Permintaan Ayah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Permintaan Ayah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:05 Rating: 4,5

Permintaan Ayah

KOTA Yogyakarta menggelar festival kesenian. Salah satu agendanya kirab seni. Di sekolah, beberapa teman Dendi membicarakan acara tersebut. Membuat dendi tertarik menonton.

Sore itu Dendi siap menonton kirab. Tadi pagi sepeda motor sudah dicuci. Satu minggu lalu Dendi juga sudah meminta izin orangtua. dendi sengaja sendiri, tidak mengajak temannya menonton kirab. Karena Dendi ingin mendokumentasikan acara ini menggunakan kamera. Seandainya dia mengajak teman, akan kesulitan membuat dokumentasi. Temannya pasti akan menggangu Dendi.

Dendi tidak ingin menonton acara tersebut tanpa dokumentasi. Acara ini hanya diadakan satu tahun sekali di Yogyakarta. Kamera sudah dikalungkan di dada. Dendi kembali meminta izin kepada ayahnya.

"Yah, Dendi pergi dulu ya. dendi jadi lihat kirab," kata Dendi sambil mencium tangan ayahnya.

"Enggak. Kamu enggak boleh pergi. Belajar! Kamu belum pernah mendapat nilai rata-rata di atas enam. Kemarin kamu sudah pergi ke mal bersama temanmu sekarang enggak boleh pergi," jawab ayahnya.

"Yah, tapi Dendi ingin menonton kirab. Dendi kan juga sudah meminta izin ke Ayah beberapa hari yang lalu."

"Enggak! Dendi enggak boleh pergi. Ayah malu setiap mengambil rapormu nilainya selalu di bawah rata-rata teman-teman satu kelas," kata ayah Dendi tegas.

"Yah, Dendi jani setelah nonton akan belajar setelah smapai rumah."

"Bohong. Kamu pasti sampai rumah terus tidur karena sudah capek."

"Terserah... Dendi tetap mau pergi menonton festival," teriak Dendi meninggalkan ayahnya.

Dendi kemudian keluar dari rumah sambil membanting pintu ruang tamu. Tiba-tiba tangan ayah Dendi memegang terus bagian dada sebelah kiri.

"Yah, kenapa dadanya?" tanya Ibu Dendi sambil menghampiri suaminya yang kebetulan melihat ke arah ayah Dendi.

Ayah Dendi hanya diam sambil terus memegang dada. Ibu Dendi kemudian meninggalkan suaminya yang masih memegang dada dan mencari Dendi keluar rumah. Ibunya berharap Dendi belum berangkat ke Malioboro.

"Dendi, Ayahmu!!" teriak ibu.

Dendi menoleh kepada ibunya. Dia baru menghidupkan mesin motor dan akan memakai helm. Dendi melihat ibunya mengelus dada. Seolah-olah mengucap syukur karena dia belum berangkat.

"Sudah ya, Bu. Dendi tetap akan berangkat."

Dendi sengaja mengeraskan suaranya supaya ayahnya mendengar dari dalam rumah.

Ibunya kemudian berlari menghampiri Dendi yang sudah berada di atas sepeda motor.

"Dendi, Ayahmu sakit. Ayahmu terus memegangi dada. Ibu mohon kamu tidak usah pergi," hanya kalimat itu yang diucapkan oleh ibunya sebelum kembali masuk ke dalam rumah.

Dendi sempat berencana nekat tetap pergi tanpa mengingdahkan permintaan ibunya. Tetapi ia menghentikan niatnya karena mendnegar suara ibunya berteriak.

"Dendi.... Dendi... Ayahmu Dendi." Suara ibu terdengar sangat keras sampai luar rumah.

Akhirnya Dendi melepas helm dan menyandarkan sepeda motor. Suara ibunya semakin keras berteriak emmanggil namanya. Ketika masuk ke dalam rumah, Dendi melihat kondisi ayahnya sudah terbaring di atas lantai.

"Ayah... Ayah... Ayah." teriaknya.

Dendi mendekap tubuh ayahnya. Dia sama sekali tidak merasakan irama napas ayahnya ketika tubuh Dendi mendekap tubuh kekar lelaki itu.

"Ayah.... Ayah...." Dendi terus memanggil ayahnya. Sambil menangis dia melepas ikat pinggang yang masih melingkar di celana ayahnya.

"Ibu.... Ayah meninggal dunia." Dendi kemudian memeluk ibunya.

"Maafkan Dendi, Yah. Ayah meninggal dunia karena sikap Dendi." Dendi terus menangis di dekat ayahnya.

Dendi merasa menyesal karena mendebat ayahnya. Dia lebih mementingkan egonya sehingga sampai berani mendendat ayahnya. Setelah ayahnya meninggal dunia, Dendi baru menyadari kalau perkataan ayahnya memang benar. Selama ini nilai rapornya selalu berada di bawah rata-rata teman-teman satu kelas. Seharusnya Dendi memang harus lebih memperbanyak kuantitas belajarnya daripada melakukan aktivitas yang tidak penting di luar rumah. Apalagi festival masih diadakan lagi tahun depan.

Tetapi semua terlambat, Dendi malah membantah perkatannya sehingga penyakit jantung ayahnya menjadi kambuh. Suara kirab begitu ramai terdengar hingga rumah dendi. dendi semakin merasa bersalah atas kematian ayahnya. []

Relevantiana Juniarti, Jalan tawes raya D50/13A Minomartani Yogyakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Relevantiana Juniarti
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 11 Oktober 2015 


0 Response to "Permintaan Ayah"