Kutukan Rahim (11) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kutukan Rahim (11) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 23:01 Rating: 4,5

Kutukan Rahim (11)

PERTEMUAN penuh rasa gerah antara Mos dan suami Zul berlangsung lumayan lama. Sekitar satu jam

"Aku berharap persaudaraan kita tak akan pernah berakhir," pungkas Mos. Suami Zul menyeringai saja.

***
BANYAK laku supranatural yang dilakukan suami Zul untuk mencari tahu siapa sebenarnya ayah dari anak istrinya. Ia sendiri selama ini tidak menceraikan Zul. Namun, ia memilih pisah ranjang sampai waktu yang tidak ditentukan. Jadinya, mereka hidup sendiri-sendiri. Suami Zul dikontrakkan rumah oleh Zul.

Pernah, sekali, Zul nekat mengirim foto anaknya kepada suaminya melalui ponsel. Tentu pose fotonya tidak sendiri. Tapi, bersama Zul. Pastilah suami Zul merutuk-rutuk dalam hati mendapati kiriman seperti itu. Mau tak mau, ia melihat juga wajah anak Zul. Dari situlah memori mengenai wajah seseorang tergambar jelas. Kelak ke depan, pikir suami Zul, jika waktu mengizinkan, akan bertemu dengan wajah seperti itu. Yang berarti adalah si pemerkosa, bukan? Tapi, mungkinkah?

"Sebenarnya, siapa pemerkosanya, istrimu sendiri tahu." Begitu pernyataan salah seorang dukun kepada suami Zul.

"Sebenarnya, pemerkosanya tidak hanya satu," papar dukun lain kepada suami Zul.

"Sebenarnya, pemerkosanya tidak sengaja saja. Artinya, awalnya tidak punya rencana untuk memerkosa." Demikian keterangan salah seorang dukun kepada suami Zul.

"Sebenarnya..."

"Sebenarnya..."

Banyak masukan dari para dukun kepada suami Zul. Namun, lebih banyak justru memusingkan suami Zul. Tapi, ia tak kehabisan akal. Sebagai orang yang pernah masuk penjara, maka ia kenal dengan beragam jenis mantan penjahat. Termasuk di antaranya pemerkosa, penculik, dan orang yang diorder untuk melakukan kekerasan sebagai rangkaian kerja di dunia politik. Suami Zul juga cukup yakin, orang yang pernah diorder menculik istrinya bukanlah orang jauh. Ia tentu penjahat level lokal juga. Maka, terbersit dalam gagasan pikirannya, ia menemui sejumlah temannya sesama penghuni rutan yang kini sudah bebas. Ia akan mencari tahu, mengorek keterangan kemungkinan siapa pelaku perkosaan terhadap istrinya dari situ.

Suami Zul merasa, itu ide yang benar-benar brilian. Maka, kini di tengah kesibukannya sebagai tukang ojek, dengan modal motor yang diberikan Zul, ia datangi satu persatu mantan temannya sesama napi. Beberapa yang ia temui memberikan titik terang siapa pelakunya. Apalagi, suami Zul menyimpan pose foto anak Zul yang tampak jelas wajahnya. Membantu memudahkan penelusuran. Setidaknya, foto itu bisa dijadikan acuan.

Seorang kawan suami Zul menyebut satu identitas yang mirip dengan wajah anak Zul. Ia sebutkan nama orangnya dan alamatnya. Sekaligus tipe kejahatan yang dilakukannya. Spesialisasinya apa.

Suami Zul segera meluncur ke tempat sebagaimana yang disebutkan kawannya itu. Tapi, rupanya, pada kunjungan yang pertama itu, orangnya tidak ada. Yang menemui hanya istrinya. Anaknya ternyata banyak. Memang wajah anak-anaknya mirip dengan wajah anak Zul. Jantung suami Zul pun berdegup sekencang angin puting beliung.

"Memangnya, suami kapan pulangnya?"

"Saya tidak tahu. Ia sejak dulu ya begitu. Jarang pulang. Kalau pulang ninggal uang sama niduri saya. Seringnya kasar lagi. Habis itu, ngabur begitu saja. Mirip ayam habis ngawinin. Langsung ngacir."

