Penjual Kedamaian | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Penjual Kedamaian Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:06 Rating: 4,5

Penjual Kedamaian

BAGAIMANA bisa kedamaian diperjualbelikan? Tapi apa mau dikata, aku sendiri mendapatinya.

Gimin Tarja Gamin mampu mengajakku dengan segenap keras kepalanya yang mengagumkan, untuk berlibur ke daerah Undur; daerah selatan, pada Oktober yang anginnya disukai layang-layang sendaren. Usai sarapan dengan menu dari hewan-hewan lautóbeberapa masih serasa berdenyut dan memualkan, ia mengajak ke Pasar Wage, Karangkandri. Letak pasar itu terjepit strategis antara jalan raya di selatan dan rel di utara. Karena lampu merah hanya tiga puluh lima detik di jalan raya, para pedagang memilih merangsek ke sisi rel dua jalur, tepat di utara. Kereta di jalur Bandung-Kroya ditambah kereta semen Holcim dan kereta ketel Pertamina melintas dengan jeda yang cukup untuk tawar-menawar. 

Kulihat, ada di sana, para pengadu ayam menggelar gelanggang dengan tali-tali plastik di bawah daun-daun pohon pisang kepok dan kluthuk yang robek. Mereka merokok bersandarkan damai, sementara ayam-ayam jago beradu luka dengan taji berdarah tepat di depannya ini bagian menarik untuk dijadikan sindiran bagi kekuasaan.

Baru berjalan dan mencium aroma jeruk, kudengar serempak empat petugas berbaju hitam meniup peluit ketakutan.

Orang-orang bubar menepi; menutup telinga. Derum kereta semen lewat pada pukul sembilan, menggetarkan kandang ayam, kopi di meja, meniup pakaian, menghempas tenda-tenda, menerbangkan bulu-bulu angsa.

Seperempat menit, semuanya berlalu. Tinggal jejak dan debu-debu. Dan anak-anak duduk di rel dengan gula-gula merah muda yang manis dan akan selalu manis. 

”Hei, kita ke sini,” Gimin Tarja Gamin menegur, ”Bukan buat cari bibit bebek Peking.”

Aku senyum malu dan segera mengalihkan pertahian dari bebek-bebek kuning; bibit bebek Peking dan beranti seharga sepuluh ribu rupiah, yang besar harganya enam puluh ribu. Ini beda saat berada di sisi pasar Kowloon suatu malam. Aku menik mati daging bebek yang nampak jelas setengah matang. Itu disajikan dengan sumpit serta menu berbahasa Mandarin dan Hokain dengan harga tiga puluh dolar. Demikian, kegaiban yang muncul adalah bahwa aku mulai menyukai segala sesuatu yang masih kecil; ikan kecil, kalkun kecil, kelinci kecil, kera kecil, ular kecil, buaya kecil, bebek kecil, ayam kecilóyang dijual oleh orang-orang kecil.

Namun, seperti kata Gimin Tarja Gamin, lebih dahulu kami harus mencari penjual kedamaian yang terkenal di daerah Undur.

Lurus ke barat, kami seperti dua orang pencari kitab suci. Melewati penjual alat-alat pertanian; cangkul, garu, sabit, pacong, kudi, dengan beberapa petani tua bercaping di sana yang membicarakan kualitas tempaan dengan menjenting logam, lalu kami berhenti pada penjual burung-burung beraneka warna. Ada gang berdesak, kami belok kiri. Setelah penjual racun dan penjepit tikus seharga sepuluh ribuan dengan pasti kami mulai mendengar:

”Kedamaian, kedamaian!”

”Kedamaian hak semua orang, semua usia, semua agama. Ayo, bapak, ibu, mas, mba, kaki, nini!”

Pengunjung sudah merubung pada pemilik suara yang telah menjelma kiblat baru di pasar ini.

”Silakan cicipi. Jangan malu-malu. Malu menikmati kedamaian, berarti suka kekerasan dan permusuhan, iya, kan?”

Suara pedagang kemudian tertawa. Orang-orang mengikutinya. Aku berusaha untuk melongkok bagaimana wujud kedamaian yang diperjual-belikan itu. Tapi terlalu padat. Lengan, tubuh, kaki dan orang berdesak menghalangi, menimbulkan warna kaos serta uar aroma tubuh yang khas penduduk pantai.

”Ini bisa dijus, dimasak, atau dimakan langsung.”

Sesaat kemudian, ”Kalau yang saya bagikan gratis ini, dijus dengan satu saset susu putih. Nah, ini.”

”Tambah lagi boleh?” suara dari depan, lima orang dari sini. 

”Boleh, boleh,” suara pedagang menjawab dalam damai, sementara aku belum memastikan bagaimana kedamaian di wajahnya. Suaranya tidak mengesankan marah dan takut merugi:

”Yang mau tambah lagi juga boleh, mencicipi, membuktikan kedamaian. Jangan malu-malu. Mumpung saya masih bisa jualan.”

Sembari menunggu, segala percakapan di kerumuman pedagang kedamaian itu, apabila dirangkai akan menjadi orkestra deskriptif.

Ada yang berkata bahwa ramuan kedamaian membuat rumah tangganya kembali harmonis, sehingga membuatku mengira itu adalah obat perkasa dari pasak bumi. Namun, dugaan itu terbantahkan dengan ucapan bahwa setelah menumis kedamaian, kampung orang itu jadi jarang tawuran. Gereja dan masjid bukan lagi persoalan tentang boleh atau tidak boleh, dibakar atau tidak dibakar, namun pada esensinya. Ia dan tetangga beda agama, jadi semakin mesra setelah saling berbagi kuah dari kedamaian yang dimasak opor.

Belum sempat membelinya, kami mendengar suara sirine. Orang-orang bubar dan berteriak ada polisi. Tembakan peringatan muncul. Seperti gelombang di ekor naga, kami terhempas ke berbagai arah, mencari selamat.

”Mereka menangkap penjual kedamaian,” ujar seseorang di sisi kami, yang sama merunduk di bawah pohon pisang.

Tidak tahan dibuat penasaran, Gamin mendesak, ”Kenapa mereka menangkapnya?”

”Tidak tahu,” jawab orang itu menggantung. θ  

2015

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Eko Triono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 25 Oktober 2015

0 Response to "Penjual Kedamaian"