Kucing-Kucing yang Membongkar Kuburan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kucing-Kucing yang Membongkar Kuburan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:15 Rating: 4,5

Kucing-Kucing yang Membongkar Kuburan

DI pagi buta kerap terdengar jeritan penyabit rumput atau penyadap lahang ketika mereka melintas di sebuah pemakaman Desa Bukina. Mereka ketakutan melihat kuburan yang terbongkar. Angin pagi masih lirih. Riak keheningan bepaut diam ilalang. Embun menusukkan dingin yang tajam. Orang-orang berduyunduyun menuju lokasi pemakaman tempat jeritan itu berasal.

Setiba di lokasi mereka akan mendapat pemandangan yang mengerikan; sebuah kuburan terbongkar, separuh tubuh mayat tampak keluar dengan kain kafan yang terkoyak-koyak. Lidahnya menjulur, sedang wajahnya carut-marut dan biasanya dapat dipastikan salah satu anggota tubuh terutama jari kelingkingnya hilang.

Orang-orang dusun kemudian mengumpat “kurang ajar kucing keparat itu, sudah ada puluhan kuburan yang dibongkar,” orang-orang saling bertatap, sedang di hatinya terbersit sebuah dendam kepada kucing-kucing keparat yang biasa membongar kuburan saat malam hari serta menyantap sebagian anggota tubuh mayat.

Menurut kabar dari Pak Karim setidaknya ada delapan kucing liar yang akhir-akhir ini punya hobi membongkar kuburan di beberapa lokasi pemakaman Desa Bukina. Pak Karim selaku kepala desa yang biasa keluar rumah di saat dini hari untuk berpatroli sering dikejutkan oleh kucing-kucing yang liar melahap tubuh mayat di bawah bulan tanggal tua. Kabar itu dibenarkan oleh beberapa warga yang lain. Pak Saot misalnya, dia mengaku lari terbirit-birit ketika suatu malam melihat delapan kucing sedang berpesta mayat di atas sebuah kuburan.

Warga desa hampir setiap hari bergotong-royong membetulkan kembali kuburan-kuburan yang sudah terbongkar. Kucing-kucing itu semakin membuat warga jengkel. Hanya saja satu hal yang membuat warga harus berpikir matang sebelum bertindak, ternyata kucingkucing itu sangat sakti sebagaimana yang yang diceritakan Pak Karim suatu waktu.

“Kalian harus hati-hati kalau mau menyerang kucing-kucing itu. Delapan kucing itu sangat sakti. Pernah suatu malam saya bermaksud melempar kucingkucing itu dengan batu. Tapi seketika kucing-kucing itu menjelma ular dan meliuk-liuk ke arah saya,” tutur Pak Karim dengan nada yang menakutkan.

Bulan tampak seperti celurit terbalik di balik rimbun daun bambu ketika aku ikut paman Rakib bertugas ronda malam itu. Pukul dua dinihari hanyalah suara kersik daun dan desis angin yang bisa kudengar sebagai lagu dusun dari jalan setapak yang teramat sunyi. Ada dua kunang-kunang melenggang ke ke tengah ladang, tepat kulihat sesaat sebelum kuamati paman mulai menyalakan sebatang rokok dengan asap yang memburai. Cerita paman berbeda dengan cerita Pak Karim. Menurut paman kucing-kucing itu hanya akalakalan saja yang sengaja dibawa oleh seseorang saat ia membongkar kuburan. Maksudnya tidak lain agar kucing-kucing itu jadi tameng kecurigaan.

“Kucing-kucing itu tidak mungkin bisa membongkar kuburan. Kucingkucing mungkin hanya memakan tubuh mayat tapi hanya sebagian,” kata paman Rakib kepadaku.

“Lalu siapa yang membongkar kuburan itu paman?”

“Hehe, tentu manusia, orang yang punya kucing itu.”

“Paman pernah melihatnya?”

“Ya, ketika itu aku ronda malam dengan Pak Saot. Aku hendak bertindak terhadap orang itu tapi Pak  Saot melarangku. Itu terjadi tiga kali, aku jadi curiga kepada Pak Saot, janganjangan dia bersekongkol dengan orang keparat itu.”

Aku terdiam. Paman terlihat mengepulkan asap rokoknya dengan bentuk membundar berputar-putar ke arah cahaya bulan yang remang. Suara kentong sayup terdengar dari ujung desa bagian utara. Suasana sangat mencekam.

“O ya paman, apa maksud orang jahat itu sampai ia nekad membongkar kuburan seperti itu?”

“Hehe, biasanya kelengking mayat sangat ampuh dijadikan azimat untuk pesugihan. Terutama mayat yang meninggal tepat pada malam gerhana. Kain kafan biasanya dipakai para nelayan, ia dijadikan sabuk joran atau pengikat jala untuk mendapat tangkapan ikan yang banyak,” cerita paman kepadaku sambil menyandarkan kepalanya ke cagak poskamling. Seketika pikiranku melayang-layang, ternyata manusia semakin hari semakin gila. Kegilaan manusia hampir semuanya disebabkan ambisi kepada harta.

“Hei Sadik! Jangan melamun ayo kita mulai patroli,” ajak paman membuyarkan pikiranku.

Mulailah aku menjelajahi Dusun Lori, dusunku tercinta, salah satu dusun Desa Bukina yang kuburannya kerap dibongkar oleh kucing-kucing. Bulan temaram tanggal tua terlihat terjepit di antara sepasang gagang ranting Langay. Daunan tampak mengkilap dengan pupur embun yang dingin. Kelelawar dan burung hantu bertukar sapa menambah cekam suasana. Sudah satu lokasi pemakaman yang kulintasi dengan paman, tapi aman saja tak ada kucing atau kuburan yang terbongkar.

