Pohon Asmara | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pohon Asmara Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:00 Rating: 4,5

Pohon Asmara

HARI ini mentari bersinar cerah, dan hembusan angin pagi yang berirama layaknya musik yang bersahaja menjadi teman seorang remaja yang sedang duduk terdiam di teras rumahnya. Rumah yang baginya adalah istananya  tempatnya melepaskan segala keluh kesah tempatnya memulai dan mengakhiri segara rutinitas harianyya. Tempat yang ia yakini akan menjadi satu-satunya tempat yang akan menjadi saksi bisu kisah perjalanan menuju suksesnya. Namun sayangnya wajah lucu dan imutnya agak berbeda hari ini, wajahnya tak seceria burung -  burung yang beterbaagan menyambut pagi, ataupun segembira pohon – pohon yang menari karena  mengikuti irama simphony angin. Kali ini berbeda murung, sedih , dan gunda adalah ekspresi wajahnya seharian ini. Yah hal ini dikarenakan pohon kebahagiaan yang ia tanam tidak kunjung tumbuh, melainkan hanyalah sejumlah parasit luka yang menghampirinya.

Remaja ini bernama Riki, remaja yang baru saja menginjak kelas x ini adalah seorang remaja polos, lugu, dan sederhana. Remaja yang memiliki ribuang angan – angan, mimpi, dan juga harapan yang menjadi penyemangatnya dalam menjalankan sekolahnya. Keluarga dan teman adalah faktor utamanya, membuat mereka bangga adalah target utama perjalanan hidupnya. 

Namun semuanya tak berlangsung lama kini sembari pertambahan umurnya, membuatnya mulai mengenal banyak dunia. Seorang wanita putih, manis, dan menawan, kini menjadi titik kunci semangat belajarnya. Yah ilmi adalah nama wanita tersebut wanita yang menjadi titik balik dari kehidupan riki. Riki yang dulu nya cuek bahkan acuh terhadap seorang wanita kini perlaahan berubah, kini ia lebih banyak menghabiskan sisa harinya dengan para wanita, yang menimbulkan sebuah kekecewaan dari sahabatnya.” Hari – hari yang berwarna ibaratkan pelangi di kala hujan mulai redah “ begitulah kira – kira ungkapan hati dan perasaan riki saat ini. kotekan  ayam di pagi hari adalah penyemangatnya namun demikian  bel pulang sekolah adalah mimpi buruk yang paling di bencinya. Bagaimana tidak sekolah adalah tempat barunya untuk menghasilkan kebahagiaan menghabiskan waktu seharian memandangi dan memperhatiakn sang pujaan hatinnya baginya adalah moment terindah dalam hidupnya. Semnagat yang membara gairah belajar yang membahana keinginan untuk menjadi yang terbaik semakin menghantuinya, disamping itu menaklukkan sang pujan hati kini menjadi misi barunya.

Tapi hari berlalu hingga tiba sebuah saat dimana semuanya berubah, terpukul, terpuruk, jatuh, merintih, dan bersedih, adalah tema dari perjalan hari –hari riki saat ini. Betapa tidak, putri yang selama ini di impikannya, gadis yang selama ini menjadi idamannya, wanita yang selama ini menjadi pujaannya, ternyata telah memiliki tambatan hatinya yang mebuat riki dan perasaan nya menjadi tak berguna, serta mebuat riki dan hatinya menjadi merana. Pohon asmara yang ditanamnya ternyata tak berbuah, mimpi kisah asmaranya yang bahagia telah punah, cinta yang ia miliki dan pendam secara mendalam selama ini hanyalah cinta yang tak berarti, hanyalah cinta tidak dinanti, hanyalah cinta yang sunyi dan sepi, bagaimana tidak, cinta yang ia perjuangkan selama ini, cinta yang ia banggakan selama ini ternyata hanyalah cinta yang bertepuk sebelah tangan, dimana sang wanita idaman telah memiliki dambaan. Namun karena rasa penasarannya riki akhirnya menyatakan perasaannya namun sesuai dugaan dan tebakan penolakan keraslah yang ia dapatkan

Gelisah, galau, merana adalah isi hati riki saat ini terluka karena penolakan dari ilmi, hari – harinya kini diisi dengan kemurungan hati, intraksi sosialpun menjadi tak berarti, keakraban keduanyapun perlahn menghilang, dingin dan canggung setiap kali bertemu adalah cara mereka  berekspresi setiap kali berjumpa diri, tak jarang bahkan mereka tak saling menegur dalam sehari.

Tak terasa setahun telah berlalu dan kini sesuai dengan skema dan rencana Ilmi harus pindah sekolah, dan meninggalkan kenangannnya. Dan inilah yang akan menjadi dari titik balik kebangkitan seorang riki, dimana tak mungkin lagi ada kesempatan harapan dan bahkan angan baginya untuk menghabiskan hari dan mencoba membangun istana cinta yang indah dengan Ilmi.

Hingga akhirnya seiring perputaran bumi pada  porosnya serta perputan sang rembulan menghitari buminya, Riki  kembali mencoba bangkit, keluarga dan kerabat menjadi faktor utamanya, menjadi penyemangat dan pendorong kegembirannya agar dapat melupakan keluh kesahnya dan menngubur kisah – kisahnya bersama bidadari pujaannya. Setidaknya  ada banyak hal yang dapat di pelajarinya dari kisah ini dimana baginya  “ sahabat adalah orang yang selalu siap di nomor duakan tapi tetap selalu siap menngutamakan”. Satu harapan nya untuk sang pujaannya “ semoga bahagia selalu dilimpahkan padanya, meskipun kau  tak sempat memberiku cinta, setidaknya kau telah memberiku bahagia”. Serta satu hal pesan riki kepada teman - temannya “ kadang memang cinta  tak perlu harus memiliki, namun bahagia harus tetap menghampiri, karena jika luka yang kau dapati berati bukan cinta yang kau miliki melainkan kegagalan dalam mencari jati diri”

--- KISAH INI TERJADI SEBELUM  CERITA “BUNGA PENYEMANGAT” ---

Rujukan:
[1] Disalin dari karya I Gusti Ngurah Rama Iswara
[2] Dikirim langsung oleh penulis melalui eMail klipingsastra (Terimakasih dan penghargaan kami haturkan)

0 Response to "Pohon Asmara"