Kisah Cinta Menikung Si Tukang Kabung | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kisah Cinta Menikung Si Tukang Kabung Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:15 Rating: 4,5

Kisah Cinta Menikung Si Tukang Kabung

DI kampungku, tiap hari pekan, berbagai macam orang akan keluar menuju pasar yang terletak di seberang jembatan. Maklum, pasar diramaikan hanya tiap hari Minggu. Sepanjang hari libur itu, biasanya aku dan kawan-kawa akan nongkrong di pos ronda sekedar mengamati orang yang rajin ke pasar: yang suka berangkat pagi atai siang, yang kembali cepat atau pulang petang. Lebih dari itu, kami menandai orang tertentu yang hanya akan lewat pada semata hari Minggu. Pak Mirus si pengumpul telur dengan matanya yang liar, kabarnya ia penyuka anak perawan; Etek Inu pedagang petai bersepeda jantan, yang petai-petainya ia gantung di setang dan batangan sepedanya itu (selain, tentu, ada yang dalam karung juga), sehingga sepeda itu tampak seperti kendaraan karnaval; Uni Ijai penjual cabel bertengkuluk besar; hingga Side penjual jam dengan mobil pick-up mini-nya yang kami sebut sebesar kotak korek api dan berderak-derak juga seperti anak korek api.

Sekali sepekan Palakek pedagang ikan lewat membawa keranjang lebih besar. Tak seperti hari biasa yang ramai oleh teriakannya sepanjang jalan, "Ikan, ikaaa!", pada hari pekan ia akan diam seolah isyarat bahwa pada hari itu semua ikan khusus dijual di pasar. Menguntungkan tentu saja, ketimbang berkeliling kampung besua ibu-ibu yang selalu minta jatah tukuk-tambah. Pernah kami uji sikap diam Pak Palakek itu. Seorang di antara kami memanggil ketika dia lewat, "Ikaaa!" Ternyata dia berhenti. Susah-payah ia undur sepedanya. Kami yang dikira akan membeli pura-pura diam saja. Sampaiterdengar ia bertanya, "jadi beli, ndak?" Ujang yang tadi berteriak, tanpa dosa tinggal bilang, "Ikan yang kami panggil, kok, Pak. Bukan bapak!" Maka pergilah ia bersungut-sungut, dan kami menahan tawa sampai ada jarak aman untuk membuat tawa kami meledak.

Di atas semua itu, kami senang menunggu seorang laki-laki yang usianya mungkin kurang dari 40 tahun, meski ia tampak tua lantaran wajahnya yang kempong dan penampilannya sangat udik. Ia mengenakan baju putih lusuh, celana katun hitam, terompah tipis, tak pernah berganti. Paling mencolok, selalu ia menyandang buntalan dari karung tepung berisi bahan jualan yang akan digelarnya di pasar. Bawaannya terkenal ganjil, dalam arti tak banyak dijual orang. Buah labu, tabau, rimbang, terong tunjuk, jamurpohon atau sembung alias kecombrang. Jika bukan sayur, ia bawa rokok daun enau dan batu lunak, yaitu batu galian yang menyatu dengan tanah keras, yang dibakar sampai hngus. Rasanya enak dan diminati ibu-ibu ngidam. Kadang iabawa buah rimba yang sudah langka: buah rotan, barangan, durian-cempedak hutan. Atau juga buah-buah di luar musim: duku langsat, rambutan, saat musimnya belum tiba atau sudah belalu.Jika tak ada semu itu, paling tidak ia bawa gulungan kulit ular dan biawak.

Tentu saja isi karung tepungnya tak seberapa. Selain berukuran kecil, sering terlihat karung itu tak penuh, sering terlihat karung itu tak penuh, namun itu justru menambah unik dan misteri dirinya. Bayangkan, dengan buntalan berisi seadanya, ia harus naik-turun bukit ke dusun terdekat, lalu puluhan kilometer lagi menuju pasar. Ia mukim di sebalik bukit kelabu bernama Uba, nun di Lembah Basebah, yang masih banyak dihiasi jejak tapak harimau. Namun sesampai di keramaian, tetap tak sekali pun ia naik "tambang balai" berupa mobil pick-up yang dimodifikasi si dengan dua bangku panjang menyamping; juga tak pernah ia naik bendi untuk sekedar sampai ke batas kampung. Perjalanan jauh telah mengesankan dirinya sebagai pengembaran dengan buntalan di bahu, yang selalu kami tunggu.

