Tragedi di Bale Sigala-gala - Perang dan Dendam - Sayembara Perang Gandamana | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tragedi di Bale Sigala-gala - Perang dan Dendam - Sayembara Perang Gandamana Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:04 Rating: 4,5

Tragedi di Bale Sigala-gala - Perang dan Dendam - Sayembara Perang Gandamana

Tragedi di Bale Sigala-gala

Di Bale Sigala-gala, di tepi hutan Pramanakoti, 
Prabu Destarata 
mengundang Pandawa dan Dewi Kunti 
untuk menerima warisan 
kerajaan Astina, peninggalan Prabu Pandu 
yang sudah mendahului tiada.

Di sanalah telah terjadi saksi, sebagai penanda.
Di sanalah Sengkuni telah dibakar 
ambisinya sendiri, 
ingin memiliki kerajaan Astina, yang bukan 
semestinya haknya.
Dengan tipudaya, beserta kerabat Kurawa 
yang ratusan jumlahnya.
Setelah Pandawa dan Dewi Kunti terlena, 
akan dibakar Bale Sigala-gala, 
agar mereka menemukan ajalnya.
Oleh Sengkuni yang angkara.

Tetapi Dewata selalu memihak kepada 
yang sedikit dosa-dosa.
Bima telah menyelamatkan Dewi Kunti 
dan saudara-saudaranya, 
dari amuk bencana.

Tetapi sejak dahulu kala, 
Sengkuni memang seolah-olah 
tak pernah menemui ajalnya.
Tetapi Kurawa memang selalu 
lebih banyak jumlahnya. 

Perang dan Dendam 

Setelah Kumbakarna meninggal, 
Indrajit--anak Rahwana, 
dendamnya melecit. Semula Kumbakarna perang 
karena dendam terhadap Lesmana.

Indrajit memang sakti, banyak memiliki aji-aji. Tetapi 
akhirnya juga bisa mati, menuruti dendamnya 
sendiri. Juga kepada Lesmana.

Disusul dendamnya Rahwana kepada Rama Wijaya.
Berkali-kali Rahwana mati. Hidup kembali.

Dan kelak sebagai bukti. Rahwana mati 
dipendam gunung 
oleh Anoman. Dan kelak memang tetap sebagai saksi.

Sayembara Perang Gandamana 

Tanpa sengaja Kuku Pancanaka milik Bratasena 
menancap di dada Gandamana.
Dalam sayembara perang 
untuk menentukan jodohnya Drupadi, 
keponakan Gandamana sendiri.
Bratasena mewakili Puntadewa, kakaknya yang 
belum beristri.

Pada mulanya Gandamana hanya pura-pura 
melawan. Dan memang mengalah dan pasrah kepada 
perlawanan Bratasena.
Pada mulanya Bratasena kurang bergairah.

Dan kelak ini sebuah lambang bagi Puntadewa 
dan Drupadi. 



Sunardi KS, buku kumpulan puisi tunggalnya berbahasa Jawa, berjudul Wegah Dadi Semar (2012).Ia aktif di komunitas Kelompok Studi Sastra Jepara (KSSJ).



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sunardi KS

[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 13 September 2015

0 Response to "Tragedi di Bale Sigala-gala - Perang dan Dendam - Sayembara Perang Gandamana "