Ibu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ibu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Ibu

IBU sakit!

Aku sudah mulai gundah sebab sakitnya ini lain dari biasanya. Biasanya kalau Ibu sakit, aku pijit keningnya, kaki, dan seluruh badannya aku bedaki dengan lulur rempah-rempah. Setelah itu sakitnya akan berkurang. Kemudian kubuatkan bubur ayam dan kusuapi, selesailah sudah tugasku. Artinya besoknya Ibu pasti sudah dangan. 

Tapi sakit ibu sekarang semakin lama semakin parah. Sebagai anak tunggal, maka pamungkas tugasku sebagai anak harus habis-habisan. Apapun yang harus diperlukan aku tidak bisa bilang tidak. Aku harus bilang ya pada Ibu. Barangkali ini ungkapan jawabanku yang paling bermakna, sebagai jawaban kecintaan dan rasa kasih lubuk terdalam. Ya aku mengasihi Ibu.

Maka ketika tengah malam Ibu minta dibuatkan minuman hangat dari jeruk sunkist, maka malam itu pula aku membelinya. Ketika menjelang subuh Ibu ingin aku mengaji untuknya, maka aku bacakan ayat-ayat Alquran. Biasanya setelah mendengarkan aku mengaji, Ibu terus sare. Dalam kondisi tenang itu, aku pandangi wajahnya. Wahai ya Allah …. Mata Ibu sudah begitu cekung, guratannya begitu jelas, putih rambut, idep serta alisnya. Jari jemarinya, tangan serta kakinya begitu kurus, bagai pohon bambu kuning. Aku menghela nafas panjang-panjang.

Haruskah … ya haruskah Ibu akan pergi secepat ini, pertanyaan ini sering menggedor batinku. Seperti halnya semua insan punya Ibu, semua makhluk punya induk, semua air punya hulu.

Ketika aku melihat aku menarik masa lalu kebersamaanku dengannya. Romantika kausa prima yang menerpa ke segala kelenjar syarafku. Maka ketika Ibu berkata, “Janganlah sia-sia menjadi manusia, anakku,” pintu dinding batinku seperti digedor-gedor. Sebagai manusia, sebagai anak, aku menjadi kurang komplit, kadang aku sering menolak saran Ibu yang kuanggap tidak relevan dan kuno. Kadang aku sering marah-marah tidak karuan juntrungnya hanya karena persoalan sepele. 

Tetapi saran dan pitutur Ibu sering menjadi kenyataan dan relevan, ketika sudah berselang waktu. Betapa berat tugas para Ibu, ya mengandung ya melahirkan ya ngrumati, neteki hingga lima tahun awal dari kelahiran anak-anaknya. Dalam perjalanan hidupku aku sering melihat seorang ibu, sambil mencari nafkah masih sambil menyusui anaknya. Ya di kantoran, di pasar, di gerbong kereta, di lokalisasi pelacuran, serta di tingkat awal kehidupan bayinya.

Aku sering terhenyak membaca koran ketika seorang ibu membuang bayinya di selokan, bak sampah. Maka memandangi Ibuku yang terbaring aku bagai melihat lembaran demi lembaran masa laluku.

Betapa penuh kasihnya, tetek yang dulu sesegar buah semangka kini bagai pelepah daun pisang, bibir yang begitu sering mendongeng, kini terkatup, mata yang dulu kukagumi kini terus terpejam, gerai rambutnya yang dulu sepantat, kini tinggal pendek dan memutih, serta tangan yang begitu kokoh untuk menggendongku, kini terkulai lemah bagai ranting patah. 

***
Ibu koma!

Sepulang dari kerja aku terperanjat! Isteriku menangis sambil menggendong anakku. “Ibu … Mas, Ibu …!” kata isteriku. Aku bergegas memasuki kamar tempat Ibu terbaring. Aku kelu mendapati beliau sedemikian cepat berubah. Nafasnya tersengal-sengal, air pun sudah gagal masuk ke bibirnya. Tak terasa air mataku menetes, aku peluk Ibu sambil aku kumandangkan Yassin dan zikir. Mata Ibu terbuka kemudian bibirnya bergerak-gerak, tapi tak ada suara. 

Temanku yang dokter aku panggil, dia menyarankan untuk ditunggui saja sambil mengingat-ingat pesan Ibu. Tiba-tiba istriku memotong pembicaraan kami “Mas … Ibu dulu nyuwun dibedaki daun kelor dicampur daun kopi.”

