Permintaan Tak Sederhana | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Permintaan Tak Sederhana Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 23:28 Rating: 4,5

Permintaan Tak Sederhana

PUNYA istri seperti Marni, aku selalu merasa beruntung. Selama ini, sangat jarang aku mendengarnya mengeluh. Tentang hidup, pekerjaan rumah tangga, juga kebutuhan-kebutuhan yang banyak tak bisa kupenuhi.

Sepuluh tahun aku dan Marni menikah. Dari pernikahan ini, kami dikaruniai dua anak. Laki-laki dan perempuan. Yang sulung kuberi nama Sisil. Ia baru kelas dua SD. Umurnya delapan tahun. Lalu yang bungsu, kuberi ia nama Ical. Ummurnya baru sekitar 15 bulan.

Bersama mereka, aku tinggal di rumah kontrakan yang berdiri tepat di pinggir rel kereta api. Rumah itu memang sangat jauh dari kesan mewah. Di dalamnya, hanya ada satu kamar dan satu ruang tengah yang merangkap dapur. Tapi tak apa. Apalah artinya punya rumah mewah, mobil mewah, dan harta berlimpah, bila hati menderita?

Karena menurutku adalah kewajiban seorang suami untuk bekerja mencari nafkah, bukan malah istri, maka dalam keluarga kecil ini hanya aku yang bekerja. Marni tidak. Atau lebih tepatnya, tidak kuizinkan bekerja. Dulu ia memang sering mengutarakan keinginannya untuk bekerja dengan alasan demi membantu meringankan beban keluarga. Tapi pasti selalu aku larang. "Kamu urus anak-anak saja di rumah, biar aku yang bekerja," ucapku suatu ketika. Beruntung, ia ta pernah membantah.

Saban pagi, sebelum aku berangkat bekerja, tak pernah Marni alpa membuatkanku kopi. Usianya, sebagaimana usiaku, emmang tak lagi bisa dibilang muda. Akan tetapi, tatkala memandang wajahnya, tak pernah sekali pun mataku diterpa nadir kebosanan. Apalagi senyumnya yang selalu terkembang kala mengantarku ke ambang pintu. Maka setelah Marni mencium tanganku disusul kecupan lembutku di keningnya, aku pun berangkat. berjalan kaki ke arah barat di tepian rel yang berkerikil. Menuju pasar, tempatku bekerja.

Pekerjaanku mudah. Tak perlu memeras otak untuk berpikir. Cukup mengandalkan otot-otot. Aku, sebagaimana teman-teman yang seprofesi denganku di pasar induk itu, hanya perlu mengangkut karung-karung berisi barang ke salah satu kios. Selesai. Dapat upah. Tentu aku tak perlu ribut dengan teman-teman yang lain. Di sana sudah ada mandor yang tugasnya mengatur giliran kami. Kadang aku berpikir, enak juga jadi mandor. Kerjanya jadi ringan. Hanya mengatur, mengatur, dan mengatur. Selesai. Dapat jatah uang dari kami. Ah, andai aku jadi mandor.

Aku biasa pulang saat hari sudah sore. Dalam perjalanan, meski nyatanya letih terus memagut tubuh, ada satu yang selalu jadi suluh. Marnilah itu. Aku selalu tak sabar sampai rumah. Melihat kebiasaannya yang selalu berdandan merias diri menyambut kedatanganku; Mencicipi rasa masakannya yang kerap membuatku lupa diri.

Begitulah jarak tempuh setengah jam dari pasar ke rumah seolah tak terasa. Namun, ada yang tak biasa sore ini. Ketika membukakan pintu untukku, wajah Marni yang biasanya cerah, kini tampak bermendung. Sama sekali tak terlihat adanya tanda-tanda ia sudah mandi atau merias diri. Jika biasanya setelah cium tangan ia langsung menyiapkan makanan dan menemaniku makan, kini tidak. Ia langsung masuk kamar. Merebahkan tubuhnya di samping Ical. Tapi ia masih sempat bilang, "Kalau lapar makan dulu. Makanannya sudah siap."

Ganjil. Pasti sedang ada yang tidak beres. Tapi karena lapar sudah mendera, aku pun makan sendiri diu ruang tengah. Nasi dengan sayur kangkung  dan lauk tahu tempe yang biasanya begitu nikmat di lidah, kini terasa hambar bak bubur tak berkuah. Saat makanan di piring hampir tandas, tiba-tiba Marni keluar kamar. Mengambil botol berisi air minumdi samping kompor, lalu meneguk isinya pelan-pelan. Setelah itu ia menatapku. Raut wajahnya tampak datar.

"Ada apa, Bu?" tanyaku. "Kok tidak seperti biasanya?"

"TIdak. Tidak ada apa-apa," timpalnya, lalu kembali masuk kamar.

Tidak mungkin seperti itu. Aku yakin ia berbohong.

Perlahan-lahan, merah senja memudar berganti petang. Di luar, sesekali terdengar gemuruh kereta melintas. Karena di rumah tidak ada televisi untuk ditonton, Sisil dan Ical sudah tidur sejak pukul 20.00. Sambil menghisap sebatang rokok, aku duduk menikmati malam di teras rumah. Beberapa saat berlalu, Marni muncul dari dalam, membawakan secangkir kopi untukku. Raut wajahnya tak berubah. Masih datar seperti tadi sore.

"sudah makan, Bu?" tanyaku.

Marni menggeleng.

"Lho bukannya masih ada?"

"Memang masih ada."

"Terus kenapa belum makan?"

"Bosan, Pak."

"Bosan? Bosan bagaimana?"

"Aku bosan makan sama lauk tahu tempe terus."

