Rahim Air - 4’33 - Buraksa | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Rahim Air - 4’33 - Buraksa Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:55 Rating: 4,5

Rahim Air - 4’33 - Buraksa

Rahim Air

Aku mencatat pergerakanmu,
debit airmu yang tak pernah surut.

Dari lorong goa yang menembus sela paha
ibu sungai memperanakkan putrinya:
Eufrat, Tigris, Pison dan Gihon.

Lelehan berton-ton gletser
mendinginkan tengkuk pohon.
Sesaat setelah kau bertanya:
“Hari ini sebaiknya kita
mengenakan ketakutan yang mana?”

Malam itu, bulan susut dari percakapan,
lolos dari celaka yang dibuat keserakahan
menyisakan embun di kelopak-kelopak daun.

Seketika batu yang sepanjang musim
Membisu itu bersuara, lirih saja:
“Yang selalu mengalir tak menghanyutkanku.”

Tapi hidup tak selalu mengalir, batin kita.

“Sesekali ia membatu,
dan kita lupa cara mengadu.” katamu.

Dan hari depan masih membentur-bentur
tepian jukung. Mengingatkan kita:
kehidupan tak bisa lepas dari hasut lumpur.

4’33

                                                  – John Cage

Hanya diam, kemudian ngungun.
Mata-mata jatuh dalam lamun.

Bunga kesunyian mekar sepanjang tahun,
sejumlah tangan berharap memetiknya.

Jari yang tak diayunkan ke udara itu
mulai tahu rahasia dalam sebuah batu.

Hanya diam, nyawa bergetaran.
Kemudian kita mulai berpendaran.

Kunang-kunang menyelami tuts dan dawai
mengawal ingatan yang belum sampai.

Hanya diam. Irama keheningan.
Napasnya menenung para perenung.

Kita tak peduli keriuhan setelah tiga babak.
Sunyi tak seperti cinta yang selalu mendesak.

Buraksa

Kau bawa bertandan-tandan percakapan yang belum diiris
tepat ketika sendok perakku siap mengiris daging lembutmu.
“Tahan, kita masih menunggunya.” Kutarik rasa laparku,
juga rasa bersalahku. “Apakah ia yang kita tunggu bisa
menyembunyikan masa, melarikan ketakutan kita
dari tatap curiga yang seakan siap memangsa?”

Sayap-sayap burung hutan menerbangkan waktu,
seluruh pemaklumanku menyapukan kiasan
di langit sore, mengarsir tipis wajah lelahmu.

“Setidaknya kami seperjalanan.” Kata sebuah suara
yang hibuk mencari bentuk, terbantun dari ceruk.

Kelak ketika kau letih menunggu sosok itu,
aku telah terperosok dalam imaji dongeng-dongeng
menunggu kau mengupasku, menghapusku.



Adimas Immanuel lahir di Solo, Jawa Tengah, 8 Juli 1991. Kumpulan puisinya bertajuk Pelesir Mimpi (2013). Kini ia tinggal di Jakarta.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adimas Immanuel
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Minggu 25 Oktober 2015

0 Response to "Rahim Air - 4’33 - Buraksa"