Kulanjutkan langkah menngikuti arah paman meski bulu kudukku sering berdiri karena sesuangguhnya aku penakut kelas kakap. Paman melintasi jalan setapak paling sunyi yang ditepinya ditumbuhi semak. Turun melewati jurang, membelah sawah dan ladang, masuk di gang-gang dusun bergegas dari satu lokasi pemakaman ke pemakaman yang lain. Tangan kiri paman memegang celurit dan tangan kanannya menjepit selinting rokok. Aku mencoba pura-pura gagah berani di belakang paman meski sebenarnya sangat merinding terutama ketika ingat cerita warga tentang kucing-kucing
yang membongkar kuburan.

Satu setengah jam kemudian bersamaan dengan kumandang adzan Subuh, aku dan paman kembali lagi ke poskamling setelah purna mengelilingi dusun. Paman merebahkan tubuhnya di bidak kayu poskamling, aku bersandar ke cagak pos. Sesaat setelah adzan subuh selesai dikumandangkan tiba-tiba terdengar jeritan warga di arah tenggara. Ada kuburan yang terbongkar lagi.

Paman langsung berdiri dan mengajakku  menuju suara jeritan itu. Angin subuh menusuk dingin, dedauan mengipasi sunyi, jalanan mulai menampakkan punggungnya yang putih. Aku mengikuti langkah paman yang berlari. Setiba di lokasi apa yang kuduga benar, ada kuburan yang terbongkar. Mayatnya menjulur keluar kuburan seperti benih yang menembus tanah, di tubuhnya yang busuk terlihat ada bekas gigitan taring. Kain kafannya terkoyakkoyak. Paman mendekat tapi tiba-tiba Pak Saot menarik lengan paman pertanda melarang. Paman menghentikan langkahnya dan menunduk. Pikiranku kembali melayang-layang, “ah demi sebuah harta,” gumamku. Pak Karim belum ada di lokasi, mungkin dia masih istirahat karena semalam ada rapat.

***
Ini minggu ketiga aku ikut paman ronda sejak dua bulan terakhir desa kami digegerkan kuburan yang terbongkar. Kini beragam kabar bermunculan tentang peristiwa mengerikan itu. Ada yang mengatakan ulah roh jahat yang menjelma kucing. Ada yang mengatakan kucing-kucing itu suruhan tukang sihir. Bahkan sebagian kabar mengatakan kucing itu adalah spesies binatang luar angkasa yang turun ke bumi untuk mencari makan. Kecuali paman yang mengatakan bahwa kucing itu adalah kucing biasa, hanya dijadikan alat oleh seseorang untuk mengalihkan kecurigaan.

Empat ekor kunang-kunang melindap di daun yang digesek angin malam. Aku terus berjalan mengikuti paman membelah sunyi dusun dini hari. Kecuali ritme suara gesekan daun berpadu cericit kelelawar dan burung hantu yang bisa kunikmati dengan bulu kuduk merinding. Setiba di salah satu lokasi pemakaman seketika paman memberi isyarat agar jongkok di belakang serumpun ilalang.

Setelah aku jongkok di belakang paman, betapa terkejutnya dadaku saat kulihat sebuah kuburan tengah dibongkar oleh seseorang. Tapi tidak seperti cerita yang kudengar sebelumnya, di tempat itu tidak ada kucing sama sekali. Orang itulah yang membongkar kuburan itu dengan pacul dan linggis. Entah siapa orang itu aku tidak tahu karena malam masih temaram. Detak jantungku kian kencang, keringat telah memburai seiring rasa takutku yang buncah. Terlebih rasa takutku memuncak ketika orang itu berhasil mengeluarkan separuh mayat menjulur keluar. Ia kemudian mengembil  sesuatu dari mayat itu.

Lalu seseorang yang lain datang dari arah pintu masuk pemakaman, ia membawa sak, dari sak itu ia mengeluarkan delapan kucing. Kucing-kucing itu kemudian memakan tubuh mayat itu berebutan. Dua orang yang rupanya bekerjasama untuk membongkar kuburan itu berdiri di samping kuburan, yang satu membuka kantong plastik dan yang satunya lagi memasukkan sesuatu. Aku gemetar terasa hendak pipis, tanganku memegang erat bahu paman. Malam menguraikan cekaman dan angin lirih yang mistis.

Paman berdiri dan melangkah mendekati dua orang itu. Aku semakin gemetar ketakutan, tanganku memegang baju paman seperti anak kecil yang memegang baju ibunya. Kaki terasa tak memijak bumi. Pikiranku kacau terasa sudah diambang maut. Keringat mengucur ke seluruh tubuh. Udara malam begitu amis. Setelah dekat, paman seketika terkejut. Demikian pula dengan aku, sangat terkejut.

“Lho, Pak Karim dan Pak Saot?” kata paman keheranan.

“Iya, benar. Begini pekerjaanku dan Saot tiap malam. Tutup mulutmu Kib! Jangan bilang siapa-siapa! Ayo sebaiknya kamu bergabung denganku menjadi kucing-kucing keparat tapi kaya. Hahaha,” Pak Karim terbahak. Paman terdiam. Aku mual melihat kucing-kucing memakan mayat. Aku tidak ingin berteman dengan kucing-kucing di negeri ini. (92)

Dik-kodik, 02.10.15


A Warits Rovi. Lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media Nasional dan lokal. Ia Berdomisili Sumenep Madura.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya A Warits Rovi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 11 Oktober 2015

0 Response to "Kucing-Kucing yang Membongkar Kuburan"