"Lah, memangnya Ibu mau makan sama lauk apa?"

"Daging ayam."

"Oalah. Ibu kan tahu sendiri sekarang daging ayam mahal."

"Ya tahu, Pak. Tapi Ibu kepingin sekali makan sama lauk daging ayam."

Aku tak langsung menyahut. Kuangkat secangkir kopi yang Marni bawakan itu, lalu pelan-pelan kuseruput isinya. Seketika itu, rasa manis dan sedikit pahit menyatu di lidah.

Hamm, ya sudah. Besok-besok, kalau ada rezeki, Bapak belikan."

"Yang benar, Pak?"

"Iya."

Sejak dulu, setelah seharian bekerja di pasar biasanya aku mendapat upah sekitar dua puluh ribu. Sepertiga dari upah itu, kutabung untuk bayar kontrakan di akhir bulan. Sedangkan sisanya selalu aku kasihkan ke Marni ketika pulang ke rumah. Aku tahu, uang yang Marni peroleh dariku itu memang tidak akan pernah cukup untuk membeli bahan-bahan selain beras sekilo, sayur, tahu dan tempe. Karena itu, sebenarnya aku bingung memikirkan dari mana bisa dapat uang tambahan untuk membeli daging ayam seperti yang Marni minta. Apa aku harus mengutang? Tapi bagaimana cara melunasinya?

***
SUDAH berlalu lima hari sejak Marni bilang ingin makan dengan lauk daging ayam. Dan aku belum membelikannya, atau lebih tepatnya belum bisa. Uang yang setiap hari kusisihkan sedikit demi sedikit setiap hari, masih jauh dari cukup untuk membeli setengah, apalagi satu kilogram daging ayamm.

Akhir-akhir ini, Marni punya kebiasaan baru ketika menyambutku pulang kerja di sore hari. Setelah membukakan pintu, ia selalu melihat ke arah tangan kanan dan kiriku dengan raut penuh harap. Lalu, begitu tahu bahwa aku pulang tanpa membawa apa-apa, raut wajahnya seketika datar. Benar-benar datar. Dari mulutnya, tak sepatah kata pun terucap.

Ah, gelagat itu benar-benar membuatku tidak enak. Dan hal itulah yang sore ini membuat perjalanan pulang dari pasar ke rumah terasa lebih lama dari biasanya. Sepanjang perjalanan, pikiranku tak henti-henti membayangkan seperti apa raut wajah Marni nanti ketika tahu aku pulang tanpa membawa apa-apa. Akan tetapi, sesampainya di rumah, tak kudapati Marni dan Ical. Yang ada hanya Sisil, anak sulungku.

"Ibu ke mana, Sil?" tanyaku pada Sisil

"Pergi, Pak," jawabnya.

"Ibu tidak bilang, mau pergi ke mana?"

"Tidak," sahut Sisil sambil menggeleng. "Tapi tadi Ibu titip pesan, kalau Bapak mau makan, tunggu Ibu pulang dulu."

Hingga aku selesai mandi dan sembahyang Asar, Marni tak kunjung pulang. Rasa lapar yang mendera seolah hilang berganti bimbang.

"Ah, haruskah aku mencari?" batinku, "Tapi ke mana?"

Ketika petang mulai merembang, Marni baru pulang sambil mengemban Ical dan membawa tas kresek hitam  di tangan kanannya.

"Dari mana, Bu?" tanyaku.

"Keliling kampung, Pak, jalan-jalan," sahutnya dengan mata berbinar.

"Itu apa?" tanyaku lagi seraya menunjuk tas kresek hitam itu.

"Daging ayam."

"Daging ayam? Ibu beli?"

"Beli? Uang dari mana? Ini dikasih orang, tadi."

Malam ini, keluarga kecilku pun makan dengan lauk daging ayam masakan Marni. Anehnya, aku merasa ada yang tidak beres. Ingin rasanya kutanyakan pada Marni tentang siapakah gerangan orang yang telah memberikannya daging ayam itu. Tapi aku tidak enak. Aku khawatir ia tersinggung dan mengira aku mencurigainya berbuat macam-macam.

Keesokan harinya, kejadian itu kembali terulang. Persis kemarin. Marni tak ada dan hanya ada Sisil di rumah ketika aku pulang kerja.

Tanpa mengganti baju atau membersihkan diri, segera aku meminjam sepeda pada Samad, tetanggaku, lalu pergi. Aku harus mencarinya. Harus kupastikan Marni benar-benar tidak berbuat macam-macam. Tetapi setelah kukelilingi kampung, tak juga kulihat gelagatnya. Maka  kemudian kukayuh sepeda tua ini  menuju pasar. Siapa tahu Marni ada di sana. Tapi hasilnya nihil ternyata. Ia tak ada. Begitu juga di stasiun. Ke mana lagi aku harus mencarinya?

Di sebuah perjalanan pulang, aku benar-benar dibuat ternganga oleh apa yang dilihat mata. Dari kejauhan, di perempatan jalan yang lampunya sedang menyala merah itu, kulihat Marni berjalan kaki mendatangi satu per satu pengendara motor dan mobil yang sedang berhenti menunggu nyala lampu berubah hijau. Wajahnya terlihat amat kusam bermandikan keringat. Ia mengemban Ical. Tangan kirinya memainkan kecrekan, sedang tangan kanannya menengadah. Karepet Ijo, 2015

Ahmad Bayhaki: mahasiswa yang sehari-hari mengayuh ontel dari Bantul-Sleman, lahir dan besar di Sumenep Madura.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ahmad Bayhaki
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 18 Oktober 2015

0 Response to "Permintaan Tak Sederhana"