"Kok mau hidup begitu?"

"Kalau nggak mau ya dipukul. Mau bagaimana lagi. Suami saya sukanya mabuk dan judi juga."

"Lho, pekerjaannya apa? Tahu enggak?"

"Lho, katanya temannya, kok tanya? Temannya memang banyak. Bertato-tato lagi. Saya sampai nggak hapal. Kalau ada yang datang ya saya tanggapi. Tapi, kamu datang tidak sedang nagih utang, kan? Soalnya, ada yang pernah datang ternyata cuma mau nagih utang. Bawa pedang lagi. Saya bilang ya sudah penggal saja kepala saya. Soalnya saya tak tahu soal utang-utang suami saya. Terus tamu itu pergi."

Suami Zul pun mengaku bahwa ia teman lama suami perempuan tersebut. Sekadar ingin melepas kangen. Tapi, sebenarnya, jika benar-benar ada orangnya, pastilah suami Zulblingsatan juga. Apalagi, kalau tidak benar orang tersebut pemerkosanya. Maka, dalam amarah pun mestinya tetap hati-hati. Itu kalau masih mungkin dikendalikan.

Ah, yang pasti niatan suami Zul adalah bekerja keras mencari jawaban atas kebenaran. Itu saja yang dipegangnya. Dari usahanya bertamu tersebut, kata perempuan yang menemuinya, suaminya akan pulang sekitar dua hari lagi. Memang, feeling saja. Tapi, biasanya begitu. Sungguh tidak pernah ada kontak jarak jauh di antara mereka. Mereka tak pakai ponsel.

"Sekarang uang pegangan saya sudah menipis. Dia pasti akan pulang tak lama lagi" Itu saja yang menjadi perkiraan perempuan yang ditemui suami Zul.

***
HARI yang dimaksud sebagai hari kepulangan orang yang dicurigai sebagai pemerkosa Zul, tiba. Suami Zul kembali meluncur ke rumah orang yang dicurigai tersebut. Begitu tiba, suami Zul lumayan kaget. Sebab, puluhan orang sudah nongkrong di halaman rumah orang tersebut. Mereka nongkrong rata-rata di atas motor masing-masing. Tidak jauh dari tempat mereka nongkrong, ada sebuah tape recorder yang khusus memutar lagu-lagu dangdut dengan suara keras. Aroma alkohol pun menyuruk masuk hidung suami Zul. waktu itu, baru saja habis Maghrib.

"Hei, lihat-lihat, cari siapa, Mas?" Salah seorang dari mereka yang nongkrong bertanya begitu melihat suami Zul datang mengendarai motor.

Suami Zul menyebut satu nama. Orang yang dicurigai sebagai pemerkosa istrinya itu.

"Oh. Kagak ada, Mas. Sini! Keperluan apa?!"

Zul menatap satu persatu orang yang nongkrong itu. Matanya terhenti pada seseorang, yang menurut institusinya, sesungguhnya ia cari. Tapi, sudah dijawab oleh yang lain tak ada. Tak lama kemudian, ada satu orang tiba-tiba datang. Naik motor. Orang yang tadi bilang tidak ada lantas menunjuk orang yang baru saja datang itu dan bilang kepada suami Zul bahwa itulah orang yang ia cari. ❑ (bersambung)-c


Satmoko Budi Santoso. Sastrawan kelahiran Yogya, 7 Januari 1976. Menulis cerpen, novel, puisi, juga esai. Kumpulan cerpennya: Jangan Membunuh di hari Sabtu (2003), Perempuan Bersampan Cadik (2004), Bersampan ke Seberang (2006), , dan Sasi, Anjing-anjing di Kampung Saya (2011). Novelnya: Liem Hwa (2005), Ciuman Terpanjang yang Ditunggu (2005), Jilbab Funky (2011), dan Kasongan (2012). Puisinya termuat di Antologi Puisi Indonesia (1997), Malioboro (2009), Danau Angsa (2011), Akulah Musi (2011, dan Equator (2011). Tinggal di Tirtonirmolo, Kasihan - Bantul. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 9 Oktober 2015

0 Response to "Kutukan Rahim (11)"