Pilihan Bunda | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pilihan Bunda Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:15 Rating: 4,5

Pilihan Bunda

HIDUP menyendiri di tepi kota setelah beberapa tahun pensiun dan menjanda, bagi Utopiana, adalah pilihan. Dia paham benar, pilihan pasti diiringi risiko.

Sepasang suami-istri, Maman dan Sartonah, menemaninya sekaligus membantu di rumahnya yang besar tapi hening itu. Maman menjadi sopir pribadi merangkap perawat kebun.

Bik Sartonah memasak, mencuci, menyeterika, dan mengurus rumah.

Pasangan itu tidak punya anak. Mereka menempati kamar besar di bagian belakang rumah panggung kayu berbentuk limas.

Utopiana memilih hidup menyendiri di tepi kota setelah keempat putrinya meraih gelar sarjana, menikah, punya anak, dan berbahagia. Rumah yang cukup luas itu dibelinya dari hasil menabung selama bertahun-tahun. Dia pamit baik-baik pada anak, menantu, dan cucu-cucunya. Keempat putrinya sudah punya rumah. Mereka adalah hasil pernikahan Utopiana dengan Georgeo Santiago Gonzales, kelahiran ibu kota Provinsi Cordoba, Spanyol.

Selain nama ibu kota provinsi, Cordoba juga nama masjid di Spanyol. Masjid itu dibangun di atas puing-puing gereja Kristen pada 785 Masehi. Nama lelaki itu menjadi Gunawan Satrio setelah memeluk Islam. Profesinya ahli pertambangan minyak lepas pantai. Dia bekerja di perusahaan tambang minyak milik pengusaha Kanada di Indonesia. Utopiana juga bekerja di perusahaan itu. Cinta lokasi mempertemukan mereka.

Keempat putri Utopiana kurang mendukung pilihan si Bunda untuk tinggal di tepi kota yang sunyi. Anakanak memberinya gelar ‘perempuan kepala batu’ karena Utopiana tidak mau mengalah dalam pilihan itu. “Itu gelar yang elok buat Bunda,” ujar Utopiana riang sambil terbahak-bahak, “Kalau si Ayah masih hidup, beliau akan ikut Bunda,” lanjutnya. “Kami tidak mau merepotkan anak-anak, menantu, dan cucu-cucu. Kami ingin menikmati hari tua dengan bebas, damai, dan aman di tempat hening.

Sayang, si Ayah telah pergi lebih dulu,” lanjutnya sambil menunduk.

Kehadiran Khayali, si direktur bank swasta, sebenarnya bisa mengubah kehidupan Utopiana di hari tua, kalau saja dia suka. Duda muda yang kaya itu menyediakan rumah mewah berkolam renang dan mobil baru untuk calon istrinya. Usia Khayali lebih muda sepuluh tahun dari Utopiana. Istri Khayali meninggal saat melahirkan anak pertamanya. Jose, putri pertama Utopiana, setuju bila si Bunda mau menerima lamaran Khayali. Si sulung yakin akan kebagian rezeki juga.

Suatu malam Khayali melamar Utopiana, yang telah menjanda 15 tahun itu. Di usia 48, dia tersentak saat Khayali melamar. “Mimpikah aku?” tanyanya kepada Khayali. “Sama sekali tidak!” jawab Khayali, saat makan malam di restoran terkenal sebuah hotel berbintang lima. “Aku melamar Pia setelah lelah menduda,” Khayali meyakinkan. “Tapi Bung Khayali, umurku lebih tua dibanding umurmu.

Anda pantas menjadi adikku!” tukas Utopiana. “Faktor umur bukan masalah bagi cinta,” dalih Khayali.

“Oke. Izinkan aku membicarakan lamaran Bung pada anak-anak dan para menantuku,” sahut Utopiana, seperti orang sedang bingung.

“Sabarlah menunggu jawabanku, ya?” sambungnya lembut keibuan.

Sejak menyendiri tepi kota, Utopiana menekuni kembali kegemarannya menulis dan membaca, hobinya sejak di TK. Uang pensiunan selaku mantan manajer di perusahaan tambang minyak dan warisan si suami berupa bunga deposito lebih dari cukup baginya untuk hidup layak. Dia telah menunaikan rukun Islam kelima bersama anak-anak. Setahun setelah itu dia menghajikan kedua orangtuanya.

Utopiana pernah bekerja di perusahaan tambang minyak besar, setelah tiga tahun lebih meraih gelar insinyur pertambangan. Putri tunggal si tukang jahit yang belajar berhemat sejak kecil itu telah terbiasa hidup serbasederhana. Semasa anak-anak dan remaja, dia membantu ayahibunya menjahit sepulang sekolah dan di hari libur. Agar paham perihal jahit-menjahit, dia ambil kursus. Di hari tua, dia mensyukuri nikmat hidup berkecukupan. Seperti ayah-ibunya, Utopiana selalu bekerja keras dan tetap menjunjung tinggi kejujuran di mana pun, kapan pun.

Jose Adriani, si putri sulung, adalah penentang pertama ketika Utopiana menyampaikan gagasan untuk tinggal di rumah yang terpencil di tepi kota.

“Buat apa Bunda kembali ke dusun, menyendiri dan menyepi? Bunda mau jadi pengarang, ya?” ejek Jose yang sangat cerdas dan kritis. Pertanyaan itu diajukan Jose di apartemen lantai 27, warisan si Ayah, Gunawan Satrio.