Meski begitu, bertahun-tahun tak seorang pun di antara kami yang tahu seiapa namanya. Tentu kami pernah menyapanya, tapi percuma saja. Ia hanya akan membalas dengan menyeringai. Bahkan ketika berjualan di pasar, ia memakai jurus bisu alias diam. Ada cerita yang membuat kami tergelak mengenangnya. Seorang pembeli bertanya berapa harga seonggok terong yang ia jual, dan spontan ia jawab, "Tak akan terbeli oleh Makmu!" Bagi orang yang tahu, laku serup tak pernah diambil hati. Ia memang biasa bersikap tak menentu: kadang lekas marah, kadang murung, kadang ramah dan nyambung diajak bicara. Apakah itu tergantung cuaca atau keadaan jiwanya, tak ada yang tahu, sebagaimana orang tak tahu siapa namanya sebenarnya. Hanya karena ia dari Uba, maka orang-orang cukup menganggapnya Orang Uba atau Pak Uba. Sebagian meyebut ia tukang kabung, sungguh terdengar asing di telinga. Tapi sejujurnya, sebutan inilah yang membuat kami suka menunggu dia lewat. Sebab meski diucap antara terdengar dan tidak, istilah itu bagai magnet yang membuat angan remaja kami membubung, terangkat. Bersamanya kami bayangkan segala nikmat keberuntungan

SEPAGI
hari Pak Uba akan lewat di kampung kami. Dapat diduga ia berangkat saat terang tanah atau mungkin dinihari dari pondoknya. Di dalam buntalannya ada senter, yang kadang kemudian ia geletakkan bgitu saja di antara jualannya yang aneh-aneh itu. Pastilah senter tersebut ia nyalakan saat berangkat maupun ketika pulang--kubayangkan, senjakala ia baru mulai mendaki ke arah Uba. Langkahnya biasa, tidak bergegas, tidak lambat. Mungkin itu ia dapat dari kegemarannya merokok sepanjang jalan, membuatnya terlihat pelan, tapi pasti.

Menurut cerita yang kami dengar, berdagang bukanlah pekerjaan utama Pak Uba. Tentu saja, sebagai peladang ia bekerja di ladang dan hanya keluar sekali sepekan. Namun di balik semua itu, orang-orang paham belaka bahwa Pak Uba menyandang sebutan tukang tkabung dengan rida sebagaimana ia bekerja.

Tahukan kamu apakah tukang kabung itu? Dialah orang yang bersedia menikah dengan perempuan-perempuan talak tiga! Ya, kita tahu, perempuan yang ditalak tiga atau cerai tiga kali, jika masih mau menikah kembali dengan suami yang menalaknya, maka ia harus menikah dulu dengan laki-laki lain. Begitu syarat-rukun dalam agama, dan begitu adat meneguhkannya. Bukankah di kampungku adat basandi syara', syara' basndi Kitabullah?
Bagaimanapun, toh tak ada jaminan si perempuan bakal cepat mendapat pasangan baru selepas masa iddah, sementara manta suami sudah tak tahan ingin segera berbalik pulang. Nah, dalam proses inilah pahlawan "persatuan" tak dikenal bisa dipanggil, diam-diam: tukang kabung! Bagaimana caranya, berpandai-pandai sajalah. Yang jelas, selalu ada jalan di lingkar adat nan bestari. Akal bekerja dengan sebaik-baiknya cara dan penerimaan. Memang keberadannya tak kentara, katakanlah seumpama tukang pijat, tukang perahu, atau sopir truk. Antara ada dan tiada saja--dari bisik ke bisik.

Tapi ia ada dan siap menikah kapan saja. Meskipun sepekan atau dua pekan kemudian ia akan bercerai, demi membuka jalan bagi si mantan yang menunggu dengan gemas dan rindu-dendam. Apa boleh buat, syarat-rukun mesti diturut bila ingin hidup selamat. Karena itu, wahai pembaca budiman., izinkan aku berkhotbah sedikit: hati-hatilah mengucap kata sakti lagi bertuah itu, jika tidak, Anda sekalian akan bersua lirik lagu penuh siksa di kampungku. Terjemahannya: dipandang ia, dilirik ia semakin cantik saja, mau berbalik, mau kembali, badan 'lah talak tiga. Dipandang ia, dilihat ia, semakin manis saja, karena ditalak tiga lepaslah kijang ke rimba!"

BERKAT kehadiran Pak Uba yang tiga pekan lewat kami jadi punya bahan pembicaraan ala anak muda kampung. Sebagian mungkin memang kampungan, tapi sebagian lain kami rawat selayaknya kenangan, tak pernah rampung!

