Kampung Kancil | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kampung Kancil Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:02 Rating: 4,5

Kampung Kancil

MENJELANG sore, belum genap pukul 15.00, warga geger. Kentongan pos ronda dipukul terus-menerus, ”Tong, toonngg, tooong, tooon, tooo, too, to . . . .” Tidak menunggu wara-wara lewat langgar, warga sudah tahu apa yang tersiar. Lewat bunyi, isyarat, pesan tertangkap. Warga Kampung Kancil sudah terbiasa berkomunikasi lewat tanda. Irit. Simpel. Tanpa keluar duit atau teramat bergantung seperti kebiasaan manusia masa kini dengan Hp pintar. Bunyi kentongan terus-menerus mempertegas suasana. Terlebih akhir-akhir ini kampung lagi panas. Tidak hanya karena sengat matahari kemarau menggilas, kampung sedang dirongrong sebuah kasus. 

Menurut desas-desus, ada ancaman para oknum kepada warga. Terutama Lasim yang ketika rapat desa jadi bulan-bulanan beberapa pemuda.

Lengking kentongan ronda tersebut direspons warga yang kala itu disibukkan dengan kerja. Warga tetap menjaga budaya. Berpesan dengan kentongan jadi salah satu kebiasaan yang tak tergerus zaman yang latah. Bunyi itu jadi isyarat sarat makna.

”Sinten, Le? Lasim lagi?”

Celetuk seorang lelaki paruh baya pada pemuda yang berjalan tergesa. Tidak hanya dua tiga, hampir empat-lima warga berkelompok jalan berderap. Mereka bak segerombol itik yang digiring pangon nuju kandang.

”nDak tahu, De,” sahut salah seorang. Tanpa memberhenti langkah, para warga yang segerombol tadi terus melaju. Suliman, lelaki paruh baya, keluar dari sawah. Tanpa perintah ia mengikuti jejak warga. Dalam putaran waktu, sudah berkerumun orang di Balai Desa. Begitu juga Suliman, tokoh ‘spiritual’ Lasim. Rasa penasarannya menggiring nuju kerumunan warga. Ia perlu, bahkan wajib hadir. Ia bertanggung jawab atas apa yang terjadi di Kampung Kancil. Terlebih pascarapat di Balai Desa.

”Kampreeeet ! ”

***
KAMPUNG Kancil, mulanya hutan lindung. Namanya diambil dari aktivitas masyarakatnya, dulu, pernah menjadi kampung ternak kancil. Saat ini Kampung Kancil jadi salah satu tempat terpadat. Karena itu, melalui perjuangan, daerah ini resmi dinamakan kampung. Hal ini terbantuk dengan mekarnya provinsi di Indonesia. Jika dibandingkan dengan daerah lain terdekat, kampung ini jumlah penduduknya tumpat. Padahal kampung ini pada mulanya sepi. Belum banyak yang memanfaatkan sumber daya alam untuk dieksploitasi. Mungkin karena tak tahu cara mengolah, terlebih mereka datang karena perintah pemerintah. Mereka datang pascareformasi, berduyun orang membuka lahan. Awalnya satu dua. Beriring waktu, lahan kosong sudah tak tampak. Mereka beranak pinak. Warga yang menjadi kepanjangan tangan program orde baru, berduyun dikirim. Persis hukum laju air, meluncur dari hulu ke hilir. Atas ke bawah. Dan mereka, datang dari berbagai daerah yang membludak jumlahnya. Hutan ini menjelma kampung, tempat mukim orang dari berbagai penjuru. Lambat laun mereka menjelma jadi pribumi.

Mula-mula mereka mengolah tanah. Bersawah, menanam padi-palawija.

Ada juga yang berkebun, menanam pohon-pohon yang sudah diprogram. Mereka juga berternak, mulai ayam, kambing, sapi, hingga kancil. Namun karena penduduk makin bertambah, lahan tanam jadi sempit. Tinggal daerah-daerah terjal, semacam bukit. Atau aliran sungai yang selama ini tidak menjadi bahan olahan favorit. Sebagai nadi dari tanaman yang mereka olah, sumber air  dijaga ketat. Para tetua yang menjadi generasi pertama program transmigrasi itu, sepakat untuk hanya mengolah tanah. Sumber air mereka jaga bersama. Bahkan dimanipulasi beberapa oknum agama, mereka ciptakan mitos-mitos. Tiap tahunnya buat tambahan rezeki. Mereka ciptakan doa-doa. Mereka gabungkan agama dan kebudayaan, lewat persembahan, lewat ritual-ritual. Mereka sepakati untuk mengolah alam untuk hidupi anak-istri, dengan mengikuti aturan-aturan.

Namun seberjalan waktu, beberapa pemuda mulai melenceng dari aturan leluhur. Apa yang dibangun dianggap tak perlu. ”Tidak relevan dengan hidup kekinian. Perlu di-upgrade,” tutur Wisnu suatu malam dalam rapat konsolidasi pengolahan pasir. Sambil mengernyitkan bibir, ia pandang Lasim. Dengan angkuh, ia hisap kretek dan menyemburkannya ke udara sambil menyergah ”Hidup makin sulit. Rupiah terjepit, kartu sakti sampai hari ini pengurusannya rumit.” Mereka yang datang cuma menung. Ada yang komat-kamit, berbisik kiri kanan. Tapi suaranya tak mengalahkan kerik jangkrik, seakan tak ada gunanya.

”Ini tidak manusiawi!” Lasim mengeluarkan pendapat pertanda tidak sepakat.  

