Acara Tengah Malam | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Acara Tengah Malam Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Acara Tengah Malam

ANDA menyelipkan tangan ke balik baju, menyentuh pinggang sebelah kiri, dan pelan-pelan meraba ke arah rusuk. Jejas itu masih ada.Setelah terbiasa dengan nyeri yang dalam dan berkepanjangan yang ditimbulkannya, menyentuhnya seakan-akan ia hanya kerutan pada kain atau kertas bertekstur kasar justru membuat anda canggung. Rasanya seperti menyentuh benda mati yang entah bagaimana dan untuk alasan apa, berpindah ke badan anda. Anda menarik tangan sambil menduga apa yang diberikan dokter sewaktu anda tertidur tadi.

Meski mulanya ingin ditempatkan di kelas yang lebih murah, anda senang akhirnya berbaring di sini. Menghirup banyak-banyak udara beraroma disiinfektan, mengembuskannya, membuka mata dan memandang sekeliling: tirai yang dibuka-tutup hanya dengan menekan tombol, televisi raksasa seperti dalam kisah Guy Montag, ikan-ikan karang yang berenang dalam dinding tembus pandang. 

"Suasananya diatur sedemikian rupa untuk memberi rasa tenang dan nyaman," kata istri anda menirukan resepsionis yang menurutnya bisa dipecat dan digantikan oleh mesin, atau burung hantu, kapan saja tanpa menarik perhatian. Ia lalu berdeham-deham kecil, menangkupkan kedua tangannya di atas paha, dan kembali bicara dengan intonasi yang ternyata belum berubah: "Jangan dikira aku tidak tahu siapa yang memberimu penyakit menjijikkan itu."

Anda tidak ingat kapan ia pergi.

Anda memutar kenop kecil di sisi tempat tidur untuk menegakkan sandaran, mengutuk ketololan istri anda berikut keyakinannya bahwa dia cukup pandai, menjangkau remot televisi sembari mensyukuri betapa ia bisa diandalkan untuk urusan-urusan praktis, menekan tombol on, dan mendengar seseorang mengucapkan selamat malam.

Selamat tengah malam, tepatnya.

Anda berpikir berangkali pernah melihat wajah itu, entah sekilas atau secara seksama, di antara kerumunan penumpang kereta komuter atau tiga-empat orang pengunjung toko barang antik; atau samar-samar mengingatnya sebagai wajah seorang bcah yang bertahun-tahun silam mengantarkan buku-buku catatan ke rumah sepupu anda meski liburan beum usai dan hujan sedang turun, dan membuat rasa cemburu anda melupa ke mana-mana sebagaimana air selokan.

Anda percaya tak ada dua konfigurasi pita suara manusia yang benar-benar sama, maka rasa akrab terhadap suara itu hanya mungkin berarti anda penah mendengarnya sebelum ini. Mungkin di sebuah kedai kopi; seseorang yang bicara dan bicara dan kedua tangannya bergerak seolah-olah sedang memompa keluar kata-kata--alangkah banyak yang demikian. Atau mungkin dalam salah satu kunjungan ke perpustakaan; satu suara yang melintas sewaktu mata anda menyusuri kalimat-kalimat yang bila dijahit dan dibentangkan, sama panjang dengan jarak dua puluh kali perjalanan mengitari planet ini.

Cara bicaranya kampungan. Ia mungkin tak mencuci pakaian dalamnya sendiri. Airmukanya mengesankan kemalasan berolahraga. Ia mungkin tak cukup cerdik untuk menjadi orang yang menonjol. Ia mencintai Audrey Hepburn sejak pertama kali melihatnya dalam My Fair Lady. Ia tak hanya tua, tapi juga menyedihkan. Ia plin-plan meski tak kelihatan seperti pemadat. Sorot mata yang demikian menandakan adanya suatu perasaan yang ditekan kuat-kuat dalam waktu lama. Dilihat dari caranya tersenyum, ia mungkin takkan memberikan tempat duduknya di kendaraan umum kepada perempuan hamil, tapi akan menguburkan hewan mati sambil menjerit-jerit dan menjanjikan pembalasan dendam dalam eulogina.

Terlepas dari kesan serta dugaan-dugaan anda tentang dia, sampai di sini tentu satu perkara sudah jelas: dia membajak kanal ini. Dan agar urusan ini tak berputar-putar sampai keruh, ada baiknya anda ganti memikirkan hal-hal yang memang perlu dipikirkan.

Misalnya: kapan terakhir kali anda menonton televisi?

