Desis Hari Minggu - Oase Kemarau - Cermin - Secangkir Kopi - Paradoks, 1 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Desis Hari Minggu - Oase Kemarau - Cermin - Secangkir Kopi - Paradoks, 1 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:53 Rating: 4,5

Desis Hari Minggu - Oase Kemarau - Cermin - Secangkir Kopi - Paradoks, 1

Desis Hari Minggu

Aku pernah lahir sebagai ular
Pada hari minggu
Lalu tumbuh bersama lidah dan desis
meski tanpa menyisakan air liur
di sudut sudut mimpiku
Maka ketika kali ini
aku berulang tahun
Engkau tahu , entah siapa
tiba-tiba saja menghapus tanggal
yang merah dan mengingatkan aku
pada bau amis dan darah
Bukankah ini hari Tuhan
Masihkah engkau memimpikan
Tubuh perawan?
Aku tak peduli
karena aku adalah desis
yang rimbun di lidah bercabang.
2015 

Oase Kemarau 

Kutitipkan pada laut kemarau seberkas cahaya bulan
Agar keringat dahaga tak teranyam dan berkelindan
engkau gali hati setulus perigi yang menimba dalam
kau cuci jubah musim dalam hentak irama karam
Kutulis oase tergurat ranggas pohon tak bertunas
Menguapkan akarakar hutan daundaun lepas
kuraup langit berserak udara berangkat mengelupas
sisiksisik waktu memahat paras lukisan cemas

2015 

Cermin 

kaulihatkah purnama yang tergenang di cermin itu
sementara langit mengombakkan kemarau
Udara panas menyisipkan tembang memelas
di antara pepokokan kamboja pagar kuburan
Lolongan perih serigala meraut rembulan
Puisi telah kehilangan majasmajas pesona
Ditingkah keasingan menjelma pada paras
mereka yang bertugur dan bersembah kepada kilau
batu
Dan mereka memamah cermin itu
dengan kehausan jiwa
yang tak pernah lunas
Otak mereka diamdiam meranggas
menyemburkan anganangan yang telanjur bias!

2015

Secangkir Kopi 

Merenangi secangkir kopi
Serasa menggapaimu
Demi seuntai rindu
Diamdiam mengupas nadi
Pahit yang tercecap
kelam yang terselam
memantik pijar di ruang kepala
sarat angka dan aksara
Menyelami secangkir kopi
serasa meretas cakrawala
Dan membelakangi matahari
Di saat cinta mulai alpa
Membunuhmu dalam irama nyeri

2015 

Paradoks, 1 

Hujan telah mencintaimu tanpa katakata
serupa kemarau menyayangimu tanpa dusta
Di sebelah mana kita letakkan kacamata
di situ sisi mata uang tergambar jelas
Nyaris tanpa rekayasa

2015 



Heru Mugiarso, penulis sajak dan pegiat sastra yang tinggal di Semarang. Peraih penghargaan sebagai penyair terbaik 2003 dari Komunitas Sastra Indonesia. Antologi puisi tunggalnya yang pernah terbit Tilas Waktu (2011).



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Heru Mugiarso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 25 Oktober 2015

0 Response to "Desis Hari Minggu - Oase Kemarau - Cermin - Secangkir Kopi - Paradoks, 1 "