Aku merenung, teringat mendiang Eyang dulu “kalau anak dan keturunanku akan budal, maka harus disranani sebab keilmuan yang nyungsum harus luntur, sebelum nyawa mencar.”

Mengingat itu aku termenung sambil bergumam ya inilah hakikat ngelmu pikukuh. 

Lalu aku berucap pada teman yang dokter bahwa inilah yang dinamakan kegaiban. Bagian dari peristiwa transenden untuk menjembatani perjalanan rasional ke supra rasional. Semua milih Allah.

Sebagai manusia Jawa yang memasuki asketisme batin, aku sering menangkap bahwa perjalanan Ibuku akan segera berganti. Dari siklus kesemestaan indrawi memasuki ke siklus perjalanan astral rohani. Aku bisikkan terus menerus bacaan Yaasin dan semoga menjadi sajadah bagi pembuka tirai gaib menuju pintu perjalanan yang amat panjang, menjelang istirah keheningan.

Hakikatnya manusia mati itu hakiki dari kewajaran hidup, tapi sering ketika masih menjadi manusia, kita melupakan yang sudah pasti mati! Kita sering terjebak dengan kesementaraan.

Kita sering lupa ketika kemenangan atas manusia lain, hanya didapat dari kesemuan, bukan kesejatian hidup.

Maka akhirat menjadi pencerminan dari perilaku, ketika kita masih hidup. Pendewasaan diri menyemai kita, kalau kita mengingatnya bahwa entah kapan, kita akan dihentikan tanpa peringatan lebih dulu, kecuali orang-orang yang seluruh hidupnya ditumbuhkan, disemaikan untuk kepentingan kesejahteraan umat manusia.

***
Malaikat datang!

Nafas Ibu sudah makin tersengal-sengal, dadanya yang kelihatan tulangnya bergerak makin pelan. Beberapa orang sahabat, ulama dan tetangga berdatangan. Semua ikut membacakan ayat suci. Aku pangku Ibuku lalu kudekap terus menerus, sambil kukumandangkan azan serta bacaan Yaasin. 

Aku minta kepada istriku agar jendela kamar dibuka, serta anjing piaraan tetangga segera disingkirkan. “Ada apa mas,” tanya istriku, sambil diikuti pandang tetanggaku. “Wis ta mesti kok ndadak takon,” jawabku tegas. Lalu aku tawaduk.

“Ya Malaikat apakah sudah saatnya sekarang,” tanyaku terbata-bata.

“Ya Manusia, umat tertinggi derajatnya, aku datang memenuhi perjanjian kitab induk kalian,” jawabnya.

“Apakah tidak bisa ditunda, permohonanku ya Malaikat ini semata-mata kasihku pada Ibu,” jawabku sambil terus berzikir sambil air mataku berleleran.

“Ya Manusia, kami semua hanya melaksanakan tugas suci ini, tak bisa ditunda dan tak bisa dipercepat,” kata Malaikat itu semakin bercahaya, kilauan putih menerangi mata batinku. Aku terpana.

“Ya malaikat, imanku mengatakan ketaqwaan tertinggi manusia, ketika mampu menerima kenyataan. Aku pasrahkan kepadamu ya Malaikat, karena atas perintah Yang Maha Gaib, dan saat perjanjian telah ditentukan, aku menerima kenyataan Ibu, aku pasrah … Allah Hu Akbar…”

Nafas Ibu semakin pelan, matanya pepat terpejam, mulutnya terkatub rapat, wajahnya semakin pias. Aku ingin menjerit, tapi tertahan oleh kenyataan yang bercampur antara peristiwa transenden dan rasional.

Aku kumandangkan azan, tangan Ibu meraba wajahku kemudian terkulai, lalu nafasnya tinggal satu—satu, semakin pelan denyutnya dan … dengan hentakan cepat aku melihat empat Malaikat menuntun Ibu, melewati jendela terbuka bagai meteor empat cahaya putih berkilauan, melesat kembali dan pergi keharibaan Ilahi.

Jasab Ibu aku baringkan dengan ditutup kain putih. Bagian wajahnya terbuka, lalu sesekali aku cium keningnya, dengan membisikan bacaan ayat-ayat suci. Memandangi jasad Ibu, aku bagai memandangi perjalanan manusia, tak ada apa-apa, tak ada selang waktu antara hidup dan mati. Begitu juga kita. (36)

Rujukan:
[1] Disalin dari kary Untung Surendro 
[2] Pernah tersiar di koran "Suara Merdeka" Minggu 13 Oktober 1996

0 Response to "Ibu "