Pada Hari ketika Malam Melipat Dirinya Sendiri | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pada Hari ketika Malam Melipat Dirinya Sendiri Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:01 Rating: 4,5

Pada Hari ketika Malam Melipat Dirinya Sendiri

KETIKA kaki-kaki Malam berlari dalam keresahan tentang Arimbi, seorang perempuan baru saja turun dari panggung yang kesepian. Tangan-tangannya lunglai. Ia baru saja memainkan Appassionata -Piano Sonata No. 23 in F minor- dalam kesendiriannya. Berkali-kali dan berkali-kali, hingga ia lelah. Hingga tangan-tangannya menolak untuk menekan tuts piano.

Kakinya melangkah meninggalkan hall yang telah dilupakan orang-orang dalam kepanikan. Ia keluar dari gedung aula Simfonia Jakarta, dan cahaya yang terang benderang menerpa tubuhnya tanpa ampun. Ia memicing mata, menekuri langit yang seharusnya gelap kini berubah menjadi biru yang sempurna. Ia tidak menyukai biru, ia tergila-gila dengan hitam.

"Akhirnya kamu pun ikut mening-galkan saya."

***
TEPAT Pukul tujuh - beberapa jam sebelum perempuan itu berhenti memainkan musiknya, malam akhirnya memutuskan untuk melipat dirinya sendiri dan membiarkan angin menerbangkan tubuhnya. Orang-orang keluar dari persembunyian mereka dengan wajah pasi. Waktu yang seharusnya gelap, berubah menjadi terang. Pikuk. Suara-suara berlarian. Panik.

‘’Malam telah hilang! Malam telah hilang!’’

‘’Siapa yang berani mencuri Malam? Siapa?’’

‘’Ini pasti ulah teroris berkulit babi! Sengaja mencuri Malam, lalu melempar kesalahannya pada kita,
seperti apa yang sudah-sudah mereka lakukan selama ini!’’

‘’Bukan, ini bukan ulah manusia!’’

‘’Lalu, ulah siapa? Setan?”

‘’Tidak. Setan jauh menyukai Malam daripada kita. Setan mencintai Malam, Bodoh!’’

“Kalau bukan manusia, bukan setan, lalu siapa?”

“Tuhan. Ini ulah Tuhan. Tuhan telah marah. Tuhan ingin menghukum kita!”

“Ini kiamat! Ini kiamat!”

“Allahu Akbar! Allahu Akbar!”

“Tuhan marah karena kau suka memakan bangkai saudaramu sendiri. Kaummu perusak, bikin onar!”

“Tidak. Ini karena kau yang suka mencuri sebagian dari kami lalu menjadikannya lap basah untuk ujung sepatumu yang kotor!”

“Enak saja! Ini karena kau yang suka berkelamin dengan jenismu sendiri. Kalian juga, kan, yang menghalalkan zina?”

Malam terus berkelana bersama angin, sementara orang-orang yang kehilangan dirinya masih saja berceloteh tentang siapa yang lebih pantas untuk dimasukkan ke dalam peti pengakuan dosa.

***
MALAM begitu menikmati perjalanannya, meliuk-liuk di antara wajah-wajah putus asa yang mulai berkeliaran. Tubuh-tubuh terserak di jalananan. Beberapa dari mereka meratap, meringkuk, saling berpelukan dan menangis ketakutan. Beberapa lagi marah tanpa tahu kepada siapa marah itu ditujukan. Beberapanya lagi membentuk kelompok-kelompok, bertasbih, melambungkan doa-doa dalam kepanikan yang ditekan-tekan. “Mengapa kau melipat dirimu sendiri? Apa kau tidak takut kalau kau tak bisa kembali besar?”

Malam tertawa penuh kikik.

“Kembali besar? Tidak, Angin. Aku sudah terlalu bosan dengan mereka. Aku tak mau menjadi besar lagi.”

“Mereka? Manusia maksudmu?”

“Ya, siapa lagi? Manusia makhluk paling bodoh, bukan?”

“Mereka memang bodoh, tapi kau sendiri juga keterlaluan.”

“Mereka pantas mendapatkan ini, Angin. Mereka sudah menodai rahimku. Kau sendiri lihat, kan, manusia menggunakan tubuhku untuk bermaksiat, menjual diri, saling membunuh, berpesta sepanjang waktu seolah tidak akan ada lagi hari esok. Mereka membakar rumah-rumah, pasar, perkampungan, ladang-ladang, hutan, hanya untuk isi perut mereka sendiri.