"Enak ya, jadi Pak Uba," kata Ikal.

"Iya, sudah dapat tidur bareng, dibayar pula," kata Isul.

"Hus!" cegah Uman, kawan paling taat yang kami punya. Mana boleh nikah pakai bayar? Ingat, niat yang salah terlarang dalam agama!"

"Buktinya nikahnya sesaat. Tanpa surat-surat, masak bisa tanpa uang, Man?"

"O, anggap saja jodohnya yang singkat, bukan soal bayar-membayar...," Uman menawarkan cara halal versinya sendiri. Kami malas berdebat karena lebih tertarik perkara tidur bareng tanpa takut digerebek, ketimbang soal syariat. Itu pelepas dahaga kami yang telanjur mencecap video "Om Takur" di rumah Uni Emi dengan bayar seribu perak, sambil tak lupa curi-curi pandang pada si uni yang semampai, berkulit langsat.

"Katanya kalau Pak Uba mau menikah, ia akan bercukur, mandi rempah, dan saat itu akan terlihatlah bahwa tampangnya tak kelewat buruk," tangkas Isul beralih cerita.

"Ya, kudengar begitu. Kadang malah si istri sendiri memandikan dia, membersihkan daki-dakinya. Kalau sudah begitu betapa gagah ia kubayangkan," timpal Ikal.

"Enaknya!" desah Ujang.

"Mau kau jadi tukang kabung, Jang?" kataku.

"Mau, kalau ada pendafatarannya!"

Kami tertawa. Mustahil si Ujang! Menyebutnya saja harus tersamar. Hanya kami tak tahu diuntung berani menyebut langsung, itu pun karena dengan kawan sama besar.

"Apa memang ia mesti 'begitu' jika nikah?" selidik Ikal.

"Maksud kau seperti Om Takur?" Ujang memastikan, dan Ikal mengiyakan.

"O, harus itu. Supaya nikahnya sah," sela Uman.

"Ya, pastilah, kan sudah serumah," kata Isul pula.

"Belum tentu," katil cemburu. "Ada kok, si istri tetap perawan meski sudah nikah..."

"Wah, pasti ada masalah...," keluhku.

"Sama-sama suka daun pepaya, mungkin...," seloroh Pirin.

"Tidak juga. Kalian lupa Malak? Sepulang dari Malaysia ia bawa uang banyak. Etek Timar tergila-gila menikahkan Tuti, anaknya. Dasar Malak tak tahu politik, uangnya dikuras minta beli ini beli itu, biaya helatlah, emas maharlah. Apa nyatanya? Sejak malam pertama, si Etek melarang Turi tidur seranjang dengan Malak. Setelah itu Tuti minta ditalak."

Sebenarnya kami ingin terbahak, tapi kami menahan tawa demi simpati kami pada malak yang menanggung kisah cinta menyedihkan. Kami berdoa untuk kesembuhan jiwanya yang terganggu sejak peristiwa itu.

LAMA tak lewat, pada suatu hari yang bukan hari pekan, kami dengar kabar Pak Uba telah menikah dengan seorang perempuan dekat pasar. Tak peduli janda siapa yang dia nikahi, kami malah tak sabar melihat laki-laki itu lagi, pasti lebih "berminyak:", membuat angan kami bakal tambah liar. Tapi masuk pekan keemat ia tak kunjung lewat, tahu-tahu bereda kabar menggemarpakn: Pak Uba menolak menceraikannya perempuan yang di-kabung-nya!

Kabar itu sungguh di luar dugaan dan belum pernah terjadi sepanjang sejarah (jika tukang kabung tercatat dalam sejarah). Bagaimana bisa? Bukan hanya kami dibuat penasaran, seisi kampung pun gusar. Beruntung, kami punya kenalan anak pasar, Amran. Karena bertetangga dengan marlena--perempuan yang disebut dalam kabar--Amran pasti punya rinci cerita. Maka ketika ia lewat dengan motor tuanya, Ujang bertepuk tangan memangil, "Hoi, Ndan, singgahlah sebentar!"

Amran berhenti. Setelah memuji motor Amran yang terawat, Ujang segera jadi penyambung lidah kami. Sebagai pembawa acara di sebuah grup organ tunggal, ia dapat diandalkan."Jadi bagaimana ceritanya uni Lena itu, Ndan?" ia sebut Amran "Komandan".

Amran yang tampak siap, menarik nafas, "Ya, seperti cerita orang banyak, Pak Uba tak mau bercerai. Aku tahu persis karena rumah Uni Lena hanya tiga rumah dari rumahku."