Anda tahu kartun Kopi Kepik yang akhir-akhir ini populer? Kartun itu diadaptasi secara longgar (selain judul, yang diambil hanya setting dan desain tokoh-tokohnya) dari novel karangan Arthur Harahap yang berjudul sama. Novel kopi Kepik bercerita tentang pulau tropis bernama Bikibadu, dunia ideal tempat semua manusia sungguh-sungguh mengerti batas kemampuan masing-masing. Karena amat berhati-hati dan penuh pertimbangan, mereka tidak pernah mengmbil keputusan besar. Tidak ada perang, tidak ada percoban sains yang nekat, tidak ada penjelajahan dan kaum penakluk yang bergelora, tidak ada filsafat, tidak ada tragedi percintaan yang mengoyak hati umat manusia selama berabad-abad. Pendeknya: tidak ada apa-apa. Namun suatu pagi, seekor kepik (dalam bahasa Bikibadu, kata kepik mewakili hewan yang bentuknya menyerupai cicak, tapi berwajah manusia dan memiliki kemampuan terbang seekor kecoa) yang mengaso di langit-langit tiba-tiba mengantuk dan tercebur ke cangkir kopi milik seorang guru sekolah menengah. Si guru, mudah diduga, meminum kopinya begitu saja, dan tiga jam kemudian, melalui uraian berbelit-belit sepanjang dua puluh lima halaman, muncul kembali sebagai zombie pertama. Wabah menyebar tanpa ampun dan tak seorang pun berusaha mengehentikannya (karena itu di luar batas kemampuan mereka). Akhirnya, semua orang menjadi zombie dan menghasilkan bayi-bayi zombie dan begitulah, dan secara alamiah, mereka kembali menjalani hidup sebagaimana hari-hari sebelum kemunculan wabah.

Mengapa mengerutkan kening? Anda jelas-jelas akrab dengan kisah itu. Bagaimana rasanya mendengar seseorang berbicara tentang karya anda setelah pengabaian yang bahkan kelewat panjang untuk ditanggung selama tiga kali masa hidup? Empat bulan lalu, seseorang yang tak pernah anda bayangkan ada (namun selalu anda nantikan) memulai hal tesebut. Dia menyatakan kekagumannya terhadap novel-novel anda, dan bagai sebuah mimpi gila yang anda bahkan tak berani mengalaminya, pengakuan itu memantik minat publik yang luar biasa riuh terhadap buku-buku anda; pihak penerbit mati-matian--seorang editor benar-benar mati di tengah-tengah kehebohan tersebut, konon karena pembengkakan usus buntu--membongkar arsip, memburu naskah-naskah baru, dan mencetak apa saja yang berhubungan dengan anda (novel-novel, kumpulan kutipan, buku skesta, biografi, testimoni dari para pesohor) sementara toko-toko dilanda panik karena stok yang mereka miliki tak penah memadai.


"BERI kami Arthur Harahap!" Anda membayangkan para pembaca berteriak di toko-toko buku. "Kami ingin Arthur Harahap!"

Kapan terakhir kali anda menonton televisi?

Hingga kemarin malam, telah terjadi lima belas peristiwa bunuh diri di tempat-tempat publik. Dan para pelaku, seluruhnya berjumlah tiga puluh dua, sebagaimana dikonfirmasi saksi-saksi dan pihak kepolisian, didapati membawa sedikitnya salah satu novel anda, tak terkecuali dua orang murid sekolah dasar dan tiga orang ibu rumah tangga di antaranya. Dan yang terbaru: seorang mahasiswa kedokteran gigi mengebor langit-langit mulutnya sendiri di lapangan parkir kampusnya. Dan sebuah coretan besar SIBUK, SIBUK SEKALI, NIH di mobil dinas fakultas diduga ditulis oleh si mahasiswa sebagai pesan bunuh diri.

Anda mengulurkan lengan ke meja kecil di sisi kanan tempat tidur, berusaha menjangkau gelas. Namun semakin tangan anda mendekatinya, gelas itu malah tampak semakin jauh dan berbayang-bayang, seakan-akan berada dalam kendali jin yang hendak mengelabui anda. Setelah bosan meregang-regangkan badan tanpa hasil, anda akhirnya mengambil sebutir jeruk (yang jelas-jelas diletakkan lebih jauh ketimbang gelas) dan mengupayakan tanpa kesulitan.

"Mengapa dunia ini tidak adil?"

Bisa dipastikan, pertanyaan itu keluar paling sedikit satu kali dari mulut protagonis dalam tiap-tiap novel anda. Dan karena anda membenci kaakter-karakater yang bicara sendirian, selalu ada pula lawan bicara yang siap menanggapi dengan jawaban non sequitur: karena takdir memang kejam."

Biar ditanya berapa kali pun, anda tidak bisa membayangkan apa yang mungkin menjadi motif penganjur bunuh diri dalam novel-novel anda. Pada dasarnya anda hanya menuliskan kisah cinta. Cinta dan komedi. Itu pun bukan dari jenis yang berhasil. Alih-alih menangis dan terpingkal-pingkal dan akhirnya menutup buku dengan perasaan campur-aduk, para pembaca malah melompat dari bangunan-bangunan tinggi, melubangi bagian-bagian rawan pada tubuh mereka, menenggak racun, menjerat leher, mengurung diri sampai kelaparan, atau mengantungi batu-batu dan masuk ke air tanpa rencana muncul kembali dalam keadaan semula

Kapan terakhir anda menonton telvisi?