Mereka seperti tidak peduli pada kematian, tidak peduli pada Tuhan. Mereka bahkan berani bersembunyi di balik bayanganku untuk saling raba, saling cumbu, saling berbisik-bisik menyusun rencana-rencana untuk menguasai dunia. Apa kau tidak merasa jijik? Aku jijik. Aku bosan. Mereka pikir aku ini apa? Aku Malam. Aku keheningan. Aku sunyi. Aku kegelapan yang agung. Rahimku memang hitam, tapi aku diciptakan Tuhan bukan untuk melihat mereka bersenggama dengan setan!”

Angin tertawa terbahak-bahak, membuat Malam keheranan.

“Apa kau pikir semua manusia itu sama? Mereka bodoh dan buruk, begitu?” Malam terdiam. Kata-katanya seperti tertelan kembali. Tidak, tidak semua manusia itu bodoh dan buruk, batinnya. Ia teringat tentang perempuan yang bercengkrama bersama kunang-kunang, di sana, di bangku sebuah taman. Perempuan dengan bola mata yang selalu meleleh. Perempuan yang berkata dalam kesendiriannya, “Saya mencintai malam. Saya selalu sendirian, tapi saya merasa malam seperti melihat saya dari kejauhan.” 

“Kau benar. Aku ingat perempuan itu, mereka memanggilnya Arimbi,” ujar Malam.

“Arimbi?”

“Iya. Perempuan yang mengatakan pada kunang-kunang, kalau ia ingin sekali melukis suara ibunya. Tapi tentu saja itu tak mungkin, bukan?”

Mata Malam yang nyalang kini meredup. Ucapan-ucapan Arimbi yang setiap hari didengarnya mulai bertubi-tubi menghantam ingatannya.

“Malam juga selalu membuat saya ingat akan Ibu. Apa kamu tahu? Ibu saya mati dalam keadaan marah, dan saya menyesal telah membuatnya marah. Ah, saya selalu ingin melukis suaranya yang berteriak memaki saya. Saya begitu merindukannya.”

“Apa kamu tahu bagaimana kematian? Apa kematian adalah akhir dari segalanya? Apa dalam kematiannya Ibu masih masih ingat sama saya? Apa dalam kematian orang-orang masih bisa memaafkan?”

“Hihihihi ... Saya merasa Malam adalah kekasih saya. Kebetulan sekali saya tidak memiliki seorang lelaki dalam hidup saya.”

“Tolong katakan pada Malam, hai Kunang-kunang. Kalau saya sudah lelah, saya harap Malam tidak berhenti melihat saya di alam kematian nanti.”

Malam tersentak. Dadanya bergemuruh. Dengan lesat ia berlari, melintasi jalanan yang semakin menggila oleh orang-orang yang kehilangan dirinya.

“Hei, kau mau ke mana?”

“Aku akan menemui Arimbi!”

***
ARIMBI gontai berjalan melintasi daerah Kemayoran yang sepi. Orang-orang kembali pada keluarga mereka masing-masing. Mengunci pintu, menutup jendela dan tirai. Diam laksana kematian benar-benar telah bersanding bersama mereka satu-persatu.

“Kalian mau sembunyi dari siapa?” Arimbi terkekeh. Air matanya leleh. 

“Bersyukurlah kalian yang masih punya keluarga di saat neraka sudah mengangah di depan mata. Lihatlah saya, siapa yang akan memeluk tubuh saya? Ibu saya sudah mati. Ibu saya marah dan membenci saya ketika dia mati. Lalu bagaimana saya nanti mati? Lihat saya. Bahkan Malam pun telah meninggalkan saya.”

Arimbi terus meracau, tertawa, meracau, tertawa kembali, hingga ia limbung. Jatuh. Ia menangis dan menangis. Dadanya sesak, sangat sesak. Ia rindu ibunya, rindu kunang-kunang, rindu pada Malam.

“Saya hanya ingin mati dalam pelukan. Tidak bisakah saya mati dengan itu, sekarang?” 

Ia menengadah. Langit yang biru sempurna tiba-tiba menghilang di matanya yang basah. Sesosok hitam menyergap tubuh perempuan itu dengan lembut. Hangat. Ini kegelapan yang sama hangatnya dengan waktu-waktu itu.

“Aku datang, Rimbi. Aku sudah datang.”

Arimbi tersenyum. Ia yakin, ia bisa mati dengan tenang sekarang juga. (92)

Sidoarjo-011015

Ajeng Maharani lahir di Surabaya. Penikmat sastra ini penulis novel Animus (2014).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ajeng Maharani
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 25 Oktober 2015

0 Response to "Pada Hari ketika Malam Melipat Dirinya Sendiri"