"Ya, kami tahu," jawabku.

"Tapi kalian pasti tak tahu Pak Uba dulu pacar uni Lena," Amran tersenyum. "Aku dapat cerita langsung dari Pak Uba. Kebetulan aku mengantar sarung pesanannya. Waktu itu aku ketemu uni Lena dengan rambut basah. Pak Uba juga tampak senang hatinya. Saat uni Lena sibuk di dapur, kutanya-tanya Pak Uba. hati-hati. Eh, tanpa diduga, keluar semuanya...."

"Apa katanya?" desakku.

"Dia ceritakan malam pertamanya?" Pirin menggeser posisi duduk.

"Ah, tak penting itu, Rin!" sergah Ujang. Itu cara dia supaya tampak sabar. Dalam situasi normal, dapat dipastikan dia yang akan lebih dulu betanya demikian.

"Aku juga tahu nama asli Pak Uba," Amran memperlambat tempo dengan tawaran tak menarik minat.

"Ya, mungkin hanya penghulu dan Komandan yang tahu," kali ini Ujang sebenar-benarnya sabar. Berkat kesabarannya, Amran kembali ke soal yang mengasyikkan. Tentu dalam bahasanya sendiri yang kadang membuat kami antara percaya dan tidak. Sebagai anak pasar yang suka keluyuran, Amran layak diragukan. Toh kepandaiannya merangkai kata tak tertolak--tepatnya tak mungkin kami tolak. Enak didengar, dan menyegarkan otak!

Kata Amran, dulu kedua orang itu pernah pacaran,usia mereka masih sangat muda ketika itu. Mungkin 16-an. Bagaimana mereka bertemu dan jatuh cinta, Amran tak tahu. Hanya kabarnya mereka pernah satu sekolah di desa sebelah. Ayah Marlena membuka bengkel di sana. Ketika keluarga Lena pindah ke rumah aslinya dekat pasar yang sekarang, mereka berpisah. Tapi masih sempat surat-suratan. Lena masuk SMEA di ibu kota kabupaten. Sedang Saddam Hosein (tak sadar, Amran membocorkan rahasia nama Pak Uba) mendaftar jadi tentara. Waktu itu, tamat SMP bisa masuk catam (apa Amran tahu itu akronim dari calon tamtama?). Dua kali mendaftar, gagal.

Sebaliknya, baru mau naik ke kelas tiga, Lena keburu menikah. Ayah Lena sendiri yang mengatur. Ia di ambang bangkrut dan minta Amrizal, ponakannya, pulang dari Surabaya. Sang ponakan yang lama merantau itu dimint menikahi Lena. Menikahi anak mamak istilahnya. Beban berkurang, modal brtambah, begitu perhitungan Tinggallah si laki-laki calon tentara gagal yang akhirnya memilih jadi peladang jauh di Bukit Uba, Lembah Basebah. Beberapa tahun kemudian, ia--yang lalu dikenal dengan Orang Uba--mulai turun ke pasar. Konon supaya ia bisa lewat di depan rumah Marlena! Padahal rumah itu sama sekali kosong dari orang bernama Marlena karena seelah menikah ia ikut ke Surabaya. Namun laki-laki peladang itu puas belaka membayangkan kekasihnya seolah ada di rumah yang ia lewati. Begitulah bertahun-tahun, dari pekan ke pekan....

Kami menahan nafas.

Aspal jalan yang teduh oleh cahaya sore mendadak terasa panas oleh kesetiaan.

Sejak ditinggal Marlena, lanjut Amram, Pak Uba takmau menikah. Ia baru menikah pertama kali ketika diminta mendampingi seorang perempuan seperladangan ke penghulu. Entah bagaimana, ia menurut. Dan menurut juga ketikaseminggu kemudian, pernikahan itu minta diakhiri, ditandai selembar amplop yangdimasukkan ke dalam buntalan pakaiannya. Ternyata itu cara si perempuan bersatu kembali dengan mantan suaminya (mereka bercerai tiga kali). Pak Uba menerima karena iba melihat perempuan itu bekerja sendirian di ladang. Tapi ia terlambat menyadari bahwa amplop yang ia temui dalam buntalannya itu semacam upah. Dan benar-benar terlambat saat proses menikah seperti itu ia alami beberapa kali. Tanpa disadari--atau mungkin disadari--ia "resmi" jadi seorang tukang kabung!

"Hmmm...," gumam kami. Tak tahu, apakah suka atau sedih.