”Kita harus berpikir ulang. Penggalian lahan itu akan memperparah aliran air sebagai sumber utama kegiatan kita. Selama ini, tanpa penggalian kita bisa bertahan. Ingat pesan leluhur.”

”Sampai kapan derita ini berakhir, Sim?” sambar Sobari yang duduk di sebelah Wisnu.

”Ini bukan derita kita saja, semua mengalami hal yang sama. Kemarau ini pasti berlalu. Dan kita mestinya . . .” 

Belum selesai kalimat diujarkan, Wisnu membantu Sobari. Tapi beberapa warga sesuara dengan Lasim. Dua pendukung dari perbedaan pendapat membuat rapat tambah riuh. Bahkan beberapa mengeluarkan sorak sorai bak derap kuda di medan laga. Teriakan para pendukung bersahutan dengan mereka yang tidak sepaham. Satu dua mengancam, menghentak pintu dengan geram. Ada juga yang menghempas kursi-meja ke lantai nyatakan sikap tak santai. Ruang sempit makin menegaskan permasalahan yang pelik. Sebagian besar tampak ingin membiarkan biji mata melompat dari wajah-wajah berminyak.

”Tenangkan diri kalian!” sambar Pak Rah santai. Semua diam seketika. Wisnu pun tiba-tiba menginferiorkan diri dihantam superioritas Pak Rah. Sebagai seorang kaya, yang punya banyak usaha, kuasanya melebihi warga lain. Terlebih saat ini ia masih jadi kepala kampung secara administratif kenegaraan.

”Jangan anarkis. Kita harus melihat masalah dari bermacam arah. Kita perlu mengamankan keadaan. Ingat, harus diamankan. Ini demi kepentingan bersama,” jelasnya dengan nada wibawa. Sebagai seorang penguasa, meski bertaraf kampung, retorikanya cukup mumpuni menaklukkan keadaan. Buktinya, kepemimpinannya saat ini sudah kali kedua. Bermanis-manis kata memang sangat dibutuhkan di zaman yang serba rumit dan sulit semacam sekarang.

*** 
”Kuncinya di kamu. Pohon saja harus ditebang. Perintah Pak Rah, tidak hanya pohon. Batu harus dibuang jika melintangi jalan. Warga akan mengikuti apa katamu. Tanda tanganmu akan jadi magnet untuk tanda tangan yang lain, juga . . .” Wisnu menjelaskan panjang lebar. Itu sudah jadi tugasnya. Sebagai seorang antek. Keroco kampung. Setelah berapa lama, dia dan gerombolannya pergi meninggalkan Lasim yang saat itu sedang memberi makan sapi milik Suliman di kandang. Perkataan Wisnu, juga kedatangannya ini merupakan yang kesekian kali. Hampir tiga mingguan kerjaannya wara-wiri nemui Laim. Perkataannya pun cuma itu-itu saja. Ia terus menekan dengan kalimat bernuansa ancaman.

Lasim benar-benar merasa tertekan. ”Jangan takut, intimidasi harus dihentikan agar tidak selalu tertindas!” bisikan kecil dari dalam dirinya. ”Tapi ingat, harus dengan tenang dan damai,” bisikan lain mencuat. ”Untuk hentikan angkara, memang harus dari akarnya,” ia mengulangi pesan Suliman ketika berdiskusi sepulang rapat di Balai Desa. Ia katakan pesan itu pada diri sendiri dengan berulang-ulang. Matanya pun bersitatap dengan mata sapi yang hidungnya tertusuk tambang. Sapi yang tidak jadi dikurbankan. Ia dekati tambang di hidung sapi, sebab merasa senasib. Baginya, lilitan tambang di hidung sapi bukan tempat yang pas.

***
”BRENGSEEEEK!” umpat Wisnu kalap. Keadaan makin riuh tak terkendali. Orang-orang mulai berbisik-bisik. Beberapa orangtua mengamankan anak mereka yang belum dewasa. Mereka takut keadaan semacam ini akan menghadirkan trauma. Tapi Wisnu dan gerombolannya tidak pernah berpikir sejauh itu. Dia terus mengumpat, mengacungkan golok ke segala arah.

”Mampus kau! Kau tidak akan lepas, Lasim. Tarik tambangnya. Cepat tarik ...” Wisnu dengan kalap memerintah keroconya. Ya, keroco kampung ini memerintahkan keroco-keroconya. Tak lama berselang makin ramai kerumunan. Mulai dari anak-anak, ibu-ibu, bahkan teriakan Wisnu menghentikan laju kendaraan orang yang mulanya cuma lalulalang. ”Turunkan. Lepaskan tambangnya,” Wisnu makin kalap.

Dalam kegaduhan, segerombol pemuda yang berduyun dari arah sawah, bak segerombol itik yang digiring pangon nuju kandang, datang clingak-clinguk. Wajah mereka bersinar, persis seperti sebagian besar wajah warga yang sudah lebih dahulu berkerumun. Tak lama lelaki paruh baya yang bernama Suliman juga datang. Ia tatap jasad yang dililit tambang. Ia memastikan, apa itu Lasim. Setelah tampak wajah Pak Rah yang terlilit, pikirannya tetap tertuju pada Lasim. Ia merasa agak tenang, tergambar dari senyum tipis wajahnya.

”Habis gelap terbitlah terang,” gumamnya dengan diri sendiri, yang mungkin juga dipikirkan mayoritas warga. - k

Jejak Imaji Yogya, 2015

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Iqbal H Saputra
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 11 Oktober 2015

0 Response to "Kampung Kancil"