Saat itu mereka baru selesai santap malam bersama. “Heh heh heh,” Utopiana terkekeh setelah mendengar ejekan si sulung. “Jose memang anak urban tulen,” lanjutnya. “Kau kritis, persis Ayah. Tapi, tak apa-apa. Bunda senang mendapat penentang tangguh, heh heh heh,” lanjut Utopiana sambil terkekeh-kekeh.

“Untuk investasi di hari tua Bunda, enggak apa-apa,” giliran Kiraini, putri kedua urun pendapat. Si kembar, Mariana-Mariani, bersikap netral. Bagi mereka, asal Bunda happy oke-oke sajalah, mau tinggal di mana saja. Jose berang. Dia menuduh si kembar tidak punya sikap tegas.

“Tidak tegas bagaimana, sih?” ujar Mariani. “Untuk kebahagiaan Bunda apa sikap kami tidak tegas?” lanjut Mariani dengan nada tinggi. “Tidak!” ujar Jose Adriani. “Justru berbahaya bagi Bunda,” lanjutnya sambil berdiri.

Urat lehernya menegang.

“Membahagiakan Bunda, kok berbahaya?” Mariana memotong kalimat si kakak. “Bukankah perbuatan mulia bila anak membahagiakan orangtua?” “Dinda berdua betul, tapi dari satu sisi untuk membahagiakan orangtua,” tukas Jose. “Tapi mengenai tanah di dusun sepi yang dibeli Bunda itu, apa sikap si kembar, hem? Ingatlah Dik, nilai seseorang dilihat dari sikap jujur yang konsisten, tahu!” Diskusi akhirnya meruncing menjadi perdebatan sengit antara si sulung dan si kembar. Segera Utopiana meredakan suasana dengan mengajak keempat putrinya menikmati jus melon seraya berkata, “Dalam hidup ini tidak ada harga mati kalau mencita-citakan keharmonisan dan kebahagiaan bersama secara damai.” Setelah mendengar suara si Bunda yang selalu berwibawa, anak-anak jadi tenang.

Mereka sibuk menyendok jus melon yang segar.

George Santiago alias Gunawan Satrio meninggal karena keracunan ketika memeriksa mesin kapal tanker pengangkut minyak mentah, yang tibatiba mogok di tengah laut. Keempat putrinya masih kecil saat itu. Utopiana dipaksa keadaan untuk menjadi single parent. Tapi dia tak lama berlarut-larut dalam duka demi hari depan keempat buah hatinya. Utopiana tetap tegar di hadapan para bos. Orang-orang bule di kantornya. Dia berhasil mendidik anak-anaknya menjadi perempuanperempuan dewasa yang tangguh menjaga harga diri.

Setelah dewasa, punya suami dan anak-anak, Jose merasakan betapa sunyi si Bunda menyendiri di tepi kota. Si sulung ikhlas bila ada lelaki baikbaik yang bersedia menjadi teman hidup Bunda. Di samping Khayali yang telah melamar Utopiana, hadir pula Emanuel yang ceria, santun, romantis, kaya, tapi berkepala botak. Menurut Jose, Emanuel orang yang tepat untuk pendamping Bunda. Khayali, si duda muda pun baik, lanjut Jose. Tapi, ketiga adik Jose tetap tidak setuju Bunda menikah lagi.

“Tak seorang lelaki pun dapat menggantikan tempat Ayah!” kata Mariana, tegas.

“Bunda punya hak untuk menikmati kebahagiaan di hari tua!” ujar Jose berapi-api. “Kalian jangan bersekutu menentang keinginan Bunda!” lanjut Jose.

“Ayo, kita tanya, apa keinginan Bunda!” ajak Mariani sambil berdiri.

Setelah ditanya anak-anak, Utopiana menjawab, ”Bunda hanya ingin anakanak hidup sehat, rukun, dan bahagia!” “Tapi, Bunda memerlukan lelaki pendamping di hari tua, bukan?” sela Jose.

Utopiana hanya tersenyum.

Akhir bulan Agustus, bergantian Emanuel dan Khayali menagih janji kepada Utopiana. Anak-anak janda separuh baya itu berdebar-debar saat menunggu keputusan Bundanya.

Ternyata lamaran Emanuel dan Khayali ditolak Utopiana dengan cara yang santun. “Benar, tempat si Ayah di hati Bunda tidak mungkin digantikan lelaki lain!” kata Utopiana sangat jelas.

Setelah memutuskan tidak akan menikah lagi, Utopiana tetap memilih tinggal di rumah panggung kayu berbentuk limas di tengah kebun buah-buahan di tepi kota. Dia mengisi hari tua dengan menulis, membaca, main piano, dan menerima tamutamu, kawan lama maupun kenalan baru. Pada saat syukuran ulang tahun ke-50, Utopiana membuat kejutan luar biasa. Dia mengundang anak-anaknya, menantu, cucu-cucu, para tetangga, mantan bosnya, anak-anak yatim piatu. Perempuan yang tetap sehat, energik, periang, dan masih cantik itu meluncurkan novel biografi nya. Judul novel pertamanya itu, Di Mana Sunyi Menyimpan Kenangan? 

Vila Kalisari, 2015 

K Usman, lahir di Muara Enim, Sumatra Selatan, 11 Agustus 1940.Tinggal di Depok. Buku kumpulan cerpen terkininya, Bukan Kisah Cinta (2015).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya K Usman
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 11 Oktober 2015

0 Response to "Pilihan Bunda"