Ayahku Guru | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ayahku Guru Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:59 Rating: 4,5

Ayahku Guru

PERANG sudah dimulai. Tentara pusat bahkan konon sudah dekat dengan kampung kami. Hubungan putus dengan kota kabupaten. Apalagi dengan kota propinsi. Bis yang menghubungkan kampung dengan dunia luar sudah tak beroperasi. Pemilik dan pengemudinya takut tentara pusat akan menembak atau membakar kendaraan. Karena jangankan kendaraan, kata orang-orang, rumah-rumah pun dibakar. Dan terbetik pula kabar serdadu-serdadu itu terus maju walaupun Jembatan Siamang sudah diruntuhkan. “Mereka tambah marah. Mereka berarak siang malam dan menghantam tiap-tiap kampung yang dilewat!” ujar orang-orang lagi.

Dengan begitu tata kehidupan kampung kamipun menjadi aneh. Jalan-jalan lengang. Lepau kopi sepi. Surau dan masjid tidak lagi berisi. Dan orang kampung tidak ada yang turun ke sawah atau ke ladang. Mereka berjurung dalam rumah, sebab tentara pusat bisa muncul sewaktu-waktu.

Di rumah kami sendiri juga tak kurang anehnya. Ayah yang ini sabar, tenang namun disiplin tiba-tiba berubah. Sering ayah pulang cepat dari sekolah, kemudian bersungut-sungut tidak tentu. Adakalanya beliau mondar-mandir atau duduk termenung di beranda sampai lama. Wajahnya rusuh. Sehingga aku hampir lupa beliau memiliki senyum yang menyejukkan.

Ibu tempo-tempo juga ikut duduk di beranda serta bercakap-cakap dengan ayah. Namun lama-ama suara ayah terdengar semakin keras. Dan bila sudah begitu ibu pun menunduk, atau menandang ke jalan kampung yang lengang di depan rumah.

“Ayah sedang bersusah hati. Karena itu kau tidak boleh lagi mandi-mandi di kali. Dan harus terus pergi ke sekolah,” jawab ibu bila aku bertanya.

“Tapi kawan-kawanku banyak yang tidak sekolah.”

“Tapi kau harus ke sekolah!” tegas ibu.

Aku diam. Ibu pun berubah. Mulai main paksa dan kehilangan senyum. Tapi apalah daya awak anak kecil ini. Kalau tidak patuh tentu ikat pinggang ayah akan mampir ke kaki.

***
ENTAH berapa lama keadaan seperti itu berlangsung. Tapi kala itu jelas terasa sangat lama. Dan menyiksa. Sementara itu kampung tambah kacau. Tentara pusat belum masuk, namun orang-orang makin ketakutan. Di beberapa tempat bom konon mulai berjatuhan dan kampung-kampung berubah jadi neraka. “Rumah-rumah hancur. Mayat bergelimpangan di mana-mana. Sawah musnah, dan kerbau serta sapi pada mati!” kata orang-orang.

Dan rasa takut kian menjadi-jadi ketika suatu hari muncul dua pesawat terbang di langit kampung kami yang bersih. Orang-orang lari serabutan masuk lubang perlindungan. Agaknya saat itu hanya ayah yang tetap di luar. Ayah termenung seperti biasa di beranda, dan tak peduli pada imbauan ibu, nenek ataupun kakak-kakakku. Lalu dengan tenangnya beliau menyaksikan pesawat-pesawat terbang itu berputar dua kali sebelum lenyap entah ke mana.

“Mereka takkan menembak!” jawab ayah sewaktu kutanya mengapa dia tidak ikut sembunyi. “Tidak ada tentara yang menembak rakyat! Kau camkan itu. Jika ada yang menembak rakyat di abukan tentara. Tapi perompak. Bandit!”

Tidak begitu kupahami maksud ayah waktu itu. tapi dalam hati aku bangga melihat keberaniannya. Itu pula mungkin yang membuatku tetap ke sekolah pagi-pagi bersama beliau, di samping takut dimarahi ibu. Padahal saat itu kawan-kawanku semakin banyak yang tak datang ke sekolah.

***
“INI betul-betul sudah keterlaluan!” seru ayah suatu ketika membanting tas sekolahnya. Muka beliau merah. Napasnya sesak. Namun ibu diam saja. Ibu bergegas ke belakang membuatkan teh dan menghidangkan di hadapan ayah. Kemudian dibenahinya tas ayah, diletakkannya di meja dekat buku-buku ayah yang tersusun rapi.

“Dari hari ke hari kian hilang saja anak-anak dari sekolah!” kata ayah lagi. "Tadi hanya empat orang yang hadir. Empat orang!” Ayah mulai terbatuk-batuk.

“Minumlah dulu. Tambah sakit dada Engku itu nanti,” sahut ibu memperhatikan ayah.

“Lama-lama sekolah ini bisa usai kalau tetap begini. Dan anak-anak akan tetap bodoh. Akan menjadi kuli. Akan jadi budak dan orang terjajah seperti nenek moyangnya!”

“Orang-orang tua itu hanya khawatir melepas anak-anaknya ke sekolah dalam keadaan begini, Engku,” jawab ibu.

“Itu yang keterlaluan! Mereka tak bisa lagi berpikir waras. Mereka melibatkan anak-anak dengan kekhawatiran yang tidak jelas. Dengan ketakutan yang dibuat-buat!”

“Tapi bukankah perang memang sudah meletus? Dan tentara dari pusat sudah menyerbu?”

