Begitu Luka, Begitu Dini di Bromo | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Begitu Luka, Begitu Dini di Bromo Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:01 Rating: 4,5

Begitu Luka, Begitu Dini di Bromo

PUKUL tiga dini hari. Angin bertiup dingin seperti setan lewat. Kabut putih tipis melayang perlahan.
“Kau hapal daerah sekitar sini, bukan? Kau bisa berjanji tak akan menabrak patok pembatas jalan? Kalau kau oleng, kita ambruk, patah tulang, semua kegiatan hari ini akan runyam. Laki-laki itu memang akan peduli dan memberi perhatian, bahkan mungkin saja membatalkan segala rencana dan kegiatan demi membawaku ke rumah sakit. Tapi perempuan yang akan menjadi calon istrinya pasti berpikir aku sengaja melakukan sabotase. Aku tidak ingin membikin keributan.”

Hrrr... hrrr....

Kuda berbadan tegap itu mendengus. Kepalanya meleng ke kanan. Badannya bergoyang sedikit ke kiri. Tangan perempuan itu tetap tenang menggenggam tali kekang. Ia sedang menghitung keselamatan perjalanan dalam jarak pandang terbatas. Tidak tahan lagi oleh perasaan sesak yang begitu dalam, ia memacu kuda. 

Heya heya!

Hewan tunggangan itu berderap gagah. Angin menerpa membikin pakaian dan ujung syal berkelepak keras. Mereka terus berderap, berderap, dan terus berderap. Sudah berapa lama ia tidak lagi memacu kuda? Sewaktu kecil ia sering dibonceng bapaknya berkuda di padang pasir di kaki gunung Bromo. Sepeningal laki-laki paruh baya itu yang bisa ia lakukan kemudian hanya mengamati sebuah foto lawas; seorang gadis kecil memeluk pinggang bapaknya erat-erat, kakinya menggantung di sisi samping perut kuda, tubuhnya berbalut jaket tebal, topi dibenam begitu rapat, anak kecil itu tampak seperti gulungan bola kain kumal. Di bagian belakang tampak sedikit matahari pagi yang bersemburat oranye cerah. Seorang wisatawan yang mengambil gambar mereka—yang setahun kemudian datang lagi ke Bromo untuk menyerahkan versi cetaknya.

Perempuan itu mengurangi laju kuda. Sebelum padang pasir, mereka harus melewati sebuah jalan sempit dan curam. “Gelap sekali. Aku percaya padamu.” Berdua tertatih-tatih menuruni jalan. Hingga mereka tiba di padang pasir yang begitu luas dan begitu gelap. Di kejauhan dua gunung berdiri bersebelahan dengan padang pasir hitam membentang. 

Perempuan itu kembali memacu. Matanya awas. Bila melihat deret panjang balok-balok putih ia akan mengarahkan kudanya menyisir jalan lain. Sambil terus berderap maju, perempuan itu ingat masa lalu. Kali pertama dikenalkan kuda oleh bapaknya. Waktu itu karena panik dan takut ia malah menarik tali kekang sehingga kuda kencang berlari. Hampir saja ia terpelanting jatuh. Untung bapaknya berhasil mengejar dan mengendalikan kuda. Ia yang gemetaran hebat turun dibantu Liknya dan kemudian dipeluk bapaknya kuat-kuat. 

”Tidak perlu takut. Ayo, naik lagi.“

Selang beberapa tahun kemudian, orangtuanya meninggal karena kecelakaan di Pasuruan. Perempuan itu tinggal di rumah paman dan bibinya di Surabaya. Perempuan itu baru sadar. ’Tidak perlu takut. Ayo, naik lagi‘ pada waktu itu sebenarnya ia sedang diajari menjadi seseorang yang tangguh. 