Tiga puluhan tahun silam, ada juga pria yang kerap muncul secara tiba-tiba di televisi, menyela tayangan yang sedang belangsung untuk bicara dan bicara dan menyampaikan urusannya dengan cara yang memungkinkan selingan itu tak rampung-rampung hingga tiga puluh tahun kemudian. Bisa dibilang, pria bertampang teruk itu adalah pembajak televisi paling awal di negara ini. Dan karena di masa itu amatlah sukar mencari kaitan antara kata bajak dengan hal-hal yang tak bersinggungan dengan pertanian atau hubungan suami-istri, mereka menyebut si pelaku dengan cara-cara yang lebih sederhana: Pak menteri, Pak Menteri Penerangan, atau Harmoko.

Tokoh utama dalam Ana maria, novel pertama anda, juga bernama Harmoko. Menurut narator, ia didera cinta searah kepada seorang perempuan bernama Ana Maria sampai-sampai jatuh demam dan kehilangan selera makan. Pada satu titik, karena lelah dengan pikiran-pikirannya sendiri yang semakin delusif, sang protagonis pun memutuskan untuk bertualang keliling kota dan mengobrol tentang cinta yang maskulin dan berkelahi dengan dua puluhan tokoh pendukung (dengan nama dan kepribadian serba mirip dan selalu brakhir dengan cara tak diceritakan lagi). Melulu begitu hingga paragraf terakhir, sampai akhirnya pembaca memperoleh penjelasan bahwa Ana Maria sebenarnya sama sekali bukanlah perempuan, melainkan mariyuana. Dan kisah ditutup dengan sebuah petuah: "Wahai para pembaca, janganlah anda coba-coba mengisap ganja."

Apanya yang memicu bunuh diri?

Pada tahun-tahun itu, anda kerap membayangkan Harmoko--Menteri Penerangan, bukan tokoh novel--meminta istrinya merekam setiap penampilannya di televisi, untuk memungkinkan dia tonton kembali di ruang kerja sembari duduk, di kursinya yang besar, empuk, berlapis olahan kulit sapi berkualitas primer, dan dapat diputar-putarkan (jenis yang langka di masa itu). Dia akan memperhatikan setiap detail dalam tayangan tesebut, termasuk bagian-bagian terkecil pengucapan dan gesturnya, dalam sikap yang betul-betul jagoan; siku kanannya tertumpu di lengan kursi, menopang telapak tangan dan jari-ari yang mencengkeram bagian bawah gelas berisi scotch tanpa es, sementara lengan kirinya berperan sebagai tuas yang bolak-balik mengantarkan cerutu ke mulutnya dan kembali ke tepi asbak. Semakin ke sini, semakin anda yakin bahwa memang demikianlah semestinya perilaku rang-orang yang muncul di televisi.

Kapan terakhir anda menonton televisi?

Menyusul peristiwa bunuh diri yang terakhir, video yang anda buat dengan bantuan istri anda (dan dikirimkan olehnya kepada sejumlah stasiun televisi sebagai satu-satunya tanggapan pihak keluarga atas permintaan wawancara) tentu masih akan ditayangkan berulang kali. Mungkin sepotong-sepotong, mungkin pula seluruhnya sekaligus. Bagi anda, cara yang mana pun boleh, selama bagian terpenting rekaman tersebut, yaitu bagian penutupnya, disertakan. Di situ anda menyatakan bahwa apa pun yang terjadi, para pembaca yang menantikan karya terbaru anda tak perlu khawatir. "Dan sekadar bocoran," kata anda persis sebelum video berakhir, "sekarang pun saya sedang mengerjakan novel."

Sejauh ini, beginilah bunyi novel tesebut: Pikiran, apa pun jenisnya, bermula dari penyakit dan hanya dapat disembuhkan oleh pikiran.

Anda tahu ada yang salah dengan kalimat itu, dan anda berencana memperbaikinya besok, sepagi mungkin, setelah melihat-lihat televisi. Kedua mata anda kini mengatup. Atau, kalaupun belum, anggap saja begitu. Dan pelan-pelan, seiring ayunan demi ayunan yang membawa anda ke alam tidur, sebuah ide berenang-renang di benak anda: bagaimana seandainya novel dibuka dengan deskripsi tentang protagonis yang memeriksa penyakitnya sesat setelah terjaga?

Seperti ini, misalnya: dia menyelipkan tangan ke balik baju, menyentuh pinggang sebelah kiri, dan pelan-pelan meraba ke arah rusuk.

Untungnya, sewaktu anda benar-benar terlelap, pikiran bawah sadar anda cepat-cepat mengenyahkan gagasan tersebut. Sebab ia mengerti, bahkan dalam mengarang, ada hal-hal yang tidak pantas dilakukan. []

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dea Anugrah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran tempo" Sabtu 17 Oktober 2015

0 Response to "Acara Tengah Malam "