Mayatku Terendam di Parit Serupa Biji Manggis - Aku, Istri, dan Anakku Menatap Senja dari Atas Loteng | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Mayatku Terendam di Parit Serupa Biji Manggis - Aku, Istri, dan Anakku Menatap Senja dari Atas Loteng Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:11 Rating: 4,5

Mayatku Terendam di Parit Serupa Biji Manggis - Aku, Istri, dan Anakku Menatap Senja dari Atas Loteng

Mayatku Terendam di Parit Serupa Biji Manggis

tak juga selesai ujung jalan ini. kelokan-kel-
okan tajam tak usai
tak juga kunjung kutemu sebuah taman den-
gan bangku-bangku panjang
buat berbaring mengenang lelap yang tak la-
gi bangkitkan ingatan
bagaimana mimpi-mimpi berkelindan jadi
jaring penangkap ikan lokan

aku ingin duduk, sebentar saja, bersila atau
jongkok
sekedar berak atau kencing atau cukup
mengejan saja
namun jari-jari kaki melolong dan meman-
jang melubangi sepatu, merayuku:
 "berjalanlah terus. di sana nanti akan engkau
jumpai sebuah taman.
 engkau akan bisa mengintip dari sebuah 
lobang kunci hitam
 langit menghisap waktu seperti menghisap
candu"

kuseret lagi tubuh bejalan tanpa sepatu
telapak-telapak kaki melebar dan menebal
ditumbuhi cendawan dan lumut serupa
adonan kue.
sebenarnya aku ingin berjalan gontai sam-
bil berkhayal
nongkrong di amben sebuah warung di ping-
gir sawah
atau sudut bulakan menghembus kretek nyr-
uput secangkir kopi
sembari menikmati aroma keringat ketiak
perawan gemuk penunggunya
namun jari-jari kakiku melompat serupa kat-
ak memburu bayang-bayang kota
yang mengabur lantas tenggelam dan can-
dik ala yang larut dalam semangkuk darah

aspal jalan tambah hitam, tapak kakiku membiru
menebal jadi cendawan dan lumut. jalan tan-
pa ujung
belum juga kutemu sebuah taman.

sampai entah di kelokan ke berapa
kutemu mayarku terendam dalam parit
mengelupas putih cokelat kekuningan tan-
pa bola mata
mirip biji manggis membusuk

aku tersedu tanpa bola mata
orang-orang bergumam dan mengusung mayatku
menuju sebuah taman yang pohon-pohonnya 
bersarang burung-burung hitam dengan sep-
asang mata
lapar menjilati mayatku yang makin mengelupas

/ngawi, ketanggi/

Aku, Istri, dan Anakku Menatap Senja dari Atas Loteng

senja selalu saja menghadirkan ketiba-tibaan
dan ketergesaan
menjadikan semuanya sekadar lanskap yang
sulit diingat apalagi dicatat
seperti masa remaja yang sekejap menguap
dan mengering menjadi uban

dari loteng ini kutatap senja memulas pohon-
pohon dengan warna abu-abu
serupa nisan berderet di makam-makam tak
terawat di antara pohon kamboja
yang tak pernah berbunga yang dahan-dah-
annya terkelupas melepas getah

seperti gadis yang menangis kehilangan per-
awan sebelum malam pertamanya,
setiap senja menjauhkan segala yang pernah
ada dan disimpan di laci ingatan
: bekas luka, pigura, album foto dan bayang
hantu yang menyelinap di kamar mandi

dunia lama selalu harus memiliki pintu dan 
jendela baru sebelum surut menjauh
dari segala catatan nasib baik dan buruk yang 
berselancar di penanggalan
seperti juga senja, dunia selalu gagap melihat
terang memudar menuju warna lain
setiap kali memandangnya selalu merasa men-
jadi penghuni goa-goa kelam masa silam

di atas loteng melihat senja beranjak menuju
tepi tak pasti, istriku selalu bergumam,
"waktu seperti tubuh, tiba-tiba mengkurus
atau menggelembung seperti ikan buntal
seperti sim salabim tongkat sihir nenek ju-
ru tenung"

aku juga bergumam, setuju dan sekaligus
tidak sepakat
senja itu seperti perempuan yang bisa men-
gubah kecantikan jadi apa saja
: jam kerja, wisuda atau pesta!

sambil bermain puzle anakku menjerit, "sa-
ma saja; selintas cuma!"

(ngawi; tlatah klitik)


Tjahjono Widarmanto,  lahir di Ngawi, 18 April 1969. Meraih gelar sarjananya di IKIP Surabaya (sekarang UNESA) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, sedangkan studi Pascasarjananya di bidang Linguistik dan Kesusastraan diselesaikan pada tahun 2006, saat ini melanjutkan studi di program doktoral Unesa. Bukunya yang baru terbit Marxisme dan Sumbangannya Terhadap Teori Sastra: Menuju Pengantar Sosiologi Sastra (2014) dan Sejarah yang Merambat di Tembok-Tembok Sekolah (2014)




Rujukan:
[1] Disalin dari karya Tjahjono Widarmanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 18 Oktober 2015

0 Response to "Mayatku Terendam di Parit Serupa Biji Manggis - Aku, Istri, dan Anakku Menatap Senja dari Atas Loteng"