Perempuan itu berhasil menyelesaikan kuliah dengan bertekun-tekun belajar, jarang makan hingga perut melilit sehingga tidak bisa tidur—ia memanfaatkan keadaan tersebut untuk terus belajar. Perempuan itu berhasil lulus dengan nilai sangat baik, langsung bekerja, jarang berfoya-foya. Saat telah terkumpul banyak uang ia membeli kamera, kemudian berhenti bekerja untuk belajar fotografi. 
Selesai program belajar, ia melamar bekerja sebagai asisten fotografer. Pemilik studio menyukai kerja keras, ketekunan, dan hasil jepretan out door­-nya. Ia dibilang memiliki sudut pandang sisi liar alami. Begitu murni dan tulen bila dibanding dengan mata fotografer yang sejak lahir hingga dewasa hanya tinggal di kota besar. Mereka kemudian menjadi dekat. Kejadian klise; perempuan itu menyukai si laki-laki, si laki-laki tidak karena sudah memiliki kekasih dan akan menikah. Bila masalah kemudian berhenti pada bagian tersebut tidak menjadi masalah. Namun Tuhan tidak mau tanggung-tanggung saat menguji ketabahan hatinya. Ia ditahan saat mengajukan surat pengunduran diri.

”Jangan pergi dulu. Bantu aku sekali lagi baru kau kuijinkan pergi.“

”Apa?“

”Jadilah fotografer untuk foto pre-wedding kami; aku dan calon istriku.“

”Di Bromo saja, ya?“ Perempuan cantik, langsing, putih, berambut panjang ikal itu tertawa renyah. ”Foto pre-wedding di Gunung Bromo sepertinya ‘lucu’.“

Dua hari yang lalu mereka berangkat. Rombongan menginap di rumah Paklik perempuan itu. Hari pertama dihabiskan untuk pelesir. Tepatnya laki-laki itu dan calon istrinya yang berputar-putar menikmati pemandangan. Perempuan itu dan teman-teman yang lain mengecek kondisi dan memindai lapangan untuk lokasi pemotretan. 

Saat malam ketika udara dingin turun memenjara segala kehangatan, perempuan yang cantik merajuk manja sambil memeluk-meluk calon suaminya, ”Dingiiin….”

Perempuan yang terluka hatinya izin masuk dengan alasan harus segera istirahat. Di dalam kamar ia memasang headset, mendengarkan musik, menarik topi semakin dalam, duduk mencangkung termenung-menung hingga jatuh tertidur. Pukul tiga ia terbangun dengan perasaan sesak luar biasa hingga ingin menangis. Mengendap-endap ia menggelandang keluar kuda milik Pakliknya.

Di sini ia sekarang. Melaju dengan tubuh yang melenting-lenting ringan. Ia berusaha keras tidak meneteskan air mata atau pandangannya akan kabur. 

Nasihat ’Tidak usah takut. Ayo, naik lagi‘ kembali terngiang. Tapi ini mengenai perasaan. Apa yang bisa dilakukan seorang manusia bila kesedihan dirinya adalah mengenai perasaan? Terlebih pada hal yang begitu dalam. Terlebih bila perihalnya adalah cinta. 

Perempuan itu masih berderap, berderap, dan terus berderap. Hingga akhirnya ia memutuskan berhenti. Napasnya terengah. Lalu ia menangis. Menangis yang tertahan-tahan, pilu dari perasaan yang paling dalam. Ia menunduk dengan bahu berguncang. Kesedihan bisa disalurkan pada air mata yang dikeluarkan selepas-lepasnya. Agak lama ia berada dalam posisi yang demikian. Kemudian ia menegakkan tubuh. Berteriak keras. Begitu lantang. Kemudian terengah-engah mengendalikan diri. Matanya bengkak. Wajahnya basah. 

Perempuan itu mengatur napas satu per satu. Merasa cukup  tenang, ia melajukan kuda. Berderap tanpa kecepatan penuh di atas pelana memberinya kesempatan menghapus bersih air mata di wajahnya. Mata yang bengkak dipikirkan nanti saja.

Kuda di arah menuju Penanjakan. Di sana ia menitipkan hewan sangat pengertian itu pada salah satu bapak penjaga. Ramai di anak tangga. Dengan menyimpan kedua tangan ke dalam saku jaket, ia berlari melompati satu demi satu anak tangga dengan lincah. Menyalip orang-orang yang bergerak lambat. Tiba di atas dalam waktu relatif singkat. Ia kemudian menelekan lengan pada pagar pembatas dan diam menunggu. Hening, hikmat, hayat. Matahari pagi bergerak naik. Tidak ada yang bisa menjelaskan dengan baik betapa sempurna keadaan saat matahari terbit perlahan-lahan, awan-awan seperti mengambang bergerak perlahan, semburat-semburat warna langit. Perempuan itu diam menghikmati, menghayati, menyesapi. Sementara di kanan dan kiri sibuk ber-klak-klik berkali-kali. 

