Azazel | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Azazel Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:29 Rating: 4,5

Azazel

Azazel (1)

Kita adalah kembar yang gemetar di muka imam agung sebelum akhirnya berbeda nasib. Kita hanya dua kambing

jantan. Sehat, cacat tak ada. Terbaik dari segala kambing Israel, terpilih untuk tumbal hanya. Kita yang menangis diam-diam usai pupus segala degup bangga, lantas sadar akan kesudahan takdir.

"Mana sebenarnya yang terbaik antara undian bagi Tuhan dan Azazel?" kau coba bergumam, memecah sepi yang buntu. "Tak ada, Azazel pun sebenarnya mayat belaka berbalut kehidupan. Terbuang ke runcing sepi," kujawab bagai igauan. Gamang.

Undian sudah dijatuhkan depan pintu Kemah Pertemuan, di hadapan Allah yang konon murka: Kau korban bagi Allah, aku Azazel. Maka menetes air di matamu, sesaat sebelum padam usiamu. Sedangkan aku, kelak menempuh hari berduri. Memanjang ke kaki cakrawala.

25-05-2014

Azazel (2)

Siang membara bagai tembaga. Mezbah akasia pun warna tembaga. Di halaman kemah suci, hiruk orang memindahkan dosa setahun ke ubun-ubun kita. Tembaga! Tembaga! Penghukuman dan murka! Tembaga! Tembaga! Harus ada korban pengganti!

Gemetarkah engkau, atau belum jua paham akan nasibmu, saudaraku?

Di wajahmu ngungun angin yang amis menggenang beku, sebelum sebilah belati dengan mata licik dan jahat mengalirkan darahmu - getah karet paling subur. "Darah itu menyimpan nyawa," seseorang berbisik bagai doa. "Dan tiada tebusan tanpa curahan darah," seseorang seperti menyahut. "Dosa yang laknat beralih sudah ke ruang paling kudus melalui darah," ujar yang lain. Kau tak lagi dengar. Selain erang darahmu berjuang padamkan api - murka Bapa.

25-05-2014

Azazel (3)

Tapi padaku belati tak sayat. Dingin telapak imam agung tangkupi kepala: "Ya Allah, selalu tak berhingga dosa kami dan hukuman itu tak kuat kami tanggung. Maka segala dosa dunia, kami timpakan ke atas kambing ini." Maka, mataku sontak menggelap.

Aku Azazel. Hanya seekor kambing. Aku hitam, tapi bukan lantaran kulitku. Aku hitam karena padaku ditimpa segala dosa dan sial bangsa ini. Di punggungku beban najis tak terbatas. Terbuang ke gurun, tandus dan asing. Bau jejak kaki pun sembunyikan diri. Tersesat aku, terhilang selamanya. Teman tak ada.

Di mana engkau, Bapa?

Laknat dosa, laknat dosa! Alangkah pahit di pangkal lidah!

Di kecamuk pilu murka Bapa, di celah gemertak tulangmu dalam terik api mezbah tembaga, seperti masih kudengar suaramu tercekat dari tenggorokan yang kulai.

25-05-2014

Cyprianus Bitin Berek adalah alumnus Fakultas Ekonomi, Universitas Atma Jaya, Yogyakarta. Sekarang ia tinggal di Kupang. Bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Cyprianus Bitin Berek
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Minggu 11 Oktober 2015

0 Response to "Azazel "