“Tetapi yang mereka serbu bukan rakyat!” kata ayah keras. “Sudah sering aku sampaikan itu. Juga kepada orang-orang kampung. Yang mereka serbu bukan kita. Bukan anak-anak yang belajar di sekolah rakyat. Tapi pemberontak!”

Ibu menunduk. Tetapi kali ini ibu melihat dulu kiri kanan, juga ke halaman serta ke jalan kampung di depan rumah. Ibu bagai ketakutan. Sementara ayah masih nyerocos.

“Pokoknya ini tidak bisa kubiarkan! Aku harus bertemu Wali Nagari. Sebagai pimpinan dia mesti berbuat supaya orang kampung menyuruh anak-anaknya kembali bersekolah!’ kata beliau. Lantas melangkah ke halaman. Ibu tertegun.

Dan keesokan harinya terjadi keanehan yang lebih mencekam. Aku sudah rapi sewaktu ibu mencegahku ke sekolah. Ayah memandang ibu lama-lama. Wajah ibu kaku. Lalu ayah menatapku. Lalu tanpa berkata-kata ayahberangkat sendiri ke sekolah.

“Mengapa ibu cegah aku ke sekolah?” tanyaku tak mengerti.

“Karena sekolah kau libur.”

“Tapi mengapa ayah berangkat?”

“Karena ayah kau guru.”

“Tapi….”

“Sudah. Jangan kau bertanya lagi!” ibu mendelik.

Aku memang tidak bertanya lagi. Tetapi hatiku gundah. Entah mengapa aku sedih melihat ayah ke sekolah sendiri. Begitu pula keesokan dan keesokan harinya. Ayah berangkat sendiri. Dan pulang seperti dulu, sebelum kampung menjadi aneh.

***
KEMUDIAN jalan kampung kami yang lengang tiba-tiba saja dipenuhi tentara. Di mana-mana tentara. Juga di halaman depan dan belakang. Dan mereka juga masuk ke rumah. Kami gemetar ketakutan. Ingat cerita-ceita yang mengerikan itu. Ingat rumah-rumah yang dibakar, orang-orang yang ditembak, atau bom-bom yang berjatuhan. Tapi ayah tetap tenang. Semua pertanyaan dijawabnya dengan lancar dan sopan. Karena itu mungkin beliau agak tersinggung waktu ada yang membentak-bentak.

“Saya guru. Seperti saudara-saudara saya juga bertugas untuk bangsa dan negara. Harap dimengerti itu!” ujar ayah.

Lalu ada yang berseru dari halaman. Dan entah bagaimana ayah kemudian dibawa ke kantor Wali Nagari. Tapi sorenya sudah pulang lagi. Rupanya itu cuma untuk memudahkan interogasi, karena kantor Wali Nagari sudah jadi markas tentara dan Wali Nagari beserta staf telah lari ke hutan. 

Namun kami tetap cemas. Apalagi tiga hari kemudian, lepas magrib, muncul orang-orang tak dikenal lewat pintu belakang. Mereka mengaku utusan Pak Kombat dan Wali Nagari. Mereka bicara dengan ayah dan seperti minta sesuatu. Tapi ayah menolak.

“Saya tidak bisa melakukan itu. Saudara-saudara tahu tugas saya adalah mengajar dan mendidik. Bukan yang lain-lain!” jawab ayah tegas. Mereka pun jadi jengkel dan menyebut ayah keras kepala. Kemudian pergi.

Tetapi sejak itu silih berganti saja yang datang ke rumah kami. Dan selalu di malam hari. Ada juga yang sekadar minta makan dan ayah menyuruh nenek atau ibu menjamu mereka. Namun kami tetap ketakutan.

Malam-malam memang telah berubah jadi menakutkan di kampung kami. Karena esok pagi orang sering mendapati mayat terbujur di pinggir jalan, di pematang sawah, ataupun di halaman rumah. Mungkin korban tentara pemberontak, karena dianggap mata-mata, tetapi mungkin juga anggota pemberontak, karena dianggap mata-mata, tetapi mungkin juga anggota pemberontak itu sendiri. Atau salah seorang tentara pusat.

Dan suatu malam ruang kami kembali diketuk orang. Tiga orang berkerudung sarung kemudian meloncat masuk sewaktu pintu dibuka. “Tentara pusat!” ujar mereka. Lalu meminta ayah ikut malam itu juga ke kantor Wali Nagari.

“Untuk apa?”  

“Untuk keamanan, Engku Guru. PRRI malam ini akan menyerbu!”

Ayah menolak. Kata ayah dia tidak ada urusan dengan PRRI, dengan tentara pusat, dengan perang. Tetapi mereka bilang itu perintah komandan. Ayah bersikukuh tidak mau ikut. Dan orang-orang itu seketika berubah kasar. Tangan ayah mereka tarik, dan tubuh ayah mereka dorong ke kegelapan malam. Ibu menjerit-jerit. Nenek menangis. Kami semua menangis.

***
SEWAKTU mayat ayah ditemukan menggeletak di rerumputan halaman sekolah, lima hari kemudian, aku ingat ucapan beliau yang mengatakan bahwa yang suka menembak rakyat bukanlah tentara. Tapi bandit. Rasanya waktu itu aku mulai mengerti, dan sangat setuju dengan beliau. Namun yang tetap sulit aku pahami, juga sampai kini, mengapa ayah dibunuh. Toh ayah cuma seorang guru. Dan tidak lebih dari itu. ***

Jakarta 31.7.1993

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adek Alwi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Minggu 17 Oktober 1993

0 Response to "Ayahku Guru"