Perempuan itu kembali merasa sedih. Sedih sekali. Sepi. Sepi sekali. Kembali ia teringat pesan bapaknya. ”Bayangkan pasir yang terbang berputar-putar ditiup angin, penjual mawar gunung menggigil kedinginan, penuntun kuda mengharapkan pendapatan yang layak, tukang ojek dengan derung knalpot dan sigap meliuk-liuk saat melintas lautan pasir penuh konsentrasi, kepulan debu dari gesekan ban belakang jip, semak cokelat liar, savana hijau saat musim hujan, semua itu ... betapa begitu sendiri. Sendirian. Nah, kau memiliki sobat yang juga sama sendirinya kalau begitu. Di mana pun kelak kau berada dan merasa sepi, ingat saja mereka. Bawa segala kenangan mengenai kepul indah nan sepi itu dalam dirimu, maka kau akan berasa memiliki teman.“

Tidak sampai matahari benar-benar tinggi, perempuan itu kembali turun. Menyapa penjaga kuda, mengucapkan terima kasih, dan kembali berderap-derap. 

***
Jantung perempuan itu seakan berhenti berdetak. Lelaki pemilik studio foto sudah berdiri menunggu di halaman depan rumah. Berjaket tebal, topi tertarik begitu dalam, dan bergerak-gerak gelisah demi mengusir dingin. Perempuan itu melompat turun, menyimpan kuda, baru kemudian kembali ke depan. 

Pagi merekah. Langit mulai cerah. 

“Menikmati perjalananmu?” tanya laki-laki itu. ”Aku mengikutimu sejak kau keluar. Karena tidak bisa mengikuti dan mengejar, aku menunggu di sini. Kalau tidak ada teh panas bisa mati beku aku karena terlalu lama menunggu.“

”Melaju kencang seperti itu.” Laki-laki itu melanjutkan. ”Aku membayangkan kau dalam gaun pengantin rancangan Mikaela Schipani. Kau ingat kita pernah bekerja sama dengannya. Aku pernah melihat salah satu koleksinya yang belum sempat dipamerkan. Gaun pengantin dengan model pakaian silat; berlengan panjang, celana komprang, berkibar, dan minimalis warna. Aku membayangkan kau mengenakan pakaian itu. Kain merah marun membebat erat pinggangmu yang ramping, sandal bertali tinggi berwarna cokelat. Yang menunjukkan bahwa itu adalah gaun pengantin hanyalah dominan warna putih gading pada keseluruhan, juga bridal bouquet, dan kain panjang berenda tipis yang mengikat rambutmu serupa ekor kuda. Kau, seperti pendekar kemudian melenting ringan ke atas. Seperti terbang. Kemudian duduk anggun di atas pelana. Menggunakan continous shot, dengan pengambilan sudut pandang yang tepat, aku bisa menghasilkan montase gambar melayang yang indah.”

”Tapi bukan aku yang akan mengenakan pakaian pengantin hari ini.“

”Ya.“ Laki-laki itu berdeham. Sepertinya ia sudah melihat mata bengkak perempuan di sampingnya. Tiba-tiba laki-laki itu memeluk si perempuan. Erat. Erat sekali. Perempuan itu tidak balas memeluk, hanya berdiri diam, kaku, dengan kedua tangan di samping. 

”Entah kenapa udara Bromo pagi ini membuatku sedikit melankolia,“ katanya setelah melepas pelukan. ”Setelah selesai dengan urusan pemotretan, kau akan pergi. Begitu?“

”Ya.“

”Aku akan merasa sangat kehilangan.“

Angin pagi Bromo berembus dingin. Dingin sekali. Perempuan itu tidak lagi merasa sedih—setidaknya tidak separah dini hari tadi. Setelah segala urusan menyakitkan ini rampung, ia akan pindah kota. Bisa jadi ke Jakarta atau Surabaya. Atau malah kembali ke sini. Kaki Gunung Bromo. Tinggal untuk menyembuhkan perasaan luka. Ia masih bisa mengambil gambar, mencetaknya di kota, dan kemudian mengirimkannya pada majalah-majalah perjalanan. Atau apapun. Segala hal yang menyibukkan diri sehingga ia bisa jatuh cinta kembali. []

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Desi Puspitasari 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara NTB" Sabtu 24 Oktober 2015


0 Response to "Begitu Luka, Begitu Dini di Bromo"