Marlena sendiri--ceria Amraan belum selesai--setelah lama merantau, kembali pulang. Dan Pak Uba seperti kami tahu, tetap saja melintas tiap pekan. Tapi tahukah Marlena bahwa yang melintas dengan buntalan ajaib itu orang yang pernah menaruh hati padanya? (Percaya saja ia tak tahu, supaya pertemuan mereka lebih dahsyat!) Toh selain cinta mereka duu Lena anggap hanya cinta monyet, penampilan Pak Uba sendiri tak mungkin dikenali.

"Ia telah menjelma jadi Pendeka Gua Hantu, hahahaha...," tawa Amran pecah.

SEPULANG merantau, Marlena berternak ayam bersma suaminya di sepetak tanah kosong dekatmuara. Sayang dalam hidup sehari-hari mereka sering terlibat pertengkaran. Entah apa pangkal soalnya, tak ada yang tahu. Bisa saja usaha yang tak lancar. Urusan anak atau rasa bosan, ah, itu hal biasa dalam rumah tangga. Tapi lama-lama si suami mulai jarang pulang. Ia berdalih merintis pemasaran telur di Dharmasaraya. Puncaknya, pertengkaran besar di antara mereka pecah melebihi ribut suara ayam di kandang!

Setelah itu terdengar mereka becerai. Tak tanggung-tanggung, Marlena ditalak tiga seketika itu juga! Si suami diingatkan oleh keluarga supaya berpikir masak-masak karena menalak sekaligus (dalam bahasa lawak Amran "merapel" talak) terlarang dalam agama--meski ada yang bilang itu sah. Tapi ia menikah dengan anak mamak. Akan banyak soal, bak kata syair lagu yang lain: Rindu melihat mamak, mengunjungi janda kata orang. Jawab Amrizal sengak, "Biar saja! Aku tak akan balik, hanya ikan bakar yang dibalik-balik!"

Lepas sudah kijang ke rimba....

Namun apa yang terjadi, wahai, Sanak? Atas nama rindu kepada mamak dan anak-anak (anaknya tiga), si suami pulang membawa penyesalan dari Dharmasaraya. Tapi itu tak bisa membuatnya sah kembali pada Marlena, bukan? Tanpa syarat-rukun adat-agama (yang justru mesti dipenuhi si perempuan), sampai kiamat pun mereka tetap sepasang orang asing yang haram bersentuhan. Maka secepat ia menjatuhkan talak, secepat itu pula ia bertindak. Ia cegat Orang Uba ketika lewat, lalu diajaknya bicara empat mata--beruntung saat itu jiwa Pak Uba sedang tenang, sangat tenang....

Karena ketenangan itulah, amplop tebal titipan mantan suami Marlena kemudian tak disentuhnya sama sekali. Pak Uba malah balikmerogoh karung tepungnya dan dengan sikap seorang pendekar yang tak hirau harta dunia, ia keluarkan segenggam emas-permata dari sana. Amrizal melotot matanya, lalugemetar tak berdaya/ Sedang pada Marlena, mutiaranya yang hilang, Pak Uba berbisik lambat. Di telinga yang tepat, kata-katanya berkilau juga selayak permata baru diasah. "Lama aku menunggu, Lena, kini kudapatkan kau kembali, dan tak akan kulepaskan selama-lamanya...," Marlena yang mengetahui bahwa si tukang kabung ternyata cinta lamanya, terkesima dengan mata berkaca-kaca.

Bagian terakhir ini jelas penuh penyedap dari Amram. Tak mengapa. Toh kisah kasih Pak Uba dan Marlena sudah menyebar ke mana-mana, dengan ebbagai versi dan variasinya, seolah disampaikan tukang kaba. Bagaimana persisnya, biarlah itu menjadi urusan mereka. Yang pasti, ketika lewat di depan rumah becat hijau-biru dekat jembatan jalan ke pasar itu, kami melihat sendiri rambut uni Lena basah. Juga Pak Uba dengan rambut dan jambang sudah dicukur. Memang tanpak gagah juga dia. Bikin cemburu kami yang muda-muda....


Rumahlebah Yogyakarta, 2015


Raudal Tanjung Banua, lahir di Lansano, Pesisir Selatan, 19 Januari 1975. Kini bermukim di Yogyakarta. Buku-bukunya, antara lain, Parang Tak Berulu (kumpulan cerita pendek, 2005) dan Api Bawah Tanah (kumpulan puisi, 2013).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Raudal Tanjung Banua
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran tempo" Sabtu 24 Oktober 2015

 

0 Response to "Kisah Cinta Menikung Si Tukang Kabung"