesan pendek itu, mungkin si laki-laki sedang membeli rokok atau air mineral. 
Yang pasti, kamar kosong. Biasanya, setelah masukk, perempuan itu akan menaruh ransel di samping koper yang terbuka. Membereskan sandal yang tergeletak di atas keset kamar mandi. Menggantung setelah pakaian ke lemari. Membersihkan asbak dari puntung rokok. Mengeluarkan kaos tipis dan celana tidurnya. Menyalakan dua keran di bath-tub. Menakar kehangatan suhu air sebelum ujung kaki dan seluruh tubuhnya terendam.

Tubuh yang terendam air hangat itu sering kali tidak mendengar ketukan di pintu. Laki-laki itu pernah menunggu lebih dari 10 menit di depan pintu sebelum ia membukanya.

“Lain kali pintunya tak usah dikunci.”

“Kalau ada apa-apa?”

“Aman. Kalau tak dikunci kan saya bisa langsung ikutan mandi….”

“Tak aman kalau begitu.”

“Laki-laki itu tertawa dan memeluknya. Ia berusaha melepas pelukan tapi tangan laki-laki itu kian kuat mencengkeram pinggangnya, “Sana. Mandi dulu. Saya mau dengan cerita tentang awan kumulonimbus. Atau, hmm, cerita tentang kopi bandara terburuk juga boleh.”

“Saya tak bisa tidur di sini sekarang.” Laki-laki itu hanya meregangkan pelukan. “Sudah harus di bandara jam 2 pagi. Lusa saya dipanggil ke kantor. VP mau interview. Jadi, sekarang saya mau peluk kamu yang lama. Terus peluk lagi. terus….”

“Peluk lagi?”

Perempuan itu merasakan hangat bibir laki-laki yang tertawa di lehernya. “Jadi sekolah?” Tidak ada jawaban. “Istrimu, ehm, istrimu tak mau pindah ke daerah…. Saya buatkan kopi ya. Eh, sama-sama naik jabatan kan? Selamat ya.”

Laki-laki itu menempelkan muka ke bahunya. Terasa lembab.

Sesuatu bergumpal di tenggorokan perempuan itu.

Perempuan itu mengembuskan napas. Tangannya yang memegang kunci membeku. Ia mundur dan berbalik. Pintu lift terbuka. Sambil menahan pintu tetap terbuka, perempuan itu menoleh. Terlihat bayangan dari bawah pintu 1519. Bola mata perempuan itu menembus lubang kecil di pintu. 
Bola mata keduanya berkaca. Mereka saling memandang.

Ting.

Pintu lift menutup.

2015.

Mona Sylviana tinggal di Jatinagor, Sumedang, Jawa Barat. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mona Sylviana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" Minggu 6 September 2015

